
#PERNIKAHAN_BEDA_USIA
PART 69
***
Jodoh itu ditangan Tuhan. Tak ada yang tahu dengan siapa dan kapan jodoh itu akan datang. Begitu pula dengan Kelvin. Anak kedua dari keluarga Dirgantara, yang harus menjalani skenario Allah yang berliku dalam urusan jodohnya. Setelah merasakan kekecewaan yang mendalam karena cinta palsu dari Clarissa, sekarang ia kembali dipertemukan dengan seorang gadis yang lebih baik tentunya. Kelvin masih tidak percaya bahwa Shinta telah bersedia menjadi pendamping hidupnya.
Kelvin duduk dengan gusar, tatapannya tidak bisa lepas dari gadis yang tengah duduk di hadapannya yang di dampingi oleh keluarganya. Menurut Kelvin sangat cantik dalam balutan dress berwarna putih dengan panjang selutut. Rambutnya dibiarkan tergerai hingga sebatas bahu. Siapa lagi kalau bukan Shinta Almera Astuti, calon istrinya.
Kelvin beserta keluarganya sudah berada di kediaman Shinta. Mereka tidak sekedar datang untuk meminang, melainkan juga menentukan tanggal pernikahan. Lebih cepat akan lebih baik, itu pendapat keluarga Kelvin yang disetujui oleh keluarga Shinta pula.
"Ingat kak, belum muhrim?" tegur Elvina setengah berbisik.
"Berisik!!" balas Kelvin menjadi salah tingkah, apalagi setelah melihat Shinta yang tersenyum malu ke arahnya. "Kok gue jadi nggak karuan gini ya," Kelvin membathin.
Mutiara mencubit lengan suaminya, memberikan kode agar melihat ke arah Kelvin. "Lihat yank, Kelvin sepertinya gugup sekali!" bisik Mutiara pada Gilang.
Gilang akhirnya melirik adiknya, kemudian memicingkan kedua alisnya. Ingin rasanya Gilang tertawa keras melihat gelagat adiknya. "Duh, coba dulu kamu juga begitu? Aku pastinya langsung meleleh," lirih Mutiara.
Kedua mata Gilang membulat sempurna, ia menoleh melihat mimik wajah istrinya yang sedang membayangkan sesuatu. Gilang menghela nafas panjang, merasa bersalah dengan apa yang sudah ia lakukan pada istrinya di masa lalu. "Maafkan kekhilafan suamimu saat itu sayang? Aku terlalu buta karena tidak bisa melihat bahwa kamu adalah bidadari surga yang sengaja dikirimkan oleh Allah untuk mengubah sifat buruk yang tertanam di dalam jiwaku." Gilang meraih tangan Mutiara, mengusapnya kemudian menciumnya berkali-kali. Mutiara terkejut mendapat perlakuan seperti itu dari Gilang.
*Ehemm...
Mutiara dan Gilang menoleh, tersenyum gugup karena semua orang kini memandang ke arah mereka.
"Kalau mau mesra-mesraan nanti di rumah saja, sekarang kita sedang bahas perihal pernikahan adikmu dengan Shinta!" sindir bu Meisya.
Wajah Mutiara memerah seperti kepiting rebus. Menoleh kepada suaminya dengan tatapan mata yang sedikit mendelik. Gilang meringis, merasa gemas dengan perubahan wajah dari istrinya.
"Kelvin...Shinta, bagaimana menurut kalian? Apa kalian setuju jika pernikahannya akan dilangsungkan dua minggu lagi?" tanya pak Bayu kepada sepasang anak manusia yang hendak melangkah ke jenjang pernikahan.
Kelvin menatap Shinta, seolah meminta persetujuan terlebih dahulu dari calon mempelai wanitanya. Shinta mengangguk tanda setuju. Kelvin tersenyum lega. "Kami menurut saja, Pi." Kelvin menjawab.
Semua orang tersenyum puas. Setelah menentukan tanggal pernikahan keluarga Dirgantara akhirnya undur diri.
__ADS_1
Shinta dan kedua orang tuanya mengantar mereka hingga halaman rumah. "Shinta, apa boleh mulai sekarang aku yang akan mengantar dan menjemput kamu saat pergi ke kampus?" tanya Kelvin. Shinta tak menjawab. Ia hanya menganggukan kepalanya saja.
"Terima kasih Shinta, I Love You." Kelvin berbisik. Shinta membulatkan mata, wajahnya langsung merona. Ini adalah pertama kalinya ada seorang pria menyatakan cinta kepadanya.
***
Gilang dan Mutiara sudah sampai di rumah. Setelah membersihkan diri, mereka langsung pergi ke kamar Azka untuk menemaninya tidur. Baik Gilang maupun Mutiara merasa heran dengan sikap Azka yang akhir-akhir ini semakin manja. Padahal sebelumnya, Azka termasuk bocah yang mandiri. Dia bahkan sangat mengerti jika ada salah satu orang tuanya terlihat lelah. Tapi entah kenapa tiba-tiba dia berubah sangat manja, dan sering melakukan hal-hal konyol hanya untuk mencari perhatian dari Mutiara dan Gilang.
"Azka sayang kok belum tidur sih, ini sudah malam lho?" Mutiara membelai wajah anaknya. Azka diam lalu menggelengkan kepala.
"Cepaya Azca cakit, Azca ndak isa tidul." Azka memegangi kepalanya.
"Sakit? Mana yang sakit sayang?" Mutiara dan Gilang menjadi panik.
