
PERNIKAHAN BEDA USIA
Part 49
***
Mutiara terlihat sangat syok. Ia masih kepikiran dengan kejadian yang baru saja dialaminya. Untung Elvina dan Kelvin segera datang, kalau tidak...entah apa yang akan terjadi terhadap dirinya saat ini?
Mutiara sendiri tidak mengerti kenapa pria itu tiba-tiba muncul dan langsung memeluk dirinya begitu saja. Dia bahkan memanggil Mutiara dengan sebutan Clarissa. Memangnya siapa Clarissa itu? Kenapa pria itu sampai mengira dirinya adalah Clarissa? Mungkinkah dia adalah...
Mutiara menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin jika Clarissa adalah Intan, saudaranya. Untuk apa dia harus mengganti nama segala dan lebih parahnya Clarissa memiliki hubungan khusus dengan laki-laki yang seharusnya menjadi seorang paman baginya.
"Kakak Ipar, apa kamu baik-baik saja?" tanya Kelvin sedikit cemas karena Mutiara masih melamun saja.
"Oh...iya aku baik-baik kok. Terima kasih karena kamu dan Elvina sudah menolongku tadi" balas Mutiara.
"Kenapa kakak ipar harus berterima kasih? Bukankah kita adalah keluarga?" cicit Kelvin.
"Apa yang dikatakan oleh kak Kelvin benar, Mutiara. Kita semua adalah keluarga. Jadi tidak perlu ada kata terima kasih dalam sebuah keluarga," timpal Elvina.
Mutiara tersenyum lalu menganggukan kepala. Ia sangat bersyukur karena hidupnya saat ini telah di kelilingi orang-orang yang begitu tulus dalam menyanyangi dan mencintai dirinya.
***
Di kantor, Gilang tidak lagi bisa berkonsentrasi dalam bekerja. Ia terus memikirkan bagaimana kondisi istrinya. Meskipun Gilang sudah meminta Kelvin pulang agar bisa mengawasi Mutiara dari dekat. Tetap saja hati Gilang tidak bisa tenang. Ia masih khawatir jika Clarissa berusaha menemui Mutiara.
"Maaf Tuan Muda, di ruang meeting sudah ada pak Herman dan secretarisnya." Radit membuyarkan lamunan Gilang.
"Hmmm...baik lah kita ke ruang meeting sekarang! Oh ya...Dit, tolong kamu minta para pengawal untuk memperketat penjagaan rumah! Terutama untuk istriku!" Gilang mengintruksi.
"Baik Tuan Muda," balas Radit.
Gilang beranjak dari kursi kebesarannya. Ia melangkah meninggalkan ruangan CEO dan menuju ke ruangan meeting.
Sementara itu, Radit menghubungi anak buahnya. Meminta mereka agar memperketat penjagaan Mutiara dan rumah tuannya. Usai melakukan itu, Radit segera menyusul Gilang ke ruangan meeting.
Di ruangan Meeting, Gilang terus saja menatap ke arah pak Herman dan secretarisnya. Jari-jari tangan kanannya mengetuk meja secara berulang kali. Hingga membuat hati pak Herman dan secretarisnya merasa ciut lantaran takut.
"Kau tahu kenapa aku memanggilmu ke sini, pak Herman?" Gilang mulai angkat bicara.
"Ti...ti...dak Tu...tu...an," Pak Herman gugup.
Gilang menyeringai, wajahnya terlihat memerah. Ia sudah berusaha menahan emosi sejak pertama kali melihat wajah pak Herman, salah satu Director di kantor cabang miliknya.
Gilang meraih map berwarna hijau kemudian ia lempar tepat di wajah pak Herman.
"Berani-beraninya kau memanipulasi data keuangan perusahaan keluarga Dirgantara!! Apa kau sudah bosan untuk hidup hah...?!!" teriak Gilang.
Pak Herman dan secretarisnya menunduk takut. Tubuh mereka bergetar hebat. Darimana bosnya bisa tahu kalau mereka berdua sudah melakukan sebuah kecurangan.
"Tuan Muda, tolong ampuni kami...kami benar-benar tidak bermaksud untuk korupsi. Kami terpaksa melakukan hal itu, " ujar pak Herman seraya berlutut di hadapan Gilang. Begitu pula dengan secretarisnya.
