
#PERNIKAHAN_BEDA_USIA
PART 74
🎈🎈🎈
Gilang dan Mutiara sudah tiba di pulau Bali siang tadi. Dan saat ini keduanya berada di salah satu Resort milik keluarga Dirgantara. Gilang yang baru saja menyelesaikan aktivitas mandinya hanya bisa tersenyum tipis ketika mendapati istrinya tengah tertidur pulas. Ia sadar betul bagaimana kondisi Mutiara. Gilang sebenarnya juga tidak tega kalau harus membiarkan Mutiara melakukan perjalanan jauh. Tapi harus bagaimana lagi. Hanya ini yang bisa dilakukan oleh Gilang, agar Mutiara tidak terlalu mencemaskan keadaan Azka.
Dokter sudah memberikan penjelasan secara detail mengenai kehamilan istrinya yang begitu rawan dan perlu perhatian yang sangat khusus. Mutiara tidak boleh terlalu lelah ataupun banyak pikiran, bahkan pola makannya pun harus di jaga ketat. Tidak boleh telat, bahkan kalau perlu harus lebih sering makan makanan yang bernutrisi. Hal ini disebabkan karena Mutiara tidak hanya mengandung satu bayi, melainkan ada empat bayi.
Gilang awalnya sangat terkejut. Ia tidak tahu harus bahagia atau tidak. Disatu sisi Gilang senang bisa mendapatkan empat anak sekaligus dalam sekali proses. Akan tetapi di lain sisi ia cemas, mengingat usia Mutiara yang masih sangat muda. Gilang takut jika Mutiara akan mengalami kesulitan nantinya. Dokter pun sudah menyarankan pada Gilang agar merahasiakan hal tersebut pada istrinya. Bukan karena apa-apa. Hanya sekedar menjaga hati serta pikiran Mutiara supaya tidak terlalu mencemaskan perihal kehamilannya.
"Aku minta maaf, yank? Karena keegoisanku yang ingin memilikimu sepenuhnya, kamu harus menjalani kehamilan di usia muda seperti ini!" Gilang mengusap perut besar Mutiara. "Pasti sangat berat ya rasanya harus membawa empat bayi di dalam rahimmu? Aku berjanji akan melakukan apapun yang terbaik agar kamu dan calon anak-anak kita bisa melewati semuanya dengan baik hingga proses kelahiran nanti." Gilang mencium perut besar Mutiara. Ia tersenyum bahagia saat dirasa ada sebuah tendangan yang kuat. Gilang tahu kalau calon anak-anaknya bisa mendengar suaranya. "Hallo anak-anak daddy yang baik, kalian harus bisa membuat mommy nyaman ya dan jangan nakal di dalam sana! Sebulan lagi kita akan segera berjumpa." Gilang berbisik kemudian menempelkan wajahnya di perut Mutiara. Lagi-lagi ia bisa merasakan ada beberapa tendangan di dalam sana. Mutiara melenguh kecil. Merasa sedikit tidak nyaman. Mungkin rasa nyeri akibat tendangan yang ada di dalam perutnya.
"Kamu udah selesai mandinya yank?" tanya Mutiara. Gilang mengangguk sambil tersenyum manis. Kemudian membantu Mutiara untuk duduk. "Mandi gih setelah itu kita makan!" ujarnya.
"Aku malas mandi yank, mau langsung makan aja!" Mutiara bergelayut manja. Gilang hanya bisa menggelengkan kepalanya. Kebiasaan jorok Mutiara mulai kambuh. Semenjak kehamilannya, Mutiara memang sangat malas untuk mandi. Tapi apa daya. Itu juga bawaan orok. Toh walaupun tidak mandi. Menurut Gilang, istrinya tetap cantik dan wangi.
"Baiklah, aku pesan makanan sekarang!" Gilang berjalan ke arah nakas meja kemudian menelpon bagian receptionis agar segera mengantar makanan ke kamarnya.
🎈🎈🎈
Di lain tempat tepatnya rumah sakit Medika Kasih, Radit tengah sibuk mengurus segala sesuatu mengenai keperluan operasi Azka dan Clarissa. Ia mengatur sedemikian rupa, agar keluarga Gilang tidak mengetahui bahwa pendonor untuk Azka sebenarnya adalah Clarissa.
Bukan hal yang sulit bagi Radit untuk melakukan semua itu. Apalagi dengan kekuasaan yang dimilikinya, hanya dengan menjentikan jari kelingkingnya saja. Semua bisa teratasi dalam hitungan menit. Dan saat ini ia bahkan sudah berada di depan pintu ruang operasi bersama Kelvin dan kedua orang tuanya. Mereka tengah menunggu berlangsungnya operasi pencangkokan sumsum tulang belakang untuk Azka.
"Kenapa lama sekali sih?" celoteh bu Meisya yang mulai cemas. Mereka sudah menunggu hampir dua jam tapi dokter tak kunjung keluar juga. Ia berjalan mondar-mandir seperti setrikaan.
__ADS_1
Sedangkan Kelvin hanya bisa duduk dan menundukan kepalanya, berdoa semoga semuanya akan baik-baik saja. Kelvin akan merasa menjadi seorang ayah yang gagal jika sesuatu yang buruk terjadi kepada Azka.
Pak Bayu menepuk bahu Kelvin. Ia paham bagaimana perasaan putra keduanya itu."Kau harus percaya bahwa Azka akan baik-baik saja!"
Tak lama kemudiam seorang dokter akhirnya keluar. Ia tersenyum seraya menghampiri keluarga Dirgantara.