"Cemuanya mami...daddy, adan Azca uga cakit." Mendengar itu, Gilang dan Mutiara saling bertatapan satu sama lainnya.
"Sejak kapan Azka merasa sakit?" kali ini Gilang yang bertanya. Azka lagi-lagi menggelengkan kepala.
"Gimana yank, aku takut kalau Azka sampai kenapa-napa." Mutiara menatap wajah sayu putranya. Memang terlihat agak pucat. "Maafin mami sayang, mami tidak tahu kalau Azka sakit?" Mutiara memeluk anaknya.
"Azka bobok ya, daddy bacain dongeng!" Azka mengangguk, kemudian berbaring ditengah-tengah yang diapit oleh Gilang dan Mutiara.
Gilang meraih sebuah buku dongeng yang terletak di atas nakas meja samping tempat tidur. Mungkin sengaja disiapkan oleh Laras karena Azka selalu meminta dibacakan buku dongeng sebelum tidur. Gilang mulai membaca buku tersebut dengan beragam ekspresi yang dirasa sangat lucu oleh Azka dan Mutiara.
"Kok malah pada ketawa sih?" bibir Gilang maju setengah centi.
"Maaf-maaf...habisnya ekspresi kamu sangat lucu, yank." Mutiara berhenti tertawa. Ia memegangi perutnya yang sedikit terguncang lantaran tertawa.
"Anjut addy!" rengek Azka.
Gilang melanjutkan ceritanya. Sedang Mutiara mengusap-ngusap kepala Azka hingga membuat bocah itu menutup kedua matanya.
"Selamat bobok malaikat kecil daddy dan mami, semoga kamu mimpi indah" Mutiara dan Gilang mengecup kening Azka secara bergantian. Kemudian keluar dari kamar.
"Yank, apa perlu kita kasih tahu tentang keluhan Azka pada Kelvin?" tanya Mutiara setelah berada di kamar mereka sendiri.
__ADS_1
"Sebaiknya jangan! Kita bawa Azka ke dokter dulu baru nanti kasih tahu ke Kelvin." Gilang bersender pada pada headboard tempat tidur.
"Aku sangat takut yank kalau Azka kenapa-napa," lirih Mutiara yang ikut bersandar di dada bidang suaminya.
"Kita berdoa saja semoga sakitnya Azka hanya sakit biasa yang sering terjadi pada anak-anak umumnya." Gilang mengecup pucuk kepala Mutiara.
"Semoga saja," guman Mutiara.
***
Keesokannya, Gilang dan Mutiara benar-benar membawa Azka ke rumah sakit. Ia akan melakukan serangkaian test untuk mengetahui penyebab sakit kepala yang dirasakan oleh Azka. Awalnya Azka menolak karena takut dengan jarum suntik, namun setelah diberikan pengertian oleh Mutiara. Akhirnya Azka mau mengikuti serangkaian test. Dan tentunya didampingi oleh Gilang dan Mutiara.
Mutiara memejamkan kedua mata. Tangannya menggenggam salah satu tangan Azka ketika dokter mulai menusukan jarum ke tangan putranya yang satu lagi untuk pengambilan darah. Mutiara seolah ikut meraskan sakitnya tusukan jarum tersebut.
"Mami uka mata, doktelnya udah celecai!" Azka memggoyang-goyangkan lengan Mutiara.
"Oh...ya...sakit tidak?" Mutiara membuka matanya.
"Cakitnya cedikit anyak diigit amuk" celoteh Azka.
"Anak mami pinter. Nanti mami beliian mainan robot yang banyak, Azka mau?" Azka mengangguk senang. Gilang hanya tersenyum kecil melihat keduanya. Meskipun bukan terlahir dari rahimnya, tapi Mutiara melimpahi Azka dengan kasih sayang yang begitu besar. Selanyaknya kasih sayang ibu kandung kepada anaknya sendiri.
Usai melakukan pemeriksaan, Gilang dan Mutiara membawa Azka ke pergi ke mall. Mereka rela berkeliling hanya sekedar ingin membuat Azka senang dan sedikit melupakan rasa sakitnya. Dan hal itu terbukti. Azka sangat bahagia, ia bermain kesana-kemari tanpa merasa lelah sedikit pun. Tak lupa para asisten sudah banyak menenteng barang belanjaan yang isinya hanyalah mainan milik Azka, namun bocah itu seperti tidak bosan menginginkan mainan yang lain.
"Mami, ini anti uat edek ayi alau udah kual" Azka menyodorkan dua buah boneka kecil berwarna biru dan pink.
Mutiara tersenyum kecil. "Terima kasih kakak Azka, dedek bayinya pasti merasa senang karena mempunyai kakak yang pengertian seperti Azka."
Azka mengusap perut Mutiara kemudian menciuminya berkali-kali. "Edek halus cehat ya, akak ayang adek!" ucapnya dengan kalimat yang tidak begitu jelas.
"Jadi Azka sayangnya cuma sama mami dan adek aja nih, sama daddy nggak sayang?" celoteh Gilang, berpura-pura memonyongkan bibir.
"Azca uga ayang addy," Azka beralih meminta gendong pada Gilang.
Semua mata mulai memandang, merasa kagum akan keharmonisan mereka. Ayah yang ganteng, ibu yang cantik dan ditambah pula anak yang imut plus tampan. Membuat semua orang yang melihatnya menjadi iri.
__ADS_1