
#PERNIKAHAN_BEDA_USIA
PART 85
🎈🎈🎈
Gilang hanya bisa mendengus, menatap istrinya dari jauh. Apa yang barusan terlontar dari bibir mungil Mutiara benar-benar dilakukan. Mutiara sama sekali tidak membiarkan dirinya untuk mendekati nya barang sejengkal pun. Gilang akhirnya menjadi uring-uringan tak jelas. Berbagai cara sudah ia lakukan agar hati istrinya melunak, tapi hasil nya sama saja. Mutiara selalu mengusir dirinya agar menjauh sampai besok pagi.
Gilang sebenarnya merasa bingung dengan sikap istrinya akhir-akhir ini. Semenjak melahirkan keempat bayi kembar nya, Mutiara berubah menjadi sangat cerewet. Hampir setiap hari ia mengoceh hanya karena alasan yang sepele. Gilang bukannya tak senang, justru ia sangat menyukai jika Mutiara menjadi bawel. Karena menurut Gilang, Mutiara akan terlihat semakin menggemaskan. Hanya saja Gilang menjadi sedikit lebih was-was, takut kalau Mutiara ngambek atau marah. Dan berujung ia harus menjauh dari istrinya hingga beberapa jam, bahkan sampai berhari-hari. Sedangkan Gilang tak bisa berjauhan dari istrinya, apalagi harus tidur di ruang terpisah.
"Maaf tuan, ini sudah waktunya makan malam?"
Mendengar kata makan malam, Gilang tersenyum tipis. Sebuah ide jahil melintas dibenaknya.
"Kalian siapkan saja makan malamnya, dan minta nona kalian untuk segera makan!" perintah Gilang
"Baik tuan," pelayan itu hendak pergi, tapi dicegah oleh Gilang.
"Kalau istri saya bertanya tentang saya, katakan saja kalau saya sedang tidak berselera untuk makan! Saya masih ada banyak pekerjaan," titah nya lagi.
"Baik tuan," jawab pelayan sambil mengernyitkan keningnya. Namun tanpa sepengetahuan Gilang, pasalnya ia terus menunduk sesuai aturan rumah. Di larang menatap lama wajah majikan nya.
Gilang melenggang pergi menuju ruang kerja nya. Dalam hati ia bersorak bahagia karena merasa sangat yakin bahwa setelah ini istrinya sendiri yang akan datang sendiri untuk mendekati dirinya. Gilang tahu bahwa Mutiara selalu menjaga dan memperhatikan pola makan bagi keluarga kecilnya.
...----------------...
Tok...tok...tok...
__ADS_1
"Masuk!" seru Mutiara yang masih fokus dengan anak-anak nya.
"Maaf nona, ini sudah waktunya untuk jam makan malam?" ucap seorang pelayan.
"Terima kasih bik, apakah tuan sudah diberi tahu?" tanya Mutiara.
"Sudah nona, tapi tuan mengatakan bahwa beliau tidak ingin makan malam!" jawab pelayan tersebut.
Mutiara menghela nafas panjang, kemudian menghembuskan nya lagi. Suaminya memang mempunyai seribu macam cara agar dirinya tidak marah terlalu lama. "Baik lah bibik siapkan saja semuanya, tuan biar menjadi urusan saya!" ucap Mutiara lalu melenggang keluar dari kamar keempat bayi kembarnya, namun sebelum itu ia sudah meminta supaya para baby sister untuk menjaga mereka.
Setibanya di depan ruang kerja suaminya, Mutiara langsung mengetuk pintu. Dan masuk ke dalam setelah terdengar suara bariton yang menpersilahkan nya untuk masuk.
Gilang pura-pura mendongak melihat siapa yang datang kemudian menunduk kembali berkutat dengan berkas-berkas yang ada di depan mata nya. Dalam hati Gilang, ia berlonjak senang karena rencana hampir sukses.
"Ini sudah waktunya makan malam, kenapa tidak turun?" cuit Mutiara sedikit ketus.
Mutiara menghela nafas panjang, agar tetap bersabar dalam menghadapi tingkah suaminya. "Bibik sudah memasak banyak makanan, sayang kalau tidak ada yang makan?"
"Berikan saja pada anak jalanan, mereka pasti akan senang menerimanya!" jawab Gilang lagi.
Mutiara membulatkan kedua matanya dengan sempurna. Tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh suaminya. "Kau yakin akan memberikannya pada anak jalanan? Ini sudah malam dan kamu sendiri tahu bahwa komplek rumah kita sangat melarang adanya pumulung atau pun sebangsanya untuk masuk!" Mutiara mengingatkan.
"Ya sudah buang saja kalau begitu!" ucap Gilang semakin asal. Dalam hati ia merutuki istrinya yang masih tidak peka dengan apa yang ia inginkan.
Mutiara mendelik tajam, merasa kesal dengan suaminya yang memiliki sikap kekanakan serta seenak nya sendiri. "Baik lah kalau begitu kerja saja terus, tidak usah makan! Biar aku minta para pelayan untuk membuang semua makanannya!" geram Mutiara. Ia keluar dari ruangan suaminya sambil menghentak-hentakan kedua kakinya.
Kini giliran Gilang yang dibuat melongo, tak percaya dengan tanggapan istrinya. Biasanya dengan lembut Mutiara akan membujuk dirinya supaya mau makan tapi ini...
