Pernikahan Beda Usia

Pernikahan Beda Usia
#PERNIKAHANBEDAUSIA_107


__ADS_3

#PERNIKAHAN_BEDA_USIA


#PART 107


☜☆☞


Mutiara menggeliatkan tubuhnya dan mengerjabkan kedua matanya saat merasakan adanya tangan mungil menyentuh wajahnya. Kedua netra Mutiara menantap sosok pria mungil yang memasang wajah dengan super imut sehingga membuat Mutiara gemas.


“Molning Mommy...”


“Morning juga anak mommy yang ganteng,” balas Mutiara sambil merentangkan kedua tangannya.


Azka merangkak naik, masuk ke dalam dekapan mommy nya.


“Anak mommy sudah wangi, siapa yang mandiin?” tanya Mutiara mengusap puncak kepala Azka.


“Aras,” Azka menunjuk ke arah Laras yang tengah berdiri di ambang pintu.


“Ede uga dah andi,” coloteh Azka lagi.


Mutiara tersenyum tipis. Matanya melirik ke arah jam dinding. Ternyata ia bangun kesiangan.


Semalam Mutiara kembali ke kamarnya untuk melihat keberadaan suaminya. Nyatanya Gilang tidak ada disana. Mungkin setelah membersihkan diri, suaminya memilih berkutat di ruang kerja. Itu memang sudah menjadi kebiasaan Gilang jika sedang merasa kesal atau marah. Melampiaskannya dengan menyibukan diri akan pekerjaan. Mutiara tidak ingin mengganggu. Lebih memilih masuk ke dalam kamar tidur si kembar. Membantu para baby sister yang berusaha untuk membuat keempat bayi kembarnya tertidur kembali.


“Mbak Laras, dimana suamiku?” tanya Mutiara lagi.


“Tuan sudah berangkat pagi-pagi sekali, Nyonya.”


Mutiara kembali tersenyum kecut. Pertanyaan macam apa ini. Harusnya ia tahu bahwa suaminya sudah berada di kantor. Apalagi jam sudah menunjukan hampir pukul sembilan.


“Azka maen dulu ya sama adik-adik, mommy nya mau mandi bentar?” Azka mengangguk paham, melepas pelukannya pada Mutiara.


“Mbak, nitip anak-anak ya?”


Laras dan para baby sister hanya mengangguk. Mereka merasa kasihan pada Mutiara yang terlihat sangat lesu tak bersemangat. Berbeda sekali dengan hari-hari sebelumnya yang tampak ceria dan senantiasa bersemangat. Dalam hati mereka, mengutuk wanita bernama Sri yang berani mengganggu kebahagiaan wanita sebaik majikannya itu.


Laras paham. Ia pun merasa sangat bersalah karena sudah lancang meminta Mutiara agar mau memperkerjakan saudara sepupunya. Padahal Laras sendiri sudah tahu seperti apa tabiat dari saudaranya itu. Suka menggoda pria yang memiliki hidup bergelimang harta. Cita-cita Sri sejak kecil memang ingin menikah dengan sosok pria kaya dan tampan.


Laras menyusul Mutiara. Berniat meminta maaf secara langsung kepadanya atas tindakan bodoh yang sudah ia lakukan sehingga merusak ketentraman keluarga Mutiara.


“Nyonya,” panggil Laras setelah berada di kamar Mutiara.


Mutiara menoleh menatap Laras, masih tetap dengan senyuman manisnya.


“Kenapa mbak?”


Laras datang bersimpuh membuat Mutiara terkejut.

__ADS_1


“Maafkan saya nyonya? Tolong maafkan saya?” ucap Laras sambil terisak kecil.


“Mbak, bangun! Jangan seperti ini! Mbak Laras nggak ada salah apa-apa sama aku, jadi mbak Laras nggak perlu meminta maaf seperti ini!” tutur Mutiara membawa Laras agar berdiri.


“Saya salah nyonya karena sudah membawa Sri masuk ke dalam rumah Nyonya, padahal saya tahu betul bagaimana tabiat asli dari saudara sepupu saya itu. Sejak kecil dia memang sudah berambisi untuk memiliki suami yang kaya raya dan tampan!” jelas Laras.


