Pernikahan Beda Usia

Pernikahan Beda Usia
#PERNIKAHANBEDAUSIA_22 (Revisi)


__ADS_3

*****


Hari semakin larut, para tamu pun sudah saling berpamitan satu sama lain. Gilang ingin mengajak istrinya pulang. Tapi setelah melihat wajah lelah Mutiara, ia akhirnya memutuskan untuk menginap saja di rumah kedua orang tuanya. Toh besok weekend, jadi tidak ada salahnya sesekali mereka menginap juga.


"Papi senang pada akhirnya kalian mau juga menginap lagi disini. Sejak kalian menikah kalian seakan melupakan kami sebagai keluarga," sindir pak Bayu


"Maaf ya Pi...kami sudah bikin papi dan mami kecewa," ucap Mutiara sedih.


"Ini bukan salah kamu Mutiara! Ini pasti ulah anak angkuh itu!!" sela bu Meisya.


Gilang sama sekali tidak memperdulikan pembicaraan yang tengah berlangsung antara menantu dan kedua mertuanya. Ia melangkah pergi meninggalkan mereka dan masuk ke dalam kamarnya.


"Sebaiknya kamu lekas ke kamar! Aku mau mandi!!" seru Gilang sebelum benar-benar meninggalkan mereka.


Mutiara mendengus kesal, ingin rasanya ia mencabik mulut suaminya yang terasa amat dingin itu.


"Pergilah Mutiara, sepertinya suamimu sudah mulai bergantung kepadamu! bu Meisya bisa mengerti dengan sikap putranya. Dia senang setidaknya Gilang sudah menerima istrinya dan mulai ada bumbu-bumbu cinta diantara keduanya.


"Makasih ya Mi...atas pengertiannya" ucap Mutiara. Ia segera pergi menyusul suaminya masuk ke dalam kamarnya.


Kelvin tersenyum. Meski belum mengenal sepenuhnya bagaimana kakak iparnya? Kelvin yakin jika Mutiara adalah gadis yang sangat baik dan mampu membuat hidup kakaknya menjadi lebih berarti lagi.


🔹


🍁


🔹


Mutiara masuk ke dalam kamar suaminya, tampak Gilang merebahkan badan di atas kasur berukuran king size. Mutiara hanya menggelengkan kepala kemudian mulai menyiapkan segala sesuatu untuk keperluan mandi suaminya. Mulai dari handuk, mengisi air hangat ke dalam bathup yang disertai aromatik, dan mengambilkan baju ganti dari lemari. Setelah semuanya selesai, Mutiara pun mendekati suaminya. Ternyata Gilang telah memejamkan kedua matanya, mungkin efek terlalu lelah.


"Mas Gilang, air hangatnya sudah siap" ucap Mutiara. Tidak ada tanda-tanda yang menunjukan adanya pergerakan dari suaminya. Mutiara semakin mendekat, ia menepuk pelan pipi Gilang.


"Mas...Mas Gilang ayo bangun! Katanya mau mandi, airnya sudah siap. Nanti keburu dingin lho," ucap Mutiara sekali lagi.


Gilang pun akhirnya membuka matanya, kemudian melirik ke arah istrinya. Terlihat cantik apalagi dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.


Gilang menarik tubuh mungil istrinya hingga masuk ke dalam dekapannya dan memeluknya dengan sangat erat. Mutiara yang merasa kaget, menjerit keras hingga terdengar sampai ke luar ruangan.


"Mas Gilang mau ngapain? Tolong lepasin aku? Aku kesulitan untuk bernafas tau nggak?" ronta Mutiara terus memukuli dada bidang Gilang.


"Bisa diam sebentar nggak?!" tegas Gilang.


Mutiara terdiam, membiarkan suaminya melakukan apa yang ia mau. Gilang mengurai pelukannya, ia mengangkat dagu istrinya. Kedua mata mereka saling menyapa satu sama lainnya. Gilang mengusap lembut bibir istrinya kemudian menundukan kepalanya, Mutiara memejamkan matanya. Kedua bibir mereka saling bertemu, me***** satu sama lainnya dengan lembut tanpa disertai adanya sebuah n*fs*.


Cukup lama mereka saling berc**b* mesra hingga pasokan oksigen dirasa habis. Keduanya pun melepas tautan b***r mereka, meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Gilang membalikan tubuh istrinya hingga berada di bawahnya dan kembali menyatukan ***** mereka, tapi kali ini terkesan lebih menuntut. Apalagi saat mendengarkan desahan yang lolos dari bibir istrinya. Gilang pun semakin dipenuhi oleh kabut gairah.


C***** Gilang mulai merambat turun ke bawah. Bergerak melewati gerahang Mutiara yang mungil, lalu menghisap k*l*t le***nya dengan lembut.


*Ceklek


"Mutiara kamu kenapa nak?" tanya bu Meisya panik.


Gilang dan Mutiara kaget, mereka langsung menghentikan aktivitas mereka dan mulai merapikan penampilan masing-masing.


Sementara bu Meisya dan anggota keluarga yang lain hanya bisa berdiri melongo karena tanpa sengaja baru melihat adegan panas.


