
#PERNIKAHAN_BEDA_USIA
PART 65
***
Gilang mulai frustasi karena tidak bisa menemukan keberadaan istrinya. Entah kemana Mutiara pergi. Ia menghilang dengan sangat cepat. Radit dan Heru sudah mencarinya kemana-mana, bahkan semua anak buahnya pun sudah dikerahkan. Namun hasilnya nihil. Tak satu pun dari mereka berhasil menemukan keberadaan Mutiara.
Gilang sangat mencemaskan keadaan istrinya dan calon anaknya. Ia menyesal karena sudah membiarkan Renata mendekatinya. Gilang tahu kalau wanita itu hanya ingin merusak keharmonisan keluarga kecilnya.
"Gilang, apa yang terjadi? Kenapa Mutiara bisa menghilang?" bu Meisya tiba-tiba masuk ke dalam ruang kerja milik Gilang.
"Ma-ma-mi..." Gilang merasa gugup.
"Darimana mami tahu kalau Mutiara menghilang?" bukannya menjawab, Gilang malah bertanya balik pada bu Meisya.
Bu Meisya terdiam. Ia menatap ke arah Radit dan Heru.
"Maaf tuan muda, tadi saya mencari nona muda ke rumah besar..." Radit menjawab.
Gilang menghela nafas. Ini semua salahnya, jadi mau tak mau ia harus bertanggung jawab.
"Kenapa kamu diam, Gilang? Apa yang sudah kamu lakukan sampai-sampai membuat Mutiara pergi?" tanya bu Meisya lagi. Ia mulai merasa geram dengan sikap Gilang yang hanya membisu.
"Maaf mi, ini semua memang salahku? Tidak seharusnya aku membiarkan Renata masuk ke dalam kantor dan membiarkannya memelukku begitu saja!" jawab Gilang.
*PLAKKK...
Ibu Meisya menampar wajah Gilang dengan keras. Radit dan Heru ikut meringis karenanya.
"Dasar laki-laki buaya! Mami saja yang hanya mendengar bisa ikut merasakan, apalagi Mutiara yang melihatnya sendiri? Dia pasti merasa sakit hati," bu Meisya memaki Gilang. Kata-kata kasar pun mulai terlontar dari mulutnya. Gilang hanya pasrah dan menerima. Dia menyadari akan kesalahannya.
"Cari Mutiara sampai dapat! Dan jangan pernah kamu menunjukan wajahmu itu sebelum kamu berhasil menemukannya!" ujar bu Meisya kemudian pergi meninggalkan Gilang dalam kekacauannya.
Radit dan Heru saling melirik. Mereka kasihan melihat tuannya dengan penampilan yang sudah tak berbentuk.
"Kalian pergilah! Cari istriku sampai ketemu! Kalau perlu sebarkan berita mengenai orang hilang dan janjikan hadiah yang sangat besar bagi yang bisa menemukannya!" perintah Gilang pada Radit dan Heru.
"Maaf tuan muda, apa tidak terlalu berbahaya untuk nona muda? Bagaimana jika yang menemukan nona muda adalah pesaing anda?" Radit mengingatkan.
Gilang terperangah. Kenapa tidak sampai terpikirkan olehnya, kalau diluaran sana masih ada banyak pesaing yang menunggu kesempatan untuk dapat menjatuhkannya. Gilang benar-benar merasa frustasi. Ia tidak tahu harus berbuat apa.
"Terus apa yang harus kita lakukan? Aku benar-benar mencemaskan keadaan istriku," Gilang meminta pendapat dari Radit dan Heru.
"Kenapa tuan muda selalu bersikap bodoh kalau berurusan dengan istrinya?" Radit membathin.
"Dasar pria bucin, ditinggal sebentar saja sama istri sudah kalang kabut!" gerutu Heru dalam hati.
Radit dan Heru bertatapan, saling memberi kode untuk mengatakan sesuatu.
"Tuan muda tenang saja, kami sudah mengerahkan semua anak buah untuk mencari keberadaan nona muda di seluruh pelosok kota!" ujar Radit kemudian.
__ADS_1
Gilang membuang nafas dengan kasar. Ia berharap bahwa saat ini Mutiara aman. Ia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika sesuatu yang buruk terjadi pada Mutiara dan calon anaknya.
