Pernikahan Beda Usia

Pernikahan Beda Usia
#PERNIKAHANBEDAUSIA_58


__ADS_3

PERNIKAHAN BEDA USIA


PART 58


*


*


*


Acara wisuda dan pelepasan anak kelas tiga dari SMU Dirgantara, tahun ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Pak Handoyo selaku sebagai kepala sekolah merasa berbangga hati karena acara kali ini akan diadakan di salah satu hotel ternama milik keluarga Dirgantara. Bahkan seluruh anggota keluarga besar Dirgantara pun turut hadir di dalamnya.


Tentu saja pak Handoyo tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Jauh-jauh hari beliau sudah menghimbau kepada seluruh murid dan para guru untuk menyiapkan segala sesuatunya agar semua berjalan dengan baik. Pak Handoyo ingin menampilkan kualitas terbaik dari murid-murid SMU Dirgantara. Beragam pentas seni akan ditampilkan, seperti musik, tarian, drama dan masih ada banyak lagi.


Elvina dan Arif mendapatkan bagian drama, mereka akan memerankan tokoh Romeo dan Juliet. Awalnya peran Juliet jatuh kepada Mutiara namun ditolak olehnya. Mutiara takut jika ia mengambil peran Juliet, acara Wisuda dan pelepasan murid kelas tiga akan berantakan karena sifat posesif yang dimiliki oleh suaminya. Mutiara tahu betul seperti apa Gilang. Meskipun Mutiara sudah berulang kali mengatakan bahwa diantara dirinya dengan Arif tidak ada hubungan spesial apapun selain sekedar sahabat belaka. Tapi tetap saja Gilang akan merasa cemburu yang berlebihan apabila ia berada di dekat Arif. Itu sebabnya ketika wali kelasnya menunjuk ia sebagai tokoh Juliet dalam drama, Mutiara langsung menolak dan menyarankan agar Elvina saja yang memerankan tokoh julietnya. Dan tentunya Mutiara sendiri lebih memilih untuk bernyanyi solo sambil memainkan piano.


"Kok aku jadi deg-degan gini ya?" ucap Elvina saat wali murid mulai berdatangan. Ini adalah pertama kalinya ia terlibat dalam pentas seni di sekolah.


Arif tersenyum. Ia merangkul pinggang Elvina dengan begitu erat. "Kamu tidak perlu khawatir sayang, semuanya pasti akan berjalan dengan lancar!"


"Kamu yakin aku bisa melakukannya dengan baik? Kamu tahu kan ini adalah yang pertama kalinya buat aku?" Elvina menatap ragu kepada Arif.


"Aku yakin kamu pasti bisa!" Arif memberikan semangat kepada Elvina.


Elvina mengangguk. Wajahnya tersipu saat Arif memeluknya di hadapan teman-temannya.


"Oh...ya, Mutiara mana? Kok nggak ada kelihatan?" tanya Arif.


"Dia belum datang," jawab Elvina.


"Belum datang?" Arif memicingkan alisnya.


Elvina menghela nafas panjang. "Kanyak kamu nggak tahu bagaimana suaminya itu..? Dia pasti memberikan segudang petuah terlebih dahulu sebelum berangkat!" sungut Elvina sedikit kesal dengan tingkah kakaknya yang agak kekanak-kanakan jika berhubungan dengan istrinya. Elvina sendiri heran dengan Mutiara yang bisa bertahan dengan sikap posesif Gilang.


Arif hanya terkekeh pelan. Dia bisa mengerti akan sikap Gilang. Sebagai lelaki Arif juga tidak akan rela apabila ada pemuda lain yang mendekati kekasih hatinya.


***


Aula hotel didekor sedemikian rupa sehingga menjadi tempat yang lanyak untuk sebuah pesta besar dan meriah. Bahkan bisa dibilang lebih mewah dari sebuah pesta pernikahan.


Banyak warna-warni lampu yang menghiasi aula dan ada pula rangkaian bunga yang telihat begitu indah.

