Pernikahan Beda Usia

Pernikahan Beda Usia
#PERNIKAHANBEDAUSIA_86


__ADS_3

#PERNIKAHAN_BEDA_USIA


Part 86


💤💤


Dari hari ke hari Gilang merasakan adanya gelagat yang aneh pada istrinya. Selain suka melamun, Mutiara juga sering terlihat menangis dalam kesendirian. Tak hanya itu, Mutiara mudah sekali tersinggung khususnya jika ada yang dengan sengaja membicarakan soal penampilan. Meskipun itu bukan penampilan dirinya yang sedang dibicarakan. Mutiara yang tadinya terbiasa cuek dengan segala macam penampilan, akhir-akhir ini malah lebih suka menjaga penampilan. Dia bahkan mengikuti program diet yang berimbas pula dengan kesehatannya.


Gilang resah, ia sangat khawatir dengan kondisi istrinya. Walaupun sudah berkonsultasi dengan dokter dan dokter pun mengatakan bahwa istrinya hanya sedang mengalami masa baby blues saja. Akan tetapi Gilang tetap belum bisa merasa tenang. Entah lah kenapa bisa begitu, Gilang dapat merasakan adanya sesuatu yang sedang terjadi pada istrinya. Dan apa itu, Gilang juga belum bisa mengetahuinya.


Secara diam-diam Gilang meletakan camera kecil di kamarnya dan di kamar si kembar. Gilang hanya ingin tahu apa saja keseharian istrinya jika ia sedang berada di kantor atau pun luar rumah. Mungkin dengan begitu pula Gilang juga akan tahu apa yang sebenarnya terjadi pada istrinya itu. Gilang tidak mau kalau Mutiara sampai berlarut-larut menyimpan kesedihannya sendiri. Gilang ingin istrinya yang polos dan tidak neko-neko kembali lagi. Gilang benar-benar merindukan sosok Mutiara yang selalu menampilkan dirinya sendiri dan apa adanya. Bukan Mutiara yang tidak percaya diri dengan penampilannya.


Gilang mengetukan jari-jarinya di atas meja. Kedua matanya masih lurus menatap layar laptop, yang menampilkan ruangan kamar si kembar. Ada istrinya yang masih sibuk memberikan susu pada anak-anaknya. Gilang manarik bibirnya ketika melihat istrinya sedang mengajak si kembar bicara, ada tawa yang sangat ia rindukan belakangan ini.


"Semoga tawa itu akan segera kembali padaku," lirih Gilang.


Sekali lagi Gilang memperhatikan sekeliling kamar anak-anaknya. Ia melihat benda pipih berwarna hitam yang ada di atas nakas meja samping box Arsen sedang bergerak. Tak lama kemudian Mutiara datang untuk mengambilnya dan menatap benda pipih tersebut. Mutiara mengelus dadanya, cairan bening mulai berjatuhan melewati pipinya yang sedikit chuby akibat melahirkan si kembar.


Gilang mengepalkan tangan. Apa yang menjadi firasatnya benar. Ada sesuatu yang membuat istrinya tampak murung akhir-akhir ini. Gilang segera meraih ponselnya, menghubungi Radit yang tengah berada di ruangan lain.


"Radit, tolong kamu sadap ponsel milik Mutiara! Saya ingin tahu pesan apa saja yang ia terima dan siapa saja yang sudah menghubunginya!" ucap Gilang dengan nada datarnya.


"Baik tuan," jawab Radit kemudian menarik nafas lalu menghebuskannya lagi. Radit sudah bisa menebaknya dari jauh-jauh hari jika hal ini pasti akan terjadi. Ia pun dapat merasakan adanya sebuah gelagat aneh yang ditunjukan oleh istri tuan nya itu. Pasalnya Radit pernah tanpa dengan sengaja melihat istri tuan nya sedang menerima telephone dari seseorang dengan keadaan yang sangat marah. Dan setelah telephone nya dimatikan, Mutiara langsung menitikan air mata sambil duduk tersungkur di lantai.


