Pernikahan Beda Usia

Pernikahan Beda Usia
#PERNIKAHANBEDAUSIA_114


__ADS_3

PERNIKAHAN BEDA USIA


PART 114


 


 


 


⚜⚜⚜


 


 


Senja telah tiba, Mutiara dan Clarissa harus mengakhiri perbincangan mereka. Apalagi Azka sudah nampak kebosanan dan merengek minta pulang. Mungkin ingin segera bertemu dengan adik-adiknya. Sejak si kembar lahir, Azka memang tak bisa jauh dari mereka dalam waktu yang lama.


 


“Ommy, uyang. Aka au aen ma dede!” celoteh Azka sambil menarik tangan Mutiara.


 


Clarissa tersenyum kecil, merasa bahagia melihat sang putra yang pernah ia campakan dulu, kini bisa tumbuh dengan sehat dan menggemaskan seperti saat ini. Ia sangat bersyukur karena putranya berada dalam pengasuhan orang yang tepat. Meskipun jauh di dalam sanubari Clarissa sebenarnya merasa iri dengan perlakuan Azka kepada Mutiara. Tapi Clarissa cukup tahu diri. Ia sadar bahwa apa yang telah terjadi merupakan hukuman atas perbuatannya sendiri yang tega mencampakan anaknya demi uang.


Clarissa hanya bisa berdoa semoga Azka selalu berbahagia bersama keluarganya yang sekarang.


 


“Azka sayang, ayo peluk dan cium bunda dulu sebelum kita pulang!” pinta Mutiara pada Azka. Ia pun dapat merasakan apa yang tengah tengah dirasakan oleh saudarinya saat ini.


 


“Unda?” Azka menatap bingung pada Mutiara.


 


“Iya, Azka. Ini adalah Bunda Intan, bundanya Azka juga!” Mutiara menjelaskan. Meskipun bukan penjelasan dalam artian sesungguhnya.


Azka masih terlalu kecil, belum saatnya bocah itu mengetahui kebenaran yang sebenarnya. Meskipun diberitahukan bahwa Clarissa adalah ibu kandungnya, belum tentu Azka akan memahami segalanya. Bisa jadi justru akan mempengaruhi perkembangannya yang baik menjadi buruk.


 


Azka memeluk Clarissa kemudian mencium kedua pipinya.


"Unda Tan, Aka uyang uyu ya? Anti apan-apan emu agi.” Azka berkata dengan nada yang masih tak jelas.


 


Clarissa memeluk erat putranya dengan rasa haru. Melepas segala kerinduan yang sebenarnya sudah memupuk sejak dulu, setelah meninggalkannya dalam pengasuhan orang yang tak bertanggung jawab. Beruntung Kelvin menemukan Azka kemudian membiarkan Gilang dan Mutiara menjadi orang tua angkat bagi bocah itu. Kalau tidak, mungkin Clarissa akan terus mengutuk dirinya karena menjadi penyebab kesengsaraan dari putranya sendiri.


 


“Azka harus baik-baik ya sama Mommy, Daddy dan adik-adik!”


 


Azka mengangguk, kedua tangan mungilnya maju. Mengusap air mata Clarissa.


 


“Angan angis, anti elek!”


 


Clarissa ikut mengangguk. Menghapus sisa-sisa air matanya. Tersenyum manis untuk sang putra.


Mutiara haru melihat interaksi antara anak dan ibu. Diam-diam ia mengabadikan momen tersebut. Lalu memgirimkannya pada sang suami. Berharap Gilang akan memberikan kelonggaran pada keduanya untuk bisa saling bertemu kembali.


 


“Maaf Nyonya muda, kita harus segera kembali. Tuan sudah ada di rumah!” Heru menginterupsi.


 


Mutiara dan Clarissa mengerti. Mereka saling bertukar nomor ponsel agar mudah berhubungan. Keduanya kemudian berpamitan, berharap bisa kembali bertemu secepatnya.


 

__ADS_1


 


 


 


Sedangkan dari kejauhan seorang pria muda telah mengamati mereka. Melihat secara nyata bagaimana adegan yang mengharu-birukan tersebut.


Rasa kesal yang awalnya menyelimuti hati pemuda tersebut kini mencair entah kemana. Ia turut berbahagia menyaksikan pertemuan dua saudari kembar yang telah lama berpisah dan pertemuan antara ibu dengan anaknya.


 


 


“Sekarang aku tahu kenapa hariku begitu sulit ingin bersua dengannya. Ternyata seseorang telah sengaja membuatnya hanya untuk semua ini.” Pria muda itu bermonolog sendiri. Ia melajukan mobilnya, menjauh dari tempat tersebut.


 


 


 


⚜⚜⚜


 


 


Mutiara memasuki kediamannya dengan wajah yang sumringah. Senyum tipis nan indah mengambang selalu dibibirnya. Hal ini tak luput dari pengamatan sang suami dan para pelayan.


 


*Eheemmm...


 


Gilang sengaja berdehem.


 


“Addy...” Azka berlari ke arahnya.


 


“Addy, Aka unya unda aru. Ia antik epelti ommy. Ajahnya uga ama anyak ommy.” Azka bercerita.


 


Mutiara menunduk takut. Meskipun sudah meminta izin kepada sang suami dan suaminya itu juga telah memberikan izinnya. Tetapi tetap saja Mutiara merasa was-was saat mengingat bagaimana hubungan suaminya dengan saudari kembarnya dulu.


