
#Pernikahan Beda Usia
Part 26
......
Gilang tersenyum ketika melihat istrinya masih saja asyik bergelung dengan selimut tebal yang menutupi tubuh polosnya hingga sebatas leher. Ia pun menaruh nampan berisikan makanan dan minuman di atas nakas meja kemudian naik ke atas tempat tidur. Mutiara terlihat sangat lelah, membuat Gilang merasa tidak tega jika harus membangunkannya.
Gilang menyandarkan punggungnya pada sandaran ranjang, menutup mata barang sekejab. Ia berpikir apakah semua ini hanyalah mimpi baginya? Ia menikah dengan seorang gadis remaja yang masih lugu. Dan pagi ini...Ia bahkan sudah berhasil mengambil mahkota berharga dari gadis yang menyandang status sebagai istri sahnya.
Gilang mengulurkan tangan, mengusap lembut puncak rambut istrinya. Ia merasa beruntung dan berterima kasih kepada kedua orang tuanya karena sudah menjadikan Mutiara bagian dari hidupnya. Baru kali ini Gilang merasakan ketulusan dari seorang wanita yang benar-benar mencintainya tanpa pamrih. Sekali lagi ia menyesal karena sudah pernah berlaku tidak adil pada istrinya.
Gilang malu karena harus bercermin pada sosok Mutiara yang masih belia. Istrinya begitu sabar dalam menghadapi sikapnya yang angkuh dan arogant. Meskipun ada rasa takut, akan tetapi Mutiara masih setia bertahan disampingnya dengan modal keikhlasan dan kesabaran yang cukup tinggi.
*Unggghhh...
Mutiara melenguh kecil karena merasakan adanya usapan lembut di kepalanya, sehingga mengusik tidurnya. Mutiara membuka mata kemudian membalikan badannya. Ia tersenyum kecil melihat suaminya sudah terbangun.
"Morning mas" cuit Mutiara, Gilang menautkan alisnya
"Morning...? Ini sudah siang sayang, lihatlah kesana!" tangan Gilang menunjuk ke arah jam dinding.
Pukul 12.00 WIB
Mutiara membulatkan kedua mata, ia tidak percaya jika dirinya sudah tertidur terlalu lama. Ia pun segera beranjak untuk bangun.
*Auwww
Mutiara meringis karena merasakan ngilu diarea bawah sana.
"Kamu kenapa yank?" Gilang panik.
Mutiara membisu, merasa tidak percaya dengan pendengarannya. Apakah benar jika suaminya baru saja memanggil dirinya dengan sebutan "Yank"
"Yank... Kamu kenapa? Apa ada yang sakit?" tanya Gilang sekali lagi.
Mutiara tidak menjawab, ia hanya bisa menggelengkan kepala. Rasa ngilu pada bagian tubuh bawahnya kini terganti sudah dengan rasa kebahagiaan ketika suaminya tiba-tiba mamanggilnya "Yank "
"Mas tadi panggil aku apa?" cuit Mutiara hanya ingin memastikan bahwa ia tidak salah dengar.
"Yank... Mulai sekarang aku akan memanggilmu yank dan kamu pun juga harus memanggilku seperti itu!!" ucap Gilang.
Mutiara mengangguk cepat, ia merasa sangat senang karenanya.
"Makasih ya yank... karena kamu sudah mau bersabar dalam menghadapi sikapku yang terkesan sangat arogant serta suka mengintimidasi" cicit Gilang.
Mutiara menyenderkan tubuhnya pada headboard ranjang, dengan kedua tangan yang masih memeluk selimut agar tidak merosot ke bawah.
"Mas...eh...Yank...Kamu tidak perlu berterima kasih, karena itu sudah menjadi tugasku sebagai seorang istri untuk mengerti bagaimana sifat dari suamiku" tutur Mutiara.
Gilang lagi-lagi dibuat kagum oleh istri kecilnya. Hatinya yang lapang membuat jiwanya seakan bergetar. Andai saja dulu ia bisa seperti itu? Mungkin saat ini tidak akan ada orang yang terluka karena ulahnya. Gilang merangkul tubuh Mutiara, membawa gadis itu masuk ke dalam dekapannya.
"Sekali lagi terima kasih dan I Love You" Gilang mengecup puncak kepala istrinya berkali-kali.
Sedangkan Mutiara kembali membeku, jantungnya bergemuruh kencang. Ini merupakan pertama kalinya bagi Gilang mengatakan kata I Love You untuknya.
"I Love You too" lirih Mutiara, tanpa terasa air matanya merembes melalui setiap sudut dari matanya. Suasana menjadi hening. Mereka saling meresapi perasaan masing-masing.
"Yank, kamu mau makan dulu atau mandi dulu?" tanya Gilang memecah kesunyian.
Mutiara mendongak, ia lupa jika mereka belum makan apapun sejak pagi.
