Pernikahan Beda Usia

Pernikahan Beda Usia
#PERNIKAHANBEDAUSIA_20 (REVISI)


__ADS_3

Gilang merasa kesal, lagi-lagi maminya memakai kekuasaan sang suami untuk menekan dirinya supaya membawa Mutiara ke rumah mereka. Bukannya tidak mau, tapi ia malas jika harus bertatap muka dengan pengkhianat itu. Gilang tidak ingin jika Kelvin bertemu dengan istrinya, jujur ia takut seandainya kejadian di Amerika akan terulang lagi.


Gilang mengakui bahwa Kelvin memang memiliki pesona yang mudah memikat hati para gadis karena sikapnya yang mudah easy going terhadap siapa pun juga, meskipun baru bertemu. Tidak seperti dirinya yang terkesan selalu kaku dan cuek. Mungkin itu pula yang menyebabkan Clarissa bisa berpaling darinya dulu.


*PING...


Sebuah pesan masuk, Gilang tersenyum ketika nama gadis kecil yang tertera sebagai pengirimnya.


Assalamualaikum,


Mas Gilang barusan Elvina menyampaikan pesan mami kepadaku, dia bilang mami sangat merindukan kita. Apakah malam ini kita bisa datang berkunjung dan menginap di sana barang satu malam?


Gilang mendengus, lihatlah maminya sudah bergerak dengan cepat. Ia sudah mengirim pesan untuk istrinya terlebih dahulu lewat adiknya Elvina.


Waalaikumsalam,


Baiklah malam ini kita akan berkunjung, tapi untuk menginap aku tidak bisa menjanjikannya.


Setelah membalas pesan dari istrinya, Gilang meletakan ponselnya kembali ke atas meja. Ia berpikir sejenak, mencari cara supaya bisa mengontrol emosinya ketika melihat wajah Kelvin.


*Ping


M : Apa mas Gilang sudah makan?


Gilang tersenyum lagi, ia semakin yakin jika istrinya mulai bisa menerimanya sebagai suaminya.


G : Belum, aku masih banyak kerjaan jadi tidak sempat keluar untuk sekedar mencari makan.


M : Tapi ini sudah siang mas, nanti kalau mas Gilang sakit Gimana? aku nggak mau kalau sampai mas Gilang sakit hanya gara-gara sibuk dan lupa makan. Aku nggak mau tahu mas Gilang harus cari makan sekarang!


Gilang terkekeh, sejak kapan gadis kecilnya berani memerintahnya seperti ini?


G : Baiklah tuan putri yang cantik


Sent.


'Aduh mam*** aku! Kenapa bisa kirim pesan seperti itu sih? Dia pasti sudah besar kepala sekarang,' Gilang menggerutu ketika pesannya terkirim.


Ia mengumpat pada diri sendiri kenapa otak dan hati tidak sejalan. Kalau sudah begini harus bagaimana?


*****


Mutiara hampir berlonjak girang ketika mendapati balasan pesan dari suaminya. Ia tak menyangka jika Gilang akan memujinya seperti itu. Ia benar-benar bahagia, walaupun itu hanya merupakan tulisan dari sebuah pesan saja. Mutiara berharap suatu saat nanti ia bisa mendengar pujian yang terlontar secara langsung dari bibir suaminya.


"Gue perhatiin belakangan ini elo selalu happy, baru menang lotre ya?" sindir seorang gadis berwajah Indo.


"Emangnya kenapa? tidak boleh? syirik aja!" sela Elvina.

__ADS_1


"Suka-suka gue donk! lagian elo kok mau sih berteman sama gadis gembel macam dia," ucap gadis itu dengan tajam.


"Hellow...gue emang lebih senang berteman dengan Mutiara karena dia baik dan nggak sombong!!" tegas Elvina,


"Dan gue paling males banget jika harus berteman dengan seorang Bertha Clarinda yang sifatnya suka menyombongkan diri tapi otaknya nol!" tambah Elvina lagi.


Gadis bernama Bertha terlihat geram, ia seakan ingin menarik paksa rambut Elvina. Namun ia urungkan karena ada Arif yang melintas ke arah mereka.


Bertha memang sangat menyukai Arif sejak pertama kali bertemu di sekolah ini. Hanya saja pria itu sepertinya tidak pernah menyadarinya karena Mutiara.


Bertha membenci Mutiara, ia menganggap gadis itu sebagai saingan terberatnya dalam mendapatkan hati Arif.


"Ada apa ini?" tanya Arif


"Apa dia gangguin elo lagi?" Arif menatap Mutiara.


Mutiara menggelengkan kepala, dan Bertha bisa bernafas dengan lega.


"Mutiara, elo ikut gue! Ada hal penting yang harus kita omongin!" ucap Arif dengan nada yang dingin.


Mutiara dan Elvina saling bertatapan, mereka tidak mengerti kenapa Arif tiba-tiba berlaku seperti itu. Jantung Mutiara mulai berdegub kencang, ia berharap semuanya akan baik-baik saja. Dengan langkah yang sedikit ragu, Mutiara mengikuti Arif dari belakang.


***


Arif dan Mutiara duduk bersisihan di taman belakang sekolah. Keduanya terlihat hanya membisu satu sama lainnya. Tak ada yang berani memulai pembicaraan, lidah mereka seakan terikat oleh sesuatu sehingga tidak biaa bergerak.


