Pernikahan Beda Usia

Pernikahan Beda Usia
#PERNIKAHANBEDAUSIA_99


__ADS_3

#PERNIKAHAN_BEDA_USIA


PART 99


🍁🍁🍁


Sudah hampir satu jam berlalu, namun dokter yang menangani Mutiara dan Elvina tak kunjung keluar juga dari ruangan IGD. Hal ini menambah kecemasan pada hati Gilang. Ia terus saja berjalan kesana-kemari layaknya sebuah setrikaan. Kelvin yang melihat nya merasa jengah sekaligus kasihan karena sejak dari tadi kakak nya itu terus saja meratapi kejadian yang telah menimpa kepada istri kesayangan nya itu. Bucin sih boleh tapi nggak begitu juga kali.


"Kak, tolong diam dan duduk lah!" seru Kelvin.


"Mana bisa aku duduk dan berdiam diri, sementara keadaan istriku saja masih belum ada kabarnya!" sahut Gilang.


Kelvin mendengus tidak tahu harus pakai cara apalagi agar bisa membuat kakaknya sedikit tenang. Ia merasa bingung sendiri dengan sifat kebucinan dari sang kakak. Padahal dulu Gilang tidak pernah berlaku seperti itu terhadap Clarissa.


Beruntung saja tak berapa lama datang lah pak Bayu dan bu Meisya. Kelvin berharap kedatangan kedua orang tuanya mampu membuat sang kakak sedikit tenang. Namun lagi-lagi Kelvin dibuat mematung tak berkutik. Hatinya menciut seketika saat melihat bagaimana raut wajah dari sang Mami. Dan papi nya hanya terlihat begitu pasrah mengekor dari belakang. Besar kemungkinan sang papi sudah mendapatkan omelan terlebih dahulu dari mami nya.


"Hahh...pasti kena omel lagi deh! Elvina-Elvina kenapa sih kamu seneng sekali buat masalah untuk kakak-kakakmu ini?" Kelvin hanya bisa membathin, berharap ada keajaiban yang datang untuk menghentikan segala omelan dari sang mami yang tentunya akan berkepanjangan.


"Gilang...Kelvin bagaimana keadaan Mutiara dan Elvina? Apa yang terjadi? Kenapa kalian tidak menjaga mereka dengan baik? Apa kalian begitu sibuk nya sampai-sampai menjaga mereka saja tidak bisa hah..? Mami sudah bilang kan jangan terlalu over kalau bekerja, kalau sudah begini bagaimana hah?" oceh bu Meisya setelah berada di samping Gilang dan Kelvin.


"Mami tenang lah, ini rumah sakit! Tak baik jika..." sela pak Bayu yang berusaha untuk menenangkan istrinya, namun lagi-lagi ia dibuat menciut dengan tatapan yang mematikan dari sang istri.


"Papi diam ya! Ini semua juga karena papi yang mewariskan sifat gila kerja papi kepada mereka. Dan lihat lah hasilnya, anak dan menantu kita jadi korban nya! Mereka sampai diculik oleh saingan bisnis kalian!" ucap bu Meisya dengan nada sengit.


Gilang dan Kelvin sedikit kaget saat mendengar penuturan bu Meisya, kemudian menatap pak Bayu seolah meminta penjelasan. Sedang pak Bayu hanya bisa menganggukan kepala seolah memberikan isyarat supaya mereka tak bicara apapun.


"Maafkan Gilang, Mi? Ini semua memang salahnya Gilang! Gilang sudah gagal dalam menjaga Mutiara dan Elvina! Gilang memang bukan suami dan kakak yang baik untuk mereka," ucap Gilang penuh dengan penyesalan.


Bu Meisya menghela nafas yang panjang. Ia begitu merasa iba dengan melihat bagaimana 4keadaan putra sulungnya saat ini. Ternyata rasa cinta yang dimiliki oleh Gilang untuk Mutiara sangat lah besar hingga mampu merobohkan harga diri serta kesombongan yang telah melekat erat dalam diri seorang Alvian Gilang Dirgantara.


Gilang tampak begitu frustasi.


"Mi, sudahlah! Kasihan Gilang, dia terlihat sangat frustasi dengan kondisi istrinya saat ini!" ucap pak Bayu sambil memegang bahu istrinya itu.


Bu Meisya mengangguk, kemudian merengkuh tubuh jangkung putranya.


"Maafkan, mami? Bukan maksud mami menyalahkan kamu, nak! Mami hanya terlalu mencemaskan adik dan istrimu saja!"


"Gilang tahu Mi, Gilang juga sangat takut apabila terjadi sesuatu kepada mereka. Apalagi dengan kondisi mereka yang..." Gilang tidak berani melanjutkan kata-katanya lagi. Hatinya terasa remuk saat harus membayangkan seperti apa kondisi istrinya nanti. Mutiara yang biasanya tidak bisa jika tidak melakukan aktivitas apapun, tiba-tiba harus berdiam diri karena mengalami kelumpuhan akibat suntikan yang mematikan saraf tersebut.


