
#PERNIKAHANBEDAUSIA
Part 32
Mobil Gilang sudah terpakir tepat di halaman rumahnya. Ia segera masuk ke dalam. Tak lupa menyarankan pada Heru untuk langsung istirahat saja. Karena besok mereka harus berangkat ke kantor pagi-pagi untuk pengadaan meeting bulanan yang sempat tertunda karena ulah dari istrinya tadi. Gilang sendiri masih heran karenanya. Apalagi barusan Mutiara menelponnya sambil terisak sedih, hanya gara-gara ia sudah meninggalkannya di rumah sendirian.
"Assalamualaikum...." seru Gilang.
"Waalaikum salam" jawab sang istri dengan nada ketus, tanpa beranjak dari sofa. Mutiara masih asyik menonton film kesukaannya.
Gilang menggeleng. Ia tahu bahwa istrinya masih marah kepadanya. Ia melempar tas kemudian jas yang ia kenakan ke sembarang arah dan sedikit mengendorkan dasinya. Gilang mendekati sang istri yang sedang rebahan di atas sofa panjang.
"Yank, kamu masih marah?" cuit Gilang. Ia mengangkat kepala Mutiara lalu mendaratkan bokongnya ke sofa dan meletakan kepala istrinya diatas pakuannya.
Tidak ada jawaban. Sekarang Mutiara malah sibuk menekan tombol remot berulang kali untuk mangganti chanel TV. Gilang mendesah pelan lalu merebut remot dari tangan istrinya.
"Yank" cuit Gilang lagi. Kali ini dengan nada yang cukup keras.
Mutiara bangun dari pangkuan suaminya. Matanya sudah berkaca-kaca. Lagi-lagi Gilang dibuat kalang kabut. Ia sama sekali tidak berniat membuat istrinya menangis. Tapi entah kenapa mood Mutiara gampang berubah-ubah seperti itu.
"Yank...Maaf...aku tidak bermaksud membuatmu menangis," ucap Gilang mengusap air bening yang mulai berjatuhan di pipi istrinya.
Mutiara menunduk kepala. Ia masih belum memberikan reaksi apapun pada suaminya. Gilang menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya lagi. Sepertinya ia butuh perjuangan yang cukup keras agar bisa melunakan hati sang istri. Gilang menarik dan mendudukan Mutiara di atas pangkuannya.
"Udah donk yank ngambeknya!" lirih Gilang.
"Tadi tuh aku udah mau bawa kamu ke kantor lagi, tapi pas lihat kamu tidur pulas aku jadi nggak tega. Makanya aku antar kamu pulang terlebih dahulu. Dan masalah kenapa aku ninggalin kamu sendirian...Itu karena aku harus segera menyelasaikan beberapa pekerjaan sebelum kita pergi berbulan madu" terang Gilang panjang lebar.
Wajah Mutiara kembali sumringah ketika mendengar kata berbulan madu. Apakah suaminya berniat akan mengajaknya berlibur ke suatu tempat lagi?
"Maksudnya...kita akan pergi berlibur lagi?" cuit Mutiara.
Hmmm...
Gilang mengangguk, ia memasukan kepalanya ke dalam curuk leher istrinya. Ada sebuah perasaan nyaman saat ia melakukan hal itu. Tak hanya sampai disitu saja. Tanganya yang nakal mulai bergelayar di balik kaos sang istri.
"Yank...geli akh..." Mutiara melenguh kecil.
"Tapi enakan?" bisiknya.
Mutiara tidak berkata. Matanya terpejam karena sudah larut mengikuti buaian tangan Gilang yang merambat kemana-mana.
"Yank...nanti kalau mbak Laras lihat gimana?" protes Mutiara.
Otaknya masih waras. Ia tidak mau sampai kepergok oleh ART-nya sedang melakukan perbuatan mesum bersama sang suami di ruang keluaga.