Radit ingin memberitahukan nya pada Gilang. Namun sebelum ia bisa mengatakannya, Gilang sudah memberikan amanat terlebih dahulu kepada dirinya agar senantiasa mengawasi gerak-gerik Shinta. Sampai-sampai membuat Radit melupakan informasi tentang istri dari tuan nya itu. Radit segera mengakhiri pekerjaan kantor dan langsung melaksanakan perintah yang diberikan oleh Gilang.


💤💤💤


Mutiara duduk sendiri di taman belakang rumahnya. Pandangannya kosong, hati dan pikirannya melayang pada sebuah video yang baru saja dikirimkan oleh seseorang melalui ponsel seluler. Ingin rasanya Mutiara tidak mempercayai hal itu, akan tetapi si pelaku dari video tersebut jelas-jelas adalah wajah suaminya.

__ADS_1


Mutiara mulai menelisik dirinya sendiri, mungkin kah ada yang kurang pada dirinya. Atau kah memang penampilannya yang sudah tidak menarik untuk dilihat sehingga membuat suaminya kembali pada jalannya yang dulu. Bermain dengan banyak wanita.


Mutiara tidak bisa menemukan segala jawaban yang ia inginkan. Ia pun mengusap wajahnya dengan kasar. Air matanya pun sudah tidak mampu dibendungnya lagi. Segala angan tentang hidup yang bahagia bersama suami dan anak-anaknya musnah sudah dengan sebuah video yang sangat menyakiti hatinya.


"Kenapa kamu sampai hati melakukan ini kepadaku? Apa tidak cukup cinta yang aku berikan, sampai-sampai kamu masih berpaling mencari wanita lain untuk kesenanganmu?" guman Mutiara. Air matanya kembali mengucur. Ia tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Ingin rasanya ia bertanya langsung pada sang suami, tapi hatinya begitu ciut. Mutiara takut jika jawaban yang diberikan oleh Gilang akan membuat hatinya semakin hancur berkeping-keping. Mungkin dulu ketika awal menikah, Mutiara masih bisa menerima pengkhianatan yang dilakukan oleh suaminya. Namun tidak untuk sekarang. Mutiara sudah menyerahkan seluruh hati dan cintanya kepada Gilang, ia tidak akan sanggup apabila harus terpisahkan dari lelaki itu. Mutiara telah sepenuhnya menjadikan Gilang sebagai kekuatan hidupnya, apa yang akan terjadi seandainya Gilang benar-benar akan pergi meninggalkan dirinya. Seperti yang dikatakan oleh pengirim pesan gelap tersebut.


Berulang kali Mutiara memukul dadanya sendiri. Berharap rasa sakit itu akan hilang. Tapi nyatanya tidak begitu. Rasa sakitnya semakin bertambah saja. Mutiara menangis sejadinya, mengeluarkan semua kepedihan yang ada.


Tak lama hujan pun datang mengguyur bersamaan kilat petir menyambar. Biasanya sosok Mutiara akan merasa takut dan memilih masuk. Namun tidak untuk kali ini. Entah dapat kekuatan darimana, yang jelas Mutiara masih berdiam diri tanpa ada niat sedikit pun untuk masuk ke dalam rumahnya.


Mutiara membiarkan dirinya terguyur oleh derasnya hujan. Ia ingin menutup kesedihan dirinya dari semua orang.


"Nona Mutiara,"seru seorang pelayan.


Mutiara menatap pelayan tersebut lalu tersenyum tipis. Bibir nya sudah terlihat mulai membiru akibat kedinginan.


Mutiara hanya menurut, dia mengikuti setiap langkah pelayan tersebut dan membiarkannya menuntun dirinya untuk masuk ke dalam rumah serta mengantarkannya menuju kamar.


"Nona Mutiara tunggu di sini dulu, biar saya menyiapkan air hangat untuk nona mandi!" ujar pelayan tersebut.


Mutiara mencekal lengan pelayan tersebut. "Tidak usah bik, aku bisa sendiri!" ujar nya.


"Tapi nona..."