"Kakak harus kuat begitu pula dengan kita semua, baik kakak ipar maupun Elvina pasti sangat membutuhkan dukungan dari kita semua!" sela Kelvin yang mendapat anggukan dari pak Bayu dan bu Meisya.


"Kelvin benar, kita akan melakukan apa pun itu untuk kesembuhan Elvina dan Mutiara!" imbuh pak Bayu.


Saat keadaan mulai tenang, seorang pria dengan balutan jas panjang yang berwarna putih datang menghampiri mereka.


"Bagaimana keadaan istri dan adik saya, dok?" tanya Gilang masih dengan raut cemas.


"Iya dok, bagaimana keadaan anak dan menantu saya?" bu Meisya pun turut cemas.

__ADS_1


Dokter pun tersenyum. "Syukur lah setelah kami melakukan serangkaian tes, ternyata suntikan saraf yang diberikan kepada mereka bukan lah suntikan yang bersifat permanen. Mungkin setelah tiga atau lima hari ke depannya reaksi obatnya akan segera menghilang dan mereka pun bisa kembali menggerakan anggota tubuh seperti semula."


Gilang dan yang lain memanjatkan rasa syukur. Tidak lupa mereka mengucapkan banyak terima kasih kepada dokter.


"Dok, apa kami boleh melihat mereka?" tanya Gilang.


"Tentu saja tapi setelah mereka dipindahkan di ruang perawatan!" jawab Dokter.


"Sekali lagi terima kasih banyak ya, Dok?" ucap bu Meisya.


"Sama-sama Nyonya besar. Kalau begitu saya undur diri karena masih ada banyak pasien yang harus saya tangani,"


Bu Meisya mempersilakan, setelah itu Dokter pun pergi berlalu.


Pak Bayu segera menghubungi Radit agar memerintahkan kepala rumah sakit untuk menyiapkan ruangan perawatan VIP yang hanya dikhususkan untuk keluarga Dirgantara. Mereka sudah sepakat jika Mutiara dan Elvina akan di rawat dalam satu ruangan yang sama agar memudahan penjagaan.


💕💕💕


Gilang hanya bisa menatap nanar ke arah istri dan adiknya. Terselip sebuah perasaan lega sekaligus sedih di dalam hatinya. Ia merasa lega karena pria tua bangka tersebut tidak sempat melakukan tindakan apapun terhadap keduanya. Namun hatinya juga sedih jika harus melihat Mutiara dan Elvina tidak bisa menggerakkan sebagian anggota tubuhnya. Meskipun hanya sementara, tetap saja Gilang tidak sanggup apabila harus melihat mereka berdua hanya berdiam diri di atas tempat tidur tanpa bisa mekakukan apa pun. Mutiara dan Elvina pasti akan syok.


Ughhh....


Terdengar suara lenguhan dari bibir Mutiara.


Cepat-cepat Gilang menghapus jejak air yang sudah dengan kurang ajarnya meluncur jatuh dari kedua matanya.


"Kamu sudah bangun, yank?" Gilang menarik kursi dan duduk di samping ranjang pesakitan milik istrinya.


"Saat ini kamu sedang berada di rumah sakit, yank!" jawab Gilang.


"Rumah sakit?" Mutiara berusaha mengingat kembali apa yang sudah terjadi. Tak lama kemudian terdengar isakan dari bibir kecilnya.


"Yank, kenapa menangis? Apa ada yang sakit?" cemas Gilang.


Mutiara menggelengkan kepala, setidaknya itu yang bisa ia lakukan selain berbicara.


"Maafkan aku...?" cicitnya disela isak tangis. "Maafkan aku karena sudah melanggar perintahmu? Tidak seharusnya aku pergi diam-diam, dan sekarang aku pasti..."


"Sstttsss..." Gilang meletakan jari teluntuknya di atas bibir istrinya supaya tak bicara apapun lagi.


"Lupakan saja hal itu dan percaya lah bahwa tidak terjadi apapun kepada kalian berdua!"


Mutiara menatap lekat manik mata suaminya, mencari kebenaran akan semua perkataan yang sudah terlontar dari bibirnya. Mungkin ini hanya sebuah omongan kosong supaya ia tak merasa sedih ataupun hancur karena apa yang sudah diperbuat pria tak bermoral itu.


"Aku dan Kelvin datang tepat waktu, jadi kalian tetap aman!" Gilang berusaha menyakinkan hati Mutiara. Ia tahu saat ini pasti hati istrinya tengah terguncang karena ulah pria jahat itu.


Mutiara semakin tersedu. Hatinya merasa lega karena kenyataannya apa yang sudah melintas dibenaknya tidak terjadi. Ia takut jika tubuhnya dijamah oleh pria yang bukan pemilik haknya.


"Elvina...dimana Elvina?" Mutiara teringat akan sahabatnya.

__ADS_1


"Dia ada disitu," tunjuk Gilang pada brankar yang terletak disampingnya.


"Elvina baik-baik saja, hanya saja dia masih belum sadarkan diri!" jelasnya lagi.