Gilang tersenyum jail. Ia tahu jika sebenarnya Mutiara sudah terbawa suasana. Tanpa menunggu lama, ia langsung menggendong sang istri dan membawanya ke dalam kamar. Mereka akhirnya melanjutkan percintaan yang sempat tertunda sejenak karena tempat yang tidak mendukung.
"Masih capek?" tanya Gilang pada istrinya.
"Iya...tapi perutku juga lapar," lirih Mutiara. Tangannya bermain di atas dada bidang suaminya. Mengukir kata I β€ U
__ADS_1
Gilang tersenyum, ia mengucup singkat puncak kepala istrinya.
"Ya sudah, kalau begitu kita makan malam di kamar aja!" putusnya kemudian.
Mutiara setuju. Ia juga malas untuk membersihakan diri. Ia merasa tubuhnya agak lemas dan kualahan menghadapi suaminya yang hampir setiap malam selalu meminta jatahnya.
Gilang turun dari tempat tidur dalam keadaan polos. Ia berjalan menuju lemari untuk mengambil celana pendek dan kaos. Wajah Mutiara merona. Ini sudah menjadi kebiasaan Mutiara ketika disuguhi pemandangan yang vulgar oleh suaminya. Gilang telah berhasil meracuni otak polos yang terdapat pada diri sang istri.
"Kenapa? mau lagi?" goda Gilang saat menyadari pipi istrinya bersemu merah.
Mutiara tidak menjawab, ia membenamkan diri di balik selimut tebal yang membungkus tubuhnya yang masih dalam keadaan polos. Gilang terkekeh. Ia semakin gemas melihat tingkah konyol yang ditujukan oleh sang istri. Ingin rasanya ia menerkam kembali Mutiara untuk ke sekian kalinya.
Gilang segera keluar dari kamarnya, ia ingin mengambil makanan di dapur.
Saat akan menuruni anak tangga, Gilang melihat semua ruangan gelap kecuali dapur. Sepertinya mbak Laras masih terjaga, mungkin wanita itu sengaja menunggu. Takut kalau majikannya akan turun untuk makan malam.
"Mbak Laras" Gilang memanggil ART-nya.
Tak berapa lama wanita yang ia panggil muncul dari arah dapur.
"Iya tuan, apakah tuan sedang membutuhkan sesuatu?" tanya mbak Laras sambil menundukan kepalanya.
"Iya, tolong kamu siapkan makan malam untuk saya dan istri saya!! Dan antar ke kamar juga" intruksi Gilang.
"Baik Tuan..." mbak Laras kembali ke dapur untuk menyiapkan makan malam sesuai dengan permintaan tuannya.
Sedangkan Gilang sendiri berbalik menuju kamarnya lagi. Ia mengambil satu persatu pakaian miliknya dan Mutiara yang masih bercecer di lantai serta menaruhnya ke dalam keranjang pakaian kotor.
Gilang membuka pintu. Mbak Laras memang cekatan dalam mengerjakan tugasnya. Itu sebabnya tidak butuh waktu lama baginya menyiapkan makan malam untuk majikannya.
"Maaf tuan...saya hanya ingin mengantar makan malam pesanan tuan," ucap mbak Laras.
"Iya makasih banyak ya Mbak," Gilang mengambil nampan berisikan makanan dan minuman.
"Mbak Laras langsung tidur saja! Ini sudah hampir larut malam," tambah Gilang.
"Baik tuan, selamat malam."
"Selamat malam," balas Gilang.
Gilang membangunkan Mutiara, entah sejak kapan istrinya sudah kembali tidur. Ia terlihat sangat lelah.
Gilang sadar bahwa ia sudah terlalu memfosir sang istri dalam melayaninya di atas ranjang. Tapi mau gimana lagi? Ia sendiri tidak bisa menahan jika berdekatan dengan Mutiara. Seolah ada magnet yang menariknya untuk melakukannya lagi dan lagi.
"Yank, ayo makan dulu! Bukankah tadi kamu bilang sedang lapar." Gilang mengusap pipi istrinya kemudian menciuminya berkali-kali.