"Ra..."


Ucap Arif dan Mutiara bebarengan.


"Sebaiknya elo duluan yang bicara!" ucap Arif


"Tidak, sebaiknya kamu aja yang duluan ngomong! Bukankah tadi kamu bilang ada hal penting yang ingin kamu omongin denganku?" tukas Mutiara.


Arif menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kasar. Ia membuang jauh pandangannya ke depan, mengingat kenyataan pahit yang ia dapatkan saat mengikuti Mutiara sepulang dari sekolah kemaren.


"Siapa Alvian Gilang Dirgantara?"


*DEG


Jantung Mutiara seakan berhenti berdetak, ia menoleh dan menatap ke arah sahabatnya.


"Kemaren pas pulang dari sekolah, tanpa sengaja gue lihat dia jemput elo," Arif mengalihkan pandangannya ke atas dan menyenderkan tubuhnya pada kursi panjang yang ia duduki.


Mutiara menunduk, ia tidak tahu harus menjawab apa?


"Rif, sebenarnya aku..."

__ADS_1


"Elo sudah menikah dan Alvian Gilang Dirgantara adalah suami elo," Arif menyela.


"Ma...ma...af"


Mutiara semakin menundukan kepala, hanya sebuah kata maaf yang mampu terucap dari bibirnya. Ia salah... Mutiara tahu itu. Tidak seharusnya ia menyembunyikan hal sepenting itu kepada sahabatnya. Apalagi Mutiara sendiri tahu seperti apa perasaan Arif yang sebenarnya pada dirinya.


"Kenapa elo harus melakukan ini? kenapa elo nggak jujur sama gue?" bentak Arif.


Mutiara bergeming. Ia merasa takut dengan sikap Arif yang tiba-tiba dingin dan kasar. Pria itu memegang kuat kedua bahunya, hingga terasa sedikit sakit.


"Elo anggap gue sahabat atau tidak? Kenapa elo harus menyembunyikan semua ini dari gue? Pantas saja sejak elo masuk sekolah lagi, elo sudah tidak mau gue antar jemput lagi. Ternyata elo sudah punya seseorang yang dengan setia bersedia untuk mengantar dan menjemput elo dimana pun itu," akhirnya Arif behasil meluapkan unek-unek yang sudah mengganjal di hatinya sejak kemaren.


Mutiara mulai terisak, ini adalah pertama kalinya Arif membentaknya. Padahal sebelum ini sikap sahabatnya selalu sabar dan lembut padanya.


Arif mengusap kasar wajahnya. Ia baru menyadari sikapnya sudah keterlaluan.


"Maaf...gue nggak ada maksud buat ngebentak elo! gue hanya terbawa emosi karena merasa elo bohongi," ucap Arif melembut.


Mutiara menggeleng, Arif sama sekali tidak bersalah. Justru dirinya yang seharusnya meminta maaf.


Mutiara berusaha mengumpulkan semua keberaniannya untuk bercerita tentang semua hal yang terjadi kepada dirinya setelah sang ayah meninggal dunia.


"Maaf...bukan maksudku merahasiakan ini darimu. Aku hanya merasa butuh waktu yang pas untuk bisa memberitahukan semua ini padamu," ujar Mutiara.


"Apa elo mencintai pria itu?" selidik Gilang.


"Awalnya tidak, tapi sekarang sepertinya aku mulai menyukai suamiku," jujur Mutiara.


Hati Arif sangat sakit mendengar jawaban dari Mutiara. Bagaimana tidak? gadis yang secara diam-diam ia cintai sejak lama ternyata sudah menikah. Dan dia juga berkata bahwa dia mulai mencintai suaminya.


***


Mobil Gilang memasuki area pakiran SMU Dirgantara. Ia sengaja menjemput istrinya lebih awal karena tidak mau sampai kecolongan lagi. Ia paham betul seperti apa watak dari wanita yang sudah melahirkannya. Gilang sangat tahu bahwa maminya pasti akan datang ke sekolah untuk menjemput Mutiara terlebih dahulu. Itu sebabnya Gilang harus bisa maju selangkah di depan maminya.


Setelah mendapatkan tempat parkiran yang cukup nyaman, Gilang langsung turun dari mobil. Ia melangkahkan kakinya, memasuki area sekolah hanya untuk mencari keberadan istrinya.


Namun saat dipertengahan jalan, geraham Gilang tiba-tiba mengeras dan kedua tangannya mengepal kuat. Hatinya terasa panas ketika mendapati sang istri tengah duduk bersama seorang pemuda. Gilang semakin cepat melangkahkan kakinya. Ia ingin membuat perhitungan pada pria yang sudah berani mendekati istrinya itu.


Hanya saja langkah itu harus terhenti saat ia mendengar langsung bagaimana penuturan jujur dari bibir istrinya. Gilang bahagia, ternyata dugaannya benar. Mutiara sudah mulai menaruh hati kepada dirinya.


Hallo reader....


Author up lagi ya, itung-itung sambil nemenin begadang😅😅


Heheheh cuma ngiketin jangan lupa untuk Vote setiap episodenya ya...


Biar tambah ssmangat Authornya😁😁

__ADS_1


__ADS_2