Pernikahan Beda Usia

Pernikahan Beda Usia
#PERNIKAHANBEDAUSIA_56


__ADS_3

PERNIKAHAN BEDA USIA


PART 56


***


Sepertinya Gilang memang tidak memiliki pilihan lain, selain mengikuti kemauan istrinya. Mata Gilang sakit melihat Mutiara dirawat oleh pria lain. Meskipun pria lain itu tak lain adalah sahabat Mutiara sendiri akan tetapi Gilang tetap saja merasakan cemburu yang luar biasa. Apalagi saat ini Arif dengan percaya dirinya memperlihatkan rasa perhatian yang begitu besar terhadap Mutiara di hadapan Gilang.


*BRAAKKK


Gilang menggebrak meja yang ada di depannya. Hati Gilang semakin panas. Ia sudah tidak tahan lagi melihat semua itu. Gilang berjalan melangkahkan kaki menghampiri brankar Mutiara.


"Kak Gilang mau apa?" tanya Elvina panik.


Sejujurnya Mutiara dan Arif sedikit merinding. Tapi mereka berusaha untuk tenang.


"Ini sudah cukup! Sebaiknya kau pulang saja bocah ingusan!" Gilang mengambil piring yang ada di tangan Arif.


"Tapi inikan belum habis," Arif membantah.


"Masih ada aku suaminya, jadi kau tidak perlu khawatir! Sekarang kau pulang saja, karena jam besuk pun juga sudah habis!" Gilang menaruh piring di atas nakas meja yang terletak di samping brankar. Ia mendorong Arif keluar ruangan perawatan Mutiara.


BRAAKKK


Gilang menutup pintu dan menghampiri Mutiara.


"Untuk apa kamu melakukan ini? Apa kamu lupa kalau aku tidak ingin dirawat olehmu?" Mutiara tampak kesal.


"Yank..." Gilang menatap mata Mutiara dengan tatapan memelas. Ia berharap hati istrinya akan luluh. Namun sayangnya, Mutiara malah membuang muka. Gilang mengusap wajahnya dengan kasar.


"OK...Aku nyerah! Kamu boleh pulang hari ini," ujar Gilang sudah tidak kuat dengan perlakuan istrinya. Mutiara tersenyum tipis. Akhirnya dia juga yang menang.


"Tapi kamu harus janji tetap bedrest saat di rumah dan tidak boleh keluar kamar selama beberapa hari!" lanjut Gilang.


Mutiara menghela nafasnya. Ia mengiyakan perkataan suaminya. Lebih baik tinggal di kamarnya sendiri daripada harus tetap berada di rumah sakit. Mutiara tidak suka dengan makanan yang ada di rumah sakit yang menurutnya terasa hambar.


Dan Elvina yang sejak tadi diam memperhatikan perang dingin antara suami istri hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ternyata kelakuan orang yang sedang dimabuk cinta sungguh memusingkan.


"Sepertinya gue sudah tidak dibutuhkan, lebih baik gue pulang saja!" cicit Elvina.


Gilang dan Mutiara tersenyum. Mereka mengucapkan banyak terima kasih karena selama perang dingin, Elvina yang lebih banyak menjaga Mutiara. Sedang Arif, dia akan datang jika Mutiara memanggilnya untuk datang.


Setelah melakukan konsultasi dengan dokter sekali lagi, Gilang segera menyelesaikan segala administrasi perawatan Mutiara selama berada di rumah sakit dan membawa istrinya pulang kembali ke rumah mereka.


Mutiara tampak bersemangat. Wajahnya berseri-seri. Jauh berbeda saat masih dalam perawatan, yang selalu ditekuk seperti lipatan baju.

__ADS_1


"Akhirnya aku bisa melihat senyuman manisnya lagi" guman Gilang dalam hati.


Gilang tahu bahwa Mutiara tidak terbiasa kalau harus berdiam diri saja. Ia akan mudah merasa bosan dan pada akhirnya mencari suatu kesibukan untuk menghilangkan rasa jenuhnya. Itu sebabnya Gilang tidak mengizinkan istrinya pulang dari rumah sakit sebelum kondisinya benar-benar pulih. Tapi Mutiara memaksa ingin pulang dan Gilang tidak punya pilihan lain selain menurutinya.


"Semuanya sudah bereskan? Ayo kita pulang sekarang!" Mutiara merangkul lengan suaminya. Gilang mengacak rambut istrinya dengan gemas. Mutiara akan bertambah manis jika bersemangat seperti itu.


