
#PernikahanBedaUsia
Part 33
Usai dari kampus Dirgantara, Mutiara tidak langsung pulang ke rumah. Ia ikut suaminya pergi ke kantor. Entah kenapa hari ini ia ingin terus bersama suaminya dimana pun berada. Ia sama sekali tidak mau sampai jauh-jauh dari sang suami.
Gilang sendiri merasa aneh, ia tidak pernah melihat istrinya bersikap manja seperti ini sebelumnya. Bahkan saat ia akan menghadiri meeting bulanan dengan para karyawannya. Mutiara tampak sedih, ia hampir saja menangis. Mau tak mau Gilang terpaksa membatalkan meetingnya hari ini. Tak cukup sampai disitu, Gilang hampir saja dibuat frustasi gara-gara kelakuan aneh dari istri kecilnya. Ia terpaksa harus meredam rasa cemburu yang sudah membakar hatinya sejak tadi. Mutiara sekarang sedang asyik menyuapi adiknya dengan makanan yang sengaja ia pesan untuk makan siang nanti.
Gilang sudah melarangnya, ia bahkan sampai menawarkan diri untuk minta disuapi oleh sang istri. Tapi reaksi Mutiara malah bikin ia kalang kabut sendiri. Mutiara kembali menangis sesunggukan. Gilang bingung. Ia tidak rela jika istrinya menyuapi pria lain meskipun itu Kelvin adiknya sendiri. Akan tetapi melihat Mutiara menangis? hatinya semakin remuk. Gilang akhirnya mengalah dan membiarkan istrinya menyuapi Kelvin.
"Yank, aku rasa sudah cukup kamu menyuapi Kelvin! Lihatlah dia sudah tampak kualahan!" seru Gilang. Ia bisa melihat raut adiknya yang sudah mulai kekenyangan.
Bagaimana tidak kekenyangan? Gilang sengaja memesan makanan dengan porsi lebih banyak. Dan sekarang, hanya tinggal sedikit.
Sejak tadi Kelvin juga sudah menatap sang kakak dengan tatapan yang memelas, berharap mendapat pertolongan darinya. Hanya saja Mutiara selalu bersikap acuh tak acuh. Ia pura-pura tidak mendengarkan permintaan dari sang suami maupun Kelvin untuk berhenti dengan segala kekonyolannya hari ini.
Gilang menghela nafas panjang. Lagi-lagi ia diacuhkan oleh istrinya sendiri. Sedangkan Kelvin...Ia bahkan sudah memegangi perutnya lantaran tak sanggup lagi menerima suapan dari istri kakaknya.
"Maaf kakak ipar, aku sudah tidak kuat lagi." Kelvin ngacir pergi begitu saja. Ia sudah tidak perduli dengan amukan sang kakak karena membuat istrinya menangis.
Mutiara menundukan kepala, tubuhnya mulai bergetar. Dan drama kecil telah dimulai. Isak tangis Mutiara terdengar. Gilang mengacak rambutnya karena frustasi. Ia bingung kenapa mood istrinya menjadi tak karuan begini. Gilang menghampiri Mutiara, berusaha untuk mendiamkan sang istri.
"Yank, maafin Kelvin ya? Mungkin dia sudah kekeyangan. Lihatlah makanan yang aku pesan tadi tinggal sedikit, padahal itu porsinya bisa buat 4 orang lho...." jelas Gilang.
Mutiara masih menunduk. Ia sadar dengan apa yang sudah ia lakukan adalah salah. Tapi entah kenapa ia ingin sekali melihat adik iparnya menghabiskan semua makanan itu.
"Udah donk yank nangisnya! Aku nggak mau kalau sampai wajah istriku yang cantik ini jadi jelek karena terus-terusan menangis. Lihatnya wajahmu sudah sangat sembab!" Gilang mengangkat dagu istrinya kemudian mengusap air matanya.
"Gimana kalau kita makan di luar saja?" tawar Gilang.
Mutiara tampak berpikir sejenak kemudian mengangguk. Ia menerima usulan suaminya untuk makan di luar. Lagi pula perutnya juga sudah terasa sangat lapar.
__ADS_1
"Tapi aku maunya makan bakso di tempat aku biasa makan" cicit Mutiara.
"Siap tuan putri! Apapun yang menjadi keinginan dari tuan putri pasti akan hamba turuti," ucap Gilang.
Mutiara tersenyum. Moodnya kembali baik lagi setelah mendapat perlakuan istimewa dari suaminya. Ia segera beranjak dari tempatnya, dan merangkul lengan kekar milik sang suami. Keduanya melangkah beriringan meninggalkan kantor. Banyak karyawati yang merasa iri melihat kemesraan mereka.
"Huff... Untung kak Gilang bisa mengatasi mood kakak ipar yang lagi aneh itu!!" lirih Kelvin akhirnya bisa bernafas dengan lega.
****
Gilang melongo tak percaya ketika mendengar berapa banyak porsi yang dipesan oleh istrinya. Otaknya kembali menerawang pada kejadian beberapa jam yang lalu. Apa dia juga akan bernasib sama seperti adiknya? Menghabiskan banyak porsi makanan.
"Yank, kamu nggak salah pesan bakso sebanyak itu?" tanya Gilang pada Mutiara setelah mereka memilih duduk di pojokan.
"Enggak kok...aku emamg lagi pengen makan bakso yang banyak hari ini," jawab Mutiara.
