
PERNIKAHAN BEDA USIA
Part 57
***
Gilang membuka mata, ia tersenyum tipis disaat melihat istrinya masih tertidur pulas disampingnya. Gilang mengangkat tangan, mengusap lembut pipi Mutiara.
Gilang bersyukur karena masih diberikan kesempatan untuk bisa bertemu kembali dengan istri tercintanya. Gilang merasa dunianya seakan runtuh ketika Mutiara menghilang. Otaknya terasa kosong seketika, tak mampu untuk berpikir jernih. Untung saja Gilang memiliki orang-orang yang bisa diandalkan, sehingga Mutiara kembali di sisinya dalam keadaan selamat.
Mutiara mengerjab-ngerjabkan kedua mata. Merasa ada yang mengusik tidurnya yang nyenyak.
"Ughhh..." lenguh Mutiara, menggeliat kecil.
"Morning sayang, maaf ya sudah mengusik tidurmu?" ucap Gilang.
Mutiara tersenyum kecil, ia memberi kecupan singkat pada bibir suaminya dengan wajah yang terkesan malu-malu.
"Yank, kamu masih butuh istirahat lho..." Gilang mengedipkan mata, ingin menggoda istrinya.
"Iya..iya.. Aku tahu, kamu nggak usah menjelaskannya!" sungut Mutiara, tanpa bisa memahami maksud dari suaminya.
"Lalu kenapa kamu menggodaku dipagi hari?"
Mutiara melotot, mulai memahami arah pembicaraan suaminya.
"Sudah ah.. Aku mau mandi dulu," cuit Mutiara karena malu. Ia beranjak dari tempat tidur, melangkah menuju kamar mandi.
Gilang menyeringai kecil segera beranjak mengikuti langkah istrinya.
"Kamu mau ngapain yank?" tanya Mutiara.
"He..he.. Mau ikut mandi sama kamu yank," cengir Gilang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Mutiara melotot, "Ah...enggak...enggak..!! Kalau kamu ikut yang ada aku nggak jadi mandi," tolak Mutiara.
"Ayolah yank, sudah lama kita nggak mandi bareng! Aku janji deh nggak bakal ngapa-ngapain kamu, lagi pula kamu kan juga baru keluar dari rumah sakit. Masak iya aku mau macem-macem..?" Gilang merengek seperti anak kecil.
Mutiara tampak berpikir sejenak sebelum dia menganggukan kepala.
"Baik lah. Tapi janji ya hanya mandi saja dan nggak lebih?" ujar Mutiara kemudian.
Gilang mengangguk cepat lalu membopong istrinya masuk ke dalam kamar mandi. Dia benar-benar senang seperti mendapatkan durian yang runtuh. Semenjak hamil, Mutiara memang agak sulit kalau diminta untuk mandi bersama. Berbagai macam cara sudah dilakukan Gilang agar bisa membujuk istrinya. Namun ya begitu...selalu ditolak dan ditolak oleh Mutiara.
__ADS_1
***
Selesai mandi, Mutiara terus menggerutu tak karuan. Gilang tidak serius dengan perkataannya. Meskipun tidak sampai melakukan hubungan suami istri, akan tetapi Gilang tetap saja mengerjai dan mengganggu acara rutinitas mandi Mutiara.
"Dasar mulut lelaki memang tidak bisa dipercaya!!" ucap Mutiara merasa kesal. Ia melirik Gilang yang asyik bersiul karena puas mengganggu rutinitas mandi istrinya.
Mutiara menghentak-hentakan kakinya, berjalan menuju pintu kamar.
"Mau kemana yank?" tanya Gilang.
"Keluar" jawab Mutiara dengan ketus.
"Kamu lupa sama janji kamu sewaktu di rumah sakit?" Gilang menaik-turunkan kedua alis matanya.
Mutiara melirik sinis pada suaminya. Ia tetap keluar dari kamar dengan raut yang semakin kesal.
*BLAAMMM
Mutiara menutup keras pintu kamar. Gilang menghela nafas panjang. "Begini kalau istri lagi ngambek," cicitnya kemudian.
Gilang ikut keluar kamar. Ia ingin membujuk istrinya agar tidak marah lagi kepada dirinya.
Mutiara duduk di sofa ruang keluarga. Ia sengaja manyalakan TV agar bisa membuang rasa kesalnya. Para pelayan yang melihat hanya diam saja. Mereka sudah paham akan situasinya. Tak baik mendekat jika dalam keadaan seperti itu.
"Gilang...kamu harus pikirkan cara supaya bisa melunakan hati istrimu secepatnya kalau tidak ingin tidur di luar sepanjang malam!" cuit Gilang dalam hati. Ia berpikir mencari cara yang jitu untuk membujuk Mutiara agar tidak marah lagi kepada dirinya.
Gilang menyunggingkan senyuman ketika sebuah ide muncul. Ia semakin mendekati Mutiara.
"Yank..." panggil Gilang dengan nada setengah manja. Mutiara melirik sekilas kemudian acuh lagi.
Ting...Tong...
Mutiara langsung beranjak dari sofa, membukakan pintu. Lagi-lagi Gilang hanya bisa menghela nafas. Baru saja menemukan ide, tapi sudah datang seorang pengganggu yang tentunya bisa ditebak oleh Gilang siapa gerangan. Pasti itu maminya. Sejak tahu Mutiara hamil, mami Gilang tidak pernah absen tiap harinya untuk menemui menantu kesayangannya.
