Pernikahan Beda Usia

Pernikahan Beda Usia
#PERNIKAHANBEDAUSIA_88


__ADS_3

#PERNIKAHAN_BEDA_USIA


PART 88


🍁🍁🍁


Semua orang yang berada di dalam keluarga besar Dirgantara terlihat bahagia. Mereka sangat berantusias dalam menyambut hari pernikahan anak kedua dalam keluarga tersebut. Masing-masing memiliki tugas dalam mempersiapkan acara besar itu. Azka hanya berdiam diri menatap kesibukan yang ada disekitarnya. Bocah kecil itu nampak lesu, seakan tidak menyukai dengan apa yang terjadi. Berkali-kali ia sudah melayangkan protes bahwa ia tidak menyukai kehadiran Shinta, tapi tidak ada yang mengindahkannya. Mereka semua hanya berpikir jika Azka hanya merasa takut apabila Kelvin menikah dengan Shinta, maka kasih sayang Kelvin untuknya akan menghilang.


Tetapi tidak seperti itu. Azka memang hanya lah seorang anak kecil. Namun dia sungguh cerdas dan perasa. Azka bisa merasakan mana orang yang baik dan mana orang yang memiliki niat tidak baik.


"Oba Mommy di ini?" gumannya yang bisa di dengar oleh Laras.


"Den Azka merindukan Mommy?" tanya Laras yang dianggukin oleh Azka. Laras tersenyum tipis lalu mengusak rambut hitam bocah itu.


"Bersabar lah, sebentar lagi Mommy pasti akan datang bersama dengan Daddy dan si kembar!" ujarnya kemudian.


Wajah Azka berbinar, ia begitu bahagia saat tahu bahwa orang tua angkatnya akan datang. "Azca akan ilang ke Addy alau ante Inta itu ahat, Azca ering diarahin ama ia!" celetuk Azka dengan polosnya.


Laras mengusak rambut Azka, tersenyum tipis lantaran bisa memahami bagaimana perasaan bocah itu. Laras pun tahu bahwa Shinta sebenarnya tidak begitu menyukai kehadiran Azka. Diam-diam Laras sering memperhatikan sikap ketus Shinta saat menjaga Azka, bahkan Shinta sering mengomeli Azka dengan kata-kata yang tak pantas. Mungkin Shinta merasa takut kalau suatu hari nanti Azka akan menjadi penghambat masa depannya dan calon anak-anaknya, terlebih Azka adalah anak sulung dari Kelvin dan merupakan cucu pertama dari keluarga Dirgantara. Laras hanya bisa diam, tidak dapat berbuat banyak mengingat statusnya yang hanya lah sebatas pelayan. Meskipun terkadang hatinya meronta ingin membuka seperti apa wajah asli calon menantu kedua dari keluarga Dirgantara.


"Ommy...Addy..." teriak Azka sambil berlari menghampiri kedua orang tua angkatnya.


"Azka, jangan berlari seperti itu sayang! Nanti bisa jatuh," ucap Mutira menyerahkan Arshaka kepada salah satu pengasuhnya.


"Hehehe...aaf Ommy?" ujar Azka menampilkan deretan gigi nya yang putih.


Mutiara tersenyum tipis, mencium pipi Azka dengan gemas. Ia sangat merindukan bocah itu. Hampir dua minggu ia tidak melihat wajahnya yang begitu menggemaskan.


"Mommy rindu sekali sama Azka," ucap Mutiara.

__ADS_1


"Azca uga rindu ama Ommy...Addy..." Azka memeluk Mutiara, menciumi kedua pipi Mutiara secara bergantian.


Gilang tampak berengut kesal. Meskipun Azka hanyalah seorang bocah, tapi tetap saja hatinya tidak rela melihat istrinya dicium oleh Azka.


"Sabar Gilang! Dia anakmu, walaupun hanya anak angkat!" bathinnya.


"Azka nggak mau peluk Daddy?" ujar Gilang kemudian, masih tak terima melihat bocah itu memeluk istrinya.


"Au donk, Azca kan ayang Addy uga!" Azka merentangkan kedua tangannya meminta Gilang supaya mau menggendongnya.


Gilang pun segera menyerahkan Asyilla pada pengasuhnya. Mengangkat Azka ke dalam gendongannya. Bocah itu pun juga menciumi wajah Gilang, menunjukan rasa sayang nya yang amat besar. Gilang menerimanya dengan bahagia. Ia membalas rasa sayang itu dengan rasa sayang seorang ayah kandung pada anaknya sendiri.


Gilang melangkahkan kakinya, masuk ke dalam rumah besar Dirgantara. Membiarkan Azka berceloteh di dalam gendongannya. Menceritakan secara detail hari-harinya selama berada di rumah oma dan opa nya. Mutiara turut tersenyum, melihat Azka yang bisa terbuka kepada suaminya.


Namun Mutiara terkejut tidak percaya dengan penuturan putra angkatnya yang mengatakan bahwa Shinta itu jahat dan suka membentak Azka dengan kata-kata kasar. Mana mungkin wanita seanggun Shinta bisa berbuat kasar pada anak kecil. Apalagi Shinta sering berkunjung ke rumahnya dan turut menjaga si kembar dengan telaten dan lembut.


Berbeda dengan Gilang yang sama sekali tidak terkejut. Dia malah mengumpat akan membalas setiap perbuatan yang dilakukan Shinta pada Azka dan keluarganya.