"Hati-hati yank, ingat kamu lagi hamil lho!" Gilang mengingatkan Mutiara tentang kehamilannya saat Mutiara berjalan dengan sangat cepat.


"He..he..maaf yank, aku terlalu bersemangat. Aku sudah tidak sabar ingin cepat sampai di rumah," celoteh Mutiara. Gilang hanya bisa menggelengkan kepala. Meski sudah menikah, terkadang Mutiara sering menunjukan sifat remajanya.


Setibanya di rumah, Mutiara merasa senang karena disambut hangat oleh para pelayan. Mutiara tidak menyangka ternyata masih ada banyak orang yang mengkhawatirkan dirinya, padahal mereka sama sekali tidak memiliki hubungan apa pun dengannya. Sedangkan saudara kembarnya, Intan ( Clarissa ) bahkan tega menyerahkan Mutiara kepada pria yang bernama Mr. Steve.


"Sayang, kamu ingatkan kalau kamu harus tetap bedrest dan tidak boleh keluar kamar selama beberapa hari?" Gilang mengingatkan Mutiara tentang janjinya.


"Iya...iya...aku ingat," sungut Mutiara tampak kesal.


Mutiara melangkah pergi meninggalkan Gilang menuju kamarnya. Namun saat ia hampir tiba di tangga, Gilang mengejar dan menggendongnya.


Mutiara memekik, ia melingkarkan kedua tangannya ke leher Gilang karena kaget.


"Maaf yank, aku hanya ingin membantumu ke kamar?" cicit Gilang. Mutiara hanya memutar bola matanya. Sedangkan para pelayan tersenyum melihat kemesraan yang ditunjukan oleh kedua majikan mereka.


Di kamar, Gilang membaringkan Mutiara pelan-pelan. Menarik selimut, menutupi tubuh Mutiara hingga bagian dada. Gilang memberikan kecupan singkat pada kening dan bibir Mutiara. Lalu beranjak meninggalkan Mutiara.


"Yank, kamu mau kemana?" tanya Mutiara.


"Jangan lama-lama ya?" pinta Mutiara.


Gilang mengangguk pelan. Ia tahu kalau Mutiara tidak ingin ditinggal sendirian.


***


Di tempat lain, ada Elvina dan Arif. Mereka tengah asyik nonton film bareng di bioskop. Keduanya terlihat sangat dekat. Bahkan Arif dengan sengaja menggenggam tangan Elvina, sambil sesekali melirik gadis itu. Arif senang bisa menghabiskan waktu hanya berdua dengan Elvina. Hatinya yang kosong setelah mengetahui Mutiara menikah dengan pria lain, kini terisi kembali. Arif tak menyangka jika Elvina lah yang mampu mengisinya.


"Terima kasih," bisik Arif.


Elvina menoleh. "Untuk?" tanyanya.


"Untuk cintamu," Arif nyengir. Ia menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.


Wajah Elvina bersemu. Ia tahu bahwa Arif bukan tipe cowok yang romantis, namun semua sikap yang ditunjukan oleh pria itu mampu membuatnya tersipu.


"Terima kasih juga karena sudah mau membuka hati untukku," balas Elvina.


Sudah satu minggu lebih Elvina dan Arif resmi menjadi sepasang kekasih. Mereka tidak pernah menyangka pada akhirnya bisa saling jatuh hati. Padahal jika menelisik awal pertemuan mereka, dulunya Elvina dan Arif sempat terlibat perseteruan yang sengit. Mutiara lah yang selalu menjadi penengah mereka hingga terjalin persahabatan yang baik.

__ADS_1


Elvina dan Arif saling menatap satu sama lainnya. Mereka mengabaikan orang-orang yang duduk di sekeliling.


"Ehem..." seorang pria yang duduk di belakang mereka berdehem.


Elvina dan Arif tersentak malu. Hampir saja Arif mencium Elvina, kalau tidak diganggu oleh orang tersebut.


"Maaf..?" ucap Arif. Elvina menggelengkan kepala. Mungkin ini yang dinamakan cinta buta. Melakukan keromantisan tanpa mengenal waktu dan tempat. Pantas saja Gilang selalu bersikap manja jika bersama Mutiara.


Selesai nonton bioskop, Arif dan Elvina makan malam di kafe cinta. Di sana ada banyak pasangan yang melakukan dinner romantis. Elvina dan Arif lagi-lagi saling bertatapan, tapi kali ini berbeda. Mereka tertegun dengan nuansa tempatnya.


