
#PERNIKAHAN_BEDA_USIA
PART 77
πππ
Setibanya di rumah sakit, Mutiara langsung dibawa ke ruang UGD dan ditangani oleh dokter yang ahli. Untung saja sebelum berangkat ke bali, Gilang sudah meminta Radit supaya memakai resort keluarga yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit. Jadi jika terjadi hal yang tidak diinginkan seperti sekarang ini, maka istrinya bisa cepat mendapatkan penanganan secara khusus.
Gilang terus saja berjalan mondar-mandir tanpa arah. Pandangannya sesekali mengarah pada pintu ruang UGD. Ia sedang menunggu kabar dari dokter dengan perasaan yang tak menentu. Hatinya tidak bisa berhenti untuk tidak menyalahkan dirinya sendiri. Betapa bodohnya dirinya karena telah membiarkan istrinya pergi menemui teman-temannya tanpa di dampingi olehnya.
Sedangkan Elvina hanya bisa duduk dengan tatapan kosong. Apa yang terjadi pada Mutiara juga merupakan kesalahannya. Kalau saja ia tidak sibuk mengobrol dengan teman-teman yang sok perduli kepadanya, mungkin saat ini Mutiara masih baik-baik saja.
"Percayalah Mutiara akan baik-baik saja, dia itu wanita yang kuat!" Arif berusaha memberikan kekuatan pada tunangannya. Ia tahu bahwa Elvina merasa sangat bersalah dengan apa yang menimpa Mutiara saat ini.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya dokter keluar menanyakan keberadaan suami pasien. Gilang langsung saja menghampiri dokter tersebut. "Saya suaminya, bagaimana keadaan istri saya dan calon anak-anak saya?"
Dokter itu terlihat sedikit terkejut. Ia tidak menyangka kalau pasien yang sedang ia tangani merupakan istri dari Alvian Gilang Dirgantara sendiri. Awalnya sang dokter mengira, kalau Gilang hanya lah sekedar menolong wanita itu saja.
"Begini tuan, istri anda sedang mengalami pendarahan yang sangat hebat akibat benturan keras tepat di perutnya. Demi menyelamatkan ibu dan anak, kami harus segera melakukan operasi untuk mengeluarkan anak-anak tuan dari rahim sang ibu. Jika terlambat sedikit saja, maka bisa berakibat fatal baik bagi ibu maupun anaknya." Dokter memberikan penjelasan secara mendetail pada Gilang.
"Lakukan apapun yang terbaik asalkan istri dan anak-anak saya bisa terselamatkan!" ucap Gilang berusaha untuk tetap kuat.
"Maaf kalau boleh tahu siapa nama pasien, agar kami bisa segera membuat surat persetujuan untuk melakukan tindakan operasi dari pihak keluarga?" tanya dokter dengan sangat hati-hati.
"Mutiara Mikayla Putri," jawab Gilang.
Dokter tersebut mengangguk. Nama yang cantik seperti orangnya, pikir sang dokter lantas pamit undur diri. Menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk menjalankan operasi.
Setelah kepergian sang dokter, Arif segera menghubungi keluarga calon mertuanya. Ia tahu hal ini mungkin akan memperkeruh suasana. Akan tetapi mereka juga berhak tahu kalau saat ini menantu kesayangan mereka sedang bertaruh nyawa bersama anak yang ada di dalam kandungannya.
πππ
__ADS_1
"Apa...? Bagaimana itu bisa terjadi? Apa yang dilakukan oleh Gilang, apa dia tidak menjaga menantuku dengan baik?" bu Meisya nampak terkejut sekaligus cemas setelah menerima kabar tentang Mutiara dari sang suami.
Pak Bayu menghela nafas, berusaha menenangkan hati istrinya. "Tidak Mi, bukan begitu! Gilang sudah berusaha menjaga Mutiara dengan baik. Hanya saja Gilang kecolongan saat Radit menghubunginya karena Azka yang terus saja menanyakan keberadaan Mutiara."
"Sekarang bagaimana, Pi? Mutiara sedang berjuang melawan maut dan kita..." bu Meisya semakin terpukul, merasa tak berdaya. Di satu sisi, ia ingin sekali pergi ke Bali untuk menemani Mutiara. Namun di lain sisi ia harus tetap berada di Jakarta menjaga cucunya.
"Mami pergi saja ke sana, saat ini kak Gilang pasti sangat membutuhkan dukungan dari mami! Kelvin menimpali. Ia mengerti bagaimana perasaan maminya. Selain itu, Kelvin juga mencemaskan kakaknya. Ia takut jika Gilang akan lepas kendali, dan Elvina...dia pasti tidak akan mampu menenangkan hati kakaknya itu.
"Tapi bagaimana dengan Azka?" bu Meisya menyeka air matanya.
"Di sini ada banyak orang Mi, ada Papi, Shinta, mbak Laras, pak Heru dan asisten kita yang lainnya. Mami tidak perlu khawatir, lagi pula kondisi Azka sudah membaik bukan?"
Bu Meisya menatap suaminya, seakan meminta pendapat darinya. "Iya, mami pergi saja ke sana ditemani oleh Radit! Sekarang ini pasti Gilang tidak bisa berpikiran jernih! Papi takut kalau nanti dia bisa berbuat bodoh, mami kan tahu bagaimana watak dari putra sulung kita itu?" ujar pak Bayu yang sebenarnya juga mencemaskan kondisi anak dan menantunya. Bu Meisya mengangguk. Ia segera meminta Radit untuk mempersiapkan segala sesuatunya.
πππ
Gilang, Arif dan Elvina sudah ada di depan ruang operasi, dimana Mutiara berada di dalamnya. Sedang bertaruh nyawa demi bisa melahirkan buah cintanya bersama sang suami.