"Maaf yank...Aku lupa kalau kita belum makan apapun" cuit Mutiara,
"Ya udah begitu aku mandi dulu, setelah itu baru masak" cicitnya lagi seraya mengecup pipi suaminya.
Mutiara ingin beranjak dari tempat tidur, tapi tiba-tiba rasa nyeri dibagian bawah tubuhnya kembali muncul.
Auwwwss
Mutiara hanya bisa meringis kesakitan saat berusaha memaksa turun dari ranjang. Gilang yang melihat hal itu lansung sigap. Ia membopong tubuh istrinya.
__ADS_1
"Maaf karena sudah membuatmu seperti ini?" lirih Gilang.
"Kenapa harus minta maaf? Inikan sudah menjadi tugasku yank" wajah Mutiara kembali merona, ia teringat dengan kejadian panas pagi ini.
Gilang hanya terkekeh melihat tingkah istrinya yang dirasa sangat menggemaskan ketika merasa malu. Ia segera membawa istrinya masuk ke dalam kamar mandi sebelum keinginan gilanya merasuk ke dalam jiwanya lagi.
๐น
๐น
Usai mandi Mutiara hendak keluar dari kamar, tapi dicegah oleh suaminya. Ia tidak menyangka ternyata Gilang sudah memasak nasi goreng untuk mereka. Bahkan saat ia mandi, Gilang pun sudah meminta pelayan membuatkan lagi susu dan kopi yang keburu dingin gara-gara menunggunya bangun.
"Gimana yank...enak nggak?"tanya Gilang dengan raut yang lucu.
"Enak kok yank...ternyata kamu jago masak juga ya" puji Mutiara sambil mengunyah makanan yang sudah ada di dalam mulutnya.
"Iya donk...siapa dulu orangnya... Alvian Gilang Dirgantara githu loh," cicit Gilang menyombongkan diri.
"Ikh...kumat lagi dech sombongnya!" dengus Mutiara.
"Tapi kamu cintakan?" Gilang menaik-turunkan kedua alisnya untuk menggoda istrinya.
Mutiara mendengus lagi, bibirnya dibuat mengerucut. Gilang terkekeh saja, ingin rasanya ia meraup habis bibir sang istri yang terlihat seperti gula baginya. Gilang dan Mutiara segera menghabiskan makanan mereka.
๐น
๐
๐น
Hari semakin sore, Gilang dan Mutiara hanya menghabiskan waktunya untuk bersantai ria di Villa saja. Mereka belum berniat untuk berjalan-jalan, atau berkunjung ke suatu tempat. Apalagi keluarga mereka belum juga sampai di Villa.
"Yank..." panggil Mutiara mulai merasa bosan karena sejak tadi hanya di kamar sambil nonton tv.
"Hmmm"
"Kamu lagi ngapain sih?" Mutiara menghampiri suaminya yang sedang duduk di sofa kamar.
"Oh...Ini lagi ngecek email yang masuk dari kantor" jawab Gilang.
Mutiara berengut kesal, katanya liburan? Tapi masih saja memikirkan kerjaannya. Gilang mengerti kemudian menutup laptopnya. Dan menarik tubuh istrinya untuk duduk di pangkuannya.
"Maaf yank...bukan maksud untuk nyuekin kamu" lirih Gilang mulai mengendus leher istrinya.
"Yank...geli," cicit Mutiara
Bukannya berhenti tapi malah semakin menjadi. Gilang sendiri tidak mengerti kenapa bisa begitu?? Tubuh istrinya seakan menjadi candu tersendiri baginya. Gilang tidak akan bisa berhenti jika sudah menyentuhnya.
*Tin...Tin...Tin....
"Yank...itu pasti mereka" cuit Mutiara menghentikan tingkah suaminya yang mulai menggila.
Gilang berhenti, menjauhkan wajahnya dari curuk leher sang istri. Sudah ada beberapa tanda merah yang tertinggal disana. Gilang mengurai rambut istrinya, agar bisa menutupi jejak keliarannya. Bisa berabe jadinya kalau nanti maminya sampai melihat tanda merah yang ia buat.
๐น
๐น
Gilang dan Mutiara keluar dari kamar, menuruni setiap anak tangga dengan tangan saling bergandengan satu sama lainnua. Mereka ingin menyambut kedatangan pak Bayu beserta yang lainnya.
Bu Meisya yang melihat putra sulungnya langsung memberikan sebuah tatapan yang tajam. Gilang bergedik ngeri. Ia sadar sudah membangunkan induk macan dari tidurnya.
"Kali ini papi tidak bisa menolongmu! Mamimu sudah bertanduk sejak berangkat dari rumah" bisik pak Bayu pada Gilang.
Gilang hanya bisa menyengir kuda, ia menggaruk tekuknya yang tidak gatal.
"Maaf Mi...kami kan hanya ingin sekedar menikmati suasana pagi hari di Villa hanya berdua tanpa ada gangguan" cicit Gilang.