"Elvina, sebaiknya kita keluar dari sini! Gue nggak mau kalau sampai kepolosan elo ternoda gara-gara ulah kak Gilang," seru Kelvin menarik tangan adiknya.


Mutiara menunduk malu sekaligus merasa takut, sedangkan Gilang masih bersikap cuek seolah tidak melakukan kesalahan apapun.


"Mutiara, apakah dia sudah memaksakan kehendaknya?" tanya bu Meisya garang.


"Maksud mami apaan sih? lihatlah wajah menantumu ini! Apa dia terkesan sedang dipaksa?? Kami melakukannya atas dasar cinta" sewot Gilang. Wajah Mutiara mulai berubah seperti udang rebus.

__ADS_1


"Terus kenapa tadi Mutiara menjerit?" selidik pak Bayu.


"Em...itu...itu karena aku merasa kaget aja mi, pas mas Gilang tiba-tiba narik aku ke dalam pelukannya" jelas Mutiara.


Ia menggigit bibir bawahnya. Rasanya benar-benar sangat memalukan.


Pak Bayu mendesah kasar, dasar pasangan muda yang tidak tahu posisi. Pikirnya.


"Gilang, apa kamu dan Mutiara sudah melakukannya?" selidik bu Meisya masih menatap tajam kepada pasangan suami istri tersebut.


"Mi...Gilang kan sudah janji sama mami untuk tidak melakukannya sebelum Mutiara lulus sekolah," jawab Gilang.


Bu Meisya masih saja menatap mereka secara tajam seolah tak percaya dengan kata-kata putranya.


"Aduh mi...Gilang berani sumpah kalau menantu mami masih perawan!! Aku dan Mutiara hanya sampai sebatas c***an aja, emang juga nggak boleh??" seru Gilang kesal.


Mutiara semakin menunduk karena malu, apalagi suaminya menyebut kata perawan di hadapan kedua mertuanya.


"Baiklah mami percaya! Ingat Gilang, tunggu sampai istrimu lulus! setidaknya sampai selesai melakukan ujian nasionalnya" bu Meisya mengingatkan putranya.


"Iya mami" lirih Gilang.


Pak Bayu berusaha menahan tawanya, sebagai laki-laki ia paham betul bagaimana perasaan putranya. Mana ada pria normal bisa tahan lama-lama jika berada dalam satu ruangan dengan wanita, apalagi sudah sah menjadi suami istri. Tapi harus bagaimana lagi? Istrinya hanya berusaha membuat putranya untuk bisa menahan diri dari godaan hubungan intim dengan seorang wanita saja.


Pak Bayu dan bu Meisya akhirnya meninggalkan kamar anak dan menantunya.


"Ini semua gara-gara mas Gilang!" celetuk Mutiara.


"Gara-gara aku ya..." ucap Gilang memberikan sebuah tatapan intimidasi pada istrinya.


Mutiara hanya bisa nyengir kuda, ia sadar sudah mengatakan sesuatu yang salah. Gilang semakin mendekatkan wajahnya.


"Bukankah tadi kamu juga menikmatinya gadis kecil? " bisik Gilang.


*Blush...


"Dan sepertinya aku sudah berhasil mengajarimu bagaimana cara ber****an dengan baik, buktinya tadi kamu bisa membalasnya dengan sangat lihai" ucap Gilang lagi.


Wajah Mutiara semakin tidak terkendalikan, rona merah sudah terlihat penuh. Gilang pun terkekeh merasa puas bisa mengerjai istri kecilnya yang sangat menggemaskan. Ia memberikan kecupan singkat di bibir Mutiara kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


🔹


🍁


🔹


Malam pun berganti pagi, tapi Gilang seakan enggan untuk membuka mata. Tanganya mulai bergelayar meraba mencari sesuatu. Tidak ada. Gilang pun terpaksa membuka kedua matanya hingga beradu dengan silau sinar mentari pagi. Ia meraih jam weker yang berada di atas nakas meja.


Pukul 07.00 WIB


Pantas saja istrinya sudah tidak ada. Dia pasti tengah berkutit dengan aktivitas paginya, yakni dapur.


Gilang beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


*Ceklek


Pintu kamar terbuka, Mutiara berniat membangunkan suaminya. Tapi dia sudah tidak ada. Mutiara tersenyum saat terdengar gemericik air dari dalam kamar mandi, itu pasti suaminya.


Mutiara mulai merapikan tempat tidur. Ia tersenyum mengingat kejadian semalam setelah mereka mandi. Gilang malanjutkan per*****an mereka dengan mesra, hingga meninggal banyak jejak kepemilikan di dalam tubuhnya. Untung saja suaminya bisa menahan diri jadi mereka tidak sampai melakukan hubungan in***.


"Ternyata suamiku adalah pria yang lembut" lirih Mutiara seraya melebarkan senyumannya.


"Kamu baru tahu kalau suamimu yang tampan ini memiliki kelembutan saat bercinta" Gilang mengagetkan Mutiara.

