Pernikahan Beda Usia

Pernikahan Beda Usia
#PERNIKAHANBEDAUSIA_41 (REVISI)


__ADS_3

#PERNIKAHANBEDAUSIA


Part 41


****


Mutiara membeku. Jantungnya berdegub dengan sangat kencang. Tangan dan kakinya gemetar hingga ia harus bertumpu pada wastafel. Pandangan Mutiara lurus pada benda berwarna putih dengan dua garis merah di atasnya. Dia hamil....


Mutiara membekap mulutnya dengan satu tangan, sedangkan tangan yang lainnya masih setia memegang test pack tersebut. Ia tidak tahu harus bahagia atau tidak? Di satu sisi ia merasa bahagia karena pada akhirnya keinganan sang suami bisa terkabul. Ada benih cinta mereka yang tertanam di dalam rahimnya saat ini. Namun di lain sisi hatinya tiba-tiba seakan meragu. Apakah ia sanggup menjadi seorang ibu pada usia yang masih sangat muda. Apalagi sebentar lagi ia juga akan segera memasuki perguruan tinggi.


Sekali lagi Mutiara menatap benda putih tersebut. Matanya sudah tampak berkaca-kaca. Tidak tahu apakah air matanya sebagai sebuah perwujudan dari rasa bahagia atau kesedihan. Mutiara merasa bingung sendiri, padahal ia sudah mengatakan siap untuk menjadi seorang ibu. Akan tetapi setelah Allah memberikannya kepercayaan, kenapa sekatang ia malah merasa takut.


Sementara itu di luar kamar mandi, Gilang menunggu dengan perasaan gelisah. Sudah hampir satu jam Mutiara berada di dalam kamar mandi, tapi belum ada tanda-tanda bahwa istrinya akan segera keluar dari kamar mandi. Ia terus bertanya pada hatinya sendiri apakah memang membutuhkan waktu yang lama untuk mengetahui hasil test pack. Gilang mondar-mandir, rasa mual dan pusingnya mendadak lenyap karena otaknya sudah dipenuhi dengan rasa penasaran yang sangat tinggi.


"Duduk-lah! Apa kamu tidak capek kalau harus mondar-mandir tak jelas seperti itu?" tegur dokter Indra yang sejak tadi merasa jengah melihat tingkah laku Gilang.


"Jawab pertanyaan gue dengan jujur! Apakah untuk mengetahui hasil test pack memerlukan waktu yang lama?" selidik Gilang.


Dokter Indra mendengus kesal. Dasar pria tak sabaran, makinya dalam hati.


"Harusnya sih tiga atau lima menit sudah ketahuan hasilnya. Mungkin saja istrimu masih syok dengan hasilnya, elo kan udah bikin dia bunting saat usianya masih remaja. Elo bayangin aja, dia masih kelas tiga SMA!!" jawab dokter Indra penuh dengan penekanan pada kata SMA.


"Dia sudah dinyatakan lulus, ingat itu!" ucap Gilang tak mau disalahkan.


"Tetep aja dia masih anak remaja!" bantah dokter Indra.


"Lagi pula gue heran sama elo, bukannya elo itu tidak mau terikat oleh adanya hubungan pernikahan? Tapi kenapa tiba-tiba elo sudah memiliki istri yang usianya jauh berbeda sama usia elo? Jangan-jangan elo sekarang menjadi seorang pedofil?" tebak dokter Indra.


Gilang menggeretakan giginya, kedua tangannya sudah mengepal dengan sempurna. Tapi ia masih bisa mengontrol emosinya dengan baik. Gilang tidak mau bersikap bar-bar, apalagi sekarang ada Mutiara.


"Gue menikah sama Mutiara karena sebuah perjodohan. Elo sendiri tahukan bagaimana sifat nyokap gue? kalau dia ingin sesuatu ya harus dipenuhui. Awalnya gue tidak cinta sama Mutiara. Tapi karena sifatnya begitu lembut gue jatuh hati kepadanya," terang Gilang.


Gilang tidak suka jika ia disebut sebagai pedofil, meskipun terkadang ia sendiri merasa seperti itu juga. Dulu ia pernah jatuh cinta pada Clarissa yang umurnya sama seperti Mutiara. Dan sekarang ia kembali dibuat jatuh cinta oleh seorang gadis remaja, yakni istrinya.