Mutiara menggelengkan kepala. Ia tahu bahwa Laras juga terpaksa melakukan hal ini. Laras hanya mendapat tekanan dari keluarga pamannya, oleh karena itu dia sampai memohon agar dirinya mau menerima Sri bekerja di rumahnya.


“Sudahlah mbak, ini bukan salah mbak Laras! Aku tahu kalau mbak Laras hanya menuruti keinginan dari keluarga Sri yang tidak tahu diri itu!” Mutiara menenangkan Laras.


“Dan mulai sekarang mbak Laras juga tidak perlu takut lagi dengan mereka, aku dan suamiku akan selalu berdiri disamping mbak Laras untuk membela mbak Laras!”


Laras terharu. Mengucapkan banyak terima kasih. Ia yakin dengan perlindungan dari Tuan dan Nyonyanya, keluarga Sri pasti tidak akan berani memaksakan kehendak mereka lagi. Terutama tentang menjodohkannya dengan pria yang telah beristrikan tiga orang.


Laras pamit undur diri. Berniat membuatkan makanan kesukaan Mutiara, berharap bisa memperbaiki moodnyq yang tengah rusak.


☜☆☞


Sementara itu di tempat lain, sosok pemuda tengah asyik memperhatikan seorang wanita yang sibuk berjalan kesana kemari hanya demi mendapatkan sebuah pekerjaan. Pemuda itu bukannya tak ingin menolong. Dia hanya ingin menguji seberapa tangguh dan kuatnya wanita itu dalam pertahanannya untuk merubah dirinya. Bukan karena apa-apa. Dia hanya takut terluka lagi karena wanita. Cukup dua kali dan tidak akan pernah lagi.


Kelvin memang selalu memantau perkembangan Clarissa. Wanita yang pernah melahirkan anaknya itu memang cukup gigih dalam mencapai tujuannya. Meskipun terkadang terlihat seperti mengeluh, tetapi Clarissa tidak pernah berputus asa dalam mencari pekerjaan yang benar.


TIN...TIN...TIN...


Kelvin membunyikan klakson mobilnya. Berhasil membuat Clarissa tersentak karena kaget.


“Naiklah!” perintah Kelvin tanpa memperdulikan keterkejutan yang ditunjukan oleh Clarissa.


Namun wanita itu madih bergeming. Tidak menunjukan adanya sebuah pergerakan. Hingga membuat Kelvin sedikit geram dengan keleletan Clarissa. Akhirnya Kelvin turun dari mobil, memaksa Clarissa masuk ke dalam mobilnya.


“Ahh...apa yang kamu lakukan? Kelvin tolong lepasin aku! Aku nggak mau naik mobil kamu!” protes Clarissa sambil terus memberontak kesal.


“Diam atau aku cium!” tegas Kelvin membuat Clasrissa terdiam. Entah sejak kapan pria itu menjadi sedikit bringas seperti kakaknya Gilang.


Kelvin kembali memutari mobilnya. Masuk dan duduk di kursi kemudi. Bibirnya menyeringai kecil saat dirasa wanitanya, oh calon wanitanya duduk dengan anteng disampingnya.


“A-a-apa yang mau ka-ka-kamu lakukan?” Clarissa panik saat mendapati tubuh Kelvin mulai condong ke arahnya. Seketika Clarissa menutup mata.


*Ceklek


Clarissa membuka mata. Ternyata pria itu hanya memasangkan sabuk pengaman padanya. Malu tentunya. Clarissa merutuki dirinya karena selalu melupakan hal-hal sepele.


“Ternyata kamu nggak pernah berubah ya?” bisik Kelvin tepat ditelinga Clarissa hingga membuat wanita itu dapat merasakan hembusan nafasnya.


Kelvin melirik Clarissa, sesaat tatapan mereka saling menyatu. Ada deguban rasa yang tak bisa diungkapkan. Apalagi dengan jarak yang begitu dekat, membuat keduanya dapat merasakan adanya hembusan nafas.


“Kel-kel-vin” Clarissa tampak gugup.

__ADS_1


“Hmmm...” Kelvin hanya berdehem. Dia masih fokus menikmati wajah ayu dari calon wanitanya, matanya bergerak mengarah pada bibir ranum yang tampak manis.