"Tolong bik...saya hanya ingin sendiri saja," sela Mutiara.


Pelayan itu mengangguk kemudian keluar dari kamar Mutiara. Mungkin saat ini Nona nya memang sedang ada masalah dan butuh waktu untuk sendiri. Akh...andai Laras ada di sini, tapi sayang nya dia sedang berada di rumah besar keluarga Dirgantara. Menemani Azka yang tengah menginap di sana sampai hari pernikahan Kelvin.


Setelah pelayan pergi, Mutiara langsung menutup rapat pintu kamarnya. Ia ingin berteriak sekencang mungkin agar bisa mengeluarkan segala unek-unek di hatinya. Kebetulan juga ruangan tersebut kedap suara. Jadi walaupun ia berteriak sambil memakai mic pun, tetap tidak akan ada satu orang pun orang yang dapat mendengarnya.

__ADS_1


"Akh..." teriak Mutiara frustasi. Segala cacian dan makian ia lontarkan pada sang suami yang kini masih ada di kantor. Tidak ada rasa takut sedikit pun di hatinya. Mata Mutiara kini mengarah pada sebuah bingkai yang terpajang di dinding. Ada gambar pernikahan mereka. Mutiara meraih lalu membantingnya begitu saja hingga hancur berantakan. Ada kepingan kaca terpental mengenai kakinya. Aliran darah segar mengalir, tidak deras tapi cukup menyakitkan.


"Luka ini memang sakit, tapi tidak sesakit hati ini!" lirih Mutiara kemudian merosot duduk di lantai masih meratapi segala nasibnya.


💤💤💤


Di tempat lain ada Gilang yang masih setia menatap layar laptop. Bukan karena suatu pekerjaan atau pun lainnya, melainkan sedang memantau keadaan istrinya yang tengah bersedih. Gilang ikut merasa hancur menyaksikan keadaan istrinya, apalagi setelah mendengar segala cacian yang terlontar dari bibir manis istrinya. Gilang hanya bisa mengepalkan kedua tangan nya, menahan segala rasa sakit serta amarahnya.


Sebenarnya ada sedikit perasaan kecewa di hati Gilang pada istrinya. Tetapi ia lebih memilih untuk menepisnya. Gilang justru penasaran apa yang di lihat oleh istrinya sampai bisa semarah dan sehancur itu. Gilang bersumpah tidak akan melepaskan orang yang sudah berani bermain-main dengan keluarga kecilnya. Apalagi sampai membuat Mutiara seperti itu.


Tok...tok...tok...


"Masuk!!" seru Gilang. Tak lama pun Radit menyembul masuk ke dalam ruangan Gilang.


"Tuan, saya sudah berhasil mendapatkan semua informasi yang masuk ke dalam seluler nona Mutiara dan sepertinya memang ada yang tidak beres?" ucap Radit dengan hati-hati.


"Tentu pasti ada, kalau tidak mana mungkin istriku bisa sehancur itu!" guman Gilang.


Radit melirik layar laptop tuan nya. Matanya membulat seketika saat mendapati Mutiara sedang menangis sambil memaki suaminya. Wajahnya pun sudah tak berbentuk akibat polesan make up yang berantakan karena lelehan air mata. Hati Radit ikut pedih, baru kali ini ia melihat langsung kesedihan wanita yang biasanya terlihat riang dan gembira itu.


"Ini pasti gara-gara video palsu itu," lirih Radit namun masih bisa di dengar oleh tuan nya.


"Video? Video apa?" tanya Gilang penasaran.


Radit menghela nafas lalu mengeluarkan ponsel nya. Dan menunjukan sesuatu pada Gilang. Sontak pria itu terkejut. Tangan nya mengepal kuat, pantas saja istrinya sampai sehancur itu.


"Cari tahu siapa sudah berani membuat video palsu itu dan mengirimkannya pada istriku!" perintah Gilang pada Radit.


"Baik tuan," Radit membungkuk lalu undur diri dari ruangan tuan nya.

__ADS_1


__ADS_2