Dokter Indra mengangguk paham. Ia memang sempat mendengar jika bu Meisya tengah mencari seorang gadis untuk dinikahkan dengan Gilang.


*Ceklek....


Pintu kamar mandi terbuka. Gilang langsung memghampiri istrinya.


"Hasilnya gimana yank?" tanya Gilang sudah tak sabar.


Mutiara tidak menjawab, ia menyerahkan test pack tersebut pada suaminya.


"Garis dua?" Gilang menatap istrinya kemudian beralih pada dokter Indra.

__ADS_1


"Artinya positif b***!! Istri elo beneran hamil," terang dokter Indra.


Spontan Gilang mengangkat tubuh istrinya, dan mengajaknya berputar-putar hingga membuat Mutiara menjerit karena takut terjatuh.


Gilang sangat bahagia. Ia tidak menyangka jika akan menjadi seorang ayah dalam waktu yang cepat. Mutiara hanya tersenyum. Ia juga ikut merasa bahagia ketika melihat suaminya sebahagia itu.


"Sekarang aku sudah ikhlas untuk menjadi seorang ibu meskipun usiaku masih sangat muda. Aku bahagia jika bisa melihat mas Gilang bahagia seperti itu" ucap Mutiara dalam hati.


"Selamat ya bro...Akhirnya elo bakal jadi bapak! Dan selamat juga untuk kamu Mutiara, jangan lupa segera lakukan pemeriksaan dengan dokter kandungan agar kamu bisa mengetahui berapa usia kehamilanmu saat ini!" dokter Indra memberikan ucapan selamat pada pasangan yang sedang berbahagia itu.


"Terima kasih banyak juga bro, berkat elo sekarang gue tahu kalau saat ini istri kecilku tengah hamil. Dan gue akan segera buat jadwal pemeriksaan dengan dokter kandungan." Gilang tersenyum lebar, ia sudah melupakan kemarahannya yang sempat memuncak tadi.


"Baiklah tugas gue sudah selesai. Dan sekarang waktunya gue untuk pulang sebelum ada yang mengusir." Pamit dokter Indra. Mereka akhirnya saling berpelukan satu sama lainnya.


Ini merupaka pemandangan yang langka bagi Radit maupun Heru.


Setelah kepergian dokter Indra yang diantarkan oleh Heru dan Radit, Gilang langsung saja menggendong istrinya ala bridal style hingga membuat Mutiara menjerit karena kaget. Gilang membaringkan istrinya di atas tempat tidur.


"Kamu harus banyak istrirahat dan nggak boleh capek-capek!" pesan Gilang.


Gilang terlalu bahagia sehingga ia tak mau berhenti menciumi perut istrinya yang masih datar. Hanya ada rasa syukur kepada Sang Maha Pencipta di hatinya. Istrinya sudah hamil, jadi perasaan takut akan kehilangan Mutiara sudah sirna. Gilang yakin Mutiara tidak akan pernah meninggalkan dirinya karena ada kehidupan di dalam rahim istrinya saat ini.


Gilang ikut berbaring disamping istrinya. Memandang wajahnya yang semakin membuat hatinya teduh.


Mutiara mengusap geraham suaminya. Bahagia itu sangat sederhana. Ia bisa merasakan sebuah kebahagiaan ketika melihat orang yang dicintainya juga berbahagia.


"Itu semua karena ada kekautan cinta yang sudah kamu berikan padaku, yank. Aku pasti bisa melalui kesulitan apapun asal kamu selalu ada di sampingku." Mutiara masuk ke dalam dada bidang suaminya untuk mencari tempat yang paling nyaman.


"Aku berjanji akan selalu berada di sisimu, aku tidak akan membiarkan siapa pun bisa melukai dirimu dan calon anak kita." Gilang mengeratkan pelukannya.


-----


Mutiara mendengus kesal. Sikap Gilang semakin posesif saja semenjak ia hamil. Gilang bahkan melarangnya untuk datang ke sekolah dengan alasan nanti bisa kelelahan. Padahal kan di sekolah sudah tidak ada kegiatan belajar mengajar lagi.


"Tetep aja yank...kalau kamu pergi ke sekolah nanti pasti kamu akan mengikuti kegiatan ini dan itu hanya untuk mengisi acara perpisahan sekolah," ujar Gilang.


"Tapi yank, aku bosan kalau harus berada di dalam rumah terus. Aku juga butuh suasana baru agar moodku menjadi lebih baik. Kamu ingatkan pesan dokter, kalau aku itu nggak boleh stress." Rayu Mutiara.