Gilang akhirnya hanya bisa mengekor kepada istrinya, menyambut tamu yang tidak diundang.
"Mami..." Mutiara sangat bersemangat. Senyum manis mulai merekah dari bibirnya.
"Hallo sayang, bagaimana kabarmu?" tanya bu Meisya.
"Jauh lebih baik Mi...aku sudah sehat kok!" Mutiara melirik sinis pada suaminya. Gilang pura-pura tidak melihat. Kedua tangannya bersidekap di depan dada. Sifat angkuh dan arogantnya mulai diperlihatkan lagi jika berhadapan dengan orang lain. Termasuk kepada kedua orang tuanya sendiri.
"Ck...mulai kambuh nih sifat songongnya!" bu Meisya menggerutu sebal.
__ADS_1
"Mami, siapa anak itu?" tanya Mutiara ketika melihat seorang wanita muda menggendong bocah lelaki.
Bu Meisya tersenyum tipis. "Dia anaknya Kelvin dan Clarissa," ujar bu Meisya.
"Apa Mi..?" Mutiara kaget. Begitu pula dengan Gilang walaupun sebenarnya ia sudah tahu bahwa Kelvin memiliki anak dengan Clarissa. Tapi anak itu sudah diangkat oleh orang lain? Bagaimana bisa sekarang ada bersama dengan maminya.
"Ceritanya panjang, nanti mami jelaskan di dalam. Apa kamu ingin membiarkan mami tetap berdiri di sini?" Bu Meisya mengingatkan Mutiara kalau mereka masih berada di ambang pintu.
"Oh maaf Mi, aku lupa? Ayo masuk dulu!" ajak Mutiara kemudian.
Mutiara menggandeng mami mertuanya, melangkah masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Gilang seorang diri.
"Hupff...nasibku kian malang kalau begini caranya, kenapa mami harus datang sekarang sih?" Gilang mengacak rambut karena kesal. Menggerutu tak jelas.
Mutiara semakin tidak percaya setelah mendengarkan penjelasan dari mami mertuanya. Clarissa tega menjual anaknya hanya untuk mendapatkan sejumlah uang. Bagaimana mungkin saudaranya itu bisa mengikuti jejak langkah ibunya? Mutiara merasa sedih. Jika saja Clarissa diasuh oleh ayahnya, dia tidak mungkin menjadi seperti itu. Haus akan uang.
"Sayang, udah dong jangan sedih terus! Kamu nggak kasihan sama calon anak kita?" bujuk Gilang.
Mutiara mengangguk, menyeka air mata yang sudah terlanjur berjatuhan. Ia mendekati Azka lalu menggendongnya.
"Yank, apa boleh aku merawat Azka? Aku ingin menjadikan dia sebagai anak kita?" tanya Mutiara pada Gilang.
"Aku tidak keberatan yank, tapi bagaimana dengan Kelvin? Apa dia akan mengizinkannya?"
Mutiara menunduk. Wajahnya kembali muram. Gilang menghela nafas panjang.
"Baiklah biar nanti aku mencoba membujuk Kelvin, semoga dia tidak keberatan." Gilang tidak bisa melihat wajah sedih dari Mutiara.
"Makasih banyak ya, yank?" ucap Mutiara senang. Gilang mengangguk. Ia merasa senang melihat wajah Mutiara yang ceria.
Bu Meisya tersenyum tipis. Sekarang ia benar-benar bisa merasa lega melihat bagaimana perilaku putranya terhadap Mutiara. Gilang sudah kembali, bu Meisya sangat bersyukur karenanya.
"Semoga kalian bisa selalu bersama dan berbahagia sampai ajal menjemput," guman bu Meisya dalam hatinya.
*
*
*
Kelvin tidak tahu harus bahagia atau tidak. Baru saja ia dipersatukan kembali dengan Azka, tapi sekarang ia harus melepaskan kembali putranya. Kelvin ingin Azka memiliki keluarga yang utuh. Itu sebabnya saat Gilang dan Mutiara berniat merawat Azka, Kelvin tidak keberatan sama sekali. Kelvin yakin putranya akan bahagia bersama mereka. Mutiara wanita yang lembut dan penuh kasih sayang. Dia bisa menjadi ibu yang terbaik bagi putranya. Lagi pula jika Azka dirawat oleh keluarga mereka, Kelvin masih bisa melihat bagaimana pertumbuhan Azka secara dekat.
"Kamu sudah mengambil keputusan yang benar Kelvin, setidaknya Azka tidak akan menemui masalah apabila suatu saat nanti Clarissa bebas." Bu Meisya mengusap bahu Kelvin. Ia memahami bagaimana perasaan putranya.
__ADS_1
"Iya Mi, Kelvin akan melakukan apapun demi kebahagiaan Azka! Tak seorang pun boleh menyakiti dia. Dan itu bisa terwujud selama Azka berada dalam pengasuhan kak Gilang." Kelvin tersenyum. Pandangan Kelvin lurus ke depan melihat bagaimana Mutiara dan Gilang bermain bersama Azka. Mereka terlihat sangat bahagia.