Pernikahan Beda Usia

Pernikahan Beda Usia
PERNIKAHANBEDAUSIA_82


__ADS_3

PERNIKAHAN_BEDA_USIA


PART 82


💤💤💤💤


Mencintai dan dicintai oleh seseorang merupakan hal yang sangat membahagiakan. Apalagi ditambah dengan takdir tengah perpihak. Bisa bersatu dalam bahtera rumah tangga hingga ajal yang memisahkan adalah impian bagi setiap pasangan yang saling mencintai. Melewati setiap likuan atau terpaan badai bersama akan semakin memperdalam rasa cinta bagi mereka yang memiliki kepercayaan yang kuat antara satu sama lainnya. Mutiara masih melamun menatap keempat bayi kembarnya. Ia tak percaya akan menjadi ibu bagi lima orang anak dalam usianya yang masih tergolong sangat muda. Di saat teman-teman sebaya-nya masih asyik menikmati masa muda mereka, Mutiara harus merawat anak-anaknya sendiri.


Gilang memang sudah menyediakan empat baby sister yang terbaik dari jauh-jauh hari supaya dapat membantu Mutiara dalam mengurus keempat anak kembarnya dan Laras tetap menjadi pengasuh khusus bagi Azka. Gilang tak ingin melihat istrinya merasa kelelahan jika harus mengurus anak-anaknya seorang diri. Namun Mutiara tetap lah Mutiara. Ia ingin merawat anak-anaknya sendiri. Para pengasuh bisa tetap membantunya jika Mutiara memerlukan mereka nanti. Mungkin saat Mutiara sedang mandi atau harus menemani suaminya ke suatu acara. Gilang merasa sedikit keberatan, tapi apa dayanya. Itu sudah menjadi keinginan istrinya. Gilang memahami apa yang ada dibenak istrinya. Dulu Mutiara tumbuh tanpa adanya kasih sayang seorang ibu dan wajar saja kalau sekarang Mutiara ingin melimpahi anak-anaknya dengan kasih sayang yang lebih. Justru Gilang merasa semakin bangga dan semakin mencintainya istri kecilnya itu.


"Yank, kamu yakin tetap ingin mengurus mereka sendiri? Apa kamu sudah tidak berniat ingin melanjutkan pendidikanmu lagi?" tanya Gilang memeluk istrinya dari belakang. Menempelkan dagunya di pundak istrinya. Mereka saat ini tengah bersiap akan segera kembali ke jakarta dengan pesawat pribadi. Kondisi Mutiara dan keempat bayinya sudah pulih sepenuhnya dan mereka diizinkan pulang.


"Aku akan tetap melanjutkan pendidikanku yank, tapi tidak sekarang! Aku ingin mendampingi serta merawat anak-anak kita setidaknya sampai usia mereka mencapai dua tahun!" jawab Mutiara dengan mantap.


"Baik lah kalau itu yang menjadi keputusanmu, aku hanya bisa mendukungkumu saja! Dan aku hanya menginginkan kamu agar selalu berbahagia saja!" Gilang melepas pelukannya, hendak membantu istrinya berkemas. Akan tetapi dia malah disuguhkan dengan kecekatan istrinya. Semua sudah tampak rapi dan beres.


"Yups...semuanya sudah selesai!" ucap Mutiara dengan senyum sumringahnya. Ia sudah tak sabar ingin kembali ke jakarta. Membawa keempat anak kembarnya bertemu dengan Azka.


"Ayo kita bawa si kembar pulang, Azka pasti bahagia melihat adik-adiknya sudah lahir ke dunia ini!" ajak Mutiara tak sabaran.


Gilang mengangguk, mengusak rambut istrinya. Tak perlu hal mewah untuk membuat perempuan yang menjadi istrinya bisa tersenyum. Hanya mengikuti keinginan kecilnya saja, sudah mampu membuat Mutiara tersenyum bahagia.


💤💤💤

__ADS_1


Azka terlalu bahagia ketika mendengar kedua orang tuanya akan segera kembali bersama adik-adiknya. Ia begitu berantusias menghias kamar bayi yang sudah sengaja disiapkan oleh Gilang. Tentunya tetap dengan bantuan Kelvin dan para asisten rumah tangga. Para baby sister untuk si kembar pun juga turut membantu. Mereka tampak bahagia dan sangat bersemangat sekali.


"Beruntung sekali kita bisa mendekor ruangan untuk para penerus seorang Alvian Gilang Dirgantara ya, mereka pasti tampak tampan dan cantik-cantik seperti ayah-ibunya!" cuit salah satu baby sister si kembar.


"Iya pasti sangat menggemaskan juga!" timpal yang lainnya, sambil senyum-senyum sendiri.