__ADS_1
Gilang hanya bisa menepok jidat nya. Semakin tak mengerti dengan tingkah istrinya akhir-akhir ini. Mutiara lebih sering diam jika anak-anaknya sedang tidur, dan sering melamun tanpa sebab. Terkadang ia pun terlihat minder, tak percaya diri jika mengikuti acara makan malam bersama dengan rekan bisnis dari perusahaan keluarga Dirgantara.
Gilang enggan menyusul Mutiara. Takut jika situasi nya semakin memanas. Mungkin dengan menyendiri beberapa saat, hati istrinya akan kembali cair seperti sedia kala. Mutiara bukan tipekal orang yang suka berlama-lama kalau sedang marah.
...----------------...
Dengan langkah kaki yang masih menghentak-hentak karena kesal, Mutiara menuju ruang makan. Meminta para pelayan untuk membereskan meja makan, kemudian pergi ke kamar anak-anak nya. Kedua sudut mata Mutiara sudah mulai terlihat adanya cairan bening yang menggenang. Cengeng, memang betul Mutiara menjadi lebih cengeng sekarang. Ia sendiri tidak tahu mengapa. Semenjak menerima pesan dari orang yang tak dikenal hati Mutiara menjadi tak tenang. Ia terus terbayang-bayang dengan isi pesan tersebut. Hati nya lebih was-was dan suka parnoan nggak jelas. Mutiara yang terkesan cuek dengan penampilan, tiba-tiba menjadi lebih suka berdandan hanya demi mendapatkan sebuah pujian dari suaminya. Namun sepertinya Gilang tak pernah menyadari hal itu, hingga terkadang membuat Mutiara ingin mempercayai isi pesan itu. Tapi beruntung lah, akal sehat dan hati Mutiara terus saja mengingatkan bagaimana cara Gilang memperlakukan nya. Mencurahkan segala perhatiannya, sampai-sampai rela meninggalkan kepekerjaannya hanya demi menemani Mutiara yang tengah kerepotan mengurus Azka dan si kembar.
Para pelayan yang melihatnya pun hanya bisa saling menatap heran satu sama lain nya. Mereka merasa bingung dengan situasi yang ada. Mereka tidak pernah sekalipun melihat kedua majikan nya bertengkar, apalagi sampai membuat sang nyonya hampir menangis. Mereka saling menerka sendiri. Mungkin kah ada masalah yang cukup besar sampai-sampai sepasang sejoli yang biasanya suka mengumbar kemesraan di depan publik menjadi bertengkar seperti itu.
"Sudah lah lebih baik kita membereskan ini semua, sebelum tuan keluar dari ruang kerjanya!" cuit salah satu pelayan.
"Iya betul, dari pada nanti kita dijadikan sebagai sasaran amukan massal dari tuan!" timpal pelayan yang lainnya.
Mereka akhirnya buru-buru membereskan meja makan, menyimpan semua makanan yang sudah tersaji dengan rapi namun belum tersentuh sama sekali ke dalam kulkas. Mereka takut jika tiba-tiba Gilang turun dalam keadaan mood yang amburadul. Para pelayan sudah hafal betul akan sifat tuan mereka. Itu sebabnya mereka selalu sedia payung sebelum hujan. Bereskan semua bekerjaan kemudian tidak menampilkan diri di hadapan sang tuan.
Sementara itu di dalam kamar si kembar, Mutiara asyik memandangi wajah anak-anaknya yang tengah terlelap dalam tidur. Hati nya resah tak karuan, memikirkan ulang reretan kejadian hari ini. Mutiara mengaku salah. Tidak seharusnya ia meminta sang suami agar menjauhi dirinya meski hanya beberapa saat saja. Tapi jika mengingat bagaimana sifat suaminya yang terkadang suka seenaknya sendiri, membuat Mutiara sangat ingin memberikan sedikit pelajaran kepadanya.
"Apa mommy sudah melakukan kesalahan karena memberikan sedikit pelajaran pada daddy kalian? Mommy hanya ingin agar daddy kalian tidak berlaku seenaknya lagi!" ucap Mutiara pada keempat anaknya. Dimana Azka?
Azka saat ini sedang berada di rumah pak Bayu. Itu semua adalah permintaan kecil dari Kelvin yang ingin menghabiskan waktu bersama dengan putranya sebelum ia memulai kehidupan yang baru bersama Shinta.
Mutiara menciumi wajah anak-anak nya kemudian beranjak menuju tempat tidur yang sudah tersedia di dalam nya. "Kalian kembali lah ke kamar kalian! Misal kan nanti saya membutuhkan bantuan, saya pasti akan membangunkan kalian!" ucap Mutiara pada para baby sister.
Para baby sister hanya bisa mengangguk, tak berani menjawab. Mereka merasakan adanya aura yang tak baik dari dalam diri majikan nya. Bukan takut melainkan sungkan.
Di ruangan kerja, Gilang pun sama. Memikirkan bagaimana Mutiara saat ini. Apakah dia sudah makan atau belum. Namun jika mengingat bagaimana watak dari istrinya, Gilang yakini pastinya belum.
__ADS_1
Gilang mengusap wajah nya dengan kasar. Bingung harus berbuat seperti apa. Gilang sangat ingin menemui istrinya dan mengajak nya untuk makan malam bersama. Akan tetapi rasa ego nya terus saja melarang nya. Gilang benar-benar dibuat pusing sendiri oleh hatinya yang sejak tadi selalu berperang antara menghampiri istri nya atau tidak.