
#PERNIKAHAN_BEDA_USIA
PART 95
πππ
"Ka...ka...kau..." Clarissa terbata menatap wanita yang berdiri di hadapannya dari bawah kaki hingga ujung kepala. Usianya memang sudah berlanjut tapi wajahnya tetap cantik dengan balutan muslimnya. Sekali lagi Clarissa mencermati orang tersebut, mungkin ia salah lihat atau bagaimana. Akan tetapi hasilnya tetap sama. Wanita itu adalah wanita yang sudah mengandung nya selama sembilan bulan lebih dan melahirkan dirinya ke dunia ini dengan selamat.
Clarissa betul-betul tak percaya dengan perubahan pada penampilan ibunya yang secara dratis tersebut. Mungkinkah dia memiliki suatu tujuan tertentu, apakah dia berniat ingin mengambil hati saudara kembarnya dengan berpura-pura sudah berubah menjadi sosok muslimah sejati. Oh...tidak, Clarissa benar-benar tidak bisa mengerti dengan jalan pikir ibunya itu.
"Nona...nona..." panggil wanita itu hingga membuat Clarissa mengerutkan keningnya. Ada apa ini, kenapa malah memanggilnya nona...
"Nona, apa anda baik-baik saja?" tanya wanita itu.
"Apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu malah memanggilku nona?" lirih Clarissa
Wanita itu hanya menatap bingung pada Clarissa.
"Apa kita saling kenal?" tanya nya kemudian.
Clarissa membulatkan kedua matanya, entah akan ada drama apa lagi yang sedang dijalan kan oleh ibunya itu.
"Kau benar-benar tidak tahu malu ya, sama anak sendiri berlagak sok tidak kenal?" cuit Clarissa mulai terbawa oleh amarahnya.
Kini wanita itu yang berganti membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna. Mengamati Clarissa dari ujung kaki hingga kepala.
"Kau...kau...kau...Intan atau Mutiara?" tanya wanita itu lagi.
"Ck...kau amnesia atau pikun, bisa-bisa nya tidak bisa mengenali siapa aku? Kau bahkan tahu kalau aku berbeda sekali dengan Mutiara!" Clarissa mengeram kesal.
Wanita itu tertawa kecil sambil terisak pilu. Merengkuh tubuh Clarissa ke dalam pelukannya.
"Intan anakku, akhirnya ibu bisa bertemu denganmu lagi nak? Ibu sudah sangat merindukanmu selama ini,"
Clarissa terdiam. Ia merasa bingung dengan sikap ibunya yang seolah menunjukan sudah tidak bertemu dengannya selama bertahun-tahun. Padahal mereka baru bertemu kira-kira sehari sebelum Clarissa mendonorkan sumsum tulang belakangnya pada Azka.
"Maafkan ibu nak karena sudah menelantarkan mu dan saudara kembarmu? Ibu benar-benar tidak bermaksud untuk melakukannya. Ibu hanya wanita bodoh yang mau ditipu oleh wanita licik itu..."
Deg...
Clarissa mematung, mencerna setiap ucapan yang barusan keluar dari mulut wanita itu.
"Wanita licik? Apa maksudnya?" tanya Clarissa.
Wanita itu merenggangkan pelukannya pada Clarissa. Ia sadar sudah kelepasan. Akan tetapi mungkin ini jalan terbaik agar anak-anaknya tahu bahwa wanita yang selama ini tinggal bersama mereka bukan lah ibu kandung mereka. Melainkan bibi mereka, yang tak lain saudara kembarnya.
"Ibu akan cerita, tapi tidak di sini!" cicit wanita itu.
"Ayo ke rumah ibu, ibu akan ceritakan sebuah kebenaran yang belum kamu dan Mutiara ketahui!" ajaknya kemudian.
Clarissa tampak ragu. Ia takut jika wanita itu hanya bersandiwara saja. Namun hatinya terus menyakinkan bahwa wanita itu tulus dan berbeda dengan wanita yang sudah membesarkan dirinya dan menelantarkan saudara kembarnya.
Clarissa akhirnya menurut. Dengan harap-harap cemas ia mengikuti wanita itu berjalan menyusuri sebuah jalan setapak menuju sebuah rumah kecil yang sangat sederhana tapi terlihat asri dan terawat.
