
#PERNIKAHANBEDAUSIA
Part 38
Jakarta
Sementara itu, di Jakarta. Clarissa mulai kualahan menghadapi sikap Mr. Steve yang mendadak menjadi seseorang yang kasar dan pemarah. Tak jarang pula, Clarissa sering mendapatkan amukan dari pria itu. Ini semua bisa terjadi karena pak Bayu telah menolak keras kerja sama yang telah diajukan oleh Mr. Steve. Padahal Mr. Steve sendiri sudah menghabiskan banyak waktu dan uangnya hanya untuk sekedar ingin menjalin kerja sama dengan perusahaan milik keluarga besar Dirgantara.
Clarissa sebenarnya mulai merasa muak dengan keadaannya yang saat ini. Kalau bukan karena masih sangat membutuhkan Mr. Steve, mungkin Clarissa sudah meninggalkan pria tersebut. Namun sayangnya ia tidak bisa melakukan hal itu selama Gilang masih belum bisa ia takhlukan kembali. Dan Kelvin...Pria itu sudah terlanjur tahu siapakah dirinya. Pasti akan sangat sulit untuk bisa dimanfaatkan lagi setelah apa yang ia perbuat.
Tapi tunggu dulu... Clarissa masih memiliki kartu AS agar bisa mendapatkan uang dari seorang Kelvin.
Clarissa tersenyum. Ia puas dengan kecerdasan yang ada di otaknya. Meskipun tidak lulus SMA, setidaknya ia bisa memanfaatkan kecerdasan otaknya untuk mengelabuhi kaum lelaki. Tidak sia-sia ia sudah mengikuti jejak dari ibunya. Ia bisa mendapatkan banyak uang dari makhluk yang namanya laki-laki. Cukup dengan wajah cantik dan tubuh yang aduhai.
"Sayang, maaf sudah membuatmu menunggu lama?" cuit seseorang. Siapa lagi kalau bukan Mr. Steve.
"Tidak apa-apa sayang, aku bisa mengerti. Lagi pula aku juga baru datang kok," balas Clarissa sedikit malas.
"Apa kamu sudah memesan makanan?" tanya Mr. Steve
Clarissa menggelengkan kepalanya.
"Tentu aku menunggumu, sayang," cuitnya kemudian.
Mr. Steve tersenyum. Ia segera memanggil pelayan dan memesan makanan kesukaan dari wanitanya itu. Ia ingin menebus rasa bersalahnya karena akhir-akhir ini menjadikan kekasih kecilnya sebagai pelampiasan amarahnya. Mr. Steve melihat luka lebam di lengan Clarissa karena ulahnya yang tidak bisa mengontrol emosi.
"Maaf..." ucap Mr. Steve
"Maaf...?" Clarissa memicingkan alisnya.
"Maaf karena sudah bertindak kasar padamu akhir-akhir ini," ucap Mr. Steve lagi. Ia mengusap lengan Clarissa.
Clarissa tersenyum kecut.
"Sudahlah sayang, aku bisa paham kenapa kamu bisa berbuat seperti itu. Mereka memang sudah sangat keterlaluan." Clarissa menggenggam jemari pria itu.
"Sekarang apa yang ingin kamu lakukan? Apa kita akan kembali ke Amerika?" selidik Clarissa.
"Tentu saja tidak sayang! Aku akan membuat perhitungan terlebih dahulu dengan mereka, baru setelah itu kita akan kembali ke Amerika." Mr. Steve mengepalkan jari-jarinya.
Clarissa tersenyum lega. Ia sudah menduga kalau inilah yang akan terjadi. Mr. Steve merupakan orang yang paling tidak suka jika ada yang berani menolak keinginannya. Pria itu pasti akan membuat perhitungan dengan orang tersebut.
"Wah...Wah...Wah..." tiba-tiba ada seorang wanita cantik menghampiri mereka.
Wanita itu bersidekap sambil menggelengkan kepala. Sementara itu Mr. Steve dan Clarissa saling bertatapan. Mereka sama-sama tidak tahu siapa wanita itu?
"Maaf nona, apakah kami pernah bertemu dengan anda sebelum ini?" tanya Mr. Steve.
Wanita itu hanya tersenyum kecut kemudian menatap bringas kepada Clarissa.
"Kita memang belum pernah bertemu sebelumnya," jawab Wanita itu.
"Tapi aku tahu siapa dirimu gadis kecil," cicitnya lagi.
