Pernikahan Beda Usia

Pernikahan Beda Usia
#PERNIKAHANBEDAUSIA_29 (REVISI)


__ADS_3

#PernikahanBedaUsia


Part 29


🍁


🍁


🍁


Elvina bahagia saat melihat sahabatnya bahagia. Ia bersyukur karena kesabaran yang dimiliki oleh Mutiara akhirnya membuahkan hasil yang luar biasa. Gilang, sang kakak sudah kembali menjadi seperti yang dulu. Menyanyangi serta mencintai keluarganya dengan segenap jiwa & raganya. Gilang yang sekarang lebih mudah untuk tersenyum meskipun hanya kepada sang istri saja. Kakaknya terlihat begitu sangat mencintai Mutiara, bahkan ia sepertinya tidak bisa jauh barang sedetik pun dari sahabatnya itu. Dari hari ke hari keduanya tampak semakin mesra dan lengket saja bak perangko. Elvina berharap mereka akan selalu begitu sampai akhir hidup.


"Vin, elo kenapa?" tanya Kelvin pada adik bungsunya.


"Nggak ada apa-apa kak...Aku hanya merasa bahagia melihat Mutiara dan kak Gilang bahagia seperti itu" jawab Elvina. Pandangannya mengarah pada sosok dua orang yang asyik bercengkerama di salah satu bangku yang ada di taman.


"Kak Gilang memang beruntung karena mendapatkan sosok Mutiara dalam hidupnya dan gue berharap tidak akan ada lagi badai yang akan mengganggu kebahagiaan mereka" lirih Kelvin tapi masih bisa terdengar oleh adiknya Elvina.


Kelvin menengadahkan kepalanya ke atas, melihat langit-langit yang mulai beralih menggelap. Matahari semakin berada diujung ufuk barat, pertanda senja sudah datang. Sangat indah...tapi kenapa harus sesaat belaka? Kenapa senja tidak bisa bertahan lebih lama lagi?


Kelvin mendesah berat, ia harus segera menemukan keberadaan Clarissa.


"Kak Kelvin pasti memikirkan dia ya" tanya Elvina bisa merasakan kegundahan kakaknya.


"Gue nggak tahu bagaimana keadaan dia sekarang? Apakah dia baik-baik saja atau tidak? Entah kemana Clarissa membawanya pergi? Wanita itu benar-benar sangat licik" cicit Kelvin.


"Kak Kelvin yang sabar ya! Aku yakin dia pasti akan segera kembali pada kakak. Clarissa tidak bisa terus menyembunyikan dia dari kakak, aku sangat yakin itu" Elvina mengusap bahu Kelvin. Ia merasa kasihan kepada kakaknya. Kelvin juga tak kalah menderitanya akibat ulah dari wanita ular macam Clarissa.


Kelvin tersenyum, ia mengajak adiknya bergabung dengan keluarga yang lain. Dan membiarkan sepasang suami istri itu menikmati kebersamaan mereka.


-----


"Yank...Apa boleh aku bertanya sesuatu?" cuit Gilang.


"Kamu mau tanya apa yank?? Kalau aku bisa jawab pasti aku akan menjawabnya" Mutiara mengusap wajah suaminya yang kini sudah ada di pangkuannya. Gilang memang sedang rebahan di kursi panjang dengan paha Mutiara sebagai bantalan.


"Apakah kamu sudah siap menampung benih cinta kita di dalam rahim kamu?" ucap Gilang, tangannya menelungsup masuk ke dalam kaos istrinya kemudian mengusap lembut perutnya.


Mutiara mengulas senyuman di bibirnya. Kalau ditanya sudah siap atau belum, tentunya dia belum siap. Usianya masih sangat muda, ia tidak tahu apakah bisa menjadi tauladan yang baik bagi anak-anaknya kelak atau tidak. Apalagi sejak ia kecil, ia sudah kehilangan bagaimana rasanya mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu. Mutiara tidak ingin jika anak-anaknya kelak akan memiliki nasib yang sama seperti dengan dirinya.


