
PERNIKAHAN BEDA USIA
PART 61
***
Mutiara tersenyum tipis. Merasa bahagia dengan perlakuan yang diberikan oleh suaminya. Ia tidak menyangka jika Gilang yang terkenal dingin dan acuh nyatanya bisa menghadirkan hal-hal yang romantis dalam hidupnya. Mutiara masih ingat betul bagaimana pertama kali ia dipertemukan dengan sang suami.
Saat itu Mutiara masih berumur tujuh tahun. Dimana ayah Mutiara mengajak Mutiara datang ke rumah besar Kediaman Dirgantara untuk yang pertama kalinya. Mutiara merasa sangat senang bisa menginjakan kaki di rumah yang besar dan mewah. Apalagi rumah itu terdapat kolam renangnya. Mutiara ingin sekali belajar berenang tapi dilarang oleh sang ayah, karena takut anak sulung dari keluarga Dirgantara akan marah.
Mutiara hanya bisa melihat kolam renang yang super bersih itu dari jauh saja. Sampai suatu hari, Elvina si bungsu dari Dirgantara datang menghampirinya. Elvina mengajak Mutiara bermain bersama di tepi kolam. Jelas saja itu membuat Mutiara bahagia. Namun saat asyik bermain bersama Elvina, tiba-tiba Gilang muncul. Gilang sangat acuh kepada Mutiara. Gilang bahkan tidak menoleh sama sekali ke arah Mutiara.
Mutiara merasa sedih. Ia ingin berkenalan dengan Gilang tapi sikap Gilang yang dingin membuat Mutiara menciut dan takut. Sejak saat itu pula Mutiara hanya bisa memperhatikan Gilang dari jauh saja. Mutiara cukup sadar siapa dirinya, ia tidak mungkin bisa berteman dengan Gilang. Apalagi umurnya yang berbeda jauh dari pria itu.
"Yank, kamu kenapa kok lihatin aku sampai segitunya? Aku tampan ya?" tanya Gilang yang menyadari bahwa Mutiara tengah asyik memperhatikan dirinya.
Mutiara memalingkan wajah, merasa malu karena kepergok Gilang sedang mengagumi suaminya itu.
"Ihh...PD amat sih kamu, siapa juga yang ngeliatin kamu?" kilah Mutiara.
"Masak sih..." Gilang berusaha menggoda istrinya. "Terus kenapa muka kamu merah gitu? Ayo ngaku! Kamu lagi terpesona sama ketampanan aku kan?" ucap Gilang lagi. Ia senang bisa melihat wajah istrinya yang malu-malu.
"Tau akh..." Mutiara mengerucutkan bibirnya.
Gilang terkekeh. Kini Gilaran dia yang menatap Mutiara dengan intens. Pipi Mutiara yang sedikit chubi semakin merona, apalagi saat Gilang mendekatkan wajah mereka. Mutiara bisa merasakan hembusan nafas Gilang menerpa wajahnya. Mutiara memejamkan kedua matanya, menikmati sentuhan bibir suaminya.
Gilang melepas tautan bibir mereka ketika pasokan oksigen telah menipis. Tersenyum sambil meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Gilang menarik tubuh Mutiara dan memeluknya dari belakang.
"Apa kau bahagia?" tanya Gilang kemudian.
"Hmm...aku sangat bahagia karena bisa merasakan cinta darimu, apalagi sebentar lagi ada mereka yang menghiasi hidup kita" jawab Mutiara.
"Syukurlah kalau begitu. Aku sudah tidak memiliki tujuan lain selain membuat kamu dan anak-anak senantiasa hidup bahagia dan aman" ujar Gilang mempererat pelukannya. Mutiara tersenyum tipis. Merasa bahagia karena apa yang pernah dimimpikan-nya sewaktu kecil bisa terwujud. Meskipun sempat Mutiara menguburnya dalam-dalam karena sifat acuh yang dimiliki oleh Gilang, tapi Allah punya cara lain untuk membuat Mutiara mengingat kembali tentang impiannya itu. Allah telah mengabulkan apa yang menjadi keinginannya semasa kecil. Bisa dekat bahkan mengenal lebih jauh dari sosok seorang Alvian Gilang Dirgantara dan hidup bersamanya.
