Pernikahan Beda Usia

Pernikahan Beda Usia
#PERNIKAHANBEDAUSIA_67


__ADS_3

#PERNIKAHAN_BEDA_USIA


PART 67


***


Waktu terus berjalan dengan begitu cepat. Tapi aku merasa masih diam di tempat. Sambil menatap dan melihat wajahmu yang cantik saat masih dalam tidur yang nyenyak. Kamu tak hanya cantik di wajah, namun hatimu pun sangat bersih. Anugrah terindah dalam hidupku adalah saat aku bisa mencintai dan memilikimu dengan seutuhnya. Banyak gadis yang hadir lalu lalang di depan mata namun tak satu pun dari mereka yang dapat menarik perhatianku. Hanya kamu seorang yang mampu meluluhkan hatiku dengan seribu kebaikan serta ketulusan hatimu. Aku sangat bahagia karena bisa berjalan beriringan bersamamu dalam setiap langkah. Menyambut dunia yang penuh dengan teka-teki. Hatiku tidak akan lengkap jika cintamu tidak pernah menembus hatiku. Aku Alvian Gilang Dirgantara berjanji akan selalu menjalani hidup bersama Mutiara Mikayla Putri hingga ajal datang menjemput. Tak akan ada wanita ataupun pria lain yang dapat merusak kesucian cinta kami.


Gilang terus memandang wajah ayu dari Mutiara, jari-jarinya asyik bermain menelusuri setiap inci wajah istrinya. Gilang tersenyum geli ketika Mutiara berusaha menyingkirkan jari-jari tangannya, sedangkan mata Mutiara sendiri masih terpejam seolah enggan membukanya.


"Ish...jangan ganggu, aku masih ngantuk!" Mutiara menggerutu sambil membalikan badan membelakangi suaminya.


Gilang meneguk dalam-dalam salivanya. Terpampang jelas jejak kepemilikannya pada bahu mulus Mutiara. Ia sendiri tidak pernah menyangka akan menjadi seliar itu apabila sedang bercinta dengan Mutiara. Pantas saja Mutiara selalu protes dan menghentikan aksinya saat ia hendak mengendus lehernya.


Gilang merapatkan tubuhnya dengan tubuh Mutiara. Memeluknya dengan erat. Tak lupa tangan jahilnya dibiarkan bergerak aktif. Mengusapi perut buncit Mutiara yang hanya terbalut oleh selimut tebal akibat percintaan semalam.


Gilang tersenyum tipis ketika mengingat dua bulan lagi ia akan bersua dengan anak-anaknya. Gilang sudah tidak sabar menanti hari itu, dimana akan ada tangisan bayi yang akan mewarnai harinya.


"Please yank, aku masih ngantuk!" Mutiara kembali melayangkan protesnya. Gilang terkekeh kecil. Ini memang sudah menjadi kebiasaan paginya menggangu tidur istrinya dikala libur. Mendengar rengekan manja dari Mutiara terasa sangat menyenangkan bagi Gilang.


Mutiara bukan gadis manja seperti pada umumnya. Ia sangat mandiri dan memiliki pemikiran yang sangat dewasa. Hanya saja semenjak hamil, Mutiara cenderung menjadi sangat manja. Dan itu membuat Gilang merasa bahagia karena bisa memanjakan istrinya dengan segudang caranya.


"Masak iya suami libur dicuekin, tahu gini mendingan aku pergi ke kantor saja? Ya setidaknya ada orang-orang yang suka kasih perhatian ke aku," celoteh Gilang yang ingin menggoda istrinya.


Mutiara membuka kedua matanya. Hatinya panas mendengar suaminya mengatakan ada orang-orang yang suka kasih perhatian padanya. Mutiara berdecak kesal, membalikan badan menghadap Gilang.


"Oh...jadi kamu seneng ya yank, dapet perhatian dari mbak-mbak gatel itu?" Mutiara mendelik kesal mengingat para gadis manggang yang ada di kantor suaminya.


"Ya dari pada diacuhin sama istri..." Gilang semakin ingin menggoda istri kecilnya. Menurutnya, Mutiara menjadi imut kalau lagi marah. Apalagi melihat bibirnya yang dibuat mengerucut, Gilang sangat ingin mencicipinya kembali.

__ADS_1


"Nih kalau berani!" Mutiara menunjukan kepalan tangan di depan wajah Gilang. "Aku buat tuh muka babak belur, biar nggak bisa tebar pesona!" Mutiara kembali bersungut.


Lagi-lagi Gilang terkekeh kecil. Ia menyingkirkan tangan Mutiara lalu merengkuh tubuhnya ke dalam pelukannya. "Mana mungkin aku bisa tebar pesona sedangkan aku punya wanita cantik yang selalu mengawasiku," ucap Gilang membuat mata Mutiara membulat.


"Kamu sudah tahu yank kalau selama ini aku menyuruh Risma mengawasimu?" tanya Mutiara dengan sangat hati-hati.


"Apa sih yang nggak bisa aku ketahui, kamu lupa siapa suamimu ini?" Gilang menyombongkan diri. Mutiara berdecak kesal, seharusnya ia tahu kalau tindakan konyolnya akan mudah diketahui oleh suaminya.