Namun saat melihat mami mertuanya...Hati Mutiara menjadi yakin jika tidak semua ibu akan memiliki sifat yang buruk seperti wanita yang sudah melahirkan dirinya. Mami mertuanya begitu lembut dan penuh kasih sayang, terutama pada anak-anaknya. Mutiara ingin menjadi seperti beliau, wanita hebat yang rela melakukan apapun demi anak-anaknya.


"Tentu saja aku siap yank...Bukankah setiap pasangan suami istri selalu mendambakan hadirnya buah cinta mereka" jawab Mutiara penuh keyakinan.


"Aku pun juga sama dengan pasangan-pasangan itu. Bisa mengadung dan melahirkan buah cintaku dengan suami yang tercinta ini" lanjut Mutiara. Ia menarik pelang hidung suaminya.

__ADS_1


"Yank...Kamu menggodaku?" lirih Gilang kemudian memiringkan wajahnya. Diciumnya perut sang istri berkali-kali.


Mutiara terkikik. Dasar suami mesum! Baru digituin aja sudah dibilang menggodanya.


"Yank...Ini tempat umum lho" ingat Mutiara pada suaminya saat tangan nakal Gilang menyibak kaosnya sedikit ke atas dan wajahnya semakin dimajukan agar bisa leluasa merasakan kulit lembut milik perut istrinya.


"Hehehe maaf yank... Aku hanya ingin membisikan sesuatu di dalam sana supaya lekas bersemanyam buah cinta kita! Dengan begitu aku nggak akan lagi takut untuk kehilangan istri kecilku ini" cuit Gilang.


Pipi Mutiara merona, kata-kata yang terlontar dari bibir suaminya memang selalu berhasil menyihir wajahnya untuk memerah. Untung saja saat ini dia masih asyik bermain bermain diperutnya. Kalau tidak...Pasti Gilang akan tertawa penuh kemengan karena berhasil membuatnya terbang ke awan.


----


Hari terakhir di Bandung, mereka sengaja menyempatkan diri pergi ke mall sebentar. Bu Meisya merajuk sejak semalam, saat permintaannya tidak di penuhi oleh sang suami. Dia terus saja mengacuhkan pak Bayu, sehingga membuat pria paruh baya tersebut menjadi kalang kabut. Itu sebabnya jadwal hari ini adalah shooping untuk para wanita. Mereka pergi ke Paris Van Java Mall yang terletak di jalan Sukajadi. Mall yang diresmikan pada bulan Juli 2006 ini, dirancang dengan nuansa open air yang alami serta pemandangan burung-burung merpati hias yang beterbangan. Faktor lain yang menjadi daya tarik adalah konsep bangunan yang kental dengan desain Eropa.


Senyuman manis bu Meisya akhirnya merekah juga dari bibirnya. Ia terlihat begitu antusius dalam memborong barang-barang branded. Bahkan bu Meisya juga memilihkan untuk anak dan menantunya, termasuk baju-baju dan alat make up. Bu Meisya hanya ingin jika Elvina dan Mutiara selalu tampil cantik di hadapan pasangan masing-masing, dengan begitu mereka tidak akan melirik wanita lain.


"Mi...Elvina kan belum menikah dan dia pun juga belum memiliki kekasih" protes pak Bayu yang mulai kesal dengan kelakuan istrinya.


Bagaimana tidak kesal...Saking asyiknya berbelanja, bu Meisya bahkan tidak tahu kalau ia sudah berhasil membuat pak Bayu dan kedua putranya menenteng banyak barang baik di tangan kanan maupun kiri.


"Biarpun belum punya pasangan, Elvina harus tetap cantik! Dengan begitu akan ada banyak lelaki yang jatuh hati padanya" bu Meisya menjawab.


"Tapi lihatlah! Belanjaan kalian sudah banyak sekali, apa masih kurang cukup?" ucap pak Bayu sambil menyodorkan tentengannya agar sang istri melihat.