"Sabar lah sayang, besok kamu dan yang lainnya akan mengetahui semua kebenarannya. Mungkin ini akan sangat menyakitkan bagi semuanya, terlebih untuk Kelvin." Gilang berkata dalam hatinya.


Azka berhenti berceloteh ketika melihat Shinta tengah berdiri dengan anggun nya. Ada kedua orang tua Shinta pula yang berdiri dengan senyuman yang merekah.


Azka menenggelamkan wajah ke dalam pelukan Gilang, merasa takut dengan ketiga orang yang menunjukan sikap manis tapi hanya berpura-pura saja.


Gilang merasa malas menanggapi mereka, berjalan melangkah dengan mengabaikan keberadaan orang-orang tersebut. Mutiara pun tak tahu harus berbuat apa. Ada rasa canggung setelah mendengar penuturan dari putra angkatnya itu.


"Selamat datang kak Gilang...kami semua sudah menunggu kedatanganmu," ucap Shinta dengan sikap yang dibuat manis.


Gilang tak menggubris, tetap berjalan seolah tidak ada siapa pun di sana. Mutiara memaksakan bibirnya untuk tersenyum. Merasa ada yang aneh dengan tatapan Shinta. Seolah wanita itu mengagumi suaminya. Namun segera ia tepis karena mungkin ini sebatas perasaan nya saja. Mutiara mengucapkan salam kepada orang tua Shinta, tetapi disambut dengan sinis oleh mereka. Mutiara hanya bisa tetap bersabar dan tersenyum.

__ADS_1


Gilang yang menyadari akan hal itu merasa geram dan kesal. Kalau bukan demi rencananya untuk besok, mungkin tamat lah riwayat orang-orang sok ningrat itu. Keluarga pas-pasan tapi bersikap seolah berasal dari keluarga yang wah.


"Sayang, kita temui Papi dan Mami sekarang kalau tidak aku bisa dihabisi mereka karena sudah membuat menantu kesayangannya terkurung di rumah sejak adanya si kembar!" ucap Gilang dengan menekan kata menantu kesayangan agar mereka sadar siapa itu Mutiara.


"I..i...ya yank," jawab Mutiara sedikit tidak enak.


Shinta dan kedua orang tuanya dibuat kesal karena diacuhkan oleh Gilang. Rencana serta tujuan mereka akan semakin sulit. Gilang tidak mudah ditaklukan. Kabar yang mengatakan bahwa pria itu suka bermain wanita seolah tidak benar. Gilang terlihat begitu mencintai istrinya. Sikapnya yang lembut dan penuh cinta hanya ditujukan kepada istrinya. Sedangkan dengan orang lain, Gilang lebih memperlihatkan sikap yang dingin dan ketus.


###


Gilang tak henti menatap wajah istrinya yang terlihat natural namun terkesan sangat cantik. Berkali-kali ia tersenyum lanyaknya anak ABG yang lagi kasmaran.


Gilang bersyukur karena telah menyadari penyebab perubahan sikap istrinya yang sebenarnya. Kalau tidak ia pun tidak tahu apa yang akan terjadi pada wanita yang sangat ia cintai itu. Sungguh mungkin Gilang sendiri yang akan ikut gila.


Dokter telah menjelaskan efek dari obat yang sudah dicampurkan oleh pelayan tersebut ke dalam minuman serta makanan istrinya. Pelan-pelan tapi pasti akan merusak saraf otak dan membuat orang yang sudah meminumnya akan menjadi kehilangan akal. Itu sebabnya Mutiara selau tak mampu berpikir jenih ketika seseorang berusaha membuatnya percaya bahwa suaminya kini tengah berselingkuh dengan wanita lain.


Beruntung kondisi Mutiara berangsur membaik meskipun butuh kesabaran yang cukup tinggi. Efek obat tersebut belum sepenuhnya menghilang, akan tetapi bisa menghilang secara berangsur apabila diberikan curahan kasih sayang serta perhatian yang cukup tinggi.


Tentu Gilang tidak akan menyia-nyiakan hal itu. Baginya kesembuhan Mutiara adalah yang utama. Gilang bahkan sudah tidak masuk ke kantor selama beberapa hari demi menemani Mutiara di rumah. Ia ingin menunjukan betapa besarnya rasa cinta yang ia miliki dan menepis rasa curiga yang bersemanyam di hati Mutiara karena ulah orang yang tak bertanggung jawab.


"Selamat malam kak Gilang, bisa kah kita bicara sebentar?" Shinta datang mendekati Gilang.


"Bicara lah!" ketus Gilang yang masih memperhatikan istrinya yang tengah bercanda dengan kedua orang tuanya.


"Bisa kah kita bicara di tempat lain?" ucap Shinta sedikit takut.


Gilang nampak berpikir tentang apa yang sedang direncanakan oleh wanita tersebut.


"Baik lah kita bicara di ruangan kerja keluarga saya!" ujar Gilang saat melihat kedatangan Radit yang bersama Heru. Tapi sebelum ia pergi, Gilang sudah mengetikan sesuatu pada Radit sang asisten pribadi.

__ADS_1


Gilang melangkah dengan pasti, kedua tangannya dimasukan ke dalam saku celana. Sedangkan Shinta mengekor dengan senyum merekah. Merasa senang karena rencananya akan berjalan dengan mulus.


__ADS_2