
#PERNIKAHANBEDAUSIA
Part 40
*****
Mutiara masih tampak kelelahan setelah menempuh perjalanan yang jauh. Rasa katuk pun masih melekat setia di kedua matanya. Ia seakan merasa enggan untuk bangun dari tidurnya. Jika saja tidak mendengar suara bising dari arah kamar mandi. Mutiara akhirnya bangun dan melihat apa yang sedang terjadi.
Dengan langkah kaki yang sedikit diseret, Mutiara langsung masuk ke dalam kamar mandi karena pintunya sudah terbuka. Kedua matanya membulat sempurna saat mendapati suaminya duduk tersungkur di bawah wastafel. Mutiara panik, apalagi wajah Gilang sangat pucat. Ia mendekati suaminya.
"Masyaallah yank, kamu kenapa lagi?" Mutiara berusaha membantu Gilang bangun.
"Nggak tahu yank...tiba-tiba saja perutku mual dan kepalaku terasa sangat pusing," ujar Gilang.
Mutiara menyentuh kening Gilang. Badannya tidak panas, mungkin ini masih berhubungan dengan sakitnya Gilang sewaktu di Paris.
Mutiara memapah Gilang dan membantunya kembali ke tempat tidur. Namun baru setengah jalan, Gilang sudah berlari lagi menuju wasafel. Ia terus saja berusaha memuntahkan sesuatu. Dan itu hanya berupa cairan bening.
Mutiara memijat tengkuk leher suaminya, berharap bisa membantu menghilangkan rasa mualnya.
"Gimana yank? Udah enakan?" cicit Mutiara. Gilang hanya menganggukan kepalanya.
"Ya udah kamu istirahat dulu ya! biar aku minta tolong sama Radit untuk panggilkan dokter," ujar Mutiara lagi. Lagi-lagi Gilang mengangguk pasrah.
Mutiara membantu Gilang berjalan menuju tempat tidur dan memintanya untuk berbaring.
"Yank... " panggil Gilang saat Mutiara hendak keluar dari kamar.
"Jangan lama-lama! Aku mau kamu disini bersamamu," lanjut Gilang.
Mutiara hanya mengangguk. Akhir-akhir ini Gilang selalu ingin berada di dekatnya, begitu pula dengan sebaliknya. Mereka seakan tidak ingin berjauhan walau hanya sedetik saja.
Mutiara mencari keberadaan Radit, yang tak lain adalah asisten pribadi suaminya. Ia akan meminta Radit untuk memanggil dokter pribadi dari keluarga suaminya. Jujur saja Mutiara belum tahu, itu sebabnya ia meminta bantuan Radit.
"Pagi Nona Muda..." sapa salah satu asistennya.
"Pagi..." balas Mutiara.
"Lihat pak Radit atau pak Heru nggak?" tanya Mutiara kemudian.
"Maaf Nona, pak Radit dan mas Heru sudah ada di teras menunggu pak Gilang"
Mutiara tersenyum kemudian pergi ke arah teras menemui pak Radit dan pak Heru.
"Selamat pagi Nona Muda..." sapa kedua pria itu. Mereka sedikit bingung karena tuannya tidak muncul.
"Pak Radit, bisa tolong panggilkan dokter untuk suami saya? Dia sedang sakit," cuit Mutiara.
"Baik Nona Muda," jawab pak Radit.
Ternyata tuan muda bisa sakit juga, aku pikir dia merupakan pria yang kebal akan penyakit. Pak Radit membathin.
Sementara Radit menghubungi Dokter Indra. Mutiara menuju dapur, ia ingin membuat bubur untuk suaminya.
"Apa nona muda membutuhkan sesuatu?" tanya seorang pria berpakaian seperti koki.
"Tidak ada. Aku hanya ingin membuat bubur untuk tuan," jawab Mutiara.
__ADS_1
"Kalau begitu biarkan saya saja yang membuatnya nona muda," ucap Koki tersebut.
