Pernikahan Beda Usia

Pernikahan Beda Usia
#PERNIKAHANBEDAUSIA_27 (REVISI)


__ADS_3

#PernikahanBedaUsia


Part 27


*


*


*


Mutiara POV


Hidup ini terlihat begitu lucu bukan?? Aku yang awalnya merasa takut dengan dia kini seakan tidak bisa menjauh barang sedetik pun darinya. Dia yang selalu bersikap dingin dan sok berkuasa dalam mengatur hidupku sekarang menjadi sebaliknya. Ia mencurahkan banyak cinta di dalam kehidupanku. Darinya aku bisa belajar bahwa tidak semua manusia yang terlihat baik adalah orang baik dan orang yang terlihat buruk pun belum tentu dia orang yang jahat.


Suamiku memang terkesan sangat dingin, angkuh dan arogant. Tapi tetap saja dia digandrungi oleh para wanita cantik. Mungkin yang menjadi salah satu alasannya karena dia merupakan pengusaha sukses yang namanya sudah melambung tinggi hingga manca negara. Namun tidak bagiku!


Menurutku mas Gilang adalah tipe laki-laki yang sekalinya jatuh cinta, dia akan terpatri dalam satu cinta itu sendiri. Dan dia akan selalu menjaga serta melindungi cintanya, tidak perduli itu dari badai sekalipun.


Mas Gilang adalah laki-laki yang setia. Mungkin benar dulunya dia sering berganti-ganti pasangan. Itu semua karena adanya suatu sebab, dia belum bisa menemukan wanita yang mampu mengisi hatinya setelah ia dikhianati oleh mantan kekasihnya.


Akan tetapi sekarang sudah berbeda. Aku bisa merasakannya. Dia telah memberikan curahan cinta dan seluruh perhatiannya hanya kepadaku.


Seperti halnya malam ini, saat kami tengah menikmati keindahan sinar bulan di tengah keramaian sebuah taman. Ada banyak wanita cantik datang untuk menggodanya. Aku saja yang duduk disampingnya sampai merasa risih sendiri. Namun tidak untuk dia! Mas Gilang terlihat begitu santai dan tenang tanpa memberikan tanggapan sedikit pun kepada mereka.


"Sama adiknya saja romantis apalagi sama pacar ya? Mau dong dijadiin pacar?" cuit seorang wanita berwajah blesteran.


Wanita itu bahkan terlihat melakukan curi pandang pada mas Gilang, dan sesekali mengedipkan matanya.


Mas Gilang tampak acuh acuh saja. Ia malah memeluk erat diriku dan sesekali melayangkan kecupan di pelipisku.


"Yank, udah malam kita pulang yuk!" ajak mas Gilang padaku. Akupun mengangguk tanda setuju.


Kami segera beranjak dari rerumputan kemudian melangkahkan kaki secara beriringan. Persis lanyaknya pasangan kekasih yang tengah berkencan. Mas Gilang merangkul pinggangku hingga menepis jarak diantara kami.


"Adik berasa pacar ya, romantis banget!"


"Iya betul, gue jadi kepengen punya pacar kanyak dia, pasti dimanjain terus"


"Mau dong punya pacar kanyak dia..."


Sekerumunan para gadis asyik berceloteh tentang mas Gilang. Hatiku mulai panas apalagi saat mereka dengan seenaknya mengatakan bahwa aku ini adiknya.


"Dasar cewek-cewek genit!!" cibirku pelan.


"Kenapa? kamu cemburu?" bisik mas Gilang.


"Ngapain cemburu sama mereka?? Nggak penting!!" aku merasa kesal.


"Masak? terus kenapa bibirnya dimoyongi sampai begitu? Mau dapet sun?" mas Gilang semakin senang, ia terus saja menggodaku.


"Ikh...kamu tuh ya...yank, bukannya nenangin istri malah godain" protesku sambil mencubit pinggang mas Gilang.


"Auwww...yank kok dicubit sih?" mas Gilang kaget, reflek dia melepas tangannya dari pinggangku.


"Itu hukuman buat suami yang suka ngledekin istrinya...Huek..." ku julurkan lidah lalu berlari menjauh dari mas Gilang.


Mas Gilang melotot menanggapi aksiku, dia mulai mengejarku.


"Awas ya...kalau sampai ketangkap nanti!" mas Gilang terus berusaha menangkapku.


#AuthorPOV


Setibanya di Villa Gilang dan Mutiara dikejutkan oleh sebuah pemandangan langka. Mereka melihat seluruh anggota keluarga dan para pekerja asyik berkumpul menonton acara TV bersama. Padahal biasanya jam segini mereka sudah memasuki kamar mereka masing-masing.


