Pernikahan Beda Usia

Pernikahan Beda Usia
#PERNIKAHANBEDAUSIA_64


__ADS_3

#PERNIKAHAN_BEDA_USIA


#PART64


***


Mutiara hanya bisa mematung dengan tatapan ragu. Ia tidak percaya dengan penglihatan matanya. Mana mungkin wanita itu kembali dan kini sedang berdiri di hadapannya. Mutiara tak mampu berkata apa pun. Suaranya seakan tercekat pada tenggorokannya. Mutiara mencubit tangannya berkali-kali, mencoba memastikan bahwa ia hanya bermimpi.


"Mutiara, ini kamu nak?" wanita itu datang memeluk Mutiara.


"Ibu sangat merindukanmu sayang" ucapnya lagi.


Mutiara masih terdiam. Ia tidak tahu harus merasa bahagia atau tidak. Hatinya bergejolak antara rindu dan marah.


Dan kata merindukanmu, benarkah semua itu...


Apa dia tidak salah mendengar, wanita itu merindukan dirinya. Ini tidak mungkin. Telinganya pasti sedang bermasalah. Wanita itu sudah meninggalkannya tanpa sepatah kata pun. Dia lebih memilih kekasih gelapnya dibadingkan dengan putri kandungnya sendiri. Jadi mana mungkin dia merindukannya.


Hati Mutiara terus saja berkecamuk, tangannya begitu enggan membalas pelukan dari sang ibu.


"Kamu pasti membenci ibumu ini kan nak? Maafkan ibu karena sudah meninggalkan dirimu saat itu?" ucap wanita ketika tidak mendapatkan sambutan dari anaknya.


"Saat itu ibu tidak punya pilihan lain, ayahmu telah mengusir ibu dan melarang ibu untuk membawamu! Ibu hanya bisa membawa salah satu dari kalian, yakni Intan" ujarnya lagi.


Mutiara tersenyum miris. Wanita macam apa yang sudah melahirkan dirinya ke dunia. Dia yang memilih pergi sendiri dan kini menyalahkan ayahnya. Mutiara mengepalkan jari-jari tangannya.


"Aku bukan anak kecil lagi yang bisa kau bodohi begitu saja! Aku sudah mengetahui semuanya. Kau hanya ingin hidup dengan bergelimang harta, itu sebabnya kau lari bersama kekasih gelapmu itu!" Mutiara berusaha tenang agar tidak tersulut oleh api amarah.


"Itu tidak benar nak, ayahmu pasti sudah berbohong!" wanita itu mengelak, berusaha menyakinkan Mutiara bahwa apa yang ada dipikirannya salah.


Mutiara tersenyum sengit. Ia sama sekali tidak menyangka jika ibunya memiliki sifat yang begitu rendah.


"Kalaupun ayah berbohong tapi tetap saja aku harus mengucapkan banyak terima kasih, karena tidak mengizinkan dirimu untuk membawaku ikut serta bersamamu! Kalau tidak, aku pasti memiliki nasib yang sama seperti saudara kembarku itu!" sindir Mutiara.


Ibu Mutiara terdiam. Ia seperti sedang berpikir keras mencari cara agar Mutiara melunak padanya. Tapi sayangnya itu tidak terjadi.


"Sayang, tamunya kok enggak diajak masuk sih?" tanya Gilang yang tiba-tiba muncul dari dalam rumah.


"Enggak perlu yank, dia ke sini hanya menanyakan alamat! Betulkan nyonya..?" Mutiara berbohong.


Ibu Mutiara hanya tersenyum dan mengangguk. Ia tidak boleh marah ataupun kecewa. Mutiara bukan tipe orang yang bisa menyimpan kemarahan terlalu lama. Ibu Mutiara merasa sangat yakin kalau suatu saat, hati Mutiara akan luluh juga.


"Kalau begitu saya mengucapkan banyak terima kasih?" ucap ibu Mutiara.


Mutiara dan Gilang tersenyum. Mereka menutup pintu dan kembali masuk ke dalam rumah setelah ibu Mutiara pergi.


***


Mutiara masih memikirkan tentang kedatangan ibunya secara tiba-tiba setelah sekian tahun lamanya. Ia bisa merasakan bahwa kemunculan ibunya pasti ada niat terselubung dan tentunya kurang baik saat mengingat bagaimana cara ibunya menjelek-jelekan almarhum ayahnya. Mutiara memang masih kecil ketika sang ibu pergi. Namun dia tidak bodoh sampai-sampai tidak bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar.


Mutiara bisa mengerti jika ibunya memilih pergi karena tidak sanggup hidup pas-pasan. Tapi Mutiara tidak bisa menerima apabila sang ibu terus saja menjelek-jelekan nama ayahnya.


"Sayang, kamu kenapa? Kamu ada masalah?" tanya Gilang yang melihat sikap istrinya berubah diam sejak kedatangan wanita tadi. Mutiara hanya menggelengkan kepala. Ia tidak ingin membuat suaminya menjadi cemas.


