
#PERNIKAHAN_BEDA_USIA
#PART 101
Di dalam sebuah ruangan yang pengap nampak seorang wanita paruh baya sedang terduduk lemas dengan kedua tangan serta kaki yang terikat. Mulutnya pun tersumpal oleh gulungan kain. Dia tak lain adalah Hani, wanita yang telah mengaku sebagai ibu dari Mutiara dan Intan. Kondisinya begitu sangat mengenaskan, ada beberapa luka lebam dan bekas sayatan di sekitar wajah. Darah segar pun masih mengalir dari sudut bibir dan mata. Sepertinya wanita itu habis mengalami penganiayaan.
"Heii...siapa pun kalian tolong lepasin aku! Apa salahku, kenapa kalian tiba-tiba menyekap dan menyiksaku seperti ini? Aku mohon tolong lepaskan aku?" cicit Hani berusaha melepas ikatan tali di tangannya. Namun semakin ia memcoba, semakin pula menambah rasa perih di tangannya yang sudah penuh dengan luka sayatan.
*Tap...tap...tap...
Suara langkah kaki mulai menyeruak di indra pendengaran Hani, langkah itu semakin lama semakin mendekatinya. Hani sangat berharap ada seseorang yang mau membebaskan dirinya.
"Ka-ka-ka-u" ucap Hani terbata.
Merasa takjub dengan siapa yang sudah mendatanginya saat ini.
"Hallo Nyonya Hana, apa kabar?" tanya seorang pria dengan seringai wajah yang cukup mengerikan.
"Ka-ka-u bu-bu-ka-kan-nya Ra-radit asisten dari su-suami Mutiara?" tanya Hani tergagap.
"Betul sekali nyonya, saya memang asisten pribadi dari Tuan Gilang, menantu Nyonya sendiri!" jawab Radit seraya duduk dengan bersila kaki.
"Lalu kenapa kau sampai hati melakukan ini kepadaku, apa kamu tidak takut jika menanruku itu akan murka karena kamu sudah menyekap dan menyiksaku seperti ini?" cicit Hani.
Tawa Radit menggelegar memenuhi seluruh isi ruangan. Tatapan nyalang seakan ingin membunuh siapa pun, ia tujukan pada wanita paruh baya tersebut.
"Bagaimana kalau semua ini terjadi atas perintah dari Tuanku sendiri, Nyonya?"
Kedua mata Hani terbelalak seakan tak percaya jika Gilang lah yang menyuruh mereka menyiksa dirinya. Apakah Gilang sudah mengetahui semua yang ia lakukan pada istrinya.
"Apa yang ada dipikiran anda memang benar, Nyonya! Tuanku sudah tahu semuanya, bahkan apa yang baru saja anda lakukan kepada istri kesayangannya pun dia juga sudah mengetahuinya!" Radit menepuk-nepuk pipi Hani. Tak ada rasa kesopanan lagi, yang ada hanya rasa jijik belaka. Mana ada seorang ibu yang tega menelantarkan anaknya demi harta dan kini kembali hadir ke dalam hidup sang anak setelah tahu anaknya telah diperistri oleh orang yang kaya raya.
__ADS_1
"Cuihhh...ibu macam apa anda ini, Nyonya? Bisa-bisa mencampakan anak-anaknya begitu saja demi harta! Untuk apa kau melahirkan mereka jika pada akhirnya hanya penderitaan yang kau berikan!?" Radit meludahi wajah Hani.
Hani terdiam, menatap sinis pada Radit.
"Anak? Hahaha... asal kau tahu saja mereka bukanlah anak-anakku, mereka tak pernah terlahir dari rahimku!" Hani tergelak miris, ia ingin tahu bagaimana reaksi dari pria itu.
Hani merasa telah menemukan sebuah peluang untuk bebas ketika melihat bagaimana raut wajah Radit yang begitu terkejut atas perkataannya.
"Apa maksud dari perkataanmu?" tanya Radit dengan lantang.
"Aku akan memberitahukan semuanya kepadamu tapi bebaskan dulu aku!" Hani ingin bernegoisasi.
Radit menyeringai, rupanya wanita ini ingin sekali bermain-main dengannya.
"Kalian..." panggil Radit pada kedua anak buahnya.
Dua laki-laki berbadan kekar maju, membungkuk penuh hormat pada Radit.
Hani membulatkan kedua matanya dengan sempurna. Tubuhnya bergetar hebat karena rasa takut. Apalagi kedua pria itu sudah memegang benda tajam di tangan masing-masing.
"Tolong ampuni aku, kumohon jangan siksa aku Lagi?" pinta Hani memohon, tapi tak diindahkan oleh mereka.
"Bai-ba-ik-lah aku akan katakan semuanya, tapi kumohon jangan siksa aku lagi?" Hani akhirnya mengalah. Ia tak ingin kulitnya tertembus lagi oleh benda sialan itu.
Radit tersenyum puas kemudian meminta anak buah nya untuk berhenti.
"Cepat katakan sekarang juga, aku tidak suka dengan orang yang bertele-tele!" cuitnya.