Ia duduk dipangkuan suaminya yang saat itu hendak memakai kaos kakinya.


Mutiara mengedip-ngedipkan mata, lanyaknya seorang anak meminta uang jajan pada ayahnya.


"Jangan menggodaku! Yang ada entar aku akan menerkammu," ancam Gilang.


Mutiara tidak mengindahkan ucapan suaminya. Yang penting ia harus dapat izin untuk pergi ke sekolah.

__ADS_1


"Yank..." Gilang sudah tidak bisa mengontrol dirinya. Ia menarik tengkuk Mutiara dan mencium bibir istrinya yang sejak tadi menggodanya.


Mutiara berusaha memukul dada suaminya. Ia membutuhkan pasokan oksigen. Gilang akhirnya menghentikan ciumannya.


"Kan sudah aku bilang, jangan menggodaku! Apa kamu lupa kalau aku sudah berusaha menahannya sejak kemaren?" Gilang mengacak rambut istrinya.


Mutiara mengerucutkan bibir. Ternyata butuh perjuangan yang keras untuk bisa membujuk suaminya.


"Kamu tidak boleh pergi ke sekolah tapi kamu bisa ikut aku ke kantor hari ini!" ucap Gilang kemudian.


Mata Mutiara berbinar. Akhirnya ia bisa keluar rumah juga. Setidaknya rasa bosan dan suntuknya bisa menghilang.


"Aku mau yank.." cicitnya.


Gilang tersenyum. Ia meminta istrinya untuk bersiap-siap. Sementara itu, ia segera turun meminta pelayan menyiapkan sarapan pagi dan membuatkan susu hamil bagi istri tercintanya.


Usai sarapan, Gilang dan Mutiara segera berangkat ke kantor. Tapi sebelum itu mereka mampir ke supermaket terlebih dahulu, membeli cemilan untuk Mutiara. Gilang tidak mau kalau sampai istrinya merasa jengah karena tidak ada cemilan apapun di ruangannya nanti.


Gilang membeli aneka snack yang dirasa aman dan baik bagi ibu hamil. Tak lupa, Ia juga membeli eskrim kesukaan istrinya.


Mutiara menggelengkan kepala, ia senang ternyata suaminya begitu pengertian. Tanpa diminta olehnya, Gilang selalu tahu apa yang sedang menjadi keinginannya.


"Makasih ya yank...sebagai suami kamu selalu bisa ngertiin aku," ucap Mutiara saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Aku kan harus bisa jadi suami siaga sa...yank..." balas Gilang. Ia mengusap lembut puncak rambut istrinya.


Mutiara merangkul lengan Gilang kemudian menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.


Gilang memberikan intruksi pada pak Heru agar melajukan mobil meninggalkan supermaket menuju kantor PT. GAD


Hanya butuh waktu 30 menit untuk tiba di kantor. Gilang membukakan pintu untuk istrinya. Mereka berjalan sambil bergandengan memasuki kantor. Lagi-lagi Mutiara menjadi pusat perhatian dari para staff karyawan.


Mereka semua masih ingat bagaimana terakhir kali Mutiara datang ke kantor dengan dandanan yang super modis dan seksi. Saat itu pula, bos mereka sangat marah bahkan sampai tega mengusirnya dengan paksa.


Namun hari ini? Mereka tampak sangat harmonis dan bahagia satu sama lainnya. Dandanan Mutiara pun terlihat berbeda. Ia lebih sederhana dengan memakai kaos berwarna putih dan celana jeans yang tidak terlalu ketat.


"Selamat pagi...Pak...Bu...." sapa para staff karyawan. Mereka menundukan kepala dengan rasa penuh hormat.


Mutiara tersenyum sopan, sedangkan Gilang hanya acuh tak acuh menunjukan kewibawaannya sebagai seorang CEO besar.


"Wuih...ternyata kakak ipar juga ikut, pantas saja datang terlambat." Kelvin menggoda sang kakak. Tapi malah dapat tatapan tajam dari si empunya.


"Bercanda kak...Jangan melotot githu! Ngeri akh lihatnya." Kelvin bergedik ngeri melihat kakaknya seperti itu.


Mutiara terkikik kecil. Merasa lucu melihat kelakuan dua kakak beradik tersebut.

__ADS_1


__ADS_2