Mutiara melenguh kecil, merasa tidurnya agak terganggu dengan tindakan suaminya. Ia mengucek kedua matanya agar bisa terbuka dengan sempurna.
"Aku maunya disuapin sama kamu yank," cicit Mutiara sambil menguap kecil.
"Baiklah tuan putri. Sepertinya hari ini kau manja sekali," ucap Gilang.
__ADS_1
Mutiara berengut, Gilang semakin gemas dengan tingkah istrinya. Ia meraup bibir istrinya dengan cepat. Tidak lama tapi cukup membuat kedua mata istrinya langsung membulat dengan sempurna.
"Yank...." Mutiara melayangkan protes.
Gilang hanya terkekeh kecil. Ia mulai menyendokan makanan dan menyuapi istri kecilnya. Tak lupa ia juga sesekali memasukan makanan ke dalam mulutnya. Cacing-cacing di dalam perutnya pun sudah teriak meminta jatahnya.
Usai menghabiskan makanannya, Gilang menaruh nampan diatas nakas meja. Ia segera naik ke tempat tidur bergabung dengan sang istri untuk menjemput mimpi yang indah sampai sang fajar muncul kembali.
Sinar Mentari kembali menembus jendela. Mutiara membuka mata secara perlahan. Tangannya meraba ke samping untuk mencari keberadaan seseorang. Nihil
Mutiara membuka kedua matanya dengan sempurna. Gilang sudah tidak ada. Ia mendengar suara gemericik air dalam kamar mandi. Mutiara tersenyum kecil. Suaminya sedang mandi rupanya.
Mutiara beringsut menyenderkan tubuhnya pada headboard tempat tidur. Ia baru menyadari bahwa keadaannya saat ini masih polos. Mutiara tersenyum geli. Ia tidak menyangka kalau dirinya yang sekarang bukanlah seorang gadis lagi. Ia sudah melepas kevirginannya untuk seseorang yang telah menjadi suaminya. Dan itu pun sudah mereka lakukan berulang kali sampai tidak bisa terhitung.
*Ceklek
Mutiara menoleh, tampak Gilang keluar dari kamar mandi dalam keadaan *****. Sehingga membuat wajah Mutiara langsung memerah.
Mutiara selalu mengagumi tubuh kekar milik suaminya. Entah sejak kapan pikiran mesum selalu terlintas diotaknya
"Aduh Mutiara, apa yang sedang ada di otakmu? Bukankah kamu sudah sering melihatnya? Kenapa juga wajahmu selalu merona jika melihat suamimu bertelanjang dada seperti itu??" Mutiara meratuki dirinya sendiri.
"Kamu kenapa yank?" tanya Gilang menyadarkan lamunan Mutiara.
Gilang bisa menyadari jika istrinya tengah mengagumi tubuh sixpacknya
Mutiara tidak berkata. Ia menggeleng dengan cepat kemudian mendekap erat selimut yang masih setia melekat di tubuhnya. Ia beranjak dari tempat tidur dan menuju kamar mandi. Berlama-lama dengan suaminya, otak Mutiara semakin gesrek. Ia mengakui bahwa Gilang mampu membuatnya hayut dalam setiap buaian yang diberikan olehnya saat bercinta.
Gilang terkekeh kecil. Makin lama tingkah Mutiara semakin menggemaskan baginya.
"Gilang, kamu harus bersabar!! Tinggal hari ini saja, dan mulai besok kamu akan lebih sering menghabiskan waktu bersama istrimu tanpa ada gangguan sedikitpun" Gilang membathin.
Ia sudah tidak sabar untuk segera pergi honey moon bersama istrinya.
π
π
π
Hallo author up lagi ya
maaf kalau upnya agak lama.
Author lagi memaksimalkan istirahat karena menjelang menyambut kelahiran anak kedua
Mohon doakan author ya
semoga diberikan kelancaran untuk persalinan nantiπππππ
jangan lupa untuk like, koment dan vote yaππππππ
__ADS_1