"Terus ngapain kakak ngusulin buat liburan bareng sama kita? Mendingan kakak ajak aja Mutiara pergi honeymoon, dengan begitu kan tidak ada pengganggu" tukas Elvina kesal.
"Usul elo bagus juga! Nanti dech kakak bakal atur jadwal pergi honeymoon berdua dengan istri kecil kakak ini" cuit Gilang seraya mengecup singkat pelipis istrinya.
__ADS_1
Bu Meisya semakin dibuat melotot oleh kelakuan putranya. Ia tidak menyangka jika Gilang sudah berani secara terang-terangan bersikap mesra dengan sang istri di hadapan semua orang. Apalagi menantunya kini bersikap biasa saja. Malah wajahnya bersemu merah akibat menahan rasa malu mendapat perlakuan seperti itu dari suaminya.
Bu Meisya segera menarik Mutiara, membawa menantunya masuk ke dalam sebuah ruangan.
"Mi...mau dibawa kemana istriku?" seru Gilang sedikit cemas.
"Yang jelas mami tidak akan menganiaya menantu mami sendiri" sahut bu Meisya.
Elvina dan Kelvin hanya bisa mengangkat bahu mereka saat melihat kelakuan ibu dan anak. Mereka tertawa kecil saat melihat wajah frustasi kakaknya.
"Tanang kak...mami tidak akan tega menyakiti menantu kesayangannya" cuit Kelvin.
"Gue tahu itu! Tapi habis ini pasti gue yang bakal kena ocehan dari mami!" ketus Gilang mengusap wajahnya dengan kasar.
Ia takut jika istrinya berkata jujur persoalan apa yang sudah mereka lakukan pagi ini.
Kelvin dan Elvina memicingkan mata, mereka seolah sedang menerka adanya sesuatu yang salah.
"Apa kakak sudah berbuat sesuatu pada Mutiara?" tebak Elvina.
"Emang salah ya kalau melakukan sesuatu pada istri sendiri?" ujar Gilang dengan nada kesal, ia pun pergi meninggalkan kedua adiknya dengan wajah frustasinya.
๐น
๐น
Mutiara menunduk, tangannya meremas-remas ujung kaos yang ia kenakan. Ia merasa ngeri saat melihat tatapan dari mami mertuanya. Terlihat sangat mengintimidasi.
Bu Meisya menghela nafas panjang lalu mengeluarkannya dengan kasar. Ia menyingkap rambut menantunya yang tergerai panjang. Sebuah desahan lolos dari bibirnya, ia bisa melihat ada beberapa jejak merah disana. Bu Meisya yakin itu adalah ulah dari putranya.
"Jadi kalian sudah melakukannya?" selidik bu Meisya hanya ingin memastikannya saja.
Mutiara mendongak, lalu menunduk lagi karena takut.
"Iya mi" jujur Mutiara.
"Aku hanya tidak tega melihat mas Gilang terus berjuang keras demi menahan keinginannya untuk menyentuhku" cuit Mutiara lagi.
Bu Meisya duduk disamping Mutiara, ia akui putra sulungnya banyak berubah. Bahkan orang kepercayaannya pun sudah memberikan info kepadanya mengenai perubahan drastis yang ditunjukan oleh Gilang semenjak menikahi Mutiara.
Gilang tidak pernah lagi mencari wanita dari luaran sana hanya untuk memuaskan dirinya. Ia lebih sering menghabiskan banyak waktunya bersama sang istri. Mutiara sudah berhasil membuat Gilang jatuh hati kepadanya.
Bu Meisya mengusap puncak kepala menantunya.
"Mami tidak akan melarang kalian untuk melakukan hubungan suami istri, itu hak kalian. Apalagi sekarang Gilang sepertinya sudah mulai mencintaimu" ucap bu Meisya.
Mutiara mendongak, ia pun menantap mami mertuanya dengan mata berbinar.
"Mami benar, mas Gilang sudah menyatakan cintanya padaku pagi ini" ucap Mutiara dengan polos.
Bu Meisya terkekeh kecil, ia tidak salah sudah memilih gadis itu sebagai menantunya. Keluguan yang ia miliki mampu membuat orang di sekitarnya merasa gemas.
"Kalau begitu kamu bisa segera memberikan mami seorang cucu kan" bu Meisya mengedipkan mata, ia senang bisa menggoda sang menantu.
Wajah Mutiara memerah seperti udang rebus. Jujur saja ada rasa takut untuk menjadi seorang ibu di umurnya yang terbilang masih sangat muda. Tapi ia pun tidak ingin mengecewakan keluarga suaminya.
"Insyaallah ya Mi" jawab Mutiara malu-malu.
Bu Meisya tertawa lagi. Ia menoel dagu Mutiara lalu membawanya ke dalam dekapan hangatnya.
*
**ยฉ
ยฎ
*
Author sudah up lagi ya, maaf kalau sedikit geje atau lebay
jangan lupa untuk kasih votenya๐๐๐๐๐๐**
__ADS_1