"Kau bilang tidak bermaksud untuk korupsi? Tapi kenapa kau sampai melakukannya secara berulang kali, hah...?!!" Gilang menendang pak Herman sampai jatuh terpental ke dasar lantai.
__ADS_1
"Kau kira aku bodoh hah...?" Gilang menatap tajam ke arah pak Herman.
"Radit, lebih baik kau yang urus mereka!! Jangan sampai aku melihat wajah mereka berada di sekitarku!!" Gilang memberikan perintahnya.
"Baik Tuan Muda," jawab Radit.
Radit yang dibantu oleh beberapa mengawal membawa paksa pak Herman dan secretarisnya pergi berlalu dari ruangan meeting.
Pak Herman terus saja berteriak meminta ampunan dari Gilang. Pak Herman tahu setelah ini ia akan dibuat babak belur oleh anak buah Radit dan hidupnya pasti akan sengsara alias berakhir dalam bui.
"Ck...siapa suruh kau bermain-main dengan keluarga Dirgantara!!" guman Gilang.
Gilang memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana, kemudian berjalan meninggalkan ruangan meeting. Semua karyawan menunduk, mereka takut akan bernasib sama dengan kedua orang yang dibawa oleh anak buah Radit.
"Risma, batalkan semua pertemuan hari ini!! Dan jika ada yang mencariku, katakan saja kalau aku sudah pulang!!" Gilang berseru pada secretarisnya.
"Ba..ba..ik pak," balas Risma merasa sedikit gugup.
Menjadi secretaris bagi seorang Gilang, membuat Risma sedikit mengetahui bagaimana perilaku bosnya yang sebenarnya.
Dulu saat pertama kali masuk, tepatnya satu tahun yang lalu...Risma sempat membenci bosnya. Itu semua disebabkan oleh perilaku Gilang yang suka merendahkan harga diri dari kaum wanita.
Gilang pernah meminta Risma menjadi teman kencannya dalam waktu semalam dengan iming-iming akan berikan uang yang sangat fantastis serta dinaikan gajinya menjadi dua kali lipat. Namun saat itu Risma menolak, bahkan sampai memaki sang bos.
Gilang sangat marah tentunya. Akan tetapi dia bisa menghargai kemarahan dari Risma. Semenjak itu Gilang tidak pernah lagi meremehkan Risma. Dia bahkan meminta maaf kepada Risma dengan dalih hanya ingin memberikan ujian pada secretarisnya, apakah Risma termasuk wanita yang matre atau tidak.
***
Mobil Gilang memasuki pelataran Kediaman Keluarga Dirgantara. Entah mengapa sejak tadi ia tidak bisa berhenti memikirkan istrinya. Gilang merasa bahwa Mutiara sedang berada dalam masalah.
"Selamat sore," balas Gilang.
Gilang turun dari mobilnya kemudian segera memasuki rumah kedua orang tuanya.
Sepi, hanya ada para pelayan yang tengah sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Lalu dimana mereka? Gilang mengernyitkan dahinya.
"Selamat datang Tuan Muda," sapa salah satu seorang pelayan.
"Dimana istriku?" tanya Gilang.
"Nona Mutiara sedang beristirahat di kamar nona Elvina, Tuan Muda." Jawab pelayan tersebut.
Gilang mengangguk. Ia langsung menuju kamar atas untuk menyambangi keberadaan istrinya.
Di kamar Elvina tampak Mutiara tengah tertidur. Gilang tersenyum kemudian mendekati Mutiara. Mungkin benar jika dia terlalu berlebih dalam mengkhawatirkan istrinya. Gilang terlalu takut kehilangan Mutiara, ia tidak mau sampai gagal untuk kedua kalinya dalam menjalin hubungan dengan seorang wanita.
Gilang mengusak puncak kepala Mutiara dan memberikan kecupan singkat di keningnya.
"Yank..." Mutiara membuka kedua matanya, kemudian menghambur memeluk suaminya.
Gilang terkejut. Apalagi setelah merasakan tubuh Mutiara sedikit bergetar. Mutiara menangis dalam pelukannya.
"Kamu kenapa nangis yank?" tanya Gilang.
__ADS_1
Mutiara diam. Ia tidak tahu apakah harus menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya atau tidak. Jika ia bercerita, pasti Gilang akan memarahi Elvina. Tapi kalau tidak? Mutiara takut seandainya bertemu lagi dengan pria itu.
