
#PERNIKAHAN_BEDA_USIA
PART 87
๐ค๐ค๐ค
Gilang menghela nafas panjang lalu membuangnya kembali. Lagi-lagi ia harus melihat sesuatu yang membuat dadanya sesak. Ini sudah kesekian kali nya Gilang melihat istrinya melamun di depan cermin dengan sebuah tatapan kosong. Bahkan sampai tak menyadari kepulangannya. Gilang sebenarnya sudah ingin sekali merengkuh tubuh kecil Mutiara dan membawanya ke dalam dekapannya. Gilang ingin mengatakan apa yang ada di dalam video itu adalah palsu. Tapi segera diurungkannya. Gilang tidak ingin rencana yang sudah ia buat bersama Radit akan hancur berantakan.
Gilang melempar tas nya ke sembarang arah, menghampiri istrinya dan memberikan kecupan singkat di pucuk kepala nya. "Apa yang sedang kamu pikirkan, sampai-sampai tidak sadar kalau suaminya sudah pulang?" tanya Gilang berpura-pura.
Mutiara menatap sesaat suaminya hingga pandangan keduanya saling bertemu. Ia seperti ingin berkata sesuatu. Namun diurungkan pula. Kemudian Mutiara hanya menggelengkan kepalanya, ia pun membantu Gilang untuk melepas dasi serta kemejanya. Meskipun merasa sakit, tetap saja Mutiara selalu menjalankan tugasnya sebagai seorang istri.
"Bagaimana dengan anak-anak, apa mereka sudah membuat mommy nya merasa kerepotan?" tanya Gilang lagi, ia sangat merindukan suara istrinya. Belakangan ini Mutiara menjadi seorang pendiam.
Namun keinginannya pun pupus. Mutiara hanya menjawab pertanyaannya dengan anggukan atau gelengan kepala.
"Sayang, tolong maafkan aku kalau aku sudah membuat kesalahan atau menyakitimu? Tapi aku mohon jangan diam kan seperti ini, aku benar-benar tidak sanggup melihat mu seperti ini...hatiku rasanya sangat sakit!" Gilang menangkup wajah istrinya, menatap kedua matanya yang sedikit sayu.
"Sayang kamu sakit?" tanya Gilang panik ketika merasakan hawa panas di kedua telapak tangannya.
Mutiara hanya tersenyum tipis, "tolong jangan pernah pisahkan aku dengan anak-anak?" cuitnya sebelum akhirnya ia tak sadarkan diri.
Gilang tekejut sekaligus tak percaya dengan penuturan istrinya. Namun segera ia tepis rasa itu karena rasa paniknya. Gilang segera mengangkat Mutiara, membaringkannya ke tempat tidur. Tidak lupa ia memanggil pelayan dan menghubungi dokter.
"Kenapa Mutiara menjadi seperti ini, entah apa lagi yang dilakukan orang itu?" bathin Gilang. Hati nya pun menjadi sangat geram.
Tak lama dokter pun datang. Ia segera memeriksa keadaan Mutiara. Gilang dan beberapa pelayan menunggu dengan setia.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan istriku?" tanya Gilang dengan cepat.
Dokter itu hanya bisa menghela nafasnya dengan berat. Ia begitu paham dengan sifat Gilang yang posesif terhadap istrinya.
"Tidak ada yang serius, dia hanya sedikit stress dan kelelahan saja!" jawab dokter tersebut.
Gilang akhirnya bisa bernafas lega. Setidaknya Mutiara baik-baik saja. Sepertinya ia harus segera mempercepat rencana nya. Gilang tidak ingin istrinya semakin terluka akibat perbuatan orang-orang yang ingin merusak keharmonisan rumah tangganya.
###
Waktu semakin larut tapi Gilang masih enggan beranjak dari tempatnya. Duduk di sofa panjang sambil menatap lurus pada layar laptopnya. Sesekali kedua matanya melirik ke arah ranjang, dimana istrinya tengah teridur akibat suntikan penenang yang diberikan oleh dokter. Gilang hanya ingin mengetahui kejadian apa saja yang sudah terjadi di kediamannya, selama ia berada di kantor.
Tentunya Gilang masih penasaran dengan perubahan sikap drastis yang ditunjukan oleh istrinya. Mutiara bukan perempuan yang rapuh dan kekanakan. Dia bahkan selalu bersikap lebih dewasa ketimbang dirinya. Tapi...
Setelah pasca melahirkan, Mutiara senantiasa menunjukan hal yang aneh. Rasa percaya dirinya pun menghilang entah kemana. Gilang tahu bahwa salah satu penyebabnya karena seseorang sudah mengiriminya video palsu tentang perselingkuhannya dengan beberapa wanita penghibur. Tapi Gilang tidak yakin kalau hanya hal itu yang menjadi penyebab keadaan Mutiara sekarang ini. Gilang tahu seperti apa istrinya, Mutiara tidak akan mudah percaya begitu saja tanpa pembuktian secara langsung. Mutiara gadis cerdas. Walaupun hidup sederhana, tapi otaknya memiliki IQ di atas rata-rata.
Namun entah mengapa Gilang ingin melihat rekaman CCTV di rumahnya. Ada sesuatu yang terus mendorong dirinya agar tetap melihat rekaman CCTV tersebut.