Gilang menatap manik mata istrinya. "Sayang aku tahu kamu bohong, kamu masih ingatkan sama janji kita untuk saling terbuka satu sama lainnya?" ucapnya kemudian.

__ADS_1


Mutiara menunduk. Ia tahu tidak akan mudah baginya berkata bohong pada suaminya. Gilang pasti bisa menebaknya.


"Wanita tadi..." Mutiara menggigit bibir bawahnya. "Dia...dia...adalah i-i-bu-bu kan-dung-ku"


Gilang mendekap tubuh istrinya. Memahami apa yang tengah dirasakan olehnya saat ini.


"Tidak usah dilanjutkan yank, aku bisa mengerti jika kamu tidak ingin membicarakan tentang dia!" Gilang mengusap punggung Mutiara, berusaha menyalurkan rasa aman baginya.


Mutiara terisak. Meskipun ia tidak ingin memikirkan tentang wanita itu, tapi nyatanya Mutiara tetap memikirkannya. Mutiara takut jika ibunya akan memberikan luka yang lebih dalam lagi pada kehidupannya yang sekarang.


"Aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan yank, aku berjanji akan mencari tahu apa tujuan dari wanita itu datang kembali!" ujar Gilang dalam hati. Ia tidak akan tinggal diam begitu saja kalau seandainya wanita itu memiliki niat yang tidak baik pada istrinya.


***


Baru dua minggu menjadi mahasiswa, nama Arif dan Elvina sudah menyebar sampai ke seluruh penjuru kampus. Mereka berdua digadang-gadangkan akan menjadi idola kampus yang baru.


Elvina memiliki wajah yang cantik, berkulit putih dan berambut panjang telah menjadi incaran bagi mahasiswa pria baik dari kalangan senior maupun seangkatannya. Mereka bahkan tidak memperdulikan jika Elvina sudah memiliki seorang kekasih. Selama janur kuning belum melekung, berarti masih ada banyak kesempatan untuk bisa meraih hati gadis tersebut.


Begitu pula dengan Arif. Karena memiliki wajah yang tampan disertai dengan sifat yang cool telah berhasil membuat para gadis rela berebutan hanya untuk mencari perhatiannya. Tapi sayangnya Arif tidak pernah sekalipun ingin menanggapi mereka.


Arif justru ingin menunjukan pada semua orang bahwa dia sudah memiliki seorang kekasih dan ia sangat mencintainya. Itu sebabnya Arif selalu bersikap dingin terhadap semua gadis yang mengejarnya.


Baik Arif maupun Elvina tidak pernah menyembunyikan status mereka sebagai pasangan kekasih. Justru sebaliknya, mereka malah kerap memamerkan kemesraan di muka umum. Sehingga menimbulkan rasa iri di hati para pengagum mereka, terutama dari kalangan para gadis.


Saat Arif dan Elvina sedang duduk bersantai di pojokan kantin sambil menikmati kesegeran dari es lemon tea. Tiba-tiba muncul segerombolan gadis yang mencoba menggoda Arif. Mereka berlomba-lomba mencari perhatian dari pria itu.


Sebagai kekasih, hati Elvina hampir mendidih. Ia dibuat risih dengan kelakuan para gadis yang mencoba merayu Arif di depan matanya. Elvina ingin sekali menampar wajah mereka satu per satu. Namun ia ingat akan nasihat Arif agar tidak mengindahkan mereka.


"Arif sayang, malam minggu ini kamu ada acara enggak? Kita nonton yuk!" ajak salah satu gadis tersebut.


"Maaf ya Naura sayang? Arif sudah ada janji tuh sama gue, dia mau ngajakin gue kencan sambil dinner romantis! Betulkan, yank..?" Elvina yang menjawab. Ia melirik Arif kemudian tersenyum tipis ketika mendapat anggukan dari kekasihnya itu. Elvina merasa senang dengan perubahan wajah yang ditunjukan oleh Naura and the geng.


"Huhh...dasar cewek nggak tahu diri! Tunggu aja, gue pasti bisa merebut Arif dari sisi elo!" gerutu Naura. Ia mengajak teman-temannya pergi berlalu meninggalkan Elvina dan Arif.


"Yank..." cuit Arif setelah Naura and the geng menjauh.


"Hmm..."


"Kita beneran ngedate kan malam minggu ini?" Arif mengedipkan sebelah matanya.


*UHUK...UHUK...


Elvina tersedak membuat Arif kaget. Pria itu langsung menyodorkan gelas berisikan lemon tea.


"Apa kamu baik-baik saja, yank?" tanya Arif merasa cemas.


"Elvina mengangguk kemudian menatap Arif. "Sebenarnya malam minggu nanti aku juga pengen ngedate bareng sama kamu yank, tapi sayangnya nggak bisa!" ucap Elvina kemudian. Arif terlihat sedikit kecewa.


"Maaf ya, yank? Malam minggu nanti akan ada acara keluarga di rumah, jadi aku nggak bisa keluar?!" Elvina memberikan penjelasan.


Arif tersenyum tipis. Ia memang sedikit kecewa, tapi ia juga bisa memahami kesulitan Elvina. "Enggak apa-apa kok sayang, aku bisa mengerti! Toh kita masih bisa ngedate bareng lain waktu kan?"