***
Kelvin mulai mengeluh. Gara-gara Mutiara menghilang, sekarang semua pekerjaan dilimpahkan kepadanya. Kelvin merasa sedikit keteteran lantaran ada banyak meeting dengan klient dan waktunya pun hampir bersamaan. Mau tak mau Kelvin harus merombak jadwal pertemuan dengan klient. Ia harus memilah mana yang terlebih dahulu harus diutamakan.
*Dert...dert...dert...
Elvina is calling
"Halo Vin, ada apa?" Kelvin menjawab.
"Hari ini kakak sibuk nggak?" tanya Elvina dari seberang.
"Iya hari gue sibuk banget, masih ada banyak pekerjaan yang harus segera gue selesaikan! Memangnya ada apa?" tanya Kelvin balik.
"Enggak ada apa-apa sih, kak. Aku cuma mau ngajakin kakak makan siang bareng aja," jawab Elvina kemudian.
"Maaf ya Vin, gue nggak bisa? Mungkin lain waktu aja kita makan siang barengnya," tolak Kelvin. Elvina mengerti. Ia pun menutup telephonenya.
Kelvin menghela nafas panjang lalu dihembuskannya lagi. Ia menyemangati diri sendiri agar bisa memulai pekerjaannya dengan baik.
Di sisi lain, Elvina tengah menutup sambungan telephone dan memasukan nya ke dalam tas. Kemudian ia menatap kekasihnya sambil menggelengkan kepala. Usaha Elvina untuk mendekatkan Shinta pada Kelvin gagal sebelum ia berhasil memperkenalkan keduanya. Elvina ingin kakaknya bisa menemukan gadis yang baik. Dan menurutnya, Shinta sangat lah cocok dengan pribadi kakak keduanya itu.
"Sabar yank, kan masih ada banyak waktu untuk mempertemukan mereka!" Arif memberikan dukungannya pada Elvina. Ia tahu bahwa kekasihnya sangat berharap jika Kelvin bisa bahagia seperti yang lain. Elvina ingin membantu kakaknya untuk dapat melupakan semua kenangan buruk di masa lalunya.
"Makasih banyak ya yank, atas saran dan dukungan yang sudah kamu berikan padaku?" Elvina memeluk Arif.
***
BLAAAMMM
Gilang menutup asal pintu mobil. Ia segera masuk ke dalam rumah dan berlari menuju kamarnya. Radit sudah melacak keberadaan Mutiara melalui kalung liontin yang dipakainya. Dan menurut Radit kalung tersebut menunjukan bahwa Mutiara saat ini sedang berada di rumah. Para pelayan pun di buat melongo dengan penampilan serta tingkah laku dari tuan mereka.
Jangan ditanya lagi seperti apa penampilan Gilang saat ini. Dia sangat berantakan dan kacau. Seharian pergi ke sana kemari hanya untuk mencari keberadaan istrinya.
Gilang membuka pintu. Berharap melihat sosok istrinya sedang bergelung dengan selimut tebalnya, karena merajuk seperti yang sudah-sudah. Tapi tidak ada. Kamar terlihat masih sangat rapi. Gilang tidak putus asa. Mungkin Mutiara ada di dalam kamar mandi.
Tok...tok...tok...
"Yank, apa kamu ada di dalam?" seru Gilang.
Gilang mengetuk pintu berulang kali, namun tidak ada jawaban. Ia memutar gagang pintu lalu membukanya. Gilang masuk ke dalam. Mutiara juga tidak ada di dalam kamar mandi.
"Mungkin dia ada di taman belakang," guman nya. Gilang hendak keluar, akan tetapi tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah kalung liontin yang ada di samping wastafel. Jantung Gilang berdetak sangat kencang. Pikirannya langsung melambung ke arah istri kecilnya itu. Bagaimana caranya ia bisa menemukan keberadaan Mutiara, sementara Mutiara tidak memakai kalung liontinnya. Gilang semakin panik. Ia langsung keluar kamar.
"Radit...Heru..." panggilnya dengan keras.
Radit dan Heru menghela nafas panjang. "Ada apa lagi ini?" guman mereka dalam hati. Radit dan Heru menghampiri Gilang.
"Mutiara tidak ada di rumah. Ia meninggalkan kalung liontin nya di kamar mandi, cepat cari dia sampai ketemu!" Gilang semakin panik. Ia mencemaskan istrinya yang tidak tahu dimana keberadaannya.
