Pernikahan Beda Usia

Pernikahan Beda Usia
#PERNIKAHANBEDAUSIA_51


__ADS_3

PERNIKAHAN BEDA USIA


PART 51


***


Gilang dan Mutiara sedang berada di sebuah restorant Prancis. Mereka akan malam, setelah seharian penuh menghabiskan waktu bersama hanya di rumah. Gilang tahu bahwa Mutiara mulai merasa jenuh, itu sebabnya ia membawa istrinya keluar rumah. Meskipun hanya sekedar makan malam saja.


Mutiara mencari-cari menu untuknya. Di dalam buku menu ternyata tidak ada satu pun makanan yang bisa menggugah seleranya. Mutiara ingin makan yang seger-seger, seperti sayur asem yang dipadukan dengan ikan asin. Pasti rasanya akan lebih nikmat. Tapi di restoran macam ini mana ada? Mutiara hanya bisa mendengus saja.


"Kamu mau pesan apa yank?" tanya Gilang.


Mutiara menutup buku menu, kemudian menghela nafas. "Kita makan di rumah aja yuk, yank! Tiba-tiba aja aku pengen makan sayur asem sama ikan asin."


Gilang mengerutkan dahi. Ia tidak pernah mendengar nama menu makanan semcam itu. "Sayur asem sama ikan asin? Makanan apa lagi itu?" tanya nya kemudian.


Mutiara menepuk jidat. Dasar orang kaya, makanan kampung yang super nikmat saja tidak paham.


Bukannya menjawab, Mutiara malah menelan ludahnya sendiri. Ia mulai membayangkan bagaimana kuah sayur asem yang masuk ke dalam tenggorokan nya, pasti akan terasa sangat segar.


"Yank..." panggil Gilang.


"Hmm..."


"Kamu kenapa? Ditanya bukannya menjawab malah melamun," tegur Gilang.


"Kita pulang aja yuk! Aku beneran lagi pengen makan sayur asem, yank." Mutiara merengek pada suaminya.


Gilang hanya bisa geleng-geleng kepala. Semenjak Mutiara hamil, Gilang sering mendengar nama-nama menu makanan yang terkesan aneh baginya.


"Kita makan yang ada dulu yank! Nanti setelah pulang baru minta dibikinin sama koki di rumah," ujar Gilang.


"Enggak, aku nggak mau!" Mutiara bersidekap dada. Ia terus saja merengek untuk pulang ke rumah.


Gilang lagi-lagi menghela nafas. Mood Mutiara mulai tidak baik. Mau tak mau Gilang harus menuruti kemauan Mutiara.


"Ya sudah kita pulang saja," ujar Gilang.


Mutiara tersenyum. "Makasih ya yank, kamu emang suami terbaik."


"Apa pun itu, asal bisa membuat kamu tetap bahagia...pasti akan aku lakukan, yank!" Gilang menggengam tangan Mutiara.


"Yank, aku mau ke toilet sebentar ya? Pengen pipis," ujar Mutiara kemudian.


"Perlu aku temenin?" tanya Gilang setengah menggoda.


"Enggak, aku bisa sendiri." Mutiara ngacir pergi menjauh dari suami mesumnya.


Gilang hanya terkekeh kecil. Menggoda Mutiara sekarang menjadi salah satu hobinya.


Lima belas menit berlalu, tapi Mutiara belum juga kembali dari toilet. Gilang sedikit khawatir, ia takut jika terjadi sesuatu pada istrinya. Gilang akhirnya memutuskan untuk pergi menyusul Mutiara.


"Yank, kamu baik-baik saja?" tanya Gilang saat mendapati Mutiara baru keluar dari toilet wanita.


"Aku baik-baik saja kok, yank. Maaf tadi aku BAB jadi agak lama," jawab Mutiara.


"Ya sudah kalau begitu kita pulang sekarang!" ajak Gilang.


"Kok pulang sih yank? Kita kan belum makan apa-apa,"


Gilang kembali mengerutkan dahi. Bukankah tadi Mutiara sendiri yang merengek pulang karena ingin makan sayur asem sama ikan asin? Tapi kenapa sekarang malah sebaliknya?