Wanita itu mengangkat dagu Clarissa dan langsung mendapat tepisan dari si empunya.
"Mengenal saya? Maksudnya?" Clarissa tidak mengerti.
Wanita itu tertawa kecil. Ia memilih duduk diantara Mr. Steve dan Clarissa.
__ADS_1
"Tuan, apakah anda tahu jika gadis cilik ini sudah memiliki suami?" ucap wanita itu dengan santai.
"Apa maksudmu? Dia masih single?" tukas Mr. Steve menatap ke arah wanita itu.
"Single? Benarkah?" wanita itu menatap Clarissa.
"Ternyata kecil-kecil sudah pandai berbohong ya?" ucap wanita itu.
Ia meminum minuman Clarissa.
"Bagaimana kalau sampai Gilang tahu bahwa istri kecilnya mengaku single di depan pria lain? Gue rasa dia tidak akan mengampuni dirimu!?" lanjut wanita itu.
"Gilang?" Mr. Steve dan Clarissa lagi-lagi saling bertatapan.
"Iya...Alvian Gilang Dirgantara, seorang CEO dari perusahaan besar PT. GAD...Bukankah dia suamimu nona Mutiara Mikayla Putri...?" wanita itu mendekatkan wajahnya pada wajah Clarissa.
Ia tersenyum penuh dengan arti.
Mutiara Mikayla Putri...Clarissa mematung. Ingatannya kembali berputar pada masa yang lalu. Ia ingat sosok adik yang ia sayangi. Bukan adik, tepatnya saudara kembarnya. Tapi bagaimana mungkin? Kata ibunya.... Mutiara sudah tiada bersama sang ayah. Mereka mengalami kecelakaan.
"Nona, saya rasa anda salah orang! Dia bukan Mutiara tapi Clarissa kekasih saya!!" tegas Mr. Steve.
Wanita itu tidak percaya. Dia semakin menuduh jika Clarissa sangat pandai berakting sampai-sampai bisa mengabuhi dua cowok sekaligus. Sehingga terjadi keributan yang cukup besar dan mengganggu pengunjung lainnya.
-----
PARIS
Malam ini Gilang dan Mutiara akan melakukan Dinner romantis yang terakhir di kota Paris. Gilang mengenakan tuxedo berwarna hitam sedangkan Mutiara mengenakan dress hitam tanpa lengan yang panjangnya selutut. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai panjang dengan sedikit curly. Keduanya terlihat sangat serasi.
"Kamu sangat cantik, yank..." bisik Gilang.
Wajah Mutiara memerah.
"Kamu juga sangat tampan yank..." balas Mutiara menundukan kepala.
"Ayo kita berangkat sekarang! cacing-cacing diperutku sudah bernyanyi rasanya," celetuk Gilang. Ia mengulurkan tangannya dan disambut oleh Mutiara.
Mereka berjalan secara beriringan. Semua mata kini mulai memandang dan berdecak kagum dengan keserasian serta kemesraan sepasang suami istri tersebut.
"Yank, emangnya kita mau dinner dimana?" tanya Mutiara saat mereka memasuki mobil yang sudah siap terparkir di depan hotel.
"Nanti kamu juga akan tahu sendiri yank," balas Gilang. Lagi-lagi senyuman yang sangat manis mengembang dari bibir Gilang.
Melihat Gilang tersenyum, jantung Mutiara berdegub dengan kencang.
"Akh...dia semakin tampan saja kalau tersenyum seperti itu," bathin Mutiara.
Gilang mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tangan yang satu dipakai untuk menyetir sedangkan yang lain menggenggam jemari istrinya.
Tak lama mereka tiba di tempat tujuan. Gilang memarkirkan mobilnya.
"Yukk!" ajak Gilang pada Mutiara.
Mutiara turun dari mobil. Ia menatap takjub dengan pemandangan sekitar. Sangat Indah.
"Kita dimana yank?" tanya Mutiara
"Seine River," balas Gilang.
__ADS_1
Ia kembali tersenyum ketika melihat mata istrinya kembali berbinar.
"River Dinner Cruise" Gilang menambahi. Mutiara menutup mulut tanda tak percaya.
Gilang menggandeng tangan Mutiara menuju Kapal Bateux Parisiens. Mereka akan melakukan dinner romantis sambil mengelilingi Seine River menggunakan kapal persiar yang sangat megah. Dinding dan atap kaca membuat para penumpang dapat merasakan keindahan semarak City of The Light Paris di malam hari.
