
#PERNIKAHAN_BEDA_USIA
PART 97
Sekali lagi Author Minta maaf kepada para pembaca, bukan maksud menggantung cerita terlalu lama
Memang keadaan yang tidak memungkinkan author bisa up setiap hari seperti novel lainnya.
Kalian mungkin yang sudah memiliki anak bisa memahami gimana repotnya saya membagi waktu disela-sela kesibukan menjadi ibu rumah tangga dengan dua anak yang sangat aktif
Apalagi anak bungsu saya baru bisa berjalan dan anak pertama harus mengikuti pembelajaran online melalui zoom
Author harap para pembaca bisa memaklumi nya
Sekian dan terima kasih🙏🙏🙏
🎈🎈🎈
*PRANK...PRANK...PRANK...
Kemarahan Gilang benar-benar sudah tidak dapat dibendung lagi. Merasa frustasi dan kecewa, akhirnya ia membanting semua barang yang ada di dekatnya. Para penjaga serta bodyguart hanya bisa menunduk diam, bukan karena takut melainkan merasa gagal dalam menjaga istri Tuannya.
Radit yang berkali-kali berusaha melacak keberadaan Mutiara dan Elvina mulai mendesah pasrah. Kalung Mutiara yang dipasang GPS pun nyatanya berada di dalam kamar mandi yang terletak di kamarnya. Sedangkan ponsel milik Mutiara pun mati dan tidak dapat di lacak atau pun di hubungi sama sekali.
Radit sendiri pun sebenarnya sudah menyadari penuh tentang hal ini sejak awal. Elvina pasti sudah meminta Mutiara untuk melakukan semuanya dengan baik supaya Tuan nya tidak dapat mengetahui dimana keberadaan mereka saat ini.
"Gilang, tenang lah!" seru pak Bayu
"Tenang kata Papi? Bagaimana bisa aku merasa tenang, Pi? Sedangkan keberadaan istriku saja, aku belum bisa mengetahuinya?" ucap Gilang dengan nada yang cukup tinggi.
"Papi bisa mengerti bagaimana perasaanmu saat ini? Ingat lah bukan hanya Mutiara saja yang menghilang tetapi juga adikmu!" ucap pak Bayu berusaha menenangkan hati anaknya yang sedang kalut. Meskipun yang sebenarnya hatinya pun sudah tidak menentu memikirkan keadaan anak dan menantunya itu. Pak Bayu takut jika Mutiara dan Elvina diculik lagi oleh Rehan.
Gilang menghela nafas panjang lalu menghembuskan nya lagi, ia sadar bahwa emosi nya tidak akan membantu apapun untuk menemukan keberadaan istri dan adik nya itu. Gilang hanya bisa berharap keadaan mereka baik-baik saja.
*Pyarrr...
"Ada apa ini?" tanya pak Bayu
"Gilang juga nggak tahu, Pi?"
Gilang dan pak Bayu berjalan ke arah sumber suara, ternyata disana sudah ada Radit dengan sebuah kertas yang di dalamnya berisikan batu.
__ADS_1
"Radit, ada apa ini?" tanya Gilang.
"Saya juga tidak tahu, Tuan! Tapi sepertinya memang ada seseorang yang sengaja mengirim pesan kepada kita, dan sekarang Tuan Kelvin berusaha mengejar orang itu!" jawab Radit membuka kertas yang bergulung melingkari batu.
"Cepat datangi alamat ini serta selamatkan istri dan adikmu!! Ingat jangan sampai terlambat, atau tidak saya tidak akan tahu apa yang akan dilakukan oleh tua bangka yang bernama Rehan itu!
Rumah Tua yang terletak di perkampuan XXX
"Radit, ada apa?" kali ini pak Bayu yang bertanya.
"Sepertinya orang ini memiliki niat baik tuan, dia hanya ingin memberitahukan keberadaan Nona Mutiara dan Nona Elvina?" Radit memberikan kertas itu kepada Gilang.