"Kita cari tempat lain yuk!" ajak Elvina.


"Kenapa? Apa kamu tidak menyukai tempat ini?" tanya Arif.


"Bukan tidak suka, tapi aku minder! Lihat lah mereka semua memakai pakaian formal ala pasangan yang sedang dinner, tapi kita..." Elvina menunduk malu melihat dirinya sendiri yang hanya mengenakan kaos oblong dan celana jeans panjang. Sangat tak layak dipanggil gadis yang tengah melakukan kencan dengan kekasihnya.


Arif mengerti. Tak seharusnya ia mengajak Elvina ke tempat ini. Sejujurnya Arif pun merasa tak nyaman datang ke kafe Cinta. Ini adalah pertama kalinya ia datang dan itu pun atas rekomendasi dari teman-temannya.


"OK kalau begitu kita cari tempat lain saja! Aku juga kurang nyaman berada di tempat ini." Arif menggandeng Elvina, membawa gadis itu keluar dari Kafe Cinta.


Elvina tersenyum tipis. Ia bahagia karena Arif termasuk cowok yang sangat pengertian. Arif bahkan memberikan dukungan penuh agar Elvina tetap bersemangat melanjutkan pendidikannya.


"Terima kasih untuk semuanya, aku sangat bahagia bisa mencintai pria sepertimu...Arif." Elvina berguman dalam hati.


***


Kelvin menatap sendu seorang bocah kecil yang tengah tertidur pulas di kamarnya. Ia tidak menyangka jika hidup bocah ini akan berakhir di jalanan. Kelvin tidak tahu kenapa kedua orang tua angkat bocah ini sampai tega membiarkan bocah ini hidup di jalanan bersama para pengemis.


"Maafkan papa Azka karena tidak bisa menjagamu saat itu, tapi mulai sekarang papa berjanji akan selalu melindungi dan membahagiakan dirimu." Kelvin mengusap puncak kepala bocah berusia 2 tahun itu.


"Mulai sekarang nama kamu adalah Muhamad Azka Dirgantara, kamu adalah bagian dari keluarga Dirgantara. Tidak ada seorang pun yang bisa menyakitimu lagi." Kelvin menatap kedua orang tuanya yang sedari tadi hanya bisa diam menatap wajah tampan cucu mereka. Kelvin berharap kedua orang tuanya akan menerima kehadiran putranya.


Pak Bayu menepuk bahu Kelvin. Mengangguk disertai senyuman. Awalnya pak Bayu sangat syok saat Kelvin secara mendadak menghentikan mobilnya di tengah jalan dan berlari merebut seorang bocah dari tangan pengemis. Kelvin bahkan sampai beradu mulut dengan pengemis tersebut. Namun setelah melalui perundingan yang begitu panjang, akhirnya pengemis itu merelakan Azka dibawa oleh Kelvin dengan bayaran sejumlah uang.


Dari situ pak Bayu mengetahui jika putra keduanya sudah memiliki anak dengan Clarissa.


"Bagaimana caramu bisa mengenali kalau bocah ini adalah Azka, bukankah kamu tidak pernah melihatnya?" tanya pak Bayu.


"Setelah tahu Azka dijual oleh ibunya, aku meminta orang untuk melihat keadaan Azka di rumah keluarga angkatnya dan meminta orangku mengambil beberapa gambarnya. Aku merasa sangat senang saat mendengar dia hidup dengan baik di sana, itu sebabnya aku mengikhlaskan Azka. Tapi aku tidak menyangka jika mereka pada akhirnya membuang Azka di jalanan setelah memiliki anak sendiri." Kelvin mengepalkan tangannya. Ia sangat marah setelah mendengar kabar Azka dibuang oleh keluarga angkatnya. Sudah beberapa hari ini, Kelvin berusaha menemukan keberadaan anaknya. Kelvin bersyukur karena Tuhan masih memberikan kesempatan padanya untuk menemukan putranya.


🍁🍁🍁


Kenapa Author tidak bisa up lebih cepat


Itu semua karena Author bisa ngetik lanjutannya kalau bocah lagi bobok dan kerjaan rumah sudah beres

__ADS_1


jadi mohon bersabar ya kalau Author belum bisa up


Kalian yang sudah punya bayi pasti tahulah bagaimana repotnyaπŸ™πŸ™πŸ™πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜


__ADS_2