Laras dan para asisten yang lainnya hanya bisa menggelengkan kepala. Sejujurnya ada rasa iri, tapi mereka masih tetap bersyukur karena bisa masuk ke dalam keluarga kecil Gilang. Meskipun hanya sebagai asisten rumah tangga saja.


"Mbak Aras, Azca boeh taluk ini di kamal adek-adek?" tanya Azka menunjukan sebuah boneka yang sengaja ia beli saat pergi ke mall bersama Kelvin.


"Tentu saja boleh sayang," Laras tersenyum, mengusak rambut Azka yang mulai panjang.


"Den Azka, habis ini kita ke salon ya? Kita potong rambut biar tambah cakep," ajak Laras.


Azka memegang rambutnya. Kemudian mengangguk setuju. Kelvin tersenyum kecil sambil bersidekap dada. Sungguh bahagia bisa melihat anaknya tumbuh dengan kebahagiaan yang sebenarnya. Kelvin berhutang pada kakaknya dan Mutiara karena sudah melimpahi Azka dengan kasih sayang yang besar dan begitu tulus tentunya.


"Iya sayang, nanti ayah temenin Azka!" Lagi-lagi Azka bersorak bahagia. Ia bahkan sampai melupakan saran dokter untuk tidak terlalu lelah.


"Kalau begitu sekarang Azka harus bersiap-siap ya! Jadi nanti kalau mommy sama daddy sudah tiba di rumah, Azka juga sudah selesai potong rambutnya?" Azka mengangguk menuruti ucapan Laras.


Kini para baby sister si kembar yang dibuat iri oleh Laras. Bisa pergi bersama dengan anak kedua dari keluarga Dirgantara, yang tak kalah tampannya dengan sang kakak.


"Uhhh...beruntung banget sih mbak Laras, bisa semobil dengan pangeran tampan kedua dari keluarga Dirgantara? Aku jadi kepengen ikut deh..." guman mereka dalam hati.

__ADS_1


Sedang para pelayan lainnya tersenyum senang melihat para baby sister itu hanya bisa menggigit jari saja.


"Rasain tuh, makanya jangan sok cantik!" bathin para pelayan.


💤💤💤


Selama berada dalam pesawat, Gilang terus saja menatap wajah istrinya yang sedang tertidur pulas. Entah karena efek lelah dalam perjalanan atau pengaruh obat yang diberikan oleh dokter. Mutiara terlihat begitu damai dan tenang. Gilang merasa bersyukur atas anugerah yang sudah Tuhan berikan padanya. Tidak hanya keempat bayinya yang selamat, tapi istrinya pun sekarang baik-baik saja. Gilang sempat putus asa, melihat istrinya yang tak kunjung bangun. Ia sempat berpikir lebih baik tak hidup jika harus ditinggalkan oleh istrinya. Namun nyatanya Tuhan masih berbaik hati kepadanya, DIA berkenan membiarkan Mutiara membuka matanya.


Gilang benar-benar bersyukur, hingga dalam hati ia berjanji akan membangun rumah sakit gratis bagi orang-orang yang tak mampu. Dan rumah sakit itu akan diberi nama PELITA MUTIARA.


"Kak Gilang, apa kakak sudah menyiapkan nama untuk si kembar?" kepo Elvina.


"Tentu saja sudah, dan Mutiara pun juga sudah menyetujuinya!" jawab Gilang masih dengan nada yang datar.


"Siapa nama cucu-cucuku itu? Kalau kasih nama yang bagus, jangan suka asal-asalan!" timpal bu Meisya.


Gilang tersenyum tipis. Pandangangannya terarah pada keempat bayi kembarnya yang sedang berada dalam gendongan empat perawat yang sengaja ia sewa untuk sementara waktu. Setidaknya sampai satu minggu ke depan.


"Arshaka Gilang Dirgantara untuk yang pertama, Arseno Gilang Dirgantara untuk yang kedua, Asyifa Mikayla Dirgantara untuk yang ketiga dan yang terakhir adalah Asyilla Mikayla Dirgantara." Gilang menjawabnya dengan penuh keyakinan.


Semua orang yang berada dalam pesawat terdiam sesaat, kemudian serempak mengagumi nama-nama yang diberikan oleh Gilang pada keempat bayi kembarnya.


"Dan panggilannya Arsha, Arsen, Syifa dan Shilla?" ucap Elvina lagi yang tampak sangat bersemangat.

__ADS_1


Bu Meisya mengangguk. "Mami juga setuju," ujarnya kemudian.


Gilang tersenyum puas. Merasa senang karena nama yang ia siapkan, nyatanya disukai oleh keluarganya.


__ADS_2