 


Gilang tersenyum. Mengerti akan apa yang dirasa oleh sang istri. Ia segera memanggil Laras dan meminta wanita itu untuk memandikan Azka menggunakan air hangat.


 


“Sayang kamu kenapa hanya berdiri saja disana? Apakah pertemuanmu dengan kakakmu itu sudah membuatmu lupa bagaimana menyambut suamimu ini setelah seharian merasakan penat karena bekerja?” Gilang pura-pura protes guna mencairkan suasana.


 


Mutiara menepuk dahinya. Karena rasa takut yang berlebihan, ia sampai melupakan kebiasaan yang harus dilakukannya saat sang suami baru pulang dari kantor.


Mutiara mendekat ke arah suaminya.


“Maaf...?” cicitnya seraya meraih tangan sang suami kemudian mencium punggung tangan tersebut.


Gilang memeluk Mutiara dengan erat. Mencium pucuk kepala sang istri berulang kali.


 


“Kamu tak perlu merasa takut! Aku tidak akan marah hanya karena kamu bertemu dengan saudara kembarmu. Aku tahu kamu sangat merindukan dia dan ingin berbicara dengan nya dari hati ke hati. Itu sebabnya aku sengaja mengatur pertemuan itu.” Gilang berkata jujur. Janji untuk saling terbuka selalu ia tepati. Hanya saja menunggu waktu yang tepat. Mutiara mendongak, seolah meminta sebuah penjelasan pada suaminya.


 


Gilang membimbing Mutiara menuju ruang kerja. Sudah saatnya bagi Mutiara mengetahui perihal Azka yang pernah mengalami operasi pencangkokan sumsum tulang belakang dan yang menjadi pencakok susum tulang belakang adalah ibu kandung dari Azka yang tak lain adalah Clarissa.


 


“Mungkin ini sudah saatnya kamu tahu tentang semuanya!” ucap Gilang setibanya di ruang kerja miliknya. Membawa sang istri duduk pada sebuah sofa panjang.

__ADS_1


 


“Kamu pasti ingin tahu bagaimana Clarissa bisa bebas dari tahanan sebelum waktunya?” selidik Gilang sebelum bercerita.


Mutiara mengangguk. Memang itu yang mengganjal di hatinya. Namun urung ia tanyakan pada Clarissa karena takut menyinggung perasaan saudarinya itu.


 


Gilang mengusap jemari istrinya. Kemudian melontarkan kata demi kata. Bercerita tentang peristiwa yang pernah dialami oleh Azka. Kemudian berlanjut dengan pembebasan untuk Clarissa.


 


Mutiara nampak syok dan mulai menangis. Merasa bersalah lantaran tidak bisa menjadi ibu yang baik bagi Azka. Disaat putranya tengah berjuang melawan kematian, dia malah asyik berlibur bersama teman-teman alumni SMA nya.


Mungkin karena itu pula Allah telah menghukumnya melalui kejadian tragis yang pernah ia alami saat di Bali. Didorong oleh temannya hingga terjatuh menyebabkan ia harus menjalani operasi caesar yang kemudian koma dalam waktu yang cukup lama.


 


 


“Sayang, jangan menangis! Maafkan aku yang tidak berkata jujur? Saat itu kamu tengah hamil besar dan dokter mengatakan bahwa kamu tidak boleh stress. Aku terpaksa melakukan semua ini demi kebaikan kita semua!” Gilang meraih tubuh istrinya mendekap demi memberikan ketenangan.


 


“Lagi pula itu semua sudah berlalu dan Azka baik-baik saja! Ada hikmah yang bisa kita ambil dari semua kejadian itu, Clarissa aku bebaskan dan dia memiliki kesempatan untuk berubah menjadi orang yang lebih baik sekarang.” Gilang menjeda ucapannya untuk melihat reaksi dari sang istri.


 


“Saat itu aku tak punya pilihan, aku merasa hanyalah itu jalan yang terbaik yang bisa aku lakukan. Sekali lagi maafkan aku?” Gilang melepaskan pelukannya. Menatap dalam kedua mata sang istri.


 


“Maafkan aku...tolong maafkan aku?” Gilang mengucapkan kata maaf berulang kali.


 


Mutiara menggelengkan kepala, menaruh jari telunjuknya tepat di bibir suaminya.


Benar kata Gilang. Semuanya sudah berlalu. Azka baik-baik saja dan Intan, saudari kembarnya pun sudah kembali menjadi baik.


 


“Aku yang harusnya minta maaf karena sudah membiarkan kamu melalui semua kesulitan itu sendirian? Aku minta setelah ini, apapun yang terjadi kita harus melaluinya bersama-sama. Tak boleh ada lagi kata rahasia diantara kita, karena aku dan kamu adalah satu!” Mutiara kembali menjadi sosok yang bijaksana dan pengertian.


Gilang tersenyum bahagia. Istrinya telah kembali. Sosok wanita tegar dan bijaksananya telah kembali. Ia memeluk erat tubuh Mutiara hingga wanita itu sulit bernafas.


 


“Yank...aku kesulitan bernafas” cicit Mutiara


 


“Kamu panggil aku apa barusan?” Gilqng mengurai pelukannya.


 


“Yank...”


 


Gilang bahagia, sangat bahagia. Istrinya telah kembali. Panggilan sayangnya pun telah kembali. Gilang benar-benar bahagia. Berharap sindrom baby blouse yang menjangkit istrinya pun telah menghilang


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2