Mata indah Mutiara kembali berkaca-kaca, menyesal karena tidak mendengar perkataan suaminya. Harusnya ia patuh dan bisa membujuk sahabatnya untuk tidak pergi tanpa adanya pengawasan dari para pengawalnya. Gilang sudah melakukan banyak hal hanya untuk menjaga dan melindungi dirinya.


"Terima kasih karena sudah menjagaku dengan baik, dan maaf karena tidak mau mendengarkan ucapanmu!" ujar Mutiara.


Gilang tersenyum kecil lalu menghujani istrinya banyak kecupan di wajahnya.


"Berjanji lah kepadaku kalau kamu tidak akan pernah mengulanginya lagi! Bagiku kamu adalah nyawaku. Jika sesuatu yang buruk terjadi kepadamu, aku pun bisa tiada karenanya!" ucap Gilang kemudian. Mutiara mengangguk haru. Suaminya yang terkenal dingin dan kaku di hadapan orang lain bahkan di depan orang tuanya sekalipun, bisa bersikap lembut dan penuh cinta kepada dirinya. Mutiara benar-benar merasa beruntung bisa mendapatkan cinta yang tulus dari suaminya itu. Ia tak pernah menyesal karena telah menikah muda dan memiliki anak dengan laki-laki yang usianya terpaut jauh darinya.


💕💕💕


Hana bisa tersenyum dan bernafas lega ketika mendapati keadaan Mutiara yang baik-baik saja. Jujur...di dalam lubuk hati yang terdalam, Hana ingin sekali datang dan memeluk Mutiara. Mengatakan seberapa besar kerinduan yang ia pendam selama bertahun-tahun ini. Tapi Hana ingat itu tidak akan pernah mungkin bisa. Selain Mutiara yang membenci dirinya, keadaan pun tidak mendukung. Keluarga Dirgantara pasti akan mempersulit dirinya untuk bersua dengan putri kandungnya.


"Bu..." panggil Intan.


"Ibu pasti merindukan Mutiara kan?"


Hana menoleh dan tersenyum kecil.


"Ibu mana yang tidak akan merindukan anaknya saat berjauhan? Tapi ibu juga harus sadar diri bahwa keadaan tidak sedang berpihak, ibu cukup senang melihat Mutiara bisa menemukan keluarga yang benar-benar mencintainya!"


Intan mendekap dan memeluk ibunya. Ia tahu bagaimana rasanya harus hidup berjauhan dengan kandungnya sendiri. Karena saat ini pun Intan juga merasakannya.


"Aku tahu bu, seperti apa rasanya memendam rindu yang begitu dalam! Aku pun merasakannya...aku juga sangat merindukan Azka...putraku..." cicit Intan disela isak tangisnya.


Kedua wanita yang berbeda usia itu saling memeluk, mendekap satu sama lain untuk saling memberi kekuatan.


"Tapi ibu masih punya kesempatan untuk merubahnya...ibu bisa menceritakan apa yang sudah terjadi sebenarnya! Aku yakin sekali kalau saudara kembarku itu akan dengan lapang mau memahami dan menerima ibu kembali!" cicit Intan lagi.


Hana menggelengkan kepalanya. Apa yang dikatakan Intan adalah benar. Mutiara pasti akan memaafkannya dan berlapang hati menerima kehadirannya kembali jika mengetahui kebenarannya. Tapi Hana tidak ingin melakukannya. Melihat kehidupam Mutiara saat ini, membuat hati Hana menjadi kecil.


Mutiara sekarang adalah seorang istri dari seorang pengusaha sukses dan ternama. Sedangkan dirinya...ia hanya lah seorang mantan narapidana. Hana tidak mau kehadirannya akan membuat masalah baru dalam kehidupan rumah tangga putrinya itu.


"Ibu sudah cukup bahagia karena bisa melihat kehidupan Mutiara saat ini meskipun hanya dari jauh dan ibu tidak mau kalau Mutiara sampai mendapatkan masalah baru jika ibu tiba-tiba hadir dalam kehidupannya!" ucap Hana.


"Dan saat ini ibu hanya ingin melihat hidup putri ibu yang lain juga bahagia!?" ucapnya lagi seraya mengusap lembut kedua pipi Intan.


"Intan, lupakan lah masa lalumu yang kelam dan berusaha lah untuk menemukan kebahagiaan yang sebenarnya!"


"Apa aku bisa, bu?" tanya Intan.


"Pasti bisa nak, asal ada kemauan!"


Intan menatap dalam kedua mata ibunya, ada sebuah harapan besar di dalamnya.


"Baik-lah bu, aku akan berusaha untuk memulai semuanya dari awal lagi! Ibu doakan saja aku supaya bisa meraih hidup yang lebih baik dan bahagia tentunya!?"

__ADS_1


Hana mengangguk, mendekap erat tubuh putrinya. Berharap dapat menyalurkan sebuah kekuatan yang mampu mendobrak hidup Intan supaya mau mencari kebahagiaan yang lain.


__ADS_2