Pernikahan Beda Usia

Pernikahan Beda Usia
#PERNIKAHANBEDAUSIA_94


__ADS_3

#PERNIKAHAN_BEDA_USIA


PART 94


🎈🎈🎈


"Aisyah, cepat buatkan kami minuman yang segar!" ucap seorang laki-laki paruh baya kepada wanita yang kira-kira usianya terpaut lima tahun di bawahnya.


"Baik tuan," jawab wanita yang bernama Aisyah.


"Eh...jangan lupa kau bawakan juga cemilan yang banyak, perut kami sudah sangat lapar jika harus menunggu waktunya makan malam!" cicit seorang wanita yang usianya hampir sama dengan Aisyah.


"Baik nyonya," Aisyah segera berlalu ke dapur, menyiapkan apa yang diminta oleh mereka.


Namun sebelum tiba di dapur, ia berpas-pasan dengan seorang wanita muda yang cantik. Hanya saja penampilannya sangat lusuh. Terlihat adanya banyak tanda merah bertebaran di lehernya. Aisyah merasa sedikit kasihan kepada wanita itu. Akan tetapi saat mengingat apa yang sudah ia lakukan pada Mutiara, Aisyah kembali marah dan benci pada wanita itu.


"Cih...kamu memang pantas mendapatkan semua itu!" bathinnya segera berlalu menjauhi wanita itu.


"Bik Aisyah, tolong buatkan aku minuman ya! Aku merasa sangat kehausan!" seru wanita wanita muda itu dengan nada yang lembut.


Aisyah menghentikan langkahnya. Hatinya kembali merasa iba kepada wanita muda tersebut. Biar bagaimana pun juga wanita itu hanya mengikuti keinginan kedua orang tuanya yang haus akan harta duniawi saja.


"Baik nona Shinta," jawab Aisyah sambil menundukan kepala, menunjukan rasa hormatnya kepada majikannya. Meski bukan Shinta yang menggajinya, tapi Aisyah memang sudah ditugaskan untuk melayani Shinta dan keluarganya.


"CK...sampai kapan kita harus hidup seperti ini, aku sudah lelah dijadikan budak nafsu oleh tua bangka itu?!" Shinta menggerutu, merasa kesal dengan tingkah kedua orang tuanya yang seakan bahagia menikmati hidup dalam sangkar buaya yang tak punya hati itu.


Papa Shinta mendongak, melihat putrinya yang tengah mendudukan diri di hadapannya.


"Memangnya kenapa dengan hidup kita sekarang? Bukankah kita sudah hidup dengan baik? Apapun yang kita butuhkan, selalu dipenuhi oleh Rehan. Tugas kita hanyalah membuatnya merasa senang. Dan itu hanya kamu yang bisa melakukannya, Shinta!!" tegas papa Shinta tanpa merasa sedikit pun bersalah. Ia tidak mau jika Rehan sampai mencabut semua fasilitas yang dia berikan kepada keluarganya.


Shinta hanya bisa mendengus kesal atas ketidak-perdulian kedua orang tuanya. Terkadang hati Shinta bertanya-tanya apakah dirinya memang anak kandung mereka. Karena setega-teganya orang tua, tidak mungkin sampai hati menjual kehormatan anaknya pada seorang pria, apalagi pria itu pantas disebut sebagai ayahnya.

__ADS_1


"Terserah kalian saja lah!" ucap Shinta melenggang pergi melewati Aisyah yang tengah datang membawa nampan berisikan beberapa minuman dan camilan. Percuma berdebat dengan kedua orang tuanya, toh mereka juga tidak akan mengerti bagaimana yang ia rasakan saat ini. Shinta merindukan Kelvin. Ia tulus mencintai pria itu, namun keadaan yang memaksakan dirinya untuk menyi-nyiakan cinta itu.


🎈🎈🎈


Mutiara memandang haru pada dua wajah pria yang berbeda usia itu. Mereka sedang tertidur pulas saling memeluk satu sama lainnya. Meski bukan ayah dan anak secara biologis, tapi kasih sayangnya melebihi antara ayah dan anak yang sesungguhnya. Semua itu bisa terlihat seberapa dekatnya mereka. Ya kedua pria yang berlainan usia itu tak lain adalah Azka dan Gilang.


Mutiara merasa sangat bangga akan sikap suaminya yang kian hari semakin bertambah bijak. Sifat yang dulunya egois dan angkuh kini berangsur menghilang semenjak kehadiran anak-anak yang melengkapi kebahagiaan keluarga kecilnya. Mutiara bersyukur karena keputusannya dalam berjuang untuk bertahan disamping sang suami membuahkan hasil yang manis dan indah. Gilang yang dulu sempat membencinya dulu, saat ini berbalik mencintainya dengan tulus. Bahkan sampai rela melakukan apapun hanya untuk membuatnya terus tersenyum.


Mutiara melangkah mendekati suaminya. Memberikan kecupan singkat pada keningnya kemudian menarik selimut agar menutup dua tubuh yang sedang tertidur dengan nyenyaknya. Tak lupa ia memutari ranjang dan naik diatas tempat tidur, memberikan kecupan singkat pula pada pangeran kecilnya.


"Selamat tidur dua pangeran tampanku, semoga kalian mimpi yang indah ya..." cuitnya seraya ikut merebahkan tubuhnya yang sudah merasa lelah karena harus menjaga empat bayi kembarnya yang kini berada di kamar sebelah bersama para baby sisternya.


Mutiara akhirnya memejamkan mata, bergabung untuk memasuki alam mimpi yang indah.