Hani mengangguk dengan cepat kemudian mulai menceritakan semuanya pada Radit tanpa ada satupun yang terlewat satu pun.
Radit yang mulai paham kemudian beranjak pergi meninggalkan wanita itu untuk memberikan informasi yang ia dapat kepada Tuannya. Namun sebelum ia benar-benar pergi, Radit telah memerintahkan kepada anak buahnya agar memasukan Hani ke dalam sel bawah tanah. Siapa tahu Radit akan masih membutuhkan wanita itu untuk ke depannya nanti.
@@@
__ADS_1
"Akh...sial!!" Kelvin mengeram kesal saat mendapati ban mobilnya mendadak kempes,
ia harus cepat sampai ke kantor cabang tapi kenapa ada saja masalah yang mengganggunya. Dimulai dari kericuhan yang dibuat oleh sang mami yang meminta untuk diantar ke pasar kemudian disusul oleh Elvina yang ikut menebeng saat hendak pergi ke kampus. Hal ini bisa terjadi karena kedua sopir keluarganya tiba-tiba mengajukan cuti secara bersamaan. Sedangkan Maminya dan Elvina sangat malas jika harus membawa kendaraan sendiri dengan alasan takut macet.
Kelvin menoleh kesana-kemari, melihat apakah ada bengkel di sekitar tempat itu. Tapi jangankan bengkel, pertokoan ataupun pedagang kaki lima pun tak ada. Hanya ada deretan tanaman dan bunga yang telah tersusun rapi di tepi jalan. Sepertinya seseorang memang sengaja berjualan di sana. Mungkin orang itu tak mampu menyewa tempat atau toko untuk berjualan.
Kelvin berjalan sedikit tergesa ketika mendapati seorang wanita berhijab yang sedang memangkas daun yang tengah mengering pada beberapa tanaman.
"Maaf nona, apa boleh saya bertanya sesuatu?" cicit nya.
Wanita itu yang tadinya dalam posisi membelakangi Kelvin, kini memutar badan untuk melihat Kelvin.
"Clarissa..." Kelvin terkejut, bola matanya membulat dengan sempurna. Meskipun penampilan Clarissa sudah berubah banyak, tetapi Kelvin masih bisa mengenalinya.
Sedangkan Intan sendiri hanya bisa mematung, tak tahu harus berbuat apa. Ia telah berjanji pada Gilang. Akan menjauhi seluruh anggota keluarga Dirgantara, termasuk Azka dan Mutiara sekalipun. Itu sebabnya setelah berhasil membantu ibunya dalam menyelamatkan Mutiara dari sekapan pria tua yang tak sadar akan umurnya. Baik Intan maupun ibunya lebih memilih untuk hidup jauh dari hingaran kota. Mereka berdua memulai lembaran hidup baru di sebuah daerah yang letaknya antara perbatasan kota Bandung dan Jakarta.
"Bagaimana bisa kamu di sini, bukankah seharusnya kamu masih berada dalam jeruji besi?" tanya Kelvin yang sedikit kebingungan.
"Seharusnya iya, tapi beberapa bulan yang lalu ada seseorang yang mau membebaskan aku dengan jaminan!" jawab Intan tanpa memberitahu siapa orang yang sudah membebaskannya.
"Oh..."Kelvin mengerti. Mengingat apa pekerjaan Clarissa dulu, pasti ada banyak orang pula yang ingin membantunya. Kelvin tersenyum hampa merasa miris dengan kehidupan Clarissa yang sangat berbeda jauh dengan saudara kembarnya.
"Tadi kamu ingin bertanya, memangnya mau tanya apa?" Intan berusaha tenang.
"Oh iya, hampir saja kelupaan! Aku mau tanya, apa di daerah sekitar sini ada bengkel? Ban mobilku mendadak kempes disana!" tunjuk Kelvin ke arah dimana mobilnya terhenti dan kedua mata Intan pun mengikutinya.
Intan menatap sejenak Kelvin, pandangan keduanya sempat bertemu sesaat kemudian saling membuang muka. Jujur masih ada deguban tak berirama di dalam lubuk sana. Hanya saja mereka tak ingin mengakuinya.
"Kamu bisa jalan lurus kesana hingga beberapa meter, baru kamu bisa mendapati tukang tambal ban!" Intan memberitahu.
Kelvin mengucapkan kata terima kasih kepada Intan, kemudian pergi berlalu.
Intan bisa bernafas dengan lega, mulai mengatur detakan jantungnya yang seakan hampir copot setelah melihat punggung Kelvin pergi menjauh. Sebenarnya ada sedikit rasa kasihan ketika melihat pria itu berjalan kaki menuju tempat dimana bengkel tamban ban berada. Harusnya ia menawarkan diri untuk membantu memanggil tukang tambal ban supaya Kelvin tak perlu repot-repot berjalan jauh. Karena ia memiliki sepeda. Tapi mau bagaimana lagi, jantungnya sejak tadi terus berdegub kencang karena adanya sebuah rasa takut.
__ADS_1