__ADS_1


Mutiara memasuki aula hotel bersama dengan Gilang. Siang ini mereka terlihat begitu serasi sehingga membuat banyak mata memandang iri ke arah mereka.


Mereka merasa heran bagaimana mungkin Mutiara bisa datang bersama dengan putra sulung dari keluarga Dirgantara, yang notabennya adalah seorang pengusaha muda yang sudah terkenal namanya hingga manca-negara. Ada banyak pertanyaan yang melintas di pikiran mereka.


"Kok bisa sih Mutiara berdampingan dengan Alvian Gilang Dirgantara? Kira-kira ada hubungan apa ya diantara mereka?"


"Mutiara beruntung banget sih bisa berdampingan dengan Alvian Gilang Dirgantara, bikin gue iri deh"


"Mereka cocok banget ya, ganteng dan cantik."


Begitu-lah coletoh mereka. Masih tidak percaya dengan pemandangan langka di depan mata.


Mutiara yang sadar menjadi sorotan publik merasa sedikit risih. Apalagi sebagian dari mereka memandang sinis tanda tidak suka alias merasa iri.


"Acuhkan saja mereka!" bisik Gilang merangkul pinggang istrinya dengan erat hingga membuat suasana semakin heboh.


"Yank, aku malu" protes Mutiara.


Gilang tidak perduli, bahkan ia pura-pura tidak mendengarnya. Gilang merangkul pinggang istrinya semakin erat. Melangkahkan kaki dengan rasa kepercayaan yang tinggi. Gilang ingin menunjukan ke semua orang bahwa Mutiara adalah miliknya.


Mutiara hanya bisa menghela nafas panjang kemudian menghembuskan-nya lagi ketika melihat orang-orang yang ada di sekeliling-nya menjadi semakin heboh.


Mutiara mengedarkan pandangan-nya, mencari seseorang. "Elvina..." panggilnya kemudian. Mutiara melihat Elvina sedang bersiap, didampingi oleh kekasihnya, Arif. Mutiara menghampiri Elvina.


"Iya, Mutiara memang cantik benget hari." Arif seakan mengerti dengan kode yang diberikan oleh kekasihnya itu.


"Eheemmm..."


Arif menggaruk kepalanya, merasa ngeri dengan tatapan yang diberikan oleh Gilang.


"Vina...Vina, kenapa sih kamu harus bangunin macan tidur?! Sekarang aku juga kan yang bakal jadi sasaran mangsanya" gerutu Arif dalam hati. Ia hanya bisa cengengesan ketika Gilang menunjukan kepalan tangan.


Sedangkan Mutiara dan Elvina terkikik geli melihat tingkah laku dari dua lelaki yang berdiri di samping mereka.


***


Acara pelepasan murid kelas XII SMU Dirgantara diawali dengan pembukaan oleh pembawa acara, pembacaan doa, sambutan ketua panitia, sambutan dari Kepala Sekolah, hiburan pembukaan seperti pembacaan puisi, tarian daerah dan lain-lain. Kemudian dilanjut dengan sambutan dari perwakilan guru wali kelas, perwakilan orang tua murid, hiburan pementasan kreatifitas pelajar.


.


Dan saat Mutiara menyanyikan sebuah lagu milik Iwan Fals yang berjudul kemesraan ini, semua orang ikut larut terbawa oleh kemerduan suara yang dimiliki oleh Mutiara. Mereka tidak pernah tahu jika Mutiara memiliki suara yang begitu indah dan merdu. Bahkan Gilang sendiri selaku suami Mutiara pun juga tidak mengetahuinya.

__ADS_1


"Istri kecilku memang luar biasa, bikin aku makin cinta aja!" lirih Gilang.


"Dulu aja menolak buat dijodohin, sekarang muji-muji!" sindir Bu Meisya.


Gilang melirik sekilas ke arah maminya, lalu fokus kembali menikmati penampilan istri kecilnya.


Setelah selesai bernyanyi, Mutiara tidak langsung turun dari panggung. Ia masih harus memberikan kata sambutan sebagai perwakilan dari kelas XII.