***
Kelvin tidak tega melihat rengekan Azka yang terus meminta bertemu dengan Mutiara dan Gilang. Bocah itu terus saja menangis hingga tertidur karena lelah. Kelvin mengusap rambut Azka, mengecup kilas kening Azka.
__ADS_1
"Mereka pasti sangat menyanyangimu nak, sampai-sampai kamu tidak ingin berpisah dengan kedua orang tua angkatmu barang sedetikpun! Papa tidak salahkan dalam mengambil keputusan?" guman Alvin.
Sebagai seorang ayah, Kelvin sedih melihat putranya lebih menyanyangi orang lain ketimbang ayah kandungnya. Tapi Kelvin bahagia karena pada akhirnya, Azka memiliki keluarga yang utuh dan sangat menyanyangi Azka.
"Kakak, bagaimana dengan Azka?" tanya Elvina membuyarkan lamunan Kelvin.
"Dia sudah tertidur karena kelelahan menangis," jawab Kelvin.
"Kak Gilang dan kakak ipar pasti sudah sangat memanjakan Azka! Itu sebabnya Azka begitu menyanyangi mereka, walaupun baru sebentar hidup bersama" ucap Kelvin.
"Kak Kelvin tahu sendiri bagaimana sifat Mutiara, dia memiliki hati yang lembut serta penuh kasih. Jadi tidak akan sulit bagi Mutiara untuk mengambil hati semua orang. Apalagi anak kecil seperti Azka" Elvina duduk di samping Kelvin. Ia menatap wajah polos keponakannya.
"Sekarang sudah waktunya bagi kakak untuk menata hidup yang lebih baik. Azka sudah menemukan keluarga yang akan membuatnya bahagia. Kakak harus belajar membuka hati untuk menemukan seseorang yang bisa mencintai kakak dengan tulus" Elvina memberikan sarannya pada Kelvin.
Kelvin tersenyum kecut. Ia tidak tahu apakah dia bisa menemukan cinta atau tidak. Kelvin memang mudah bergaul dengan siapa saja. Bahkan ia juga memiliki banyak teman wanita, akan tetapi Kelvin belum bisa merasakan yang namanya cinta. Sampai pada akhirnya ia mengenal sosok Clarissa.
Kelvin tidak bisa pungkiri saat pertama kali bertemu dengan wanita itu. Kelvin bisa merasakan adanya debaran yang sangat kuat. Kelvin tahu dia salah, tidak seharusnya ia menaruh hati pada kekasih kakaknya. Itu sebabnya pula, Kelvin selalu menepis tentang perasaan yang ia miliki untuk Clarissa. Ia berusaha membuang jauh-jauh perasaannya pada Clarissa.
Hingga pada suatu hari keteguhan hati Kelvin di buat runtuh oleh Clarissa sendiri dan mengakibatkan kejadian buruk itu tak terelakan lagi. Walaupun itu sebenarnya bukan kesalahan-nya tapi tetap saja Kelvin merasa sudah mengkhianati kakaknya.
Namun harapan Kelvin berujung pada sebuah kekecewaan. Setelah melahirkan, Clarissa menghilang bersama dengan bayinya. Wanita itu pergi tanpa meninggalkan pesan apa pun.
Selama dua tahun ini, Kelvin berusaha mencari keberadaan mereka. Ia begitu mencemaskan keadaan Clarissa dan anaknya. Kelvin tidak bisa berhenti memikirkan bagaimana Clarissa akan bertahan hidup dengan membesarkan anaknya seorang diri. Kelvin terus saja menyalahkan dirinya sendiri karena sudah lalai menjaga Clarissa dan bayinya.