Mutiara menghela nafas panjang. Inilah yang tidak ia suka jika terlalu banyak asisten rumah tangga. Ia jadi tidak bisa mengerjakan apapun.
"Baiklah kalau begitu, jika sudah selesai tolong antar ke kamar ya!" pinta Mutiara. Koki tersebut mengangguk kemudian menundukan kepala. Ia masih teringat pesan yang diberikan oleh pak Heru, yang tak lain adalah sopir sekaligus kepala pelayan di rumah itu. Pak Heru berpesan jangan terlalu lama dalam memandang nona Muda mereka.
Mutiara kembali ke kamar. Ia mendengus kesal saat melihat suaminya asyik berkutat dengan laptop miliknya. Dia pasti sedang bekerja.
"Yank...kamu lagi sakit lho, kenapa masih kerja?" protes Mutiara. Ia mengambil paksa laptop Gilang.
"Maaf yank...aku hanya ngecek laporan yang dikirim oleh Risma saja," Gilang menepuk sisi ranjang, meminta istrinya duduk.
"Tapi kamu lagi sakit, yank. Jadi harus banyak istirahat!" bantah Mutiara.
"Baiklah, aku akan menuruti perkataan istriku." Gilang semakin hari semakin dibuat gemas dengan tingkah laku istrinya yang mudah berubah-ubah.
Gilang mengacak rambut Mutiara. Kemudian hendak melayangkan sebuah kecupan singkat, namun perutnya kembali tidak bisa diajak kompromi. Gilang beranjak dari tempat tidur, sedikit buru-buru menuju kamar mandi. Berulang kali Gilang memuntahkan cairan bening hingga membuat tubuhnya terasa lemas.
"Gimana yank? masih mual?" Mutiara mengurut tengkuk leher suaminya.
Iya yank, aku sendiri bingung kenapa bisa jadi begini?" Gilang bertumpu pada tubuh mungil istrinya. Kakinya gemetar karena lemas.
"Ini mungkin masih ada hubungannya dengan sakitmu saat kita berada di Paris," ujar Mutiara. Ia memapah suaminya kembali ke tempat tidur.
"Kemaren kamu belum sembuh total, tapi udah maksain jalan kemana-mana. Jadi begini deh akhirnya," omel Mutiara.
Gilang merebahkan diri di atas kasur. Ia tidak membalas omelan istrinya. Justru ia merasa senang bisa melihat istrinya menjadi sangat bawel akhir-akhir ini. Tidak seperti diawal-awal pernikahan yang lebih banyak diam karena merasa takut dengan dirinya.
Tok...Tok...Tok....
Pak Radit datang bersama dokter Indra.
"Ternyata seorang Gilang bisa membutuhkan pertolongan dariku juga? Aku mengira dia bakal kebal dengan segala macam penyakit," ledek dokter Indra.
Dokter Indra mendekat dan ingin memeriksa kondisi Gilang. Hanya saja Gilang menepis tangannya.
"See... Dia tidak mau diperiksa," Dokter menoleh ke arah Mutiara.
"Yank...kamu lagi sakit jadi harus diperiksa!" Mutiara mendengus kesal melihat tingkah suaminya yang masih kekanak-kanakan.
"Huff...Baiklah, hari ini kamu menang!" Gilang menatap sinis pada dokter Indra.
Dokter Indra tertawa. Ia tidak menyangka jika Gilang bisa ditundukan oleh wanita tersebut.
"Sudahlah tidak usah tertawa! Cepat periksa sebelum aku berubah pikiran!!" kesal Gilang.
"Lihat-lah bayi besar sedang marah!" dokter Indra menghentikan tawanya. Ia mulai memeriksa Gilang.
Gilang dan dokter Indra memang sudah saling mengenal sejak mereka duduk di bangku SMP hingga SMA. Keduanya bukan teman ataupun musuh. Mereka hanya saling bersaing dan beradu mulut ketika dipertemukan.
"Apa yang sedang kamu rasakan saat ini?" tanya dokter Indra. Ia sedikit mengerutkan dahi.
"Pusing dan mual saja," ketus Gilang