*Cup


Kedua bola mata Clarissa membulat sempurna, nyaris seperti ingin keluar. Tubuhnya membeku karena merasa syok atas tindakan Kelvin yang secara tiba-tiba. Akalnya tak mampu berjalan, sehingga sedikit pasrah menerima perlakuan dari pria itu. Mungkin bisa dikatakan dia itu bodoh atau apalah. Namun pada kenyataannya, jauh dari lubuk hatinya Clarissa pun merasa senang. Clarissa sendiri tak bisa memahami kenapa bisa begitu.


Kelvin menyeringai kecil. Ia tahu jika saat ini calon wanitanya hanya bisa pasrah dan menerima. Kelvin mulai berbuat nakal, ia memberikan sedikit l*ma*an yang memabukan. Kelvin ingin tahu sejauh mana Clarissa mampu mempertahankan dirinya.


“Stop!!”


Clarissa mendorong Kelvin agar melepaskan pangutannya. Akal sehatnya telah kembali. Ia sadar itu semua salah dan tidak sepatutnya dilakukan. Untung bayangan wajah ibunya datang untuk menyadarkan dirinya.


“Maaf Kelvin, ini salah!” ucap Clarissa.


“Aku yang salah, maaf karena tidak bisa mengendalikan diriku?” Kelvin merasa bersalah. Tak seharusnya ia menguji Clarissa sampai seperti itu. Namun disisi lain, hatinya merasa puas. Kelvin bertambah yakin jika Clarissa telah benar-benar berubah dan tekadnya dalam memperjuangkan rasa yang pernah terkubur pun semakin kuat. Kelvin juga ingin seperti kakaknya atau pria lain yang memiliki keluarga kecil yang mampu membuat hidupnya lebih berwarna.


Clarissa membisu. Pandangannya menerobos kearah luar kaca mobil. Pertanyaan demi pertanyaan melintas dalam benaknya. Atas dasar apa sampai Kelvin berani berbuat semacam itu kepada dirinya. Apakah ada secuil rasa cinta dalam hatinya ataukah dia juga seperti pria lain yang hanya menuruti hawa nafsunya.


Suasana menjadi hening. Tak satupun dari Kelvin atau Clarissa berbicara sepatah kata. Rasa canggung kini hadir di dalam diri masing-masing. Sesekali mereka saling melirik, bahkan tanpa sengaja lirikan itu saling menyapa hingga membuat keduanya gugup kembali.


“Kita sudah sampai,” Kelvin angkat suara.


Clarissa menoleh kemudian memperhatikan sekitar.


“Ngapain kita kesini?” tanya Clarissa kebingungan saat mobil Kelvin berhenti di sebuah butik ternama.


“Kamu sedang butuh kerjaan kan? Kebetulan pemilik butik ini adalah teman SMA ku dan dia lagi butuh orang yang bisa menjaga butiknya!” jelas Kelvin.


“Tapi...”


“Kamu tenang saja, tidak akan ada orang yang tahu kalau kamu bekerja di sini, khususnya keluargaku! Lagi pula namamu kan sekarang Intan bukan Clarissa, jadi aku yakin kamu bisa merasa aman dan nyaman jika bekerja disini!”


Clarissa diam sesaat. Menimbang tawaran dari Kelvin. Dia memang sangat membutuhkan pekerjaan agar bisa menyambung hidup bersama ibunya.


“Baiklah aku terima tawaranmu. Tapi berjanjilah untuk tidak memberitahukannya pada siapa pun, khususnya Gilang dan Mutiara!”


“Apa kamu masih berharap untuk bisa kembali kepada kakakku itu?” selidik Kelvin.


Clarissa menggelengkan kepala.


“Aku tahu pernah melakukan kesalahan, tapi percayalah bahwa aku sudah menyesali semua itu?!”


Kelvin tersenyum. Ia tahu Clarissa berkata jujur. Semua bisa terlihat jelas di dalam matanya. Tak ada sedikitpun kebohongan.


Benar wanita itu memang wanita baik, hanya saja nasibnya yang tak baik. Dibawah asuhan sosok ibu yang tak berperasaan, membiarkan anak perempuannya hidup terkatung sendirian untuk bertahan melawan kekejaman dunia.


“Aku percaya dan ayo masuk, temanku sudah menunggumu di dalam!” sahut Kelvin.

__ADS_1


“Dan aku berjanji akan terus menjaga dan melindungimu dari orang-orang yang berniat jahat kepadamu!” bathin Kelvin.


__ADS_2