Pernikahan Beda Usia

Pernikahan Beda Usia
#PERNIKAHANBEDAUSIA_63


__ADS_3

#PERNIKAHAN_BEDA_USIA


PART 63


***


Hari sudah beranjak siang ketika Bandara Soekarno Hatta dipenuhi oleh pengunjung. Entah untuk menjemput, mengantar, melakukan perjalanan atau juga yang baru turun dari pesawat. Suasana Bandara yang penuh sesak telah menjadi pemandangan tersendiri. Dan pastinya hampir setiap hari dapat dinikmati.


Seorang pria berkulit sawo matang berpakaian rapi lengkap dengan setelan jas telah siaga berdiri di depan pintu terminal kedatangan luar negeri. Pandangannya tak luput mengamati satu per satu setiap orang yang baru saja keluar dari pintu kedatangan luar negeri, kemudian melambaikan tangan setelah menemukan pasangan muda-mudi yang tengah bergandengan dengan mesranya. Pasangan tersebut tak lain adalah Gilang dan Mutiara.


Gilang dan Mutiara menghampiri pria itu. "Hallo pak Radit, apa kabar?" tanya Mutiara.


Radit tersenyum tipis, "Kabar saya baik Nona Muda, bagaimana perjalanannya? Apa menyenangkan?" jawab Radit dengan sopan.


"Tentu saja menyenangkan, coba saja kalau pak Radit sama yang lain juga ikut? Pasti akan lebih menyenangkan!" ujar Mutiara.


"Kalau ramai-ramai namanya bukan honeymoon, yank!" tukas Gilang merasa kesal karena diabaikan oleh dua makhluk yang ada di dekatnya. Mutiara nyengir kuda dan Radit hanya bisa diam menunduk tak ingin menambah mood jelek dari bosnya.


"Dimana pak Heru?" tanya Gilang kemudian.


"Pak Heru menunggu di mobil, tuan muda" jawab Radit.


Gilang manggut-manggut. Kemudian merangkul pinggang Mutiara kemudian mengajaknya meninggalkan tempat tersebut menuju mobil. Radit menghela nafas panjang.


"Dasar bos posesif, takut banget kalau ada yang melirik istrinya!" Radit menggerutu dalam hati.


"Yang jomblo dilarang sirik!" Radit melotot mendengar ucapan bosnya. Darimana bosnya itu bisa tahu kalau saat ini dia sedang mengatai bosnya itu. Radit hanya geleng-geleng kepala. Nasibnya bisa jomblo seperti ini juga karena bosnya kalau ngasih kerjaan nggak kira-kira. Radit bahkan sering lembur demi menyelesaikan pekerjaan milik bosnya itu.


Mutiara terkikik geli, ia tahu saat ini Radit sedang mengumpati suaminya. Mulut Gilang memang suka seenaknya kalau ngomong. Tapi justru itu yang membuat Mutiara semakin sayang. Entahlah, tapi Mutiara akui bahwa sifat arogant Gilang hanya ditujukan pada public dan tidak untuk orang-orang terdekatnya. Termasuk Radit dan Heru. Mungkin itu pula yang membuat mereka berdua tetap setia kapada Gilang meskipun dengan beragam sikap yang cukup bar-bar.


"Selamat siang tuan muda...nona muda," sapa Heru ketika Gilang dan Mutiara sudah sampai di mana mobil terpakir.


"Hmmm..." Gilang hanya berdehem.


"Siang juga pak Heru...bagaimana kabarnya? Sehatkan?" balas Mutiara dengan menampilkan deretan giginya yang putih.


"Yank...jangan tersenyum pada mereka, nanti mereka bisa kesenengan melihat senyuman yang memabukan itu!" protes Gilang.


Bibir Mutiara membeo heran dengan kelakuan suaminya yang suka cemburu tanpa alasan.


Radit dan Heru saling menatap lalu menghembuskan nafas dengan kasar. "Dasar pria bucin!! Takut amat kalau ada pria lain yang melirik istrinya!!" gerutu mereka dalam hati.


"Yank, kamu cemburu sama mereka? Bukankah mereka orang-orang kepercayaanmu?" sindir Mutiara.


"Tapi mereka juga laki-laki yank, mana mungkin mereka tidak akan tertarik pada wanita? Apalagi wanitanya semanis kamu" jawab Gilang.


Mutiara memutar bola matanya. Merasa jengah dengan sikap posesif suaminya.


"Ayolah pak Heru, kita pulang ke rumah mami!" ajak Mutiara menerobos masuk ke dalam mobil. Berdebat dengan Gilang tidak akan ada habisnya.


"Kok ke rumah mami sih?" protes Gilang lagi.


"Kita jemput dulu Azka di rumah mami, baru pulang ke rumah kita!" Mutiara menjelaskan.


Gilang masuk ke dalam mobil yang disusul oleh Radit dan Heru.

__ADS_1


"Kita langsung pulang ke rumah, nanti biar mami yang antar Azka!" tukas Gilang.


Mutiara menoleh menatap Gilang yang duduk di sisinya. Ia mencebikan bibir ketika Gilang menampilkan wajah arogantnya lagi.


"Kumat deh sifat lamanya!" kesal Mutiara.


Gilang diam. Ia tidak menghiraukan omelan Mutiara yang semakin lama semakin melantur kemana-mana.


*CUP


Mutiara membulatkan mata saat merasakan bibir Gilang sudah menyatu dengan bibirnya. Wajah Mutiara langsung merona dan terasa hangat. Malu tentunya.


"Ini hukuman yang pas untuk istri yang bawel!" cuit Gilang.


Mutiara memalingkan wajah ke samping. Wajahnya memanas karena menahan rasa malu.


"Nasib punya bos yang nggak punya etika ya begini, nggak ada rasa kasihan sama yang jomblo" bathin Radit, ia pun mendengus kesal.


"Ya ampun punya bos kok gini amat ya, nggak kasihan apa sama kita-kita yang masih jomblo" Heru membathin, merasa kesal dengan kelakuan bosnya.


***


*BUGH


"Auuhh..." ringis dua orang gadis bersamaan. Tanpa sengaja mereka saling bertabrakan.


"Sorry...sorry...gue nggak sengaja?" ucap salah satunya.


"Iya nggak apa-apa, gue juga salah kok karena jalannya meleng!" jawab gadis lainnya.


"Kenalin gue Shinta, mahasiswa baru jurusan desain"


"Sama donk, gue juga jurusan desain. Oh ya nama gue Elvina, senang berkenalan dengan elo"


Elvina dan Shinta saling berjabat tangan. Merasa senang karena bisa dipertemukan dengan teman baru. Keduanya pun lantas pergi ke kantin.


Semua mata mulai memandang, ada yang mengagumi ada pula yang mencemooh. Elvina dan Shinta sedikit risih namun mereka berusaha cuek. Selama tidak mengganggu, biarkan saja seperti angin lalu.


"Vin, elo dari SMU mana?" tanya Shinta.


"Gue dari SMU Dirgantara, elo?" Elvina bertanya balik.


"Hebat ya elo bisa masuk SMU Dirgantara, pasti elo berasal dari keluarga berada. Kalau gue sih dari SMU Nusa bakti, itu pun melalui jalur beasiswa" jawab Shinta berkata jujur.


Elvina tersenyum tipis, "Yang kaya itu bukan gue tapi orang tua gue!" tutur Elvina.


"Sama aja kali" balas Shinta dengan senyuman pula.


"Udah ah.. nggak usah ngomongin kaya miskin! Gue kesini bukan mau pamer kaya atau miskin tapi mau belajar sekaligus cari teman yang tulus" tukas Elvina.


"Gimana? Apa elo mau jadi teman gue?" tanya Elvina sambil menjulurkan tangan untuk berjabat tangan.


"Baiklah, kita teman sekarang!" Shinta menjabat tangan Elvina tanda ingin berteman dengan Elvina.


Elvina memesan minuman dan beberapa snack untuk menemani obrolan seru keduanya. Canda dan tawa pun mulai terdengar hingga membuat pandangan semua orang semakin tertuju pada mereka.

__ADS_1


BRAKKK


Elvina dan Shinta mendongak kaget. Mereka akhirnya berdiri.


"Kalian anak baru ya?" tanya seorang wanita dengan wajah yang terlihat sedikit sangar.


"Iya, kami memang anak baru. Memangnya kenapa, apa kami sudah melakukan kesalahan?" tanya Shinta.


"Iya dan tentunya kesalahan kalian sangat besar! Kalian dengan lancangnya sudah berani duduk di tempat kami!" ketus wanita lainnya.


"Tempat duduk kalian? Apa nggak salah? Inikan kantin, jadi setiap orang berhak duduk dimana pun mereka suka bukan?" kali ini Elvina yang menjawab.


"Benar setiap orang berhak duduk dimana pun tapi tidak disini! Disini sudah menjadi tempat kami semenjak kami memasuki kampus ini" tutur wanita lainnya lagi.


Elvina menatap keempat gadis itu. Ia hanya bisa menggelengkan kepala. Apa.yang dikatakan oleh Mutiara tempo hari benar. Ternyata ada sebuah geng mahasiswi yang sok berkuasa.


"Oh...maaf kita nggak tahu. Kalau begitu kami akan pergi" ujar Elvina menarik Shinta. Sebenarnya kalau mau Elvina bisa melawan keempat wanita itu. Namun ia tidak mau melakukannya. Elvina tidak ingin membuat masalah yang bisa membuka jati dirinya sebagai anak pemilik Universitas Dirgantara.


***


Dua wanita berbeda usia kini duduk saling berhadapan. Salah satunya tengah menggeretakan gigi dengan kedua tangan yang mengepal kuat. Ada rasa benci yang bersemanyam di hatinya. Ia begitu jijik dengan wanita paruh baya yang tengah duduk di hadapannya.


"Untuk apa kamu datang kemari?" tanya wanita muda tersebut dengan nada sengit.


"Dasar anak tidak tahu diri, apa ini caramu berbicara dengan ibu yang sudah melahirkan dan membesarkanmu?!" ujar wanita paruh baya dengan tak kalah sengitnya.


"Ibu...ibu macam apa kau sampai tega membiarkan masa depan anakmu dihancurkan oleh ayah tirinya?" bentak wanita muda itu.


"Itu salahmu sendiri karena tidak bisa menjaga sikap!" tukas wanita paruh baya.


Wanita muda itu tersenyum sinis. Ia hanya bisa meratapi nasibnya karena terlahir dari rahim seorang wanita yang gila akan harta.


"Andai saja kamu tidak gila harta, mungkin saat ini hidup kita akan lebih bahagia bersama keluarga yang utuh! Aku, kamu, ayah dan Mutiara" lirih wanita muda itu. Air matanya mengalir deras dari ufuk mata. Ia menyesali akan takdirnya. Ia menyesal sudah menyakiti saudaranya sendiri.


"Clarissa, setiap manusia pasti membutuhkan uang untuk menjalani hidup tapi ayahmu...dia bahkan tidak bisa memenuhi setiap apa yang menjadi keinginanku! Itu sebabnya aku pergi meninggalkannya" bantah ibu Clarissa.


Ya wanita paruh baya itu tak lain adalah ibu kandung Clarissa dan Mutiara. Ia segera kembali ke Indonesia karena mendapat kabar bahwa salah satu putrinya ditahan di kantor polisi dan putrinya yang lain hidup nyaman bersama keluarga barunya.


"Aku datang kemari hanya ingin menanyakan alamat Mutiara yang baru" tanya ibu Clarissa.


Clarissa tersenyum sinis, ia yakin ibunya memiliki maksud buruk untuk saudaranya itu.


"Jangan harap kau bisa mendekati saudaraku! Cukup aku yang menjadi korban ambisimu!" tukas Clarissa. Ia tidak ingin Mutiara akan terbujuk dengan kata-kata manis dari ibunya.


"Apa kau mencoba melindungi saudara kembarmu itu, bukankah kamu bisa berada di sini karena ulahnya?" ibu Clarissa berusaha memojokan Clarissa.


Clarissa hanya tertawa kecil. Meskipun ia sekarang bisa berada dalam tahanan karena Mutiara, tapi Clarissa tidak rela jika ibunya akan melukai atau menyakitinya saudara kembarnya. Clarissa memanggil petugas polisi yang menjaganya, ia ingin kembali ke selnya.


"Sebaiknya jangan pernah mengusik kehidupan Mutiara jika kau tidak ingin berakhir sepertiku" ucap Clarissa sebelum dia benar-benar meninggalkan ibunya.


Ibu Clarissa terdiam. Ia semakin penasaran dengan kehidupan putri yang pernah ia tinggalkan. Dulu ia lebih memilih membawa Clarissa pergi bersama dengan dirinya karena Mutiara begitu lemah. Mutiara lebih mudah jatuh sakit ketimbang Clarissa, kakaknya.


Ibu Clarissa tidak mau mengurus anak yang mudah sakit. Menurutnya itu bisa membuatnya semakin repot saja dan pastinya akan lebih membutuhkan banyak biaya.


🔹Hola-hola

__ADS_1


Di dunia nyata kira-kira ada nggak ya orang semacam ibu Clarissa😁😁🔹


__ADS_2