Pernikahan Beda Usia

Pernikahan Beda Usia
#PERNIKAHANBEDAUSIA_32 (REVISI)


__ADS_3

#PernikahanBedaUsia


Part 30


-----


Mutiara menyambut kedatangan suaminya dengan antusias. Ia hanya ingin segera memberitahukan kabar baik mengenai kelulusannya pada sang suami. Selain itu, ia juga berniat menyampaikan keinginannya untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang kuliah. Mutiara sangat berharap jika Gilang akan memberikan izin kepadanya untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.


"Yank, kamu terlihat sangat lelah, apa ada masalah di kantor?" cuit Mutiara ketika mendapati wajah suaminya tampak lesu. Gilang menggelengkan kepala.


Mutiara membantu suaminya melepaskan dasi yang masih melekat sempurna pada kemeja putihnya. Ia akui bahwa sang suami merupakan tipe orang yang selalu menjaga penampilan serta kerapian.


"Yank, kamu mandi dulu gih! Aku sudah siapin air panasnya. Habis itu baru kita makan malam," cuit Mutiara. Ia mengulas senyum manis di bibirnya.


Gilang mendongakan wajah Mutiara. Kemudian memberikan kecupan singkat pada keningnya dan turun hingga ke bibir.


"Makasih ya, yank. Karena kamu sudah mau jadi istri yang sabar dan mengerti aku," ucap Gilang setelah mengakhiri ciumannya.


Mutiara mengangguk, ia mengusap lembut geraham suaminya.


"Itu memang sudah menjadi kewajiban seorang istri," jawabnya kemudian.


Gilang memeluk Mutiara. Hatinya terasa damai dan tenang. Sejenak ia bisa melupakan semua permasalahan yang ada.


"Maaf yank, untuk saat ini aku nggak bisa jujur sama kamu. Tapi percayalah kalau aku hanya ingin melindungimu saja," lirih Gilang dalam hati.


Gilang melepas pelukannya. Ia menatap kedua manik mata istrinya. Teduh dan jujur, itulah yang ia rasakan saat ini.


*Kruk


Mutiara menggigit bibir bawahnya. Dalam hati ia terus menghujati perutnya yang sama sekali tidak bisa diajak kompromi.


"Sepertinya aku harus segera mandi, kalau tidak...istriku bisa kelaparan!" Gilang menyipitkan sebelah matanya, lalu terkekeh saat wajah Mutiara mulai merona.


Usai membersihkan diri, Gilang mengajak istrinya untuk segera turun ke ruang makan. Mereka tampak harmonis dan bahagia. Semua orang yang melihat pasti dibuat iri oleh mereka.


"Malam ini kamu masak apa yank?" tanya Gilang.


"Maaf yank, hari ini aku nggak masak. Tadi habis dari sekolah, mami langsung jemput dan ngajakin aku sama Elvina untuk ngemall. Jadi mbak Ratna yang masak," cicit Mutiara merasa bersalah.


Gilang sangat menyukai masakannya, itu sebabnya dia ingin dirinya yang memasak.


Gilang tersenyum, ia mengusap puncak kepala istrinya dengan sangat lembut.


"Ya udah nggak apa-apa kok. Masakan mbak Ratna juga lumayan enak," ucap Gilang kemudian.


Mereka duduk di ruang makan. Mutiara mulai menyendokan nasi dan lauk pauk untuk suaminya. Kemudian baru untuknya sendiri.


Suasana hening. Hanya ada suara dentingan antara sendok dan garpu yang saling bertemu di atas piring. Mereka sudah membiasakan diri untuk tidak bicara saat makan.


"Yank, aku mau ngomong sesuatu boleh?" cuit Mutiara setelah selesai makan.


"Mau ngomong apa yank?" tanya Gilang


"Itu soal sekolah aku," jawab Mutiara.


"Boleh, tapi di kamar ya? Badan aku rasanya udah pada pegel semua," cicit Gilang.


"Ok! Kalau begitu aku bantuin mbak Ratna beresin meja makan setelah itu kita baru ke kamar. Nanti aku ngomong sambil pijetin kamu," Mutiara tersenyum lebar menampilkan deretan gigi putihnya.


"Pijet plus-plus kan?" goda Gilang menaik-turunkan kedua alisnya.


"Ikh...kalau itu mah kamu paling cepet!" bibir Mutiara mengerucut, namun tidak menutupi wajahnya yang sudah merona.

__ADS_1


Gilang terkekeh. Ia tahu meskipun sudah melakukannya berkali-kali, istrinya tetap merasa malu jika ia berbicara hal yang vulgar. Mungkin inilah efek menikahi seorang gadis yang masih remaja.


"Tapi kamu suka kan yank?" bisik Gilang semakin menggoda. Ia beranjak meninggalkan istrinya sendirian di meja makan.


Mata Mutiara membulat, wajahnya semakin memerah. Apalagi saat Gilang sudah mengecup singkat bibirnya sebelum ia pergi dari meja makan.


