Pernikahan Beda Usia

Pernikahan Beda Usia
#PERNIKAHANBEDAUSIA_70


__ADS_3

#PERNIKAHAN_BEDA_USIA


PART 70


***


Gilang memijat pelipisnya, ia bingung harus berbuat apa sekarang. Mutiara sangat menyanyangi Azka, ia pasti akan merasa terpukul sekali jika mengetahui bagaimana kondisi kesehatan Azka yang sebenarnya. Gilang takut hal ini akan mempengaruhi psikis Mutiara, sedangkan wanita hamil tidak boleh terlalu stress. "Apa yang harus aku lakukan, masak iya aku harus menyembunyikan semua ini dari Mutiara?" Gilang meremas kertas hasil pemeriksaan putra angkatnya.


Gilang sendiri kasihan pada Azka, bocah sekecil itu harus menderita penyakit yang berat. Pantas saja akhir-akhir ini Azka sering merasa lelah dan mimisan. Setelah terombang-ambing dengan kehidupan yang sulit, Azka pada akhirnya mendapatkan kebahagiaan dari sebuah keluarga yang utuh dan menyanyanginya. Namun belum lama bocah itu menikmati kebahagiaannya, sekarang ia diuji dengan sebuah penyakit yang mematikan. Leukemia atau kanker darah.


"Tuan, apa perlu kita memberitahukan hal ini pada tuan Kelvin? Biar bagaimana pun juga, tuan Kelvin adalah ayah kandung dari tuan muda kecil." Radit mengingatkan.


Gilang diam. Ia pun juga tidak tahu harus mengatakannya pada Kelvin atau tidak. Kelvin dan keluarganya yang lain tengah disibukan dengan persiapan pesta pernikahan. Gilang tidak ingin hal ini akan mempengaruhi segalanya nanti. Bisa-bisa pernikahan Kelvin akan batal jika Kelvin mengetahui bahwa Azka sedang sakit parah.


"Sebaiknya kita rahasiakan dulu perihal sakitnya Azka pada semua orang, setidaknya sampai pernikahan Kelvin telah terlaksana dengan baik!" ujar Gilang kemudian.


"Baik tuan muda," Radit paham.


***


Saat ini Mutiara tengah menemani Azka yang ingin bermain di taman belakang rumah. Ada beberapa binatang peliharaan di sana. Ada kucing, kelinci, burung dan hamster. Semua itu adalah milik Azka pemberian dari Gilang dan Kelvin.


Mutiara senang melihat Azka sudah mau bermain lagi, meskipun terkadang harus beristirahat terlebih dahulu karena merasa kelelahan.


Dengan telaten dan kesabaran yang tinggi, Mutiara terus mengawasi serta memantau putra angkatnya. Ia tidak ingin kecolongan lagi seperti tempo hari. Azka tergeletak pingsan di kamarnya. Ada banyak darah yang mengalir dari hidungnya. Sehingga membuat Mutiara merasa bersalah karenanya. Mutiara merasa gagal dalam menjaga Azka.


"Anak mami sudah capek?" Mutiara mengusap kepala Azka yang terduduk di rerumputan hijau. "Mau minum?" tanya Mutiara. Azka mengangguk, meraup udara sebanyak-banyaknya seperti yang pernah diajarkan oleh dokter.


Mutiara memberikan sebuah botol minum berisikan air mineral. "Minum yang banyak ya, sayang!"


Azka meminum air dalam botol tersebut dengan sedotan. Ia memang belum cukup mahir bila harus minum langsung tanpa bantuan dari sedotan.


"Kita masuk yuk sayang, udara sudah mulai panas!" ajak Mutiara.

__ADS_1


Sebenarnya Azka enggan masuk ke dalam rumah. Ia masih ingin bermain-main dengan peliharaannya. Namun apa yang dikatakan oleh maminya benar. Hari semakin siang, dan udara pun semakin panas. Sangat tidak baik untuknya. Azka menurut karena ia ingin menjadi anak yang baik serta penurut.


***


Gilang duduk sambil bersidekap dada. Tatapan matanya tak bisa beralih dari wanita yang sedang duduk pula di hadapannya. Rasa benci yang pernah membakar hatinya kini mulai bermunculan. Kalau saja Gilang tidak mengingat bahwa wanita itu adalah saudari kembar dari istrinya, mungkin saja Gilang sudah menghabisinya.


Gilang ingat betul bagaimana perlakuan wanita itu pada Kelvin dan juga dirinya, hingga menimbulkan perselisihan yang cukup lama. Tak sampai disitu saja, Clarissa bahkan tega menjual Azka demi mendapatkan sejumlah uang. Selain itu, Clarissa juga pernah berniat jahat pada Mutiara. Gilang tidak bisa melupakan itu semua.


Akan tetapi untuk saat ini, Gilang harus mengesampingkan rasa bencinya pada Clarissa demi kesembuhan Azka. Dokter mengatakan, Azka bisa sembuh melalui pencangkokan sumsum tulang belakang. Dan itu bisa dilakukan jika ada pendonor yang cocok. Gilang sudah melakukan serangkaian test, namun tidak cocok.


Sedangkan keluarganya yang lain, Gilang belum bisa mengatakan perihal penyakit Azka pada mereka. Mau tak mau Gilang menemui Clarissa sebagai ibu kandungnya.