__ADS_1
Sekelebat bayangan masa lalu muncul, dimana ia dan saudara kembarnya tengah membatu ibunya untuk berkebun.
"Sejak kapan kau kembali menyukai kegiatan berkebun? Bukan kah kau bilang berkebun itu tidak menghasilkan uang?" sindir Clarissa.
Wanita itu tersenyum tipis, Clarissa sempat terpana. Ia kembali teringat dengan senyuman manis yang selalu ditunjukan oleh ibunya sewaktu ia dan Mutiara masih kecil. Sangat manis hingga menyejukan hati mereka bagi yang melihatnya.
"Ibu masih sama, Intan. Masih suka berkebun karena membuat udara sekitar rumah menjadi sejuk," jelas wanita itu yang mengerti dengan maksud perkataan Clarissa.
"Masuk lah, ibu akan menunjukan sesuatu kepadamu!" ajaknya lagi pada Clarissa.
Wanita itu kemudian mempersilahkan Clarissa untuk duduk setelah berada di dalam rumah. Kecil tapi nyaman, itu lah yang dirasakan oleh Clarissa. Sama seperti rumah nya yang dulu, saat keluarga kecilnya masih bersama-sama.
"Apa ini yang ingin kamu tunjukan padaku?" Clarissa menatap sinis pada wanita itu,
wanita itu hanya geleng-geleng kepala lalu beranjak menuju sebuah ruangan yang dirasa adalah kamar. Clarissa semakin bingung. Sifat wanita itu sangat berbeda, dia terkesan lebih lembut dan tidak kasar seperti biasa.
Tak berapa lama wanita itu keluar dengan membawa sebuah kotak.
"Buka kotak ini dan lihat lah isinya di dalam, kamu pasti akan mengerti apa yang ingin aku tunjukan kepadamu!" Clarissa meraih kotak itu dan membukanya.
"Foto? foto siapa ini? Dan kenapa wajahnya hampir mirip dengan ku dan Mutiara saat masih kecil?" Clarissa menatap bingung pada wanita itu.
"Tapi itu bukan kalian!" wanita itu menyela lalu mendesah pelan.
"Itu foto ibu dan saudara kembar ibu! Dan wanita yang bersama kalian selama ini bukan lah ibu melainkan saudara kembar ibu!" Clarissa terkejut bukan maen. Ia menatap ibunya dari atas hingga bawah. Memang sangat mirip hanya sikapnya yang berbeda, kasar dan lembut.
Clarissa memang dapat merasakan sikap wanita yang ada dihadapan nya sangat lah berbeda dengan wanita yang sudah merawatnya selama ini. Bahkan cara ia tersenyum pun tidak sama, wanita yang hidup dengannya seakan tak pernah tersenyum padanya. Namun wanita itu, senyumnya begitu lembut dan tulus. Seperti senyum saat mereka masih baik-baik saja.
"Lalu apa yang terjadi hingga dia bisa menggantikan posisimu?" sebuah pertanyaan yang tiba-tiba lolos dari bibir Clarissa.
Wanita itu menatap sendu pada Clarissa lalu bercerita tentang dirinya dan saudara kembarnya dulu.
Β
###
Hana dan Hani, bocah kembar yang harus tinggal di panti asuhan karena kedua orang tuanya meninggal akibat kecelakaan. Tidak ada sanak saudara yang mau menampung keduanya. Mereka mau tak mau harus hidup dan tinggal di sebuah panti asuhan yang sangat sederhana. Berbagi dalam segala hal dengan anak-anak yang lainnya. Hana dan Hani tak pernah merasa keberatan asalkan mereka tetap bersama-sama, itu lah pesan kedua orang tua mereka sebelum menghembuskan nafas yang terakhir.
Namun karena sebuah keadaan, mereka terpaksa harus terpisah. Ada sepasang suami istri ingin mengadopsi Hana. Awalnya mereka menolak keras karena tetap ingin menjalankan amanah dari kedua orang tua mereka, tapi ibu panti terus saja membujuk hingga mereka berdua luluh. Mereka mau berpisah tapi bukan Hana yang pergi, melainkan Hani adiknya.