'Aduh, kenapa aku masih suka deg-degan begini ya?'guman Mutiara menggelengkan kepala.


Mutiara segera memebereskan meja makan. Kemudian meminta tolong kepada mbak Ratna untuk mencuci piring-piring yang kotor. Setelah itu ia segera kembali ke kamar untuk membicarakan tentang keinginannya untuk melanjutkan kuliah.


*Ceklek


Mutiara berdiri mematung, melihat sang suami memegang barang belanjaannya siang tadi bersama mami mertuanya. Ia hanya bisa menggingit bibir bawah ketika suaminya telah membuka satu persatu isi bagi. Gilang mengernyitkan dahi, kemudian ia menunjukan beberapa model lingeria kepadanya.


"Sayang, apa kamu sengaja membeli ini untuk menggoda suamimu?" cuit Gilang, ia menaik-turunkan alisnya.


Mutiara menggelengkan kepala,


"Bukan...yank...bukan begitu," gugup Mutiara. Ia mundur beberapa langkah saat suaminya akan mulai mengarah padanya.


"Itu mami yang beli, kamu sendirikan tahu gimana mami? Kalau dia pengen beliin itu mau tak mau aku harus menerimanya," jelas Mutiara.


"Oh...ya...?" Gilang berhasil menangkap tubuh istrinya. Ia melingkarkan kedua tangannya pada pinggang sang istri.


Mutiara hanya mengangguk.


"Hufh...padahal aku berharap ini adalah inisiatif istriku sendiri untuk membuat suaminya betah di rumah," celetuk Gilang. Ia menoel hidung Mutiara.


Mutiara nyengir kuda, mana ada dia bisa kepikiran sampai kesitu.


"Yeach... Aku tahu kalau istriku masih polos. Tapi lama-lama entar juga mulai mengerti," ucap Gilang.


"Aku akan mengajarimu sayang," bisiknya kemudian.


"Maksud kamu yank...?" tanya Mutiara.


Gilang tak menjawab. Ia membopong istrinya dan membawanya masuk ke kamar lagi. Tak lupa ia mengunci pintunya.


****


Gilang mengakhiri kegiatan panasnya. Ia ambruk dan membaringkan diri disamping sang istri. Tak lupa selimut ditariknya ke atas untuk menutupi tubuh mereka yang polos. Sementara itu, Mutiara langsung membelakangi suaminya. Ia sendiri merasa bingung. Meskipun berkali-kali sudah melakukan hubungan suami istri, akan tetapi ia masih saha merasa malu.


"Terima kasih, sayang. Kamu selalu bisa membuatku merasa puas," bisik Gilang.


Gilang menciumi puncak kepala istrinya, lalu masuk ke dalam curuk leher Mutiara. Ia masih bisa mencium aroma keringat akibat percintaan mereka. Tangan nakalnya mulai mulai melingkar ke perut Mutiara dan mengusapnya lembut.


"Aku berharap akan segera hadir seorang malaikat kecil di dalamnya. Dengan begitu aku tidak akan lagi merasa takut jika suatu saat nanti kamu akan pergi meninggalkan aku," ucap Gilang yang menohok hati Mutiara.


Mutiara kembali ragu, ia bingung apakah harus mengatakan keinginannya atau tidak! Ia ingin sekali melanjutkan kuliah tapi bagaimana dengan suaminya? Apakah dia akan memberikan izin?? Sementara ia sangat berharap ingin memiliki seorang anak.


"Yank..." cuit Gilang.


"Hmmm..."


"Bagaimana kelulusanmu? Apakah kamu dinyatakan lulus dengan nilai yang terbaik?" tanya Gilang.


Ia membalikan tubuh Mutiara agar berhadapan dengan dirinya. Mutiara mengangguk saja.


"Itu bagus! Terus kamu ingin melanjutkan kuliah dimana? Bukankah kamu bercita-cita ingin menjadi seorang dokter?" tanya Gilang lagi.


Mutiara menatap mata elang suaminya. Apakah dia tidak salah mendengar? Suaminya menanyakan dimana ia akan melanjutkan kuliah?


"Emang kamu kasih izin kalau aku ingin melanjutkan kuliah?" Mutiara ingin memastikan bahwa ia tidak salah dengar.

__ADS_1


"Aku pasti akan memberikan izin padamu, yank. Itukan cita-citamu sejak dulu, sebagai suami tentunya aku harus selalu mendukung apa yang sudah menjadi cita-cita dari istrinya." Gilang membelai wajah Mutiara.


"Makasih ya yank...Aku beruntung sekali bisa memilikimu sebagai suami," cuit Mutiara merasa haru. Matanya mulai berkaca-kaca.


"Justru akulah yang sangat beruntung karena sudah memilikimu di dalam hidupku. Aku telah menemukan tujuan hidup yang sesungguhnya, kamu dan calon anak-anak kita nantinya yang akan menjadi tujuan hidupku sekarang." Gilang meraih istrinya untuk masuk ke dalam dekapannya yang hangat.