Mutiara melirik ke arah suaminya, bibirnya menyunggingkan senyuman yang mengandung sebuah arti. Gilang hanya menautkan alisnya.


"Ada apa?" tanya Gilang kemudian.


Mutiara tidak menjawab, ia merangkul lengan suaminya dan mengajak dia untuk bergabung dengan mereka semua.

__ADS_1


Hufffppp


Gilang mendengus. Maksud hati ingin langsung masuk ke dalam kamar tapi istrinya malah mengajaknya bergabung dengan yang lain.


"Malam semuanya" sapa Mutiara.


"Eh...Mutiara...malam juga sayang, gimana dengan tamannya? suka?" tanya bu Meisya.


"Bagus Mi...aku suka banget" jawab Mutiara dengan wajah berbinar.


"Emmm...apa kami boleh bergabung?" tanya Mutiara.


"Pasti boleh donk sayang, makin banyak orang makin seru. Tapi yakin dapet izin dari suamimu? Lihat...mukanya saja sudah ditekuk begitu!" jawab ibu Meisya melirik ke arah putranya.


Semua orang ingin tertawa, akan tetapi harus mereka tahan. Takut jika ada singa yang akan mengamuk nantinya.


Mutiara tersenyum lagi. Ia menarik suaminya untuk duduk disamping Kelvin.


"Yank..." Gilang merasa tidak senang melihat Mutiara duduk bersisihan dengan adik laki-lakinya.


Mutiara mengerti, ia pun bergeser membiarkan suaminya duduk diantara dirinya dan Kelvin.


"Huhhhh...Sama adik sendiri cemburu!! Dasar suami posesifff" guman Elvina.


"Gue masih bisa denger lho...Vin..." cuit Gilang memberikan tatapan yang tajam. Elvina hanya bisa nyengir kuda dengan menununjukan dua jari berbentuk huruf V.


Pak Bayu dan bu Meisya hanya menggelengkan kepala melihat tingkah putra sulungnya seperti itu. Sedangkan Kelvin... Dia tidak bisa menyalahkan sikap kakaknya. Biar bagaimana pun Gilang bisa bersikap seperti itu, juga merupakan ulahnya sendiri. Dulu sang kakak begitu mempercayai dirinya, tapi ia malah mengkhianati kepercayaan tersebut dengan bermain api di belakangnya bersama dengan Clarissa, mantan kekasih Gilang.


"Mutiara, elo mau cemilan?" tawar Elvina menyodorkan sebungkus citatos berukuran besar.


"Boleh," Mutiara bersemangat.


"Yank...itu nggak sehat lhoh," cuit Gilang.


"Sekali-kali boleh dong...iya kan Mi...?" Mutiara mencari pembelaan dari mami mertuanya.


Lagi-lagi Gilang hanya bisa mendengus. Kalau begini caranya ia bakal kalah telak terus dengan mereka.


"Kamu mau yank? Enak lho..." tawar Mutiara pada suaminya.


"Enggak! aku nggak biasa makan yang begituan" tolak Gilang.


"Mbok, tolong kupasin buah buat aku ya" pinta Gilang pada mbok Darmi.


"Baik Den..." mbok Darmi beranjak dari tempatnya dan pergi ke dapur.


Mutiara lagi-lagi melirik ke arah suaminya.


"Kenapa? Ada yang salah lagi?" cuit Gilang.


Mutiara menggeleng, ia tahu bahwa suami yang ia cintai selalu menjaga baik pola makannya. Tapi sepertinya akhir-akhir ini sudah tidak lagi...


.......


Malam semakin larut, mereka akhirnya membubarkan diri dan kembali ke kamar masing-masing. Gilang, setibanya di kamar... Ia langsung memeluk erat istrinya dari belakang. Memasukan wajahnya ke dalam curuk leher Mutiara. Mengendus serta menikmati aroma khas buah yang berasal dari parfum istrinya.


"Aku tuh suka banget sama bau parfum yang kamu kenakan yank...enak di hidung dan tidak terlalu menyengat, bikin nyaman rasanya" cuit Gilang.


"Masak? bukannya pria biasanya lebih suka wanita yang memakai parfum yang baunya hingga menusuk hidung?" tukas Mutiara.


"Entahlah...tapi yang jelas aku sangat menyukai apapun yang terletak padamu, dan aku merasa seperti ada magnet yang menarikku untuk selalu berdekatan sama kamu" ucap Gilang.


