Pernikahan Beda Usia

Pernikahan Beda Usia
#PERNIKAHANBEDAUSIA_79


__ADS_3

#PERNIKAHAN_BEDA_USIA


PART 79


💤💤💤


Seorang gadis datang bersimpuh kepada Gilang, memohon ampun atas kesalahan yang sudah diperbuatnya. Ia sangat menyesal karena sudah menghina Mutiara. Namun sungguh bukan dirinya yang menyebabkan Mutiara terjatuh. Indri hanya mengikuti kemauan dari Gea yang notabandnya adalah anak dari atasan ayahnya.


Indri sendiri tidak pernah menyangka bahwa tindakan yang dilakukan oleh Gea akan sampai sejauh ini. Biasanya mereka hanya akan sebatas menghina atau pun merendahkannya saja, tapi tidak sampai mencelakai Mutiara.


"Tuan, tolong maafkan dan ampuni saya? Saya benar-benar tidak tahu kalau Mutiara adalah istri tuan! Tolong lepaskan keluarga saya, mereka sama sekali tidak bersalah tuan?" Indri bersujud di hadapan Gilang, berharap pria itu akan memiliki sedikit nurani untuknya dan keluarganya.


Indri tidak mau hanya gara-gara kesalahannya, semua keluarganya harus menerima akibatnya. Apalagi kedua adiknya masih sangat kecil dan ibunya mulai sakit-sakitan akibat penyakit yang dideritanya.


Radit memang sudah menjalankan perintah dari Gilang. Ia sengaja membuat perusahaan orang tua Gea mengalami kebangkrutan dalam waktu beberapa jam saja. Tidak cukup sampai disitu. Radit juga sudah memblacklist nama perusahan orang tua Gea, agar tidak ada satu pun perusahaan yang mau menolongnya.


Hal itu pun juga sangat berpengaruh pada keluarga Indri. Ayah Indri harus kehilangan pekerjaannya. Namanya pun ikut terblacklist, sehingga ayah Indri akan mengalami kesulitan dalam mencari pekerjaan. Dan dampaknya akan berimbas pada ekonomi keluarga. Sedangkan saat ini ibunya sedang membutuhkan banyak biaya. Kalau ayahnya tidak bekerja, bagaimana caranya bisa mendapatkan uang untuk pengobatan ibunya dan biaya hidup keluarganya.


Indri benar-benar tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Ia hanya bisa meminta pengampunan dari Gilang, tak perduli jika ia harus bersujud atau mencium kaki pria itu. Asalkan keluarganya bisa lolos dari kemarahan Gilang.


"Kamu pikir dengan kamu meminta maaf saja bisa membangunkan istriku hah..?" bentak Gilang.


"Lihat lah istriku disana, dia tengah terbaring koma! Dan di ruang inkubator sana ada empat bayi yang sedang berjuang agar bisa bertahan karena harus lahir sebelum waktunya. Apa kamu pikir dengan meminta maaf kamu bisa mengembalikan semuanya seperti sedia kala, hah..?!"


Indri hanya menggelengkan kepala. Lidahnya kelu dan tubuhnya bergetar. Ia bahkan tidak berani menatap wajah pria itu. Suara Gilang menggelegar bak petir yang menyambar. Wajah Indri menjadi semakin pucat karenanya.


Arif dan Elvina hanya bisa menonton saja. Mereka ikut ngeri melihat wajah Gilang yang sedang menahan kemarahannya.


"Pergi kau dari sini! Aku tak sudi melihat wajahmu yang palsu itu!" ujar Gilang tanpa mau melihat Indri yang masih saja bersujud di hadapannya.


"Saya mohon tuan, tolong ampuni dan lepaskan keluarga saya? Saya mohon dengan sangat tuan?" Indri masih berusaha memohon ampunan dari Gilang.


Namun pria itu tak menggubris. Ia malah memanggil keamanan supaya mengusir Indri dari tempat itu.

__ADS_1


Indri terus meronta dan berteriak meminta Gilang supaya mengasihi nasib keluarganya. Tapi tetap saja tidak mengubah keadaan apa pun.