Kata demi kata terlontar dari bibir Mutiara. Suasana haru dan isak tangis pun mulai menyeruak menyelimuti Aula hotel.


Ada pertemuan, ada pula perpisahan. Mungkin pepatah itulah yang bisa menggambarkan bagaimana isi hati mereka saat ini.


Tiga tahun yang lalu mereka dipertemukan dengan beragam macam sifat dan ego di SMU Dirgantara. Kemudian saling mengenal satu sama lainnya, berteman, saling mengasihi satu sama lainnya dan tentu ada persaingan secara sehat. Namun pada hari ini mereka harus dihadapkan dengan sebuah perpisahan demi menyongsong masa depan yang lebih baik.


Suara tepuk tangan terdengar ketika sambutan yang diberikan oleh Mutiara berakhir. Mutiara pun turun dari panggung. Ingatannya kembali meremang dimana saat pertama kalinya Mutiara memasuki SMU Dirgantara dan banyak murid menghina Mutiara karena statusnya sebagai putri seorang supir. Mutiara tersenyum getir, tapi tidak menyimpan dendam.


"Kamu memang luar biasa sayang, aku pria paling beruntung karena memiliki istri sepertimu." Gilang berbisik di telinga Mutiara saat ia kembali ke tempat duduknya. Mutiara hanya tersenyum tipis.


"Aku juga beruntung karena bisa dicintai oleh Alvian Gilang Dirgantara," balas Mutiara dengan wajah tersipu malu.


Usai sambutan dari Mutiara, acara dilanjut lagi dengan sambutan dari adik-adik kelas. Disusul dengan pentas seni, pengumuman kelulusan serta prestasi murid, kemudian propesi purnasismadya atau pelantikan wisudawan dan wisudawati, penyerahan kenang-kenangan atau hadiah, doa penutup dan terakhir berfoto bersama serta saling berjabat tangan tanda salam perpisahan.


Acara pelepasan dan wisuda SMU Dirgantara berlangsung lancar. Panitia penyelenggara merasa puas, tak sia-sia usaha mereka selama ini. Terlambat pulang hanya demi berlatih untuk menampilkan yang terbaik.


Mutiara tersenyum tipis tatkala melihat panitia berkerumun bertos ria atas keberhasilan mereka dalam mengatur acara pelepasan murid kelas XII.


"Ternyata murid di sekolah kita yang terkenal alim dan pintar bisa juga ya dalam merayu pengusaha muda seperti Alvian Gilang Dirgantara. Gue jadi penasaran, kira-kira apa ya yang dilakukan dia sampai-sampai Gilang yang tampan mau sama dia?" sindir seorang murid cewek.


Mutiara hanya melirik sekilas. Ia berusaha acuh karena tidak ingin merusak suasana yang damai.


"Apalagi kalau bukan menjual tubuhnya! Kalian nggak lihat apa kalau makin hari badan dia makin berisi? Setahu gue sih kalau badan makin berisi maka dia sudah pernah disentuh oleh lelaki," Bertha menimpali. Ia menatap Mutiara dengan tatapan tidak suka.


Mutiara hanya bisa tersenyum kecut. Ia tidak mengerti kenapa Bertha sangat senang mencari gara-gara dengannya.


"Badan Mutiara memang semakin berisi karena dia sedang mengandung calon penerus dari keluarga Dirgantara..." Gilang tiba-tiba muncul.


Bertha dan teman-temannya syok. Ia menatap Mutiara dan Gilang secara bergantian.


"Ka-ka-kalian..."


"Kami suami istri, ada yang salah?" Gilang menyela Bertha. Ia menunjukan cincin pernikahannya, begitu pula dengan Mutiara.

__ADS_1


Bertha dan teman-temannya semakin tak percaya. Mereka langsung pergi meninggalkan Mutiara dan Gilang. Di dalam hati, mereka berharap tidak akan menemui masalah setelah ini.


__ADS_2