Dan di lain tempat, tepatnya di luar rumah Gilang dan Mutiara berdiri seorang wanita paruh baya yang tengah menatap nanar ke arah jendela kamar mereka. Pandangan yang teramat sayu dan penuh dengan dambaan. Sorot matanya seakan memperlihatkan adanya suatu kerinduan yang teramat dalam dan besar.


"Ibu sangat bahagia bisa melihatmu yang kini hidup berbahagia bersama keluarga kecilmu, ibu berjanji akan segera menemuimu setelah permasalahan ini bisa teratasi!" lirihnya kemudian pergi berlalu setelah melihat lampu kamar Mutiara mati.


Wanita itu cukup senang bisa melihat wajah anaknya meskipun hanya dari jauh saja. Yang terpenting baginya saat ini adalah anaknya tetap dalam keadaan aman dan selamat.


"Pak tolong antar saya ke alamat ini ya!" ucapnya pada seorang pria yang berprofesi tukang ojek.


"Baik bu, silahkan pakai helm nya dulu!" jawab tukang ojek tersebut.


Wanita itu segera memakai helm nya kemudian naik dibelakang tukang ojek. Hatinya saat ini gundah. Menyesali sikap bodohnya di masa lampau. Ia bahkan tidak percaya jika pengorbanan yang ia lakukan berakhir sia-sia dan membuat hidup keluarga nya yang bahagia berantakan dan hidup dalam penderitaan.


"Hani, kenapa kau sampai hati melakukan ini pada keluargaku? Aku sudah berkorban untukmu, tapi apa balasan yang kau berikan? Kau malah membuat keluargaku tercerai berai seperti ini..." bathin wanita itu.


Tanpa terasa tetesan air bening mulai mengalir membanjiri wajahnya. Jalanan yang lenggang dan sepi menjadi saksi bisu akan kepedihan hatinya. Merasa sakit karena sudah dikhianati dan dibohongi oleh seseorang yang dia sayangi.


"Aku harus tetap kuat, aku tidak boleh lemah! Saat ini anakku sedang butuh pertolongan, ada bahaya yang mengincarnya. Aku harus mencari cara supaya pria bejat itu tidak memperoleh kesempatan untuk mendekati anakku!" bathinya lagi. Mengusap wajahnya yang sudah terlanjur basah.

__ADS_1


"Maaf bu, kita sudah sampai..." ucap tukang ojek setelah menghentikan motornya di sebuah rumah kecil dan terlihat sangat sederhana.


"Oh...terima kasih pak? Ini ongkosnya, sisanya buat bapak aja!" wanita itu menyerahkan selembar uang seratus ribu.


"Terima kasih banyak bu, terima kasih banyak..." tukang ojek terlihat sangat senang, seolah ini baru pertama kali ia memegang uang seratus ribuan.


Wanita itu mengangguk sambil tersenyum. Ia melangkahkan kaki memasuki pekarangan yang begitu asri karena adanya pepohonan mini serta tanaman hias lainnya.


"Assalamualaikum..." ucapnya sambil mengetuk pintu dan mengulangi nya beberapa kali sampai seorang gadis muda membuka kan pintu untuknya.


"Ibu...kenapa ibu baru datang? Aku sangat cemas memikirkan ibu, takut mereka akan menyakiti ibu?" cicit gadis itu.


Wanita itu hanya mengulas senyum kemudian mengusap pelan rambut anaknya. "Tidak akan terjadi apapun pada ibu selama pria jahat itu tidak mengetahui penyamaran ibu!" ujar wanita itu agar anaknya bisa sedikit tenang.


Gadis itu tersenyum kecil, berhambur ke pelukan ibunya. "Aku hanya takut kehilangan ibu lagi dan aku akan salah arah untuk kedua kalinya," cicitnya.


"Ibu tidak akan pernah meninggalkan anak-anak ibu lagi dan mengulang kebodohan masa lalu ibu hingga membuat keluarga kita hancur berantakan seperti ini! Ibu berjanji padamu Intan, ibu akan berjuang melakukan segala cara agar kamu serta adikmu Mutiara tetap hidup aman dan bahagia!" janji wanita itu yang tak lain adalah ibu kandung Mutiara dan Intan.


"Aku percaya sama ibu karena ibu adalah wanita terbaik dalam hidup aku, tiara dan ayah!" balas gadis itu tak lain adalah Intan atau Clarissa.


Setelah mendonorkan sumsum tulang belakangnya kepada Azka, Clarissa memang dibebaskan dari penjara dan harus hidup menjauh dari keluarga Dirgantara.


Clarissa yang bahkan tidak tamat SMA bingung harus berbuat apa. Tadinya dengan modal uang yang diberikan oleh Heru, ia berniat mencari tempat tinggal. Namun nasibnya lagi-lagi tidak berpihak kepadanya. Tas yang ditenteng oleh Clarissa berhasil dijambret seseorang hingga ia harus kehilangan uang serta pakaiannya.


Clarissa teriksa pilu meratapi nasib yang terus mempermainkannya. Hingga seorang wanita paruh baya datang menghampirinya. Clarissa terkejut karena wanita itu tak lain adalah ibunya, tepatnya adalah wanita yang sudah melahirkannya.


🍁🍁🍁


Hallo semuanya, pasti bertanya kenapa kok ceritanya menympang dari judul


Author hanya mencari konflik dengan menghadirkan masa lalu yang tersembunyi saja, dengan begitu akan muncul rasa penasaran dari para pembaca

__ADS_1


Menurut author novel tanpa konflik akan terasa hambar, jadi sebisa mungkin author menghadirkan konflik yang bikin para pembaca merasa penasaran


😘😘😘


__ADS_2