__ADS_1
"Baik tuan muda," jawab Radit dan Heru serempak. Mereka pun berlalu untuk menjalankan misinya.
"Daddy..." Azka menarik tangan Gilang. "Mami mana?" tanya nya kemudian.
Gilang berjongkok, mengusap lembut rambut Azka. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Daddy, mami dimana? Aku mau tidur sama mami," tanya Azka lagi.
Gilang tersenyum kecil. "Azka sayang, malam ini tidurnya sama bik Laras dulu ya!? Soalnya mami lagi nginep di rumah teman nya," jawabnya berbohong.
Azka terlihat sangat kecewa. Tapi untungnya dia termasuk anak yang penurut. Jadi Gilang tidak perlu harus bersusah payah membujuk Azka.
"Laras, kamu temani Azka tidur ya!" perintah Gilang.
"Baik tuan muda," Laras mengajak Azka ke kamarnya.
Gilang terduduk sambil mengacak rambutnyam. Otaknya tidak bisa bekerja dengan baik apabila berurusan dengan istrinya. Ia terus berpikir kemana kira-kira Mutiara pergi.
"Aaaa..." Gilang menendang meja kaca hingga terjungkal dan pecah. Para pelayan merasa kaget dengan sikap tuan nya. Mereka penasaran dengan apa yang sedang terjadi. Akan tetapi mereka memilih untuk diam dan pergi berlalu tanpa ingin menampakan diri di hadapan Gilang. Takut kalau akan menjadi sasaran dari amukan tuan mereka.
***
Gilang masih berada di ruang tengah. Menunggu kabar dari anak buahnya. Terkadang duduk dengan gelisah, terkadang pula berdiri sambil berjalan mondar-mandir layaknya orang yang tidak waras. Hati Gilang semakin resah. Sudah hampir larut malam, namun tak satu pun dari anak buahnya memberikan kabar. Gilang menjadi tidak tenang. Ia takut sesuatu yang buruk tengah menimpa istrinya. Gilang merogoh kantong celananya, mengambil sebuah benda berbentuk pipih.
Gilang berusaha menghubungi Radit, akan tetapi tidak ada jawaban. Kemudian ia beruasaha menghubungi Heru dan hasilnya sama. Tak satu pun dari mereka ada yang menjawab. Gilang merasa kesal dan melempar benda pipih itu ke sembarang tempat hingga hancur. Seharusnya ia juga ikut mencari, bukannya malah berdiam diri saja. Mengandalkan anak buahnya. Gilang beranjak dari tempatnya, pergi hendak mencari istrinya.
Namun saat melangkahkan kaki keluar pintu, tiba-tiba Radit datang bersama dengan Heru. Gilang melihat sekitar, tapi dia tidak melihat keberadaan istrinya.
"Dimana istriku, apa kalian gagal menemukannya?" tanya Gilang dengan nada tinggi.
"Maaf tuan muda, kami tidak..."
"Sudah lah kalian memang tidak becus, biar aku yang mencarinya sendiri!" Gilang menyela perkataan Radit. Ia meninggalkan Radit dan Heru dalam keterkejutan.
"Tuan Muda mau kemana?" Radit mengejar langkah kaki Gilang.
"Mau mencari istriku, emangnya mau apa lagi hah?" ketus Gilang.
Radit menghela nafas panjang. Susah kalau bicara sama orang yang bucin karena cinta. "Tuan muda, saya belum selesai bicara. Tolong dengarkan penjelasan kami dulu!" ucap Radit kemudian.
Gilang menghentikan langkahnya. "Penjelasan apa?" tanya Gilang lagi dengan nada yang dingin.
"Nona muda sudah berhasil kami temukan..."
"Hah...benarkah itu?" lagi-lagi Gilang menyela, ia terlalu senang mendengarnya. "Terus sekarang dimana dia?" tanya nya kemudian.
"Nona muda sekarang ada di rumah tuan besar, dia bilang tidak mau pulang ke rumah karena..." Radit belum sempat melanjutkan perkataannya. Gilang langsung pergi meninggalkan nya begitu saja. Radit dan Heru saling bertatapan, lalu mendengus dengan kasar.
"Lihat lah kelakuan tuan muda sekarang, kanyak anak remaja yang tengah dimabuk asmara!" ucap Radit.
"Tuan muda memang lagi dimabuk asmara kali," tukas Heru.
__ADS_1
Mereka pun pergi menyusul tuannya.