Gilang membacanya, tangannya terkepal kuat ketika membaca nama Rehan tertera di sana. Itu berarti Mutiara dan Elvina tidak baik-baik saja. Pria tua itu pasti bisa mengulang kembali apa yang pernah ia lakukan pada istri dan adiknya.
"Radit kita harus segera bertindak sekarang, jangan sampai tua bangka itu mendapatkan apa yang dia mau!" perintah Gilang.
"Tunggu Gilang! Apa kalian yakin kalau pesan ini benar adanya, jangan-jangan ini hanya semacam jebakan saja untuk kita?" pak Bayu ragu.
"Sepertinya itu bukan jebakan, Pi! Aku sudah berusaha mengejar orang itu, meskipun tidak berhasil. Tapi Kelvin yakin dia orang baik. Kelvin bisa melihat dari tampilannya, dia seorang wanita muslim yang berhijab!" ucap Kelvin yang sudah kembali dari pengejarannya.
Pak Bayu mengangguk paham. Akhirnya mereka mengatur siasat agar rencana mereka berhasil tanpa harus menyakiti Mutiara dan Elvina.
➖➖➖
Mutiara berusaha untuk bangun tapi sayang nya tidak bisa. Bahkan tidak hanya itu saja, untuk menggerakan tangannya pun Mutiara tidak sanggup. Sebenarnya apa yang sudah terjadi, hanya itu yang terlintas dibenaknya. Apa mungkin ini hukuman karena sudah melanggar perintah suaminya. Mutiara mengingat kejadian terakhir yang dialaminya bersama Elvina. Saat itu ia dan Elvina berniat pulang, tapi ketika berada di parkiran Kafe dekat SMA Dirgantara tiba-tiba ada orang yang memukul nya dari belakang. Dan setelah itu Mutiara tidak mengingat apapun lagi.
"Elvina..." Mutiara menoleh mencari keberadaan sahabatnya.
Terlihat Elvina terbaring disebelah nya. Kedua matanya masih terpejam dengan sempurna. Mutiara berulang kali memanggilnya, berharap sahabatnya itu segera sadat. Tapi naas, Elvina masih setia menutup kedua mata nya.
"Kak Gilang dimana? Aku takut sekali? Maafkan aku karena sudah tidak mau mendengarkan perintahmu hiks...hiks...?" Mutiara terisak mengingat kesalahan yang sudah ia perbuat.
"Ugh...dimana ini?" terdengar lenguhan Elvina, dia segera menoleh karena mendengar isakan seseorang.
"Tiara...kamu kenapa?" tanya Elvina berusaha bangun, tapi lagi-lagi tidak bisa.
"Kenapa tubuhku tidak bisa digerakan? Tiara ada apa ini?" tanya Elvina lagi dengan perasaan panik.
Mutiara hanya bisa menggelengkan kepala, air mata nya kembali berjatuhan. Andai waktu bisa diputar ulang, Mutiara tidak akan melanggarkan perintah suaminya. Mutiara merindukan anak-anak dan suaminya.
*Ceklek...
__ADS_1
Seorang pria paruh baya masuk, dan sontak berhasil membuat kedua perempuan itu membeku sempurna. Tubuh mereka bergetar hebat karena bayangan masa lalu yang begitu mengerikan bagi keduanya kembali bermunculan di benak masing-masing.
"Kalian sudah sadar?" tanya pria paruh baya itu.
Dia berjalan mendekati dua perempuan yang sudah berhasil memikat hatinya.
"Apa kalian masih mengingatku?" tanya pria itu, ia merangkak menaiki ranjang berukurang king size. Mengambil posisi di tengah-tengah antara Elvina dan Mutiara.
"Aku sangat merindukan kalian," ucapnya membelai wajah Mutiara dan Elvina secara bergantian.
"Ma-ma-u a-a-apa an-an-da?" Mutiara berusaha melawan rasa takut nya.
"To-to-to-lo-lo-long le-le-pas-kan ka-ka-mi!" Mutiara memohon. Sedang Elvina membeku tak mampu berucap sepatah kata pun.