Gilang lega, ternyata bakso sebanyak itu bukan untuk dirinya. Tapi ia juga merasa ragu apakah istrinya akan sanggup menghabiskan semua bakso tersebut sendirian?
Gilang kembali menggelengkan kepala lantaran sudah berhasil dibuat melongo dengan tingkah laku istrinya yang dirasa sangat aneh. Cara dia makan seolah menunjukan bahwa ia belum makan apapun selama beberapa hari ini.
"Yank, makannya pelan-pelan aja!" cuit Gilang khawatir jika istrinya akan tersedak.
Namun sama seperti halnya tadi saat mereka berada di kantor, ia hanya menerima sikap acuh tak acuh dari sang istri. Seakan Mutiara hanya sendirian di kedai bakso tersebut.
Gilang mendesah pelan ketika mendapati istrinya telah menghabiskan empat mangkok bakso. Sedangkan dirinya? Ia baru saja memakan baksonya separo.
"Kenapa yank, kamu masih mau lagi?" tanya Gilang. Ia bisa melihat binar mata istrinya yang tengah menatap mangkok bakso miliknya.
Mutiara menggeleng. Ia memang masih menginginkan untuk makan bakso lagi. Tapi ia juga tidak mau gara-gara dirinya, suaminya sampai menahan lapar. Andai bisa pesan lagi? Akh...kenapa baksonya pakai acara habis segala sich.... pikir Mutiara berusaha tetap menahan diri.
Gilang tersenyum. Ia bisa mengerti kegamangan yang ada di dalam hati istrinya. Ia menyendokan bakso dan meminta sang istri untuk membuka mulut.
__ADS_1
"Tapi yank..."
"Nggak ada tapi-tapian! Sekarang buka mulutmu!" sela Gilang.
"Makasih ya, yank..." Mutiara terharu.
Ternyata suaminya peka sangat peka terhadap apa yang tengah ia rasakan. Mutiara membuka mulutnya, menerima setiap suapan yang diberikan oleh suaminya. Hatinya berbunga-bunga. Ia sangat berbahagia dalam menikmati waktu bersama sang suami
Setelah bakso yang mereka pesan habis, Gilang segera membayarnya dan mengajak Mutiara kembali ke kantor. Masih ada pekerjaan penting yang harus ia selesaikan. Namun ketika di tengah perjalanan, ia melihat istrinya tengah tertidur pulas di dalam mobil. Gilang akhirnya memutuskan untuk pulang sebentar. Ia tidak tega jika harus membawa istrinya kembali ke kantor. Apalagi setelah ia mengamati wajah dari Mutiara, Gilang bisa merasakan bahwa istrinya sudah sangat kelelahan lantaran harus menemani dirinya.
Gilang berhenti sejenak, ia memperbaiki posisi tidur Mutiara agar badannya tidak terasa sakit nantinya. Ia mengusap lembut puncak rambut sang istri.
"Entah apa yang terjadi sama kamu hari ini yank, tapi tetap saja kamu terlihat begitu menggemaskan buat aku. Apalagi dengan segala tingkah manja yang barusan kamu tunjukan. Menurutku itu bukan seperti istri kecilku yang sangat pemalu," lirihnya pelan.
Gilang mengecup singkat bibir istrinya.
Kemudian melajukan mobilnya menuju kediaman tempat tinggal mereka.
****
Di dalam sebuah apartement seorang wanita tengah tertawa puas. Ia merasa senang karena sudah berhasil menemukan informasi tentang gadis yang bisa mengikat seorang Alvian Gilang Dirgantara ke dalam janji suci pernikahan. Wanita itu sama sekali tidak bisa mempercayai jika Gilang akan terjebak cinta oleh seorang gadis ingusan. Jika dilihat dari segi penampilannya, wanita itu bisa menebak dengan mudah bahwa istri Gilang masih berstatus remaja, alias anak SMA.
"Mutiara Mikayla Putri... Dia memang terlihat sangat manis. Tapi tetap saja dia tidak selevel dengan gue. Kenapa Gilang harus memilih bocah ingusan seperti dia untuk menjadi lawan gue sih?" cuit wanita itu merasa sangat kesal.
Wanita itu merobek-robek foto yang ada di tangannya. Ia bertekad akan memisahkan Gilang dari gadis itu. Ia tidak rela jika perjuangannya untuk menarik hati Gilang menjadi sia-sia saja.
Wanita itu tidak akan membiarkan gadis kecil seperti Mutiara menghancurkan segala mimpinya untuk menjadi salah satu nyonya besar di keluarga Dirgantara setelah ibu yang sudah melahirkan Gilang. Ia bahkan sama sekali tidak takut dengan ancaman yang pernah diberikan oleh Gilang kepadanya tempo hari. Ia akan terus berusaha mendapatkan hati Gilang lagi seperti sebelumnya.
Wanita itu sangat yakin bahwa Gilang akan jatuh ke dalam pelukannya dengan penampilan yang ia miliki saat ini. Mutiara bukan apa-apa kalau harus dibandingkan dengan dirinya. Apalagi ia punya cara jitu untuk menggaet seorang Gilang. Ia telah memiliki beberapa titik kelemahan diri pria tersebut. Ia sangat yakin Gilang tidak akan bisa menolak pelayanan yang akan membuatnya mabuk kepayang.
"Lihat dan tunggu saja sayang!! Aku akan membuatmu merasa tak berdaya dengan kungkungan cintaku. Kamu pasti tidak bisa menolaknya lagi," cuit wanita itu. Ia langsung meneguk habis minumannya.
__ADS_1