
💕💕💕
Kelvin POV
Menjalani hidup bersama dengan Clarissa selama kurang dari setahun telah membuat Kelvin mulai terbiasa dengan kehadiran sosok wanita itu. Bohong jika ia mengatakan tidak ada rasa apapun di dalam hatinya yang paling dalam. Perlahan namun pasti, sebuah rasa mulai tumbuh dengan sendirinya. Kelvin terus berusaha mengontrol hatinya, agar tidak jatuh hati kepada Clarissa. Biar bagaimanapun Clarissa lah yang telah menghancurkan hubungan persaudaraannya dengan sang kakak.
Kelvin yang awalnya bersedia menampung Clarissa di Apartementnya hanya karena atas dasar rasa tanggung jawab sebagai seorang laki-laki yang sudah menghamili Clarissa, meskipun sebenarnya itu bukan murni dari kesalahan yang dia lakukan sendiri. Clarissa juga lah yang sudah menjebaknya dengan menggunakan obat perangsang.
Namun seiring dengan berjalannya waktu, sebuah getaran rasa mulai menembus memasuki relung hati Kelvin yang terdalam. Kelvin pun sudah berusaha untuk menolaknya dan mengingkari akan hadirnya perasaan khusus pada Clarissa. Bahkan ketika perempuan itu bertanya tentang apakah hubungan mereka yang sebenarnya, meminta adanya sebuah kepastian. Kelvin justru menjauh dan terus menjauh seakan merasa takut jika dirinya tidak akan lagi bisa menahan segala rasa yang telah tercipta.
Hingga tiba waktunya, dimana saat Clarissa akan melahirkan. Mau tak mau Kelvin pun harus bersedia mendampingi Clarissa, memberikan segala bentuk perhatian dan dukungannya untuk perempuan itu. Hati Kelvin mendadak menjadi luluh saat melihat sendiri dengan kedua matanya, bagaimana perjuangan Clarissa dalam melahirkan anaknya.
Kelvin menyesal karena sudah berlaku tidak adil pada Clarissa. Meskipun segala macam kebutuhan dari Clarissa selalu Kelvin penuhi, tetapi tetap saja Kelvin bersalah karena tidak pernah memberikan perhatian sedikit pun pada ibu dari anaknya.
Kelvin berniat untuk memperbaiki semuanya. Memberikan kehidupan yang pantas pada Clarissa dan anaknya. Kelvin berjanji akan segera menikahi Clarissa, tentunya setelah keluar dari rumah sakit.
Namun semua nya sudah terlambat. Niat Kelvin yang tulus pun seakan menguap karena Clarissa pergi membawa serta bayinya.
Kelvin merasa hancur, itu sudah pasti. Rasa penyesalan datang menghampiri Kelvin, mengonyak dan mengguncangkan segala rasanya.
Kelvin berusaha mencari dan terus mencari, tapi sayang nya tak bisa ia temukan. Rasa cemas serta khawatir menyelimuti ruang hatinya. Memikirkan kemana Clarissa akan membawa pergi anaknya. Sedangkan di kota ini, Clarissa sudah tidak memiliki siapa pun lagi. Dan orang tuanya seakan lepas tanggung jawab, tidak mau tahu seperti apa kehidupan anaknya sekarang.
__ADS_1
Kelvin sudah bertekad akan terus mencari keberadaan Clarissa dan anaknya hingga ketemu. Ia tidak perduli itu akan menyita banyak waktunya dan menghabiskan banyak uang pula. Yang terpenting adalah menemukan keberadaan mereka. Jika Clarissa dan anaknya sudah berhasil Kelvin temukan. Seperti janjinya diawal, Kelvin akan berusaha dalam membujuk untuk membawa mereka kembali. Memberikan mereka kehidupan yang layak dan tentunya kebahagiaan. Meskipun Clarissa tak mengetahui janji itu, tapi janji tetap lah janji yang harus Kelvin penuhi.
Tetapi lagi-lagi hanya sebuah kekecewaan yang harus Kelvin telan. Setelah tiga bulan mencari, akhirnya Kelvin bisa menemukan keberadaan Clarissa yang ternyata saat itu sedang bekerja di sebuah bar sebagai seorang wanita penghibur. Kelvin sedih, karena keangkuhannya sekarang wanita itu harus kembali terjun ke lembah hitam. Kelvin ingin menarik Clarissa, membawa nya ke jalan yang benar. Namun apa, Clarissa menolaknya mentah-mentah dengan melontarkan kata-kata yang pedas.
"Memangnya kamu punya apa, sampai-sampai kamu ingin sekali menarikku dari lubang lembah yang kotor ini?" tanya Clarissa dengan senyum sinisnya. Memandang remeh pada seorang Kelvin.
Meradang, tentunya itu yang dirasa oleh Kelvin. Kedua tangan nya mengepal, berusaha menahan amarahnya.
"Jangan sok jadi pahlawan kesiangan, sedang kuliah saja masih membutuhkan beasiswa! Asal kamu tahu aja ya, aku sengaja menjebakmu waktu itu hanya demi sebuah tujuan dan kamu tahu apa tujuanku? Supaya Gilang mau memutuskan aku!" ucap Clarissa membuat geraham Kelvin mengeras, hingga terdengar suara gemelutuk dari giginya.
Amarah yang sudah tertahan sejak dari tadi pun kian bertambah besar dan semakin menumpuk di dalam hati Kelvin. Jika bisa ingin pula rasanya Kelvin mencabik-cabik mulut pedas Clarissa saat itu jua. Namun lagi-lagi logikanya melarang, mengingatkan pada Kelvin siapa yang sedang menjadi lawannya.