"Kak Gilang yang tenang ya, kita berdoa saja semoga semuanya berjalan dengan lancar. Aku yakin Mutiara dan anaknya akan baik-baik saja!" kali ini Arif memberanikan diri untuk menenangkan hati calon kakak iparnya. Meskipun sebenarnya hati Arif sendiri merasa gugup dan takut dengan aura dingin yang terpancar dari wajah Gilang.
Gilang tersenyum tipis. "Terima kasih karena elo sudah mau menemani gue dan Elvina di sini?" ucapnya kemudian. Arif mengangguk saja, tak tahu harus berucap apa. Ini adalah pertama kalinya, Gilang bersikap baik dan ramah kepada dirinya.
Gilang, Arif dan Elvina langsung datang memdekat ke arah pintu ruang operasi saat pintunya mulai terbuka kemudian menampilkan sosok dokter yang masih lengkap dengan seragam operasi nya.
"Bagaimana keadaan istri dan anak-anak saya dok, mereka baik-baik sajakan?" tanya Gilang yang sudah tak sabaran.
"Iya dok, bagaimana keadaan ipar saya dan keponakan saya?" Elvina menimpali. Arif hanya diam sambil mengusap bahu tunangannya itu.
"Alhamdulillah operasinya berjalan dengan lancar. Nona Mutiara melahirkan empat bayi kembar dengan selamat tanpa ada kekurangan satu pun, dua bayi laki-laki dan dua bayi perempuan." Dokter menjawab.
"Alhamdulillah," ucap Gilang. Sedangkan Elvina dan Arif masih mematung dengan mulut terbuka. Masih tidak percaya dengan perkataan dokter yang mengatakan bahwa Mutiara melahirkan empat bayi kembar. Selama ini Gilang memang belum pernah mengatakan kepada siapa pun mengenai Mutiara yang hamil empat bayi kembar sekaligus, kecuali kepada Radit dan pak Heru. Karena mereka juga ikut andil dalam menjaga Mutiara.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan istri saya?" tanya Gilang lagi.
Dokter itu terdiam. Rasa-rasanya tak sanggup untuk mengatakan bagaimana kondisi wanita cantik itu. Usianya terlihat masih sangat muda, namun harus berjuang demi bisa melahirkan empat bayi kembar sekaligus.
"Kenapa diam? Istri saya baik-baik saja kan?" desak Gilang.
"Maaf kami sudah berusaha melakukan yang terbaik. Akan tetapi karena usia istri anda yang masih sangat muda dan benturannya cukup sehingga terjadi beberapa komplikasi dan membuat keadaan istri anda menjadi kritis. Saat ini nona Mutiara telah dinyatakan koma, jika dalam hitungan tiga kali dua puluh empat jam, istri anda belum sadarkan diri. Besar kemungkinan nyawa istri anda tidak akan bisa tertolong lagi." Dokter menjelaskan secara panjang lebar.
"Tidak!! Istri saya adalah wanita yang paling hebat! Dia pasti akan bertahan demi aku dan anak-anaknya!" ucap Gilang yang merasa sangat terpukul.
"Berdoa lah kepada Sang Maha Pencipta, tuan. Karena hanya Dia lah yang mampu menolong istri anda saat ini!" dokter memberikan sarannya kemudian pergi meninggalkan keluarga pasien.
Gilang jatuh tersungkur di lantai. Ia merasa hancur kembali dan kali ini sepertinya lebih parah. Gilang merasakan ada yang hilang dari bagian hidupnya. Mutiara sudah mengambil sebagian jiwanya, ia akan mati jika terjadi hal yang buruk pada istrinya itu.
Elvina terisak pilu. Sahabatnya yang kuat dan tangguh dalam menghadapi likunya dunia, sekarang harus berjuang melawan mautnya sendiri. Ia bahkan tidak bisa berbuat apapun untuk menolongnya. Elvina merasa sedih karena menjadi sosok sahabat yang tak berguna bagi sahabatnya.
"Kalian harus tetap kuat demi Mutiara dan keempat bayi kembarnya! Jika kita lemah, siapa yang akan memberikan dukungan kepada mereka? Ingat lah saat ini yang dibutuhkan oleh Mutiara hanya lah dukungan moril dari orang terdekatnya. Apabila kita lemah, Mutiara pasti akan sedih dan itu tidak akan baik untuk perkembangan kesehatannya." Arif berusaha menguatkan hati kakak-beradik itu.
Kedua tangan Gilang mengepal kuat. Apa yang dikatakan oleh Arif ada benarnya. Saat ini dia tidak boleh lemah, ia harus mempunyai kenyakinan bahwa istrinya akan baik-baik saja. Mutiara pasti akan bangun untuknya dan juga untuk anak-anaknya.
Gilang segera beranjak berdiri setelah pintu ruang operasi terbuka kembali. Tampak beberapa perawat mendorong brankar dimana tempat Mutiara berbaring lengkap dengan peralatan medis. Gilang segera menghampirinya.
"Kami akan segera memindahkan pasien ke ruangan ICU," ujar dari salah satu perawat.
"Sayang, aku yakin kamu kuat! Kamu pasti akan bertahan demi aku dan keempat bayi kembar kita!" ucap Gilang berbisik di telinga istrinya.
πππππ
Holla-holla bagaimana episode kali ini? Maaf ya kalau tidak bisa sedramatis kanyak novel lainnya
Nah author lagi bingung nih cari nama-nama yang bagus untuk keempat bayi kembar Gilang dan Mutiara.
__ADS_1
Yuk bantu coret-coret di kolom komentar, bantu Author cari nama yang pas buat bayi kembar merekaππππππ