Mutiara melonggarkan pelukan Gilang kemudian memutar badannya. Mereka kini saling berhadapan satu sama lainnya. Mutiara mengalungkan kedua tangannya pada pundak suaminya dan agak berjinjit berusaha mengimbangi tinggi badan suaminya.


"Sejak kapan suamiku jadi raja gombal seperti ini? Bukankah biasanya dia selalu menunjukan sikapnya yang terlalu arogant?" Mutiara menaik-turunkan kedua alisnya. Ia ingin menggoda suaminya.


"Sejak gadis kecil yang ada di hadapannya telah berhasil mengambil jantung hatiku" jawab Gilang yang mulai membungkukan badannya dan menarik tengkuk Mutiara.


Mereka pun mulai menyatukan ***** masing-masing. Dan berakhir dengan sebuah ********** yang panjang.

__ADS_1


"Makasih banyak ya yank...karena kamu sudah bersedia menyerahkan dirimu seutuhnya kepadaku" ucap Gilang berbaring disamping istrinya dalam keadaan *****. Ia pun menarik selimut putih untuk menutupi tubuh mereka.


Mutiara mengangguk, ia berbalik memunggungi suaminya. Wajahnya memerah menahan panas akibat rasa malu. Gilang mengusap puncak kepala istri kecilnya yang kemudian memeluknya dengan erat. Mereka pun akhirnya terlelap bersama.


πŸ”Ή


🍁


πŸ”Ή


Gilang menguap berkali-kali, ia seakan enggan membuka matanya. Tangannya mulai meraba sisi ranjang dimana tempat istrinya tidur. Tapi tidak ada.


Gilang akhirnya membuka matanya, lalu mengitari seluruh ruangan. Tampak Mutiara duduk termenung di depan jendela, sedang menikmati keindahan sang surya di pagi hari.


"Morning yank" sapa Gilang dengan suara puraunya.


Mutiara tersenyum, "Morning juga " cuitnya kemudian.


Ia nampak enggan beranjak dari tempatnya.


Gilang mengusap kasar tengkuknya. Ia tidak menyangka jika istrinya akan lebih menyukai mentari pagi dibanding dengan dirinya yang baru bangun dari tidurnya.


"Apakah mentari pagi lebih seksi dariku? Sampai-sampai dia enggan beranjak dari tempatnya!!" lirih Gilang.


Ia beranjak dari tempat tidur, dan menghampiri Mutiara.


"Yank...kamu tega banget ya, suami bangun bukan disambut malah asyik memandangi mentari," protes Gilang. Mutiara menoleh.


*Blush...


Wajahnya kembali merona melihat suaminya dalam keadaan ***** dan hanya mengenakan boxer pendek saja.


"Maaf" cuit Mutiara menunduk malu.


Gilang terkekeh kecil melihat rona merah pada wajah istri kecilnya.


"Yank...yank...kamu tuh aneh ya...padahal kita sudah melakukannya dua kali tapi kamu masih malu-malu saja liatin aku dalam keadaan seperti ini" cicit Gilang.


Mutiara bergeming, ia semakin menundukan kepalanya. Apa yang dikatakan suaminya benar. Meskipun sudah melakukannya dua kali, tetap saja hatinya malu saat melihat bentuk tubuh suaminya.


Gilang berjongkok di hadapan Mutiara, mendongakan wajah ayu dari sang istri. Berkedip menandakan ada suatu maksud yang diinginkan.


"Apa?" tanya Mutiara bingung.


Gilang melengkungkan bibirnya.


"Morningnya kiss-nya mana??" Gilang meminta pada istrinya


Mutiara memutar bola matanya dengan jengah. Apakah dia masih belum puas setelah menghabisi dirinya semalam hingga berkali-kali? Mutiara mengecup singkat ***** suaminya.


"Sekarang mandilah! Semua orang pasti sudah menunggu kita di bawah untuk sarapan, bukankah hari ini liburan kita akan dimulai?" cicit Mutiara.


Gilang mengulas senyum, ia balik mengecup kening istrinya kemudian beranjak untuk mandi.


🍁


🍁


🍁


🍁


**AUTHOR


AUTHOR UDAH UP YA, JANGAN LUPA UNTUK TINGGALKAN KOMENTAR DAN SARANNYA


DAN TOLONG BERIKAN VOTE NYA


Untuk Clarissa belum muncu ya, kerena mereka masih liburan bareng keluargaπŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€**

__ADS_1


__ADS_2