Elvina tersenyum. Ia bahagia karena bisa memiliki kekasih yang begitu pengertian.


***

__ADS_1


Mutiara merasa boring karena harus berdiam diri di rumah. Ia akhirnya mengajak Azka pergi ke kantor Gilang. Mutiara ingin makan siang bersama dengan suaminya.


Selama perjalanan menuju kantor Gilang, Mutiara asyik dengan ponselnya. Ia sedang berkirim pesan dengan Elvina. Mutiara bahagia karena pada akhirnya adik ipar sekaligus sahabatnya itu jatuh cinta kepada Arif yang tak lain sahabatnya juga. Mutiara yakin mereka akan bahagia jika bersama-sama. Dan masalah Gilang, Mutiara akan berusaha meluluhkan hati suaminya itu agar mau merestui hubungan Arif dan Elvina.


Setelah sampai di loby kantor, pak Heru membuka kan pintu mobil untuk Mutiara.


Mutiara pun segera mengajak Azka turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam sambil menggandeng tangan mungil Azka yang kemudian disusul oleh pak Heru.


Setiap karyawan yang berpapasan dengan Mutiara menyambut serta menyapa Mutiara dengan ramah dan dibalas dengan ramah pula oleh Mutiara. Tak lupa sunggingan senyum yang manis tercetak jelas dari bibir Mutiara, sehingga membuat para karyawan pun semakin mengagumi istri dari bos mereka.


"Ihh...pak bos kita beruntung sekali ya, bisa memiliki istri muda yang cantik dan ramah seperti ibu bos?"


"Iya, gue sampai iri lihatnya!"


"Hooh...cantik plus ramah banget! Pantes aja sekarang pak bos sudah nggak pernah main-main lagi sama wanita yang sok keganjenan itu!"


Mutiara hanya tersenyum tipis. Telinganya masih bisa mendengarkan bisikan demi bisikan yang terlontar dari bibir para karyawan meskipun mereka berbicara sangat pelan. Mutiara tidak ingin menanggapinya sama sekali.


"Selamat siang mbak Risma," Mutiara menyapa secretaris Gilang.


"Selamat siang nona muda," balas Risma.


"Suami saya ada?" tanya Mutiara kemudian.


"Ada nona, tapi beliau sedang menerima tamu?" jawab Risma.


"Oh gitu...saya boleh masuk?" tanya Mutiara lagi.


"Boleh, silakan masuk nona muda" Risma menghantarkan Mutiara masuk ke dalam ruangan Gilang.


*Ceklekk...


Risma bergeming, ia tidak bisa berkata apa-apa. Dalam hati, Risma meratuki kebodohannya. Setelah ini ia pasti akan kehilangan pekerjaannya.


Gilang pun terkejut. Ia segera mendorong Renata hingga terjungkal di lantai.


"Yank, ini tidak seperti yang kamu bayangkan?" Gilang mendekati istrinya.


"Jadi seperti inikah kelakuanmu di kantor? Aku sudah salah sangka kalau mengira bahwa kamu sudah berubah yank," Mutiara merasa kecewa. Hatinya sakit melihat suaminya dipeluk oleh wanita lain.


"Tidak yank, kamu jangan salah paham dulu! Aku akan jelaskan semuanya kepadamu," tangan Gilang memegang kedua bahu Mutiara. Namun langsung ditepis oleh Mutiara.


"Ohh...jadi ini istri kamu Gilang, pantas saja kamu masih senang mencari pelampiasan di luar sana? Ternyata dia masih bocah," sindir Renata.


"Diam elo wanita ******!" bentak Gilang. "Yank, kamu jangan dengerin kata-kata dia! Aku nggak mungkin mengkhianati kamu, aku sangat mencintaimu, jadi mana mungkin aku bisa mengkhianatimu!" Gilang beruasaha menyakinkan istrinya. Ia begitu depresi ketika melihat air mata Mutiara mulai berjatuhan.


"Mami..." Azka menarik-narik ujung dress yang dikenakan oleh Mutiara.


Mutiara segera mengusap air matanya, tak ingin Azka melihat semua itu.


"Nanti kita bicarakan semuanya di rumah, aku ingin sendiri dulu!" ujar Mutiara kemudian berjongkok.


"Azka sayang...Mami mau pergi sebentar, kamu pulang dulu sama pak Heru ya?" Azka mengangguk. Bocah itu seakan mengerti dengan kesedihan Mutiara, itu sebabnya ia menuruti ucapan maminya.


Mutiara berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan suaminya. Gilang berusaha mencegahnya tapi tidak bisa.

__ADS_1


"Kalau sampai terjadi apa-apa sama istri gue, jangan harap elo bisa lolos dari maut!!" ancam Gilang pada Renata. Ia pun pergi mengejar Mutiara.


Renata merasa gentar, tapi ia tetap tidak mau mengubah tekadnya. Renata yakin, Gilang akan kembali seperti dulu lagi jika Mutiara meninggalkan nya.


__ADS_2