"Tadi kan kamu sendiri yang ngajakin pulang, yank? Katanya mau makan sayur asem sama ikan asin?" ujar Gilang.

__ADS_1


"Ohh...itu.. Aku sudah nggak pengen, yank. Aku pengen makan di sini aja!" cicit Mutiara.


Gilang terdiam. Mungkin saat ini mood Mutiara sedang tidak stabil. Makanya suka berubah-ubah tak jelas seperti itu.


"Ayo yank, kita pesan makanan sekarang! Perutku rasanya sudah sangat lapar!" Mutiara menarik lengan Gilang.


Gilang menurut saja, mengikuti apa yang menjadi keinginan dari istri kecilnya.


Setelah melakukan pembayaran bill makan malam mereka, Gilang segera mengajak istrinya pulang. Tidak baik bagi Mutiara berada di luar rumah terlalu lama pada malam hari. Gilang tidak ingin kalau nantinya Mutiara akan jatuh sakit kemudian berimbas pada kehamilannya.


Ketika di dalam mobil, baik Gilang maupun Mutiara tidak seperti biasanya. Mereka hanya saling membisu satu sama lainnya. Tidak tahu apa yang harus dibicarakan.


Entah mengapa perasaan Gilang mendadak risau. Ia merasa ada yang aneh dalam diri Mutiara.


Gilang melirik istrinya. Ia bisa melihat bagaimana gugupnya Mutiara saat ini. Mungkinkah ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh Mutiara. Gilang terus bertanya-tanya dalam hatinya.


"Yank, kita sudah sampai." Gilang mengusap tangan Mutiara.


"Ohh...ya.." Mutiara tertegun.


Gilang menaikan sebelah alisnya. Ia semakin curiga dengan gelagat Mutiara.


"Kamu kenapa yank, ada masalah?" tanya Gilang.


"Enggak, aku nggak ada masalah apa-apa kok. Mungkin karena aku terlalu lelah saja." Mutiara berusaha tersenyum manis.


Gilang mengajak Mutiara turun. Mereka masuk ke dalam rumah sambil bergandengan tangan.


"Yank, apa kamu jadi mau makan sayur asem sama ikan asin?" tanya Gilang.


"Hmm...enggak deh yank, aku mau langsung ke kamar aja!" sahut Mutiara.


"Baik lah kalau begitu. Ayo kita ke kamar!" ajak Gilang sambil mengedipkan mata.


Dan Laras hanya berdiri mematung. Ia menatap punggung kedua majikannya sampai menghilang.


Ada apa dengan nona muda? Tak biasanya ia acuh tak acuh kepadaku. Apa aku sudah melakukan kesalahan, sehingga membuat nona muda marah? Bathin Laras.


"Ada apa?" Heru mengejutkan Laras.


"Pak Heru.. Bikin kaget saja!!" gerutu Laras.


"Aku hanya bingung kenapa sikap nona muda dingin terhadapku? Apa aku sudah melakukan kesalahan?" ujarnya lagi.


"Mungkin saja mood nona muda sedang tidak baik, kamu sendiri bagaimana kan sikap nona Mutiara semenjak hamil?" jelas pak Heru.


Laras menganggukan kepala. Apa yang dikatakan oleh pak Heru ada benarnya juga. Sikap nona muda nya memang suka berubah-ubah tak jelas. Mungkin ini pengaruh hormon kehamilannya.


***


Kedua orang-tua Gilang sudah kembali ke Indonesia. Mereka sangat berbahagia saat mendengar tentang kehamilan Mutiara. Terutama bu Meisya. Beliau adalah orang yang paling antusias sehingga ingin segera bertemu dengan menantunya.


Meskipun pak Bayu sudah melarang bu Meisya, tetapi bu Meisya tetap ingin mendatangi rumah anak dan menantunya. Beliau tak perduli jika hari sudah malam.


Dan kalau sudah begitu, tak seorang pun bisa menolak. Mau tak mau pak Bayu harus mengantarkan istrinya ke rumah Gilang dan Mutiara.


