Pernikahan Beda Usia

Pernikahan Beda Usia
#PERNIKAHANBEDAUSIA_104


__ADS_3

#PERNIKAHAN_BEDA_USIA


Part 104


đź’•đź’•đź’•


Mutiara buru-buru memasuki kamar anak-anak. Disusul oleh Gilang yang sengaja mengekor dari belakang. Mereka ingin melihat kenapa anak-anaknya bisa menangis secara bersamaan. Setibanya di kamar, ternyata sudah ada para baby sister yang sedang berusaha mendiamkan mereka. Namun sepertinya tidak berhasil. Bahkan keempat bayi kembar itu seakan dengan sengaja kompak menolak diberikan susu oleh pengasuh mereka.


Mutiara melirik suaminya kemudian segera melangkah menghampiri mereka. Tak seperti biasa, keempat anak bayi kembarnya berulah seperti itu. Mereka termasuk bayi yang anteng dan tidak pernah rewel. Menangis jika merasa lapar, popok penuh atau sedang buang air besar saja. Tapi sekarang...


“Cup...cup...cup...kenapa anak-anak mommy pada nangis semua?” Mutiara mengambil alih tugas dari pengasuh Arshaka dan Arseno. Meminta botol susu mereka kemudian berusaha meminumkan nya pada mereka.


Begitu juga dengan Gilang yang ikut membantu mendiamkan Arshila dan Arsyifa. Keempat bayi kembar tersebut seketika lansung diam, menikmati susu yang mereka minum dari botol susu. Apalagi Mutiara menyanyikan lagu penghantar tidur.


“Mommy, sepeltinya menyeka cangen sama mami?” cicit Azka yang sedari tadi hanya bisa melihat adik-adiknya menangis. Tanpa bisa berbuat apa-apa.


Mutiara mengernyit, tidak mengerti dengan maksud dari perkataan putra sulungnya. Kangen...bagaimana bisa. Bukankah seharian ini Mutiara berada di rumah saja.


Gilang mengulas senyum, bisa menangkap raut wajah kebingungan dari istrinya.


“Mungkin maksudnya Azka adalah sejak kedatangan wanita itu siang tadi, kamu hanya mengurung diri di kamar tanpa mau keluar hanya sekedar melihat atau menemani mereka! Makanya sekarang si kembar protes karena merindukan mommy mereka!” jelasnya kemudian.


Mutiara menepuk dahinya. Merasa bersalah karena sudah menelantarkan anak-anaknya karena kehadiran wanita yang mengaku sudah melahirkan tapi tega meninggalkannya demi kesenangannya sendiri.


“Maafkan mommy, ya? Mommy salah karena sudah mengabaikan kalian?” sesal Mutiara.


“Ndak, Mommy ndak calah kok! Enek itu yang nacal anyena udah ikin mommy angis!” Azka meresa kesal saat mengingat bagaimana mommy nya menangis setelah kepergian wanita itu.


Kini Mutiara yang dibuat tersenyum. Merasa bangga karena sudah memiliki Azka sebagai putranya. Walaupun hanya putra angkat.


“Sini peluk mommy!” Mutiara merentangkan kedua tangannya, membiarkan bocah itu masuk ke dalam dekapannya.


Anak dan ibu saling memeluk, mencurahkan rasa kasih sayang mereka.


“Oh...jadi yang dipeluk cuma Azka doang nih? Daddy nya nggak dipeluk?” Gilang merasa iri melihat kemesraan antara ibu dan anak.

__ADS_1


Mutiara mendelik. Merasa heran dengan tingkah suaminya yang terkadang masih suka iri kepada anak-anaknya. Azka menutup mulut sambil cekikikan, takut suaranya akan membuat adik-adiknya terbangun.


Sementara itu para pengasuh si kembar yang sedari tadi jadi penonton hanya bisa menahan tawa. Mereka merasa iri melihat kebersamaan itu.


Dan Sri yang diam-diam mengintip dari luar pun tak kalah merasa iri. Rasa-rasanya dia ingin berada di posisi Mutiara, dicintai oleh pria sempurna seperti Alvian Gilang Dirgantara. Pria tampan dan terkenal tajir melintir di jagad raya.


đź’•đź’•đź’•


Intan sudah selesai dengan tunik putih bermotif bunga yang panjangnya hingga selutut dipadukan dengan celana jeans hitam dan hijab berwarna putih. Tak lupa ia mengenakan sepatu pantofel berwarna hitam pula.


Membuka pintu kamar kemudian melangkah menuju ruang tamu yang tidak begitu luas.


“Intan, kamu mau pergi kemana? Pagi-pagi kok sudah rapi?” tegur ibunya.


Intan menoleh. “Intan mau coba cari kerja bu, supaya ada pemasukan tetap buat kita! Intan nggak bisa kalau harus lihat ibu terus-terusan nyuci baju tetangga demi mendapatkan uang untuk makan sehari-hari! Sedangkan hasil penjualan tanaman di pinggir jalan pun tak menentu, kadang dapat kadang nggak!?” jawab Intan lalu menghampiri ibunya yang sedang memilah pakaian tetangga yang sudah selesai disetrika tadi malam.


“Memangnya kamu mau kerja apa? Sedangkan ijasah terakhirmu saja hanya tamatan SMP!” ujar bu Aisyah.


“Apa saja bu, yang penting halal!” Intan meraih tangan ibunya untuk dicium punggung tangannya.


Bu Aisyah hanya mengangguk. Bibirnya kelu tak bisa berkata apa-apa. Masa depan Intan menjadi kelam karena sifat bodohnya yang selalu mengalah dengan saudara kembarnya. Membiarkan Hani tetap bebas berkeliaran menghancurkan hidup suami serta anak-anaknya dan membiarkan dirinya mendekam dibalik jeruji besi atas kesalahan yang sudah diperbuat oleh saudaranya itu.