Mutiara bisa melihat bagaimana ekspresi pria itu, dia seperti memendam amarah yang cukup besar.
"Kak Gilang..." panggil Elvina.
Gilang menoleh. Elvina juga terlihat ketakutan.
"Ada apa ini? Apa ada sesuatu yang sudah terjadi?" tanya Gilang.
"Ma-ma-af...i-i-ni...salahku," Elvina terbata. Ia sangat gugup.
Kelvin menepuk bahu adiknya. Ia tahu kalau Elvina takut Gilang akan marah.
"Biar kakak yang jelasin semuanya pada kak Gilang!" ujar Kelvin.
Elvina mengangguk. Mungkin lebih baik Kelvin yang bercerita tentang kejadian yang baru saja menimpa sahabatnya.
Kelvin mengajak Gilang ke luar kamar.
"Kelvin, ada apa sebenarnya?" tanya Gilang setelah mereka berdua berada di luar kamar Elvina.
Kelvin menghela nafas panjang, lalu mulai bercerita kepada Gilang mengenai Mr. Steve yang tiba-tiba datang memeluk Mutiara. Mr. Steve mengira jika Mutiara adalah Clarissa.
Gilang mengepalkan tangannya dengan hati yang mulai tersulut oleh emosi. Belum bertemu saja, Clarissa sudah membawa masalah untuk Mutiara. Apalagi kalau mereka sampai bertemu? Gilang semakin tidak rela jika istrinya tahu bahwa saudari kembarnya saat ini berada di sekitarnya.
***
Mr. Steve sangat marah. Ia merasa sudah dikhianati dan dipermalukan oleh Clarissa, wanita yang ia cintai melebihi cintanya kepada keluarganya sendiri.
Mr. Steve bahkan sudah memberikan apapun yang menjadi keinginan Clarissa. Tanpa pernah melakukan perhitungan secuil pun. Bagi Mr. Steve membahagiakan Clarissa menjadi tujuan dari hidupnya. Ini semua bisa dianggap konyol, tapi nyatanya rasa cinta Mr. Steve kepada Clarissa begitu besar. Sehingga mampu membutakan mata hati Mr. Steve.
"Dasar wanita j*****!! Berani-beraninya dia melakukan ini padaku, aku bersumpah tidak akan mengapuni dirinya!!" ujar Mr. Steve mengamuk.
Ia mulai menghancurkan barang-barang yang ada di sekitarnya. Mr. Steve tidak habis pikir kenapa Clarissa sampai hati melakukan ini kepadanya. Padahal demi Clarissa, Mr. Steve berniat untuk meninggalkan anak dan istrinya. Ia berniat ingin menikahi Clarissa.
***
Gilang dan Mutiara sudah tiba di rumah. Mereka langsung menuju kamar. Tidak ada pembicaraan sama sekali. Keduanya tampak dalam pemikiran masing-masing.
Gilang merasa saat ini pasti Mutiara masih terlalu syok dengan apa yang telah menimpanya hari ini. Dia tidak ingin menambah beban pikiran istrinya. Gilang akan memberikan pelajaran yang setimpal kepada Mr. Steve karena sudah berani mengganggu Mutiara.
"Yank, kamu langsung saja istirahat ya! Aku tidak ingin kamu sampai jatuh sakit!" pinta Gilang.
Mutiara mengangguk. Ia tahu betul jika Gilang sedang marah. Hanya saja Gilang berusaha menyembunyikannya.
"Maaf..." cuit Mutiara.
"Maaf...karena sudah tidak melanggar perintahmu?" lanjut Mutiara. Ia menundukan kepalanya.
Gilang menghela nafas panjang. Ini yang paling tidak bisa ia lihat. Kesedihan istrinya.
"Aku tidak marah yank, aku hanya terlalu takut sesuatu yang buruk menimpa kamu dan calon anak kita" Gilang memeluk Mutiara.
__ADS_1
"Kamu kan tahu kalau kalian itu adalah hal yang paling berharga dalam hidupku," jelas Gilang.
Gilang bisa merasakan tubuh istrinya kembali bergetar. Mutiara menangis lagi. Gilang sedikit menjauhkan tubuh Mutiara dan menyeka air mata yang mulai berjatuhan membasahi pipi istrinya.