Gilang dan Mutiara duduk tepat disamping dinding kapal kaca. Meja itu memang sengaja di desain untuk sepasang kekasih yang ingin dinner di atas kapal persiar.
Gilang menarik kursi dan mempersilahkan istrinya untuk duduk.
"Terima kasih yank..." cuit Mutiara.
Gilang hanya tersenyum. Ia pun ikut duduk.
Kapal mulai bergerak, mengelilingi sungai seine. Yang membuat sungai seine semakin istimewa adalah adanya tempat-tempat penting dan ikonik di kota Paris terletak di tepi sungai Seine. Sehingga melakukan dinner di atas river cruise merupakan pilihan yang tepat karena bisa dijadikan pengalaman romantis yang tak akan terlupakan oleh bagi semua pasangan.
"Apakah kamu bahagia?" tanya Gilang. Ia meraih tangan istrinya.
Mutiara tak menjawab. Matanya sudah mulai berkaca-kaca. Gilang menjadi panik.
"Apa kamu tidak suka dengan kejutan ini?" cuit Gilang kemudian.
Mutiara menggelengkan kepala. Ia membalas genggaman tangan dari sang suami.
"Ini adalah air mata bahagia, Yank. Terima kasih untuk semuanya. Aku benar-benar bahagia bisa memilikimu sebagai suamiku," terang Mutiara.
Gilang menghela nafas panjang. Ia pun juga merasa sangat bahagia bisa menikahi gadis sebaik dan secantik istrinya.
Menu untuk dinner mereka telah datang. Tentunya dengan masakan Perancis yang terkenal kelezatannya.
Mereka memulai dinnernya dengan iringan alunan musik yang romantis pula. Tak jarang keduanya saling melemparkan tatapan penuh cinta sambil menyuapi satu sama lainnya.
Usai menikmati dinner, mereka memutuskan bergabung dengan pasangan lain untuk berdansa mengikuti alunan musik. Gilang tak ada henti-hentinya menatap wajah cantik sang istri, hingga membuat Mutiara sedikit salah tingkah.
"Yank, stop liatin aku seperti itu!" cuit Mutiara.
"Habisnya istri kecilku sangat cantik malam ini," ucap Gilang.
"Udah donk jangan ngegombalin aku terus, nanti aku jadi besar kepala lhoo...." tukas Mutiara.
"Aku enggak gombal yank! Kamu benar-benar cantik malam ini," ucap Gilang menyakinkan istrinya. Mutiara membuang muka ke sembarang arah lantaran merasa malu.
Dan lagi-lagi, Gilang tersenyum. Entah sudah berapa banyak bibirnya menyunggingkan senyuman yang terlalu manis untuk dipandang. Bersama Mutiara, Gilang menemukan kebahagiaan yang tak terkira. Ia tidak pernah menyanngka jika hatinya bisa berlabuh pada seseorang. Bisa dikatakan jika sekarang Gilang termasuk pria bucin di hadapan istrinya. Namun akan berubah menjadi sangat arogant, apabila di hadapan orang lain.
Gilang dan Mutiara sudah berada di hotel. Mereka bergantian memakai kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai keduanya asyik menikmati sinar bintang yang berkelap-kelip dari atas balcon. Sangat Indah.
"Yank..." panggil Mutiara.
"Hmmm...."
"Apa suatu hari nanti kamu akan merasa bosan denganku jika usiaku sudah tidak muda lagi?" ucap Mutiara.
Gilang meraih tubuh mungil istrinya. Ia mendudukan Mutiara di atas pangkuannya. Memeluknya dari belakang.
"Tidak akan yank, aku sangat mencintaimu mana mungkin ada kata bosan!! Justru aku lah yang seharusnya takut karena usia kita yang terpaut begitu jauh. Mungkin saat rambutku sudah beruban, kamu masih akan terlihat sangat cantik" terang Gilang.
"Kalau begitu kita akan mengucap janji untuk tetap saling menjaga dan mencintai satu sama lainnya apapun yang akan terjadi nantinya. Hanya maut yang bisa memisahkan cinta kita...Bagaimana?" tantang Mutiara.
"Baiklah! Aku akan melakukan apapun itu asal bisa membuat istri kecilku ini bahagia," jawab Gilang.
__ADS_1
Gilang dan Mutiara saling mengucap janji satu sama lainnya. Mereka berjanji akan menjaga kesetiaan cinta sampai ajal menjemput. Tak ada seorang pun atau apapun itu yang bisa memisahkan mereka.