Pak Bayu mendesah kasar, ia melirik kedua putranya. Berharap mereka bisa membantu memberikan penjelasan pada istrinya bahwa ini bukan masalah uang. Tapi harga diri. Pak Bayu merasa tidak keberatan sama sekali jika istrinya ingin memborong banyak barang belanjaan atau bahkan membeli tokonya sekaligus. Karena ia tahu uangnya tidak akan habis sampai tujuh turunan. Namun saat ini pak Bayu sudah lelah dan malu. Apalagi sejak tadi sudah ada banyak orang yang memperhatikan mereka.


Gilang dan Kelvin hanya mengangkat bahu saja. Sejujurnya mereka pun sudah merasa letih karena harus mengitari setiap sudut mall.


"Mi...Kita sudahin aja ya belanjanya? Kan besok-besok kita masih bisa shooping bareng lagi di jakarta" Mutiara membujuk mami mertuanya. Ia merasa kasihan dengan ketiga pria tersebut.


"Iya Mi...Lagian mami nggak capek apa?? muter-muter keliling mall segede ini? Kita aja sudah berasa capek plus laper" bela Elvina.


Bu Meisya nyengir kuda, saking asyiknya berbelanja. Dia sampai lupa mengajak mereka untuk makan terlebih dahulu.


Bu Meisya akhirnya setuju menghentikan kegilaannya. Mereka pun sepakat mencari restorant agar bisa mengiri perut sudah mulai keroncongan.


Ketiga pria itu akhirnya bisa bernafas dengan lega. Mereka pun berniat menaruh barang-barang belanjaan terlebih dahulu di dalam mobil. Sementara itu para wanita mencari restorant yang dirasa nyaman untuk mereka makan.


Bu Meisya memilih sebuah restorant ala jepang. Mereka segera memesan makanan sambil menunggu pak Bayu dan kedua putranya.


"Ternyata lelah juga ya?" celoteh bu Meisya.


"Tapi sangat mengasyikan" lanjutnya.


Elvina dan Mutiara hanya tersenyum, mereka begitu kagum terhadap wanita paruh baya itu. Sangat energik.

__ADS_1


"Mi...tadi tumben belanjanya kalap banget, biasanya tuh...mami kalau belanja seperlunya aja???" selidik Elvina.


Bu Meisya hanya terkikik kecil hingga membuat anak dan menantunya mengeryitkan kening.


"Mami hanya mau kasih pelajaran sama papi kamu! Habisnya mami kesal banget sama dia!! Waktu liburan bukannya dinikmati malah asyik dengan laptopnya!" gerutu bu Meisya.


Elvina dan Mutiara kompak menggelengkan kepala. Dasar sang mami!! Tahu aja kalau suaminya paling benci yang namanya belanja-belanja.


Tak lama kemudian pak Bayu datang bersama Gilang dan Kelvin. Mereka bertiga pun duduk. Pesanan segera datang.


"Wuih... mami masih emang paling jago dalam memilih menu!!! Sesuai kesukaan kita semua" cuit pak Bayu.


"Kalau mami nggak tahu, mana mungkin mami bisa tahan menghadapi sikap papi yang suka protes kalau mengenai masalah perut" celutuk bu Meisya. Pak Bayu meringis, malu karena aibnya dibuka di depan anak-anaknya.


Sedangkan Mutiara...sekarang dia tahu darimana sikap Gilang yang suka pilih-pilih makann berasal? Ternyata nurun dari papi mertuanya. Ya buah jatuh nggak jauh dari pohonnya.


"Yank...kok bengong? Ayo dimakan! Apa mau aku suapin nih" cuit Gilang.


"Oh...ya...enggak usah yank! Aku bisa makan sendiri kok" jawab Mutiara segera mengambil semangkok ramen.


πŸ”Ή


πŸ”Ή


πŸ”Ή


πŸ”Ή


πŸ”Ή


Hallo apa kabarnya??


Author udah up lagi ya


Jangan lupa untuk kasih votenyaπŸ™πŸ™πŸ˜˜πŸ˜˜


Sesuai pengumuman kemaren, kalau aku mau up novel baru yang judulnya CHINTA


sekarang udah di up ya, dan sudah disetujui oleh pihak Novel


yuk dibaca, siapa tahu bisa menjadi salah satu bacaan favorit kalian


Terima kasih


salam sayang dari author

__ADS_1


__ADS_2