Akan tetapi setelah bertemu dengan Clarissa, Kelvin merasa sangat kecewa. Hatinya hancur, ia tidak menyangka bahwa wanita itu sudah menjual bayinya demi mendapatkan sejumlah uang. Kelvin merutuki akan kebodohannya. Ia seharusnya membawa bayi itu pergi usai dilahirkan oleh ibunya. Sehingga bayi itu tidak perlu merasakan panasnya terik matahari karena hidup di jalanan.
"Kak..." Elvina menepuk bahu Kelvin.
"Ehh...sorry Vin, kakak nggak bermaksud mengacuhkan dirimu?" Kelvin sedikit kaget.
"Kakak pasti ingat tentang wanita itu ya?" tanya Elvina.
Kelvin menggelengkan kepalanya, "kakak tidak memikirkan dia, Vin! Kakak hanya berpikir apakah kakak masih bisa menemukan seseorang yang tulus mencintai kakak nantinya?" jawab Kelvin sedikit berbohong.
"Percayalah bahwa Allah sudah menyiapkan seseorang yang akan membuat hidup kakak berbahagia karena cinta yang murni!" tutur Elvina berusaha menyemangati Kelvin.
"Semoga saja" Kelvin tersenyum tipis. Merasa bangga dengan sikap dewasa yang dimiliki oleh adiknya.
__ADS_1
***
Wajah Mutiara berseri-seri memancarkan adanya suatu kebahagiaan yang tak bisa diukur oleh apapun. Bibirnya terus saja menyunggingkan senyuman yang manis hingga membuat Gilang senantiasa mengaguminya.
Mutiara benar-benar bahagia karena bisa menikmati keindahan beberapa kota yang ada di pulau Lombok bersama suami tercinta. Apalagi Gilang tak henti menghadirkan kejutan demi menyenangkan hati Mutiara.
"Kamu kenapa yank?" tanya Gilang melihat Mutiara memilih duduk di lobby Resort.
"Aku capek yank jalan seharian" jawab Mutiara.
Gilang menghampiri Mutiara kemudian mengangkat tubuh istrinya.
"Yank turunin aku, malu tau kalau dilihatin banyak orang!" protes Mutiara.
"Ngapain harus malu, emang salah kalau suami gendong istrinya sendiri?"
Mutiara hanya bisa menghela nafas panjang. Tidak akan ada gunanya berdebat dengan Gilang.
Mutiara melingkarkan kedua tangan pada leher Gilang dan membenamkan wajahnya ke dalam dada bidang suaminya. Mutiara hanya tidak ingin menjadi bahan tontonan gratis untuk orang lain.
Sampai di kamar Gilang mendudukan Mutiara di atas tempat tidur kemudian mengangkat kaki istrinya agar berselonjor. Gilang memijit kaki Mutiara dengan penuh kasih sayang.
"Bagaimana? Sudah enakan kakinya?" tanya Gilang.
"Hmm...makasih ya yank, kamu emang suami aku yang paling pengertian?" cicit Mutiara.
"Sama-sama yank, ini sudah menjadi tugasku! Aku hanya ingin melihat istri imutku ini selalu menampilkan wajah cerianya" Gilang menarik hidung Mutiara.
"Ikh...sakit yank" protes Mutiara
"Aku bukan anak kecil, jadi jangan bilang aku imut!" ujar Mutiara lagi.
Gilang terkekeh. "Baiklah istriku sayang, bidadari dalam hatiku" ujarnya membuat Mutiara tersipu malu.
"Ya sudah sekarang kita mandi terus istirahat karena besok masih ada beberapa tempat yang akan kita kunjungi!" Gilang mengangkat Mutiara dan mengajaknya mandi bersama.
Sedangkan Mutiara, meski malu-malu tapi ia tetap menuruti kemauan suaminya. Mutiara senang bisa menghabiskan banyak waktu bersama Gilang.
__ADS_1