Mutiara lagi-lagi hanya bergeming. Ia berharap waktu akan berhenti agar dia bisa merasakan perasaan hangat seperti ini lebih lama. Sikap Gilang dari hari ke hari semakin membuat cintanya bertambah besar. Ia menjadi sangat bergantung kepada sang suami. Mutiara tidak tahu apa yang akan terjadi kepada dirinya jika suatu hari nanti Gilang berubah pikiran dan memilih untuk meninggalkan dirinya.


"Lebih baik sekarang kita tidur saja! Besok baru kita pikirkan kampus mana yang cocok untukmu," cuit Gilang.


Mutiara mengangguk, ia menurut saja dengan suaminya. Ia menyunggingkan senyuman yang mengandung arti sebuah kelegaan. Mutiara semakin membenamkan wajahnya ke dada bidang suaminya. Kemudian mulai memejamkan kedua matanya.


Begitu pun dengan Gilang, ia segera memejamkan matanya. Menyambut mimpi yang indah bersama sang istri tercinta.


****


Pagi ini Mutiara tidak datang ke sekolah melainkan ikut pergi bersama sang suami ke kampus Dirgantara. Disana ia ingin melihat-lihat seperti apa suasana kampusnya. Bukannya apa-apa? Mutiara masih ingat betul bagaimana saat pertama kali ia memasuki SMU Dirgantara. Banyak murid yang memandang rendah keadaannya karena ia berasal dari keluarga miskin. Mutiara tidak ingin semua itu terjadi. Ia mau kuliah di tempat dimana ia bisa menemukan orang-orang yang tidak melihat seseorang dari status belaka.


Sebenarnya sih dengan statusnya yang sekarang tidak akan ada masalah untuknya apabila ia ingin kuliah di kampus Dirgantara. Apalagi jika semua orang tahu bahwa ia adalah menantu dari pemilik kampus, pastinya mereka akan merasa segan dan terus berbuat baik kepadanya. Namun bukan itu yang diharapkan oleh Mutiara. Ia tidak ingin orang-orang berbuat baik kepada dirinya karena ia adalah istri dari Alvian Gilang Dirgantara. Mutiara ingin mencari teman atau sahabat yang bisa menerimanya dengan tulus tanpa adanya embel-embel nama suaminya.


"Gimana yank...apa kamu suka dengan kampusnya?" cuit Gilang saat istrinya sudah berada di dalam mobil.


"Emmm...bagus sich yank, meski masih ada beberapa mahasiswa yang berlagak sok cantik dan populer. Tapi aku rasa itu wajar, di kampus lain pasti juga ada yang seperti itu" terang Mutiara.


Mutiara berpikir sejenak. Kampus Dirgantara memang terkenal sebagai kampus terbaik di jakarta. Selain tempatnya yang luas, para mahasiswanya pun banyak yang ramah. Meski masih ada segelintir mahasiswa yang sok berkuasa. Mutiara bisa memakluminya.


"Ok, aku mau masuk kampus Dirgantara. Tapi dengan satu syarat...." ucap Mutiara kemudian.


"Syarat? Syarat apaan?" tanya Gilang.


"Aku tidak keberatan jika statusku sebagai seorang istri diketahui oleh orang lain tapi aku tidak mau kalau mereka sampai tahu bahwa suamiku merupakan anak pemilik dari kampus ini," jawab Mutiara.


Gilang mengernyitkan dahi, ia merasa bingung dengan pola pikir dari istrinya.


"Aku hanya nggak mau kalau nantinya ada seseorang yang ingin berteman denganku itu hanya gara-gara aku adalah menantu dari pemilik kampus ini," terang Mutiara lagi.


Mutiara mengerti akan sikap suaminya. Setiap wanita pasti akan berbangga hati bisa memiliki suami yang memiliki nama hingga manca negara. Tapi apa yang sudah ia lakukan saat ini? Mutiara malah tidak ingin orang-orang tahu bahwa ia adalah menantu dari keluarga Dirgantara.


"Kamu memang wanita yang hebat, yank. Aku bangga memiliki istri sepertimu! Dan syarat yang kamu ajukan aku akan setujui," Gilang mengacak pelan rambut istrinya.


"Yank..." protes Mutiara.


"Maaf yank, habisnya aku gemas kalau melihat wajahmu yang merona seperti itu. Rasa-rasanya aku ingin langsung memakanmu sekarang juga!" cuit Gilang.


Mutiara mendelik tak percaya.


"Dasar suami mesum! Emang belum cukup apa dengan olah raga pagi ini? Tubuhku aja rasanya masih remuk gara-gara ulahnya." Mutiara mencebik dalam hati.


Ia tidak ingin menanggapi omong kosong dari suaminya. Bisa-bisa ia akan menerkamnya saat ini juga.


***🍁🍁🍁***


Author udah up lagi ya


maaf kalau agak lama


soalnya lagi mendekati hari lanching baby kedua


jangan lupa untuk like, koment dan vote ya


hatur nuwun


salam dari authorπŸ™πŸ™πŸ™πŸ˜˜πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜πŸ˜πŸ˜

__ADS_1


__ADS_2