"Mi, bagaimana kalau mereka sudah tidur?" pak Bayu berharap istrinya akan berubah pikiran.


"Belum Pi...! Mami sangat yakin kalau mereka belum tidur! Ini kan baru jam sembilan malam," balas bu Meisya.


Pak Bayu hanya bisa menghela nafas panjang. Sepertinya percuma saja membujuk istrinya. Bu Meisya tetap pada pendiriannya. Beliau ingin segera menemui Mutiara.


"Ibu dan anak tak jauh beda, sama-sama keras kepala!!" Pak Bayu menggerutu dalam hati.

__ADS_1


"Aku tahu lho...kalau saat ini hati papi sedang mengumpat untuk mami," celetuk bu Meisya.


Pak Bayu menoleh ke arah istrinya, menunjukan cengiran kuda.


***


Sementara itu, Gilang tengah duduk di tepi ranjang. Ia menunggu istrinya keluar dari kamar mandi. Tak biasanya Mutiara membutuhkan waktu yang sangat lama untuk sekedar membersihkan diri.


*Ceklekk...


Pintu kamar mandi terbuka. Gilang meneguk salivanya. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Mutiara memakai baju tidur model lingerie? Apa tidak salah?


Selama ini Gilang mati-matian membujuk Mutiara untuk mengenakan lingerie yang dibelikan oleh maminya. Tapi Mutiara selalu menolak karena menganggap bahwa lingerie seperti pakaian yang kurang bahan saja.


"Yank, tumben kamu mau memakainya?" tanya Gilang.


"Memangnya kenapa? Apa aku tidak boleh memakai lingerie di depan suamiku sendiri?" jawab Mutiara setengah menggoda.


Lagi-lagi Gilang menelan salivanya. Mutiara berjalan mendekati Gilang, kemudian duduk di pangkuan Gilang. Mutiara benar-benar menunjukan sikap yang agresif malam ini.


"Yank, apa kamu sedang menggodaku?" ujar Gilang mulai terpancing.


"Kalau iya emangnya kenapa? Salah?" balas Mutiara.


Seperti kucing yang disodori ikan, Gilang pun tak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Tangannya mulai bergerilya kemana-mana hingga membuat Mutiara memejamkan kedua matanya. Gilang dan Mutiara sama-sama mulai terbawa oleh suasana.


Disaat Mutiara sedang asyik menikmati perlakuan Gilang, tiba-tiba pria itu menghempaskan tubuh Mutiara hingga terjatuh ke lantai.


"Yank, kamu kenapa?" Mutiara bingung sekaligus kecewa.


Gilang tak menjawab. Ia hanya menatap Mutiara dengan tatapan penuh kebencian. Ia merasa jijik atas perlakuan wanita itu.


Mutiara bangun dan menghampiri Gilang lagi.


"Apa aku sudah melakukan kesalahan sampai-sampai membuatmu marah?" Mutiara bergelayut manja pada Gilang.


Akan tetapi pria itu menepisnya. Ia bahkan menampar Mutiara dengan keras.


"Yank, kamu menyakitiku?" ujar Mutiara tak bisa menahan tangisnya.


"Jangan pernah panggil aku yank dengan mulut kotormu itu!! Dasar wanita j*****!!" Gilang terlihat geram.


"Apa maksudmu?" Mutiara tidak mengerti.


Gilang mencrngkeram kuat geraham Mutiara. Matanya menatap nyalang pada gadis itu. Mutiara bahkan sampai dibuat ketakutan olehnya. Ia hanya bisa menahan rasa sakitnya.


🍁🍁🍁


Alhamdulillah....


Tak terasa sudah di penghujung Ramadhan....


Semoga dipertemukan lagi di Ramadhan tahun depan


"Minal Aizin Wal Faizin...


Mohon maaf lahir & bathin semuaa.. 🙏🙏🙏 maafkan jika saya pribadi selaku Author sering salah berucap ataupun ada postingan atau komentar serta perlakuan saya yang menyingung..


All of my mistake please to forgive me..


Happy Eid Mubarak guys!!


Selamat Lebaran... 😘😘😘😇😇😇🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2