"Elo terlihat baik-baik saja," ujar Gilang dengan nada yang cukup sengit.


"Itu karena aku berusaha belajar untuk bisa menerima keadaanku," balas Clarissa sambil menundukan kepalanya. "Bagaimana keadaan Mutiara dan...dan...Azka?" tanya Clarissa sedikit gugup.


Gilang terkekeh. Tak percaya jika wanita ular tersebut akan menanyakan keadaan istri dan anak angkatnya.


"Kelvin sudah mengatakan kepadaku bahwa sekarang anak kami tengah dirawat oleh kalian?" ujar Clarissa lagi.


Clarissa masih menundukan kepala. Ia tidak berani memandang Gilang barang sedikitpun. Clarissa mengakui bahwa ia melakukan kesalahan yang tak bisa diampunin. Itu sebabnya ia pun ikhlas apabila harus menebusnya dibalik jeruji besi.


"Gue kesini ingin membuat kesepakatan sama elo," ujar Gilang langsung ke pokok permasalahan kenapa ia datang menemui Clarissa.


"Kesepakatan? Kesepakatan apa?" Clarissa tampak bingung.


"Gue akan cabut laporan gue, asal elo bersedia menjadi pendonor sumsum tulang belakang untuk Azka!" jelas Gilang membuat Clarissa semakin bingung dan jantungnya berdegub sangat kencang.


"Apa...apa...yang terjadi sama Azka, kenapa dia harus membutuhkan pendonor sumsum tulang belakang?" Clarissa memberanikan diri untuk bertanya.


"Azka menderita sakit leukemia, dan dia bisa sembuh dengan jalan pencangkokan sumsum tulang belakang." Gilang menjawab, seketika membuat Clarissa menjadi lemas. Dadanya seakan mendapatkan ribuan tusukan dari sebuah pedang.


Sejahat-jahatnya Clarissa, tetaplah dia seorang ibu. Ia pernah menjual Azka karena ia ingin Azka memiliki keluarga yang kaya karena saat itu Clarissa beranggapan bahwa Kelvin hanya lah laki-laki biasa yang hidupnya pas-pasan. Clarissa ingin anaknya mendapatkan kehidupan yang layak dan tidak terjebak seperti dirinya yang harus melangkah ke jalan yang salah.

__ADS_1


"Bagaimana dengan Kelvin?" tanya Clarissa lagi.


"Dia dan semua keluarga gue belum ada yang tahu tentang sakitnya Azka." Clarissa mengernyitkan kening.


"Kelvin akan menikah, gue nggak mau membuat dia menjadi cemas hingga akan mengganggu acara pernikahannya. Dan Mutiara sedang hamil, gue nggak mau dia menjadi sedih karena memikirkan penyakit Azka." Gilang menjelaskan.


Clarissa mengerti. Ia pun setuju untuk mendonorkan sumsum tulang belakangnya.


Gilang meminta Radit untuk memberikan surat perjanjian yang harus ditanda-tangani oleh Clarissa. Setelah Clarissa mendonorkan sumsum tulang belakangnya dan ia terbebas dari penjara, Clarissa akan menjauh dari keluarganya. Gilang tidak mau mengambil resiko kalau suatu saat nanti, Clarissa berniat mencelakai istrinya kembali.


***


Mutiara menunggu suaminya pulang dari kantor. Tidak biasanya Gilang pulang terlambat. Mutiara takut ada sesuatu yang buruk telah terjadi.


"Nona muda ini sudah malam, sebaiknya nona istirahat saja di kamar!" Laras menyarankan.


"Aku menunggu mas Gilang disini saja, mbak Laras! Lagi pula aku juga belum mengantuk." Mutiara tersenyum. Ia bersikukuh menunggu suaminya di ruang tamu. "Mbak Laras bisa istirahat dulu kalau sudah mengantuk!" Laras menggeleng. Ia masih ingin menemani majikannya.


Mutiara dan Laras akhirnya sepakat menunggu Gilang pulang dari kantor. Tapi tidak di ruang tamu. Melainkan di ruang keluarga. Mereka bercerita sambil menonton film drama korea.


Satu detik, satu menit, dan satu jam mereka menunggu kepulangan Gilang. Namun yang ditunggu-tunggu belum menunjukan tanda-tanda kemunculannya. Mutiara dan Laras sama-sama terlelap di ruang keluarga dengan televis masih menyala menyaksikan mereka larut ke dalam dunia mimpi.


Tak lama kemudian Gilang pulang. Ia menggelengkan kepala saat melihat wanita yang dicintainya tertidur pulas di atas sofa. Gilang menghampiri istrinya. "Kamu pasti nungguin aku pulang," lirihnya mengecup kening istrinya. "Maaf hari ini ada begitu banyak kesibukan yang menyita waktu hingga aku terpaksa pulang larut malam?" Gilang meminta Heru supaya membangunkan Laras, kemudian ia menggendong istrinya untuk di bawa ke kamar.


####


Hola-hola Author sekali lagi minta maaf ya karena up nya terlalu lama.


Dan terima kasih banyak kepada para reader yang masih setia membaca karyaku.


Aku pasti lanjut kok sampai selesai


tapi nggak bisa cepat

__ADS_1


harap maklum ya🙏🙏😘😘


__ADS_2