💤💤💤


Di lain tempat ada Gea yang masih belum percaya sepenuhnya pada berita miring yang mengatakan bahwa perusahaan milik keluarganya mengalami kebangkrutan. Gea ingin bertanya langsung pada keluarganya tentang kebenaran berita tersebut. Ia berulang kali mencoba menghubungi kedua orang tuanya, tapi tidak bisa. Gea mulai merasa frustasi. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa sekarang.


Gea ingin sekali kembali ke Jakarta, tapi tidak ada uang. Semua kartu debet ataupun kartu kerdit miliknya, tiba-tiba saja diblokir. Sedangkan rombongan dari SMU Dirgantara sudah dipulangkan sejak kemaren tanpa dirinya maupun Indri.


Gea menangis kebingungan. Ia tidak tahu harus kemana lagi. Walaupun sering berlibur ke pulau bali bersama keluarganya, tapi tetap saja ia merasa asing. Apalagi tanpa adanya uang sepeser pun.


Gea sudah terlunta-lunta di jalanan dengan tanpa tujuan yang pasti sejak sedari pagi, setelah diusir paksa dari resort tempatnya menginap. Gea mulai merasa perutnya sakit dan melilit, ia lapar karena belum makan sama sekali.


"Kau lapar?" tanya seorang gadis yang tiba-tiba berjalan mengiringinya.


Gea tersenyum kecut. "Apa perdulimu?" sinisnya.


Gadis itu hanya bisa menggelengkan kepala. Ia hafal betul bagaimana tabiat dari Gea yang selalu angkuh dan sombong. Mungkin karena dia sudah terbiasa hidup serba wah. "Ini makan lah!" gadis itu menyodorkan sebuah roti pada Gea. "Maaf aku hanya bisa membeli roti saja? Uangku tak banyak, jadi kita harus berhemat! Kau sendiri tahu kan bagaimana nasib kita saat ini, tak jelas dan entah sampai kapan? Mungkin bisa jadi kita akan menjadi gembel seutuhnya di pulau bali ini untuk selamanya!" celoteh gadis itu panjang lebar, berharap Gea akan menyadari kesalahannya.


Gadis itu lagi-lagi hanya bisa menggelengkan kepala, merasa heran dengan sifat yang dimiliki oleh Gea. Bagaimana caranya dia mau membalas, kalau hidup keluarganya saja sudah melarat. Mereka benar-bebar jatuh miskin. Mau makan pun sekarang ayah Gea harus turun ke jalanan, mengemis demi mendapatkan pengasihan dari orang lain. Gadis itu bisa tahu bagaimana nasib keluarganya Gea dari ayahnya.


"Indri, apa kamu sudah bisa menghubungi ayahmu?" tanya Gea pada Gadis itu.


"Bukan kah sudah aku katakan, pagi ini ayahku menelphon. Dia bilang keluargamu sudah bangkrut dan jatuh miskin! Tak seorang pun dari kolega bisnisnya yang mau membantu dan alhasil mereka harus hidup seperti kita, terlunta-lunta tanpa tujuan yang pasti. Ayahku saja berusaha mencari pekerjaan lain, tapi tidak dapat lantaran namanya sudah diblacklist oleh perusahaan manapun!" jawab Indri panjang lebar.


Gea terdiam. Tangannya mengepal kuat. Bukannya menyadari akan kesalahan yang sudah diperbuatnya, Gea malah justru semakin membenci Mutiara. Ia pergi meninggalkan Indri seorang diri.


"Gea, kau mau kemana?" seru Indri. Ia setengah berlari mengejar Gea. Takut jika sahabatnya itu akan bertambah nekad.


Gea tidak menggubrisnya. Ia terus melangkahkan kakinya dengan cepat. Hatinya seakan memanas. Ia berniat pergi ke rumah sakit dimana Mutiara dirawat. Jika hidup keluarganya hancur, maka Mutiara juga harus musnah dari muka bumi ini. Pikir Gea.


💤💤💤


Sudah dua puluh jam lebih Mutiara terbaring koma, tapi belum menunjukan adanya tanda-tanda bahwa ia akan membuka mata. Gilang masih berada dengan posisinya, senantiasa menjaga istrinya dengan baik. Ia bahkan sampai mengabaikan dirinya sendiri. Gilang tidak mandi ataupun makan. Setiap Radit membawakan makanan, Gilang tidak pernah menyentuhnya sama sekali. Ia sudah bulat dengan keputusannya. Selama Mutiara belum membuka mata, maka selama itu pula ia akan tetap berpuasa.