Kedua mata Gilang mengamati setiap detail kejadian yang berlangsung di kediamannya. Dari Gerbang, masuk ke dalam pintu utama hingga setiap sudut rumahnya. Bahkan setiap kejadian yang terjadi di halaman serta taman rumahnya pun tak luput dari pengamatannya. Gilang sama sekali tidak ingin melewatkan suatu kejadian sedikit pun, karena disana juga ada rutinitas yang dilakukan oleh istrinya. Gilang akan tersenyum saat melihat istrinya tertawa dan bersendau gurau bersama dengan para pelayan. Tapi hatinya sakit ketika melihat wajah istrinya yang sedih dan menangis. Gilang begitu merindukan sosok istrinya yang selalu menampilkan wajah ceria dan selalu tersenyum manis.
Pandangan Gilang tak lepas dari benda berwarna putih yang menampilkan rangkaian kejadian di dalam rumahnya. Matanya menajam saat ada suatu kejadian aneh yang terlihat dalam layar tersebut. Gilang mengepalkan tangannya kuat-kuat ketika melihat seorang pelayan tengah mencampurkan sesuatu ke dalam susu yang dikhususkan untuk ibu menyusui dan tentunya yang akan meminumnya adalah Mutiara, istri tercintanya.
Gilang meraih ponselnya dan menghubungi Heru, dia lah yang bertanggung jawab penuh atas keamanan Mutiara selama dirinya berada di luar rumah dan Laras tengah berada di rumah orang tuanya demi menemani Azka. Gilang tidak marah atas kecolongan ini, hanya saja ia kecewa karena terlambat menyadarinya.
###
Mutiara membuka mata, melihat sekeliling mencari keberadaan suaminya. Tapi sayangnya tak ada. Mungkin Gilang sudah berangkat ke kantor. Mutiara beranjak dari tempat tidur dan berjalan melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya kemudian melihat si kembar sudah bangun atau belum.
__ADS_1
Hanya membutuhkan waktu lima belas menit saja bagi Mutiara untuk membersihkan diri. Ia pun berjalan keluar dari kamarnya dan hendak menuju kamar si kembar.
Akan tetapi niatnya segera ia urungkan lantaran terdengar suara bariton dari suaminya yang menggelegar memenuhi isi rumah. Mutiara segera berjalan menuruni anak tangga, penasaran akan apa yang sudah membuat suaminya bisa semarah itu.
Mutiara membulatkan kedua mata, terkejut dengan apa yang sudah dilihatnya. Gilang tampak murka kepada seorang pelayan, bahkan tanpa memiliki belas kasihan ia dengan sengaja menginjak tangan pelayan tersebut.
"Apa yang kamu lakukan?" teriak Mutiara berlari menghampiri mereka, mendorong kuat suaminya agar melepaskan kakinya dari tangan pelayan tersebut.
"Apa yang kamu lakukan? Tidak tahukah kamu kalau dia hanya lah seorang wanita?" ulang Mutiara menatap tajam ke arah Gilang.
"Dia pantas mendapatkan itu karena sudah berani bermain api dengan keluargaku, apalagi sampai menyakiti dirimu!" tegas Gilang.
Mutiara tak mengerti, ia menatap pelayan tersebut untuk memastikan apa yang sudah dikatakan oleh suaminya benar atau tidak. Pelayan tersebut hanya bisa menunduk takut, derai air matanya sudah berjatuhan membasahi wajahnya.
"Memang apa yang sudah kau lakukan sampai-sampai membuat suamiku semarah itu?" tanya Mutiara pada pelayan tersebut. Sayangnya tidak ada jawaban. Pelayan itu semakin terisak takut. Mutiara mendesah pelan, ia bisa mengerti rasa ketakutan yang ditunjukan oleh pelayan tersebut.
"Heru, kamu bawa wanita itu ke ruang bawah tanah sekarang! Jangan biarkan dia mendekati keluargaku sedikit pun sampai masalah ini selesai!" Gilang memberikan perintahnya. Ia tidak memperdulikan tatapan yang mematikan dari istrinya. Gilang hanya ingin keamanan keluarga kecilnya senantiasa terjaga.
"Kalau kamu ingin masalah ini cepat selesai, aku harap kamu tidak akan membantu wanita itu sedikitpun!" ucap Gilang pada istrinya. Memberikan kecupan singkat di bibir manisnya, lantas pergi meninggalkan Mutiara yang masih tidak mengerti dengan keadaan yang sebenarnya.
Mutiara menatap satu persatu para pelayan yang masih setia berdiri di sekitar. Mereka menunduk takut setelah menyaksikan kejadian tragis yang menimpa wanita itu. Ada yang merasa kasihan namun ada juga yang merasa jijik karena perbuatan wanita tersebut. Bagaimana mungkin dia sampai hati berusaha melakukan perbuatan buruk kepada majikan yang memiliki hati berlian seperti Mutiara.
Mutiara hanya menghela nafas panjang lalu membuangnya lagi. Ia yakin kalau mereka tidak akan ada yang berani bicara. Mutiara memilih meninggalkan tempat tersebut dengan hati yang terus bertanya-tanya. Apa yang sudah terjadi, memangnya apa yang dilakukan oleh pelayan tersebut hingga suaminya semarah itu.
"Sudahlah lebih baik aku menemui anak-anak, mereka pasti sudah bangun!" guman Mutiara dalam hati.
###
__ADS_1
Maaf kan author yang tidak bisa up secara cepat, memang keadaan yang tidak mendukung๐๐๐