“Ibu akan selalu berdoa semoga kamu bisa menemukan kebahagiaanmu seperti saudara kembarmu yang sudah bahagia dengan keluarga barunya!”


Intan tersenyum tipis. “Terima kasih, bu? Tapi ibu juga harus tahu bahwa Intan sudah bahagia sekarang karena Intan memiliki ibu yang selalu mencintai dan menyanyangi Intan dengan tulus!”


Lagi-lagi keduanya berpelukan, saling memberikan kekuatan satu sama lainnya.


Intan bersyukur sekali disaat hidupnya sedang berada dititik paling jatuh, ia kembali dipertemukan dengan ibunya yang sesungguhnya. Bukan ibu yang hanya sekedar mengaku-ngaku sebagai wanita yang telah melahirkannya dan saudarinya ke dunia ini tetapi dengan mudahnya merusak dan menelantarkan kehidupan anak-anaknya.


Intan berpamitan. Berharap keberuntungan akan memihak padanya hari ini.


đź’•đź’•đź’•


Sudah berkali-kali Intan keluar masuk dari perusahaan satu ke perusahaan lain demi mencari sebuah pekerjaan. Namun tak kunjung ia dapatkan. Kebanyakan dari perusahaan yang ia datangi memang sedang tidak membuka lowongan. Dan kalaupun ada yang sedang membutuhkan penambahan karyawan, minimal pendidikannya harus tamatan SMA dan itupun hanya sebagai cleaning service.

__ADS_1


Intan sempat memohon agar diberikan pekerjaan. Tapi tak berhasil. Bahkan ada sebagian dari mereka yang dengan sengaja mencemooh atau merendahkannya, lantaran latar pendidikan yang Intan miliki sangat lah minim. Yakni hanya tamatan SMP. Intan sama sekali tidak tersinggung. Memang pada kenyataannya seperti itu.


Intan menghela nafas panjang lalu menghembuskannya. Hari ini keberuntungan memang belum memihak kepadanya. Tetapi esok atau lusa, Intan pasti bisa mendapatkan sebuah pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya.


Jam sudah menunjukan pukul lima sore. Intan terus melangkahkan kaki menyusuri sepanjang jalan untuk mencari angkot. Tiba-tiba hujan turun begitu deras. Mau tak mau Intan berlari menuju emperan sebuah toko roti dan memilih berteduh disana.


Saat sedang berdiri menunggu hujan reda, sebuah mobil sedan berwarna putih melintas dengan cepat. Intan terpaksa kena imbasnya. Seluruh tubuh nya basah kunyub karena terciprat oleh air hujan.


Intan mau memaki tapi percuma. Pengendara mobil itu pasti tidak akan mendengarnya. Intan mengambil tisu dari dalam tasnya untuk membersihkan mana yang bisa ia bersihkan terlebih dahulu.


“Dasar orang kaya, hobi banget main kebut-kebutan di jalan! Nggak tahu apa tindakan mereka bisa ngebahayain orang lain!” Intan menggerutu kesal. Pakaian yang ia kenakan sudah tak berbentuk rupa karena tekena cipratan air hujan yang kotor tadi.


“Tapi setidaknya gue bukan orang yang suka mempermainkan perasaan orang lain seperti yang sudah elo lakukan!” cicit seseorang.


Wajah Intan mendongak ke atas untuk melihat siapa yang sedang berbicara. Seorang pria tampan bertubuh atlentis dengan perawakan tinggi besar. Pria itu kini berdiri tepat di hadapan Intan, membuat jantungnya berdebar dengan sangat kencang. Intan menelan salivanya berulang kali, apakah ia sudah salah melihat orang. Intan mengucek kedua matanya berkali-kali, berharap penglihatannya memang salah.


“Mau sampai kapan pun elo mengucek mata, tetap saja yang terlihat di mata elo itu gue!” sindir pria itu dengan sinis.


Intan semakin salah tingkah, tidak tahu harus berbuat apa. Kenapa disaat seperti ini, dirinya harus dipertemukan lagi dengan sosok pria yang memang ingin sekali ia jauhi.


“Ngapain kak Kelvin di sini? Bukannya harusnya di Jakarta?” tanya Intan memberanikan diri.


Kelvin sedikit tergelak, memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana. Clarissa masih sama seperti dulu. Angkuh dan keras kepala. Namun dibalik semua itu, dia tetap lah perempuan yang manis.


“Gue sedang ada perjalanan bisnis di daerah sekitar sini, tapi nggak tahunya malah ketemu sama elo!” jawab Kelvin yang tak kalah sinis.


Intan manggut-manggut. Percaya saja dengan perkataan pria itu. Toh itu juga bukan urusannya.


Suasana menjadi hening. Ditambah hujan sudah mulai reda. Tinggal rintik-rintik kecil yang tak seberapa.


“Mau pulang?” tanya Kelvin memecah keheningan yang terjadi beberapa saat lalu.


“Iya,” jawab Intan dengan singkat.


“Butuh tumpangan? Kalau mau gue bisa antar elo?” tanya Kelvin lagi.

__ADS_1


Intan menggeleng cepat. Ia tak mungkin menerima tawaran dari pria itu. Bisa-bisa tempat persembunyiannya selama ini bisa diketahui dengan mudah oleh Kelvin. Sedangkan selama ini ia dan ibunya sengaja menjauh dari mereka semua agar bisa memilki kehidupan yang tenang dan tentram.


__ADS_2