Hana yang saat itu mengetahui bahwa Hani ingin hidup normal seperti dulu, memiliki kedua orang tua yang lengkap dan bersekolah lagi akhirnya memutuskan untuk mengalah. Ia ingin Hani bahagia, itu sebabnya Hana meminta ibu panti agar mengusulkan jika Hani saja yang diadopsi. Ibu panti serta sepasang suami istri itu pun menyetujuinya. Dan Hani ikut mereka.
Semenjak hari itu Hana tidak pernah mendapatkan kabar tentang Hani sama sekali. Bahkan sampai Hana memiliki suami dan anak kembar.
Hingga suatu ketika Hana tanpa sengaja melihat wajah yang sangat mirip dengannya berada di sebuah tempat yang sangat sepi dengan memegang pisau yang berlumuran darah. Ada seorang pria tua pula yang menjerit kesakitan karena perutnya terluka akibat tusukan. Wajah pria itu tampak begitu pucat hingga ia tidak mampu bertahan lama dan pada akhirnya ambruk tersungkur di tanah.
"Hani, apa yang kau lakukan?" Hana mendekati pria itu kemudian mengecek nadinya apakah masih berdenyut atau tidak.
"Apa pria tua itu sudah mati?" Hani ketakutan.
"Belum, nadinya masih terasa berdenyut! Apa yang kau lakukan? Bukankah dia ayah angkatmu?" Hana menatap tajam saudaranya itu.
"Ayah angkat? Bukan, dia tak layak menjadi ayah angkat! Dia sudah menghancurkan hidupku, dia sudah melecehkan aku dan menjualku pada pria hidung belang!" jawab Hani dengan nada kebencian.
__ADS_1
Hana melotot tak percaya, bayangan nya kembali pada beberapa tahun yang lalu. Pria itu dan istrinya terlihat sangat ramah dan penyanyang, tapi kenapa Hani malah bilang kalau pria itu telah menghancurkan hidupnya.
Hani berlutut pada Hana, memohon kepadanya agar mau menolongnya. Ia tak mau jika harus hidup mendekam di dalam balik jeruji besi.
Hana yang pernah berjanji pada kedua orang tuanya untuk selalu menjaga Hani yang ceroboh, akhirnya mau membantu Hani.
Hana bersedia menggantikan posisi Hani dengan sebuah syarat yakni Hani harus mau menjaga dan merawat suami dan anak-anaknya dengan baik.
Hana dan Hani bertukar posisi, Hana harus menghabiskan waktunya di dalam penjara dan Hani terpaksa hidup bersama keluarga kecil Hana yang miskin. Hani sebenarnya tidak mau tapi ia tidak punya pilihan lain, daripada harus hidup dalam penjara.
Hana sangat yakin saudaranya akan menepati janjinya, tapi kenyataan tidak. Hani malah merusak kebahagiaan suami dan anak-anaknya. Tentu Hana merasa sangat kecewa. Ia tidak menyangka Hani akan melakukan hal itu, pengorbanan yang sudah dilakukan Hana berakhir dengan penyesalan.
Setelah bebas dari penjara, Hana sengaja datang ingin melihat keluarganya dari jauh hanya sekedar untuk mengobati rasa rindunya. Namun apa yang terjadi. Disana ia malah dikejutkan dengan kematian suaminya. Bahkan Hana sama sekali tidak melihat keberadaan Hani dan salah satu putrinya. Hanya ada Mutiara yang bersedih, diam membeku dengan tatapan kosong. Untung saja ada ibu Meisya yang senantiasa berada di sisinya. Hana ingin sekali berlari dan memeluk Mutiara, tapi lagi-lagi Hana tidak bisa. Hana ingin tahu apa yang sudah terjadi dengan keluarga kecilnya.
Diam-diam Hana mengorek semua informasi, mencari tahu apa yang sudah terjadi selama dirinya berada di dalam penjara. Hana syok berat saat mengetahui apa yang terjadi. Hani sudah bermain api dengan Rehan hingga memunculkan sebuah permusuhan antara dua sahabat, Surya dan Rehan.
Hana tak menyangka yang tadinya kedua sahabat itu saling mendukung kini telah berbalik saling menikam satu sama lainnya. Surya menjebloskan Rehan ke dalam penjara karena sudah melecehkan Mutiara dan Elvina, sedangkan Rehan telah melakukan pembunuhan berencana kepada Surya dan pak Bayu. Ya... Rehan lah yang sudah membayar sejumlah begal untuk membunuh Surya dan pak Bayu melalui koneksi yang ia miliki. Sayang nya hanya Surya saja yang berhasil dilenyapkan dan pak Bayu Selamat.