__ADS_1


Mutiara membulatkan kedua matanya, apalagi saat tangan kekar melingkar ke perutnya. Sejak kapan suaminya sudah ada dibelakangnya? kenapa ia sampai tidak tahu.


"Mas Gilang sudah selesai?" tanya Mutiara membalikan badan.


"Aku ambilin baju ganti ya?" ucapnya lagi. Wajah merona Mutiara kembali muncul ketika melihat suaminya betelanjang dada.


Gilang menggelengkan kepala, ia senang dengan wajah merona sang istri gara-gara ulahnya.


"Mas, semua orang sudah menunggu kita di bawah" cicit Mutiara.


"Baiklah...tapi morning kiss dulu!" pinta Gilang.


Mutiara tersenyum, kakinya sedikit berjinjit kemudian mengecup singkat bibir suaminya.


"Terima kasih istri kecilku, karena kamu sudah hadir ke dalam hidupku. Dan berjanjilah apapun yang akan terjadi jangan pernah kamu berniat meninggalkan aku!" ucap Gilang memberikan kecupan hangat di kening istrinya.


"Aku janji mas... aku tidak akan pernah meninggalkan mas Gilang apapun yang akan terjadi," balas Mutiara kemudian.


Mutiara sangat bahagia. Ia yakin jika suaminya sudah mulai membuka hati untuk dirinya, walaupun belum pernah sekalipun kata cinta keluar dari bibirnya.


Bagi Mutiara kata cinta tidak harus diucapkan secara lisan, tapi cukup dengan sikap dan tindakan. Dan menurutnya... Gilang telah berusaha mengungkapkan isi hatinya, meski selalu tertutup oleh sikapnya yang terkesan arogant dan lebih mengintimidasi.


🔹


🍁


🔹


Keluaraga besar Dirgantara akhirnya bisa melaksana sarapan bersama di ruang makan setelah bertahun-tahun lamanya. Tak ada yang membuka suara, suasananya terasa begitu hening dan nyaman. Hanya terdengar suara dentingan antara piring dan sendok saling beradu. Mereka semua terlihat sangat menikmati menu sarapan paginya. Dan Gilang adalah salah satu orang yang paling bersemangat dalam menghabiskan sarapannya. Ia bahkan sudah nambah dua kali, hingga membuat semua mata melirik ke arahnya.


"Sepertinya ada yang sudah tidak perduli sama bentuk badan sekarang, mentang-mentang sudah laku," sindir Elvina memecahkan suasana yang hening.


Semua orang menatap heran pada Gilang, pria itu sama sekali tidak memberikan responnya. Ia malah asik melahap habis makanan yang masih tersisa di piringnya.


"Ada apa? ada yang salah?" tanya Gilang usai menghabiskan nasi gorengnya.


Semua orang hanya saling menatap satu sama lainnya.


"Mereka hanya heran melihat porsi makanmu yang semakin banyak saja, padahal sebelum ini kamu sangat menjaga pola makan" cicit bu Meisya.


"Oh...itu... Aku juga nggak tahu kenapa sejak merasakan masakan yang dibuat oleh Mutiara, nafsu makanku semakin bertambah" jawab Gilang dengan enteng.


"Kak Gilang nggak takut gemuk lagi? Entar kalau para gadis yang memuja kakak pada kabur gimana?" ledek Elvina.


"Kan sudah ada Mutiara, jadi ngapain gue harus takut," ucap Gilang.


Mutiara nyengir, ia melirik geram ke arah suaminya. Kenapa juga harus bawa-bawa namanya.


"Aku udah selesai" ucap Gilang ngeloyor pergi meninggalkan ruang makan begitu saja.


Tatapan semua orang kini beralih pada Mutiara, mereka benar-benar ingin tahu apa yang membuat Gilang bisa secepat itu berubah.


"Aku benar-benar nggak tahu, sumpah dech!" ucap Mutiara mengacungkan dua jarinya.


"Apa Gilang pernah mengatakan sesuatu padamu? Mengungkap rasa cinta mungkin?" selidik bu Meisya harap-harap cemas.


Mutiara menggeleng, suaminya memang tidak pernah mengatakan kata cinta untuknya.


"Terus kenapa semalam dia bilang kalau kalian melakukannya atas dasar cinta?" tanya bu Meisya lagi.


"Ya karena aku memang mulai mencintai mas Gilang...Mi" jawab Mutiara dengan jujur.


"Tapi akhir-akhir ini mas Gilang lebih sering mengatakan bahwa dia merasa bersyukur karena aku sudah hadir ke dalam hidupnya dan dia memintaku untuk jangan pernah meninggalkan dia apapun yang akan terjadi nantinya" tambah Mutiara.

__ADS_1


Lagi-lagi semua orang saling memandang, ada perasaan lega melingkupi hati masing-masing. Mereka bisa tenang sekarang, setidaknya hati Gilang sudah melunak.


Kelvin yang sudah tahu hanya tersenyum, Mutiara memang gadis yang lugu. Benar kata sang kakak, gadis itu lebih baik tidak tahu tentang persoalan Clarissa, saudara kembarnya.


__ADS_2