__ADS_1


Bu Meisya dan Radit tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka sudah sering berusaha membujuk Gilang agar mau makan, namun Gilang masih kekeh dengan keputusannya. Mereka hanya bisa berharap dan berdoa semoga Mutiara lekas bangun dari komanya, dengan begitu sifat keras kepala Gilang pun bisa teratasi.


Gilang berjalan menuju ruangan ICU, ia baru saja melihat bagaimana perkembangan keempat bayi kembarnya. Gilang merasa lega saat dokter mengatakan bahwa kondisi mereka semakin membaik saja dan bisa segera dipindahkan ke ruangan bayi. Gilang tersenyum tipis. Rasa cemasnya sedikit berkurang. Sekarang ia tinggal fokus dengan istrinya yang tidak kunjung bangun dari komanya.


Gilang menghentikan langkahnya. Ia melihat seorang perawat yang bertindak mencurigakan. Perawat itu ingin menyelinap masuk ke dalam ruang ICU tapi dicegah oleh seorang perempuan yang Gilang tahu siapa namanya.


"Gea please...tolong stop semua ini! Apa salah Mutiara sebenarnya, sampai-sampai kau begitu membencinya?" Indri ingin tahu kenapa Gea senang sekali membully Mutiara.


"Kau tidak perlu tahu kenapa, tapi yang jelas gara-gara Mutiara sekarang hidupku dan keluargaku menjadi sengsara! Mutiara harus mati ditanganku!" jawab Gea penuh dengan kekesalan.


"Apa yang terjadi pada kita sekarang bukan lah kesalahan Mutiara, melainkan karena perbuatanmu itu sudah sangat keterlaluan! Gara-gara kau menjegalnya, Mutiara dan anak-anaknya hampir celaka! Kau bukan hanya hampir membunuh satu orang tapi lima orang, kau tahu itu?!" tegas Indri.


"Baru hampir kan?" Gea tersenyum kecut. "Aku maunya dia dan anak-anaknya langsung mati!"


Indri membulatkan kedua mata. Merasa tak percaya dengan ucapan Gea.


Gilang yang mendengarkan pembicaraan mereka menjadi naik pitam. Gerahamnya mengeras, kedua tangannya mengepal dengan sangat kuat. "Kau benar-benar cari mati!!" ucapnya dengan suara yang lantang, sampai-sampai terdengar oleh banyak orang. Gilang kembali melangkahkan kaki, mendekati kedua perempuan itu.


Tubuh Indri dan Gea bergetar seketika. Mereka bisa melihat dengan jelas adanya kilatan kemarahan dari sorot mata Gilang.


"Kau bilang apa tadi? Kau ingin istriku mati?" Gilang mencengkeram dagu Gea dengan kasar hingga membuat Gea meringis kesakitan. "Jangan mimpi kau!" Gilang mendorong Gea hingga tersungkur tak berdaya.


"Radit, kau urus perempuan sial itu! Beri pelajaran yang setimpal sampai-sampai dia tidak akan berani menampakan wajahnya!" titah Gilang.


"Kau pasti akan menyesal karena sudah membela wanita itu secara mati-matian! Asal kau tahu saja kalau dia itu bukan lah wanita baik-baik, dia itu perusak rumah tangga orang!" pekik Gea membuat Gilang semakin geram.


Radit menampar wajah Gea dengan sangat keras hingga membuat perempuan itu pingsan, kemudian memerintahkan anak buahnya untuk membawa Gea ke suatu tempat.


"Tuan..." Indri hendak bicara tapi dihentikan oleh Gilang dengan menunjukan telapak tangannya. "Radit, kirim kembali perempuan ini ke Jakarta dan biarkan dia berkumpul dengan keluarganya!" seru Gilang pada Radit.


"Baik tuan," patuh Radit.


"Terima kasih banyak tuan Gilang," ucap Indri bahagia. Melupakan nasib yang akan menimpa Gea. Egois memang, tapi mau dikata apa. Berurusan dengan sosok Gilang lebih mengerikan ketimbang harus kehilangan Gea sebagai teman. Lagi pula Gea juga bukan teman yang baik, dia lebih terlihat seperti diktator yang sesuka hatinya memberikan perintah.

__ADS_1


__ADS_2