Gara-gara itu juga, Kelvin bahkan sampai melupakan tujuan utamanya. Yakni, menanyakan perihal dimana keberadaan putranya Azka. Dan ketika ia ingin kembali kesana, ternyata wanita itu sudah tidak ada di tempat. Clarissa sudah pergi, menghilang entah kemana.
Sejak saat itu Kelvin terpaksa kembali mencari keberadaan Clarissa. Bukan untuk cintanya melainkan untuk putranya. Kelvin tidak rela jika darah dagingnya berada dalam pengasuhan yang salah, meskipun itu ibu kandungnya sendiri.
Butuh waktu sampai beberapa tahun bagi Kelvin agar bisa menemukan keberadaan Clarissa. Sepertinya wanita itu sengaja mengajaknya untuk bermain petak umpet. Karena ketika Kelvin dapat menemukan jejak tentang dimana keberadaan Clarissa, disaat itu pula Clarissa kembali menghilang seperti belut yang licin.
Â
------
__ADS_1
Entah sudah berapa kali Kelvin mengubah posisi tidurnya. Berbaring miring, telentang, menutup wajahnya dengan bantal, duduk hingga berbaring kembali. Pertemuan itu benar-benar membuat Kelvin tidak dapat memejamkan mata. Bayangan masa lalu datang silih berganti, menghadirkan kenangan demi kenangan tentangnya yang muncul membentuk slide-slide di pelupuk mata. Wajahnya terus mengganggu, bahkan aroma parfumenya yang segar seakan masih terhirup hingga saat ini.
Kelvin memilih bangkit, berjalan mendekat ke arah meja di salah satu kamarnya. Membuka laci, mengambil buku harian yang sudah lama tak tersentuh. Buku bersampul pink dengan gambar kupu-kupu yang tengah terbang diantara bunga yang sedang bermekaran. Tampak masih sama saat pertama kali Kelvin menemukannya. Hanya saja warnanya agak sedikit memudar. Kelvin membuka lembar demi lembarnya, membaca setiap tulisan yang mengukir rapi di atas kertas putih yang mulai menguning pula. Tanpa terasa air matanya menitik jatuh membasahi sebagian pipinya. Merasa iba pada pemilik buku harian tersebut. Dia bukan perempuan yang jahat, bukan pula perempuan ular seperti yang terucap dari bibirnya saat kembali dipertemukan dengan dirinya beberapa bulan silam. Hanya saja keadaan telah membuat hidupnya hancur berantakan. Dimulai dari harus berpisah dengan ayah dan saudara kembarnya, terpaksa ikut dengan sang ibu yang gila harta dan harus mengalami pelecehan seksual oleh ayah tirinya sendiri. Hingga membuat sosok Clarissa menjadi nekad menjajakan diri menjadi wanita penggoda demi kelangsungan hidupnya. Ya pemilik buku itu sesungguhnya adalah Clarissa yang Kelvin temukan di bawah kolom tempat tidur, di salah satu kamar apartementnya yang pernah di tempati Clarissa.
Jujur saja, Kelvin masih terluka atas perkataan Clarissa waktu itu. Tetapi saat ia membaca kembali setiap untaian kata yang tertulis dalam buku harian itu, hati Kelvin melunak menjadi rasa iba. Ingin rasanya Kelvin memutar waktu, memaksa perempuan itu untuk ikut bersamanya. Agar tidak terlalu jauh masuk ke dalam lembah hitam yang bernuansa dosa. Tetapi lagi-lagi egonya terlalu kuat, melarang segala niatnya untuk membantu Clarissa.
Seperti saat dimana kakaknya memasukan Clarissa ke dalam besi jeruji. Hati Kelvin terus berkata bujuk lah kakakmu supaya mau melepaskan Clarissa, memberinya kesempatan agar mau bertobat. Tapi otaknya seolah tak mau tahu. Membiarkan Clarissa tetap mendekam dalam penjara, menerima ganjaran atas segala perbuatannya.
Kelvin memang pernah melabuhkan hatinya pada Shinta, tapi tidak seutuhnya. Karena sejatinya jauh di dalam sana, masih terukir nama Clarissa, cinta pertama Kelvin.
Kelvin sempat hancur saat pernikahannya dengan Shinta gagal. Namun bukan karena pengkhianatan Shinta, melainkan menyanyangkan nasib percintaan nya yang selalu buruk. Apakah ia sungguh tak layak untuk mendapatkan seseorang yang benar-benar tulus dalam mencintainya.
"Akh...sial...kenapa wajahnya selalu muncul sih?" Kelvin mengeram kesal, menaruh buku harian itu ke dalam laci.
Sepertinya Kelvin benar-benar harus mencuci otaknya agar tidak mengingat lagi tentang Clarissa.
Kelvin kembali ke tempat tidur. Menjatuhkan diri hingga terlentang. Menatap kosong ke arah langit-langit atap kamarnya. Mengingat kembali pertemuan singkatnya hari ini dengan Clarissa.
"Tapi jika diperhatikan dari penampilannya tadi, sepertinya dia sudah bertobat?" cicit Kelvin yang mengingat pakaian Clarissa yang berbalut hijab. Mulai mengagumi kecantikan yang terpancar dari wajahnya.
"Apaan sih, kenapa otak gue nggak bisa berhenti untuk mikirin dia sih?" rutuk Kelvin yang serta merta memukuli dahinya sendiri secara berulang kali, meminta agar mau berhenti memikirkan tentang Clarissa.
__ADS_1