Ingatan-ingatan mengerikan terus berdatangan melintas di kepala Elvina. Air matanya pun sudah bercucuran membasahi wajahnya yang cantik.
"Melepaskan kalian? hahahah..." Rehan tergelak
"Apa kamu sudah gila sayangku? Aku sudah menunggu hari ini sejak lama, memiliki kalian berdua seutuhnya dan untuk selamanya!" bisik Rehan membuat Mutiara semakin ketakutan.
"Tidak ada yang bisa memisahkan kita, termasuk Bayu dan anak-anak nya itu!" geram Rehan kala mengingat pria yang sudah menjebloskan dirinya ke dalam penjara.
"Kita akan bersama-sama untuk selamanya bahkan sampai mati pun kita akan terus bersama-sama hahahah...!" ucap Rehan sambil tergelak keras memenuhi seluruh kamar.
"An-anda tidak bisa melakukan itu, saya sudah menikah dan memiliki anak!" tukas Mutiara berharap pria itu sadar.
"Aku tidak perduli! Tidak seorang pun bisa mengambil kalian lagi dari sisiku termasuk suamimu itu!" Rehan mencengkeram dagu lancip milik Mutiara. Emosi nya kembali menyala saat mendengar wanita pujaannya menyebutkan dirinya telah bersuami dan memiliki anak.
"Kau dan sahabatmu itu adalah milikku dan jika ada yang berniat memgambil kalian dariku, maka orang itu akan mati!!" bisik Rehan lagi. Kedua tangan nya terus membelai wajah Mutiara dan Elvina. Sedangkan kedua perempuan itu hanya bisa memalingkan wajah tanda tak suka dengan apa yang dilakukan oleh Rehan. Andai tangan mereka bisa digerakan, mungkin saat ini mereka sudah menepis tangan kurang ajar dari pria tua yang tidak tahu diri itu. Bahkan bila perlu mereka akan mengkeroyok pria itu asal bisa lepas dari nya.
➖➖➖
Anak buah Gilang dan pak Bayu sudah dikerahkan untuk mengepung rumah tua yang digadang-gadangkan sebagai tempat dimana Mutiara dan Elvina disekap. Mereka hanya tinggal menunggu perintah untuk segera menyerang. Tapi entah kenapa baik dari Gilang, Kelvin maupun pak Bayu belum memberikan perintah sama sekali. Bahkan kini mereka malah sedang berbicara serius dengan seorang wanita berkulit gelap. Tanda tanya yang besar melintasi otak mereka, bertanya siapakah wanita itu.
"Maaf tuan, anak buah kita sudah siap melakukan penyerangan? Hanya tinggal menunggu perintah saja!" ujar Radit.
Gilang manggut-manggut, sekali lagi ia menatap wanita itu dengan ragu. "Apa ucapanmu bisa dipercaya?" tanya Gilang pada wanita itu.
"Anda bisa membunuh saya jika saya berbohong!" jawabnya.
Gilang menatap ayah dan adiknya secara bergantian. "Radit, aku dan Kelvin akan menyelinap masuk ke dalam terlebih dahulu. Barulah nanti kalian menyerang secara perlahan!" ucap Gilang pada Radit.
__ADS_1
"Tapi Tuan..."
"Kamu tidak perlu khawatir pada kami, Radit! Wanita ini mengatakan bahwa ia sudah mencampurkan obat tidur ke dalam minuman tua bangka itu, jadi kemungkinan besar sekarang dia sudah tertidur tanpa bisa berbuat sesuatu kepada istri dan adikku. Hanya saja anak buah nya pasti akan berjaga-jaga dengan ketatnya. Aku minta kamu melakukan penyerangan saat kami akan membawa Mutiara dan Elvina keluar dari rumah itu!" jelas Gilang panjang lebar. Radit mengerti dan mengangguk patuh, apalagi setelah dilihatnya wanita itu. Radit sangat yakin bahwa wanita itu adalah wanita baik-baik yang dikirim oleh Sang Maha Pencipta untuk membantu Tuannya dalam membebaskan istri dan adiknya dari pria tua yang tidak tahu diri.