"Aku percaya sama kamu yank, tapi tidak dengan para gadis gila itu!" Mutiara mencebikan bibirnya. "Bisa sajakan nanti mereka diam-diam menaruh sesuatu ke dalam minumanmu kemudian menjebakmu?" Gilang mengernyitkan dahi, merasa bingung dengan pemikiran istrinya.


"Kamu kenapa bisa berpikiran sempit seperti ini, yank? Kamu sendiri kan tahu kalau selama ini tidak ada orang yang berani berbuat macam-macam padaku atau mereka akan bernasib sama dengan Clarissa dan Renata" Gilang menarik dagu istrinya agar mendongak menatap matanya.


Mutiara menghela nafas panjang. Apa yang dikatakan suaminya benar. Clarissa berakhir di dalam penjara setelah berusaha memisahkan dirinya dengan Gilang. Dan Renata...


Wanita itu harus merasakan sulitnya hidup tanpa kemewahan. Semua fasilitas yang pernah Gilang berikan sebelumnya, kini sudah ditarik lagi oleh Gilang. Tak cukup sampai disitu saja. Gilang bahkan sudah membuat Renata diblacklist dari dunia permodelan. Memang sangat keterlaluan. Tapi Gilang harus melakukannya demi melindungi keluarga kecilnya.


Gilang akan menjadi lembut jika itu dihadapan istrinya. Namun ia juga akan menjadi buas jika ada orang yang berniat menyakiti istrinya.


***


Kelvin secara perlahan mulai membuka hatinya. Benih-benih cinta pun mulai merambat masuk ke dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Kelvin merasa bahwa Shinta merupakan gadis yang baik dan sengaja dikirim oleh Sang Maha Kuasa untuk mengobati luka hatinya.


Selain wajahnya cantik, Shinta juga memiliki budi pekerti yang baik pula. Semua itu bisa dibuktikan dari sikap kedua orang tua Kelvin yang mudah menerima kehadiran Shinta dengan hati yang lapang. Bu Meisya termasuk sosok orang yang sangat jeli dalam memilih pasangan untuk anak-anaknya. Dan menurutnya, Shinta adalah gadis yang tepat bagi Kelvin.


"Ehemm...cie...cie...ada yang lagi ngalamunin Shinta?" Elvina menggoda Kelvin.


"Bisa nggak kalau masuk kamar orang ketuk pintu dulu!" Kelvin melayangkan protes, ia berdecak kesal dengan tingkah laku adiknya yang asal nyelonong masuk ke dalam kamarnya.


"Hehehe...maaf...?" Elvina hanya bisa menunjukan sebuah cengiran kecil dari bibirnya.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Kelvin kemudian.


"Hmmm...aku cuma mau bilang kalau di bawah ada Shinta," jawab Elvina.


"Oh..." Kelvin hanya ber-oh ria saja, seakan tidak tertarik dengan perkataan adiknya. Namun tak berapa lama Kelvin tampak membulatkan kedua matanya. "Elo bilang apa tadi?" Kelvin bertanya lagi.


"Aku bilang di bawah ada Shinta yang lagi ngobrol sama mami...kakakku sayang," Elvina mencebikan bibirnya. Kesal dengan sikap kakaknya yang sok acuh. Elvina merasa kalau Kelvin sama sekali tidak pantas jika bersikap sok cuek seperti Gilang, itu terkesan sangat aneh menurutnya.


"Serius? Elo nggak lagi ngerjain gue kan?" Kelvin takut kalau Elvina hanya berbohong.


"Kalau tidak percaya ya sudah..!" Elvina berlalu dari kamar Kelvin.


Kelvin berlonjak bahagia. Ia segera merapikan tatanan rambutnya kemudian pergi meninggalkan kamarnya. Kelvin ingin melihat apakah adiknya berkata benar atau tidak.


"Hai kak Kelvin, apa kabar?" sapa Shinta saat melihat Kelvin menuruni anak tangga. Bu Meisya menoleh kemudian tersenyum manis pada anak keduanya.


"Akhirnya anak mami yang jomblo ini keluar kamar juga," sindir bu Meisya.


Kelvin mendelik ke arah maminya, lalu tersenyum kecil pada Shinta. Kelvin merasa malu karena maminya dengan sengaja telah membuka aibnya yang masih jomblo. "Mami, emangnya salah ya kalau aku masih jomblo? Aku kan mau cari gadis yang baik dan tentunya tulus mencintaiku, ya nggak Shin?"


Shinta tersenyum sambil mengangguk kecil. Ia malu karena mendapat kedipan mata dari Kelvin.


"Iya...ya...Mami tahu, tapi jangan kelamaan ya? Entar keburu lapuk lho..." sindir bu Meisya sambil terkekeh geli.


"Jangan gitu dong mi, masak iya anak seganteng aku didoain jadi lapuk?" Kelvin menampakan wajah memelasnya. "Aku kan lagi usaha mi, harusnya mami doain aku semoga cepet dapat jodohnya!"


*Deg


Jantung Shinta berdegub kencang, ia seakan mendapat sengatan listrik. Kedua mata Shinta beradu dengan mata Kelvin.

__ADS_1


"Jodoh sudah ada di depan mata, tapi dasarnya kamu aja yang suka ngulur-ngulur waktu! Entar kalau diserobot orang duluan baru nangis bombai," sindir bu Meisya lagi. Ia berharap Kelvin akan peka dengan perkataannya.


__ADS_2