"Alhamdulillah semuanya berjalan lancar, hanya saja pasien belum sadarkan diri. Kami akan segera memindahkannya ke ruang perawatan, setelah itu Tuan Dirgantara dan keluarga bisa menjenguk pasien." Dokter memberikan penjelasannya.
Kelvin terduduk di lantai bersujud mengucapkan rasa syukur yang sangat besar. Pak Bayu memeluk bu Meisya yang tengah menangis karena rasa bahagianya. "Pi, cucu kita selamat?" ucapnya disela isak tangisannya.
Radit tersenyum lega. Ia segera menghubungi Tuannya untuk memberikan kabar perihal keberhasilan operasi Azka. Dan setelah itu tugasnya hanya mengawasi Clarissa sampai proses pemulihannya berakhir.
"Dok, bagaimana keadaan pendonor? Apakah kami bisa bertemu dan melihat kondisinya? Kami juga ingin mengucapkan rasa terima kasih karena dia sudah bersedia mendonorkan sumsum tulang belakangnya untuk Azka." Kelvin ingin tahu tentang sosok yang bersedia menjadi pendonor untuk putranya. Radit menoleh, menghentikan niatnya untuk menghubungi Gilang lalu menatap sang dokter seakan memberikan sebuah isyarat.
"Maaf tuan, kami tidak bisa mempertemukan anda dengan pendonor? Itu semua karena dia ingin merahasiakan identitasnya." Radit menghela nafasnya kembali, merasa lega karena sang dokter mau diajak kerja sama.
"Kalau begitu tolong sampaikan kepadanya bahwa kami merasa berhutang nyawa. Jika suatu saat dia membutuhkan bantuan, dia bisa mendatangi keluarga Dirgantara! Kami pasti akan menyambut dan membantunya dengan penuh suka cita!" ujar Kelvin kemudian.
Radit tersenyum kecut. Entah bagaimana reaksi mereka, seandainya mereka tahu bahwa Clarissa lah yang penjadi pendonornya. Radit pun berlalu, meninggalkan keluarga Dirgantara yang masih tak henti-hentinya berucap syukur kepada Sang Maha Pencipta.
🎈🎈🎈
Mutiara dan Gilang tengah duduk bersantai di tepi pantai, menyaksikan matahari yang hampir terbenam. Sungguh hal yang luar biasa bagi keduanya. Baik Gilang maupun Mutiara sama-sama belum pernah menikmati keindahan senja di tepi pantai seperti saat ini.
Kalau Mutiara alasannya jelas, dia hadir dari keluarga yang tak mampu. Jangankan pergi berlibur, untuk makan saja ia harus berhemat. Selain itu, Mutiara juga menghabiskan waktunya untuk belajar agar mendapatkan nilai terbaik. Dengan begitu posisi beasiswanya akan tetap aman. Sedangkan Gilang, bukan materi yang menjadi penghambat untuk menikmati keindahan pantai. Tapi karena dia memang tidak suka dengan pantai.
Dan mengapa saat ini ia bisa berada di tepi pantai. Itu semua karena keinginan Mutiara yang terus saja merengek ingin pergi ke pantai di sore hari. Tentu saja Gilang tak dapat menolak keinginan istrinya.
__ADS_1
"Indah ya, yank?" Mutiara menyandarkan kepalanya di bahu kokoh suaminya.
"Hmmm..." Gilang hanya berdehem, enggan untuk bicara. Bukan marah, tetapi menahan suatu gejolak yang ada di dalam perutnya.
"Yank, kamu marah ya? Karena aku sudah maksain kamu buat pergi ke pantai?" selidik Mutiara mulai merasa ada yang janggal dengan suaminya. Gilang menggelengkan kepala. Badannya sudah terasa berat dan mulai lemas.
Mutiara mengangkat kepala, meraih tangan Gilang untuk digenggamnya. "Yank, kamu kenapa? Badanmu dingin sekali dan wajahmu sangat pucat?" Mutiara panik melihat keadaan Gilang.
Lagi-lagi Gilang hanya menggelengkan kepalanya. Ia tidak mau merusak kesenangan istrinya.
Dert...dert...dert...
Ponsel Gilang bergetar. Gilang berusaha meraihnya dari saku celananya. Tapi karena tangannya gemetar ponsel itu terjatuh. Mutiara segera mengambilkan ponsel milik suaminya.
"Hallo assalamualaikum..." jawab Mutiara. "Ada apa pak Radit?"
"Maaf nona, apa tuan ada?"
"Ada, tapi sepertinya dia kurang enak badan. Tubuhnya menggigil dan sedikit bergetar," jawab Mutiara.
"Memangnya nona dan tuan saat ini berada dimana?" Radit penasaran, ia seperti mendengar suara ombak laut.
"Kami sedang di tepi pantai kuta pak,"
"Nona, sebaiknya bawa tuan pergi dari sana karena memiliki trauma mengenai pantai!" pinta Radit. Mutiara syok. Ia tidak tahu bahwa suaminya memiliki rasa trauma dengan pantai.
"Baiklah pak Radit, terima kasih atas infonya?" Mutiara menutup telephonenya. Ia pun segera beranjak membawa suaminya untuk meninggalkan pantai.
__ADS_1
"Maaf yank, aku tidak tahu kalau kamu punya trauma dengan pantai?" ujar Mutiara, berjalan memapah suaminya.
Semua mata mulai menatap pada keduanya. Mungkin mereka heran dengan wanita berperut besar sedang berjalan terseok-seok sambil memapah seorang laki-laki bertubuh kekar.