Sekarang Rehan berhasil meloloskan diri dari penjara. Pria itu telah bertekad mengincar Mutiara dan Elvina. Kedua perempuan itu telah berhasil merebut hati Rehan sejak kejadian penculikan waktu itu. Mutiara yang memiliki wajah dan sifat yang hampir mirip dengan Hana membuat Rehan kembali jatuh hati, sedangkan Elvina...dia begitu mirip dengan bu Meisya, wanita idola Rehan sejak berada dibangku SMA sebelum Rehan bertemu dengan Hana.
Rehan tidak perduli akan dianggap sebagai pedofil tapi tujuannya begitu kuat untuk bisa memiliki Mutiara dan Elvina.
Hana sebagai ibu Mutiara tidak bisa tinggal diam. Ia berusaha masuk ke dalam lingkup kehidupan Rehan sebagai Aisyah. Hana sengaja membalur tubuhnya dengan arang agar terlihat gelap, dengan begitu Rehan tidak akan mengenalinya. Hana sengaja melakukan semua itu agar dapat mengetahui pergerakan Rehan. Hana tidak ingin pria yang sudah membunuh suaminya, berhasil mendapatkan keinginannya dengan mudah. Hana bersumpah akan melindungi kedua putrinya meskipun nyawanya yang akan menjadi taruhannya.
###
Clarissa menangis jadi. Ia sangat menyesal karena sempat berusaha mengambil posisi Mutiara di dalam hidup Gilang. Ia tidak pernah tahu bahwa kehidupan saudaranya jauh lebih miris. Banyak kejadian yang sudah dialami Mutiara, tapi saudaranya itu berusaha tetap kuat. Mutiara bertahan dengan segala kenyakinan yang pernah ditanamkan oleh kedua orang tuanya. Akan ada badai sebelum terbit pelangi.
Andai saja waktu itu Clarissa bisa seperti Mutiara, mungkin nasibnya tidak akan buruk seperti saat ini. Clarissa goyah karena merasa ibu nya telah memilih uang ketimbang hidup putrinya. Tapi nyatanya...wanita itu bukan ibunya, melainkan sosok adik dari ibunya yang tidak tahu balas budi.
Clarissa bertekad mengubah diri, berharap ada cahaya yang akan menuntunnya menuju kebaikan. Ia pun ingin menjadi seperti sosok wanita yang sudah melahirkan dirinya. Clarissa memutuskan menjadi Intan kembali dan memantabkan hati untuk berhijab serta menata hidupnya yang telah berantakan.
Hana bahagia karena Clarissa sudah menerimanya dengan baik, dan kini tugasnya adalah menjaga Mutiara dari jauh. Clarissa pun telah bersedia membantunya.
πππ
Bagaimana cerita hari ini, semoga kalian suka ya
Sekali lagi Author minta maaf karena tidak bisa up novelnya cepat atau setiap hari seperti novel lainnya. Mungkin untuk mengetik atau menulis hanya butuh 1-3 jam saja, tapi waktunya yang belum ada.
Kegiatan Author tiap hari sudah sangat menyita waktu. Kenapa dulu bisa up tiap hari
Karena saat itu Author belum ada anak batita. Author masih bisa setia menunggu anak di sekolah. Tapi sekarang sudah berbeda
Author sudah ada anak batita yang sangat aktif dan perlu pengawasan yang ketat ditambah masa pandemi, si kakak harus belajar melalui daring online
Dan pekerjaan rumah menanti pun selalu menanti yang bahkan juga ikut terbengkelai karena harus menjaga buah hati.
Thor penulis lain juga ada yang memiliki batita, tapi bisa up tiap hari
Author tidak tahu bagaimana bisa, author hanya menjalani apa yang bisa author lakukan.
Dan Author sudah ada kesepakatan bersama dengan suami, bahwa anak-anak prioritas pertama
__ADS_1
Jadi sekali lagi Author minta maaf kalau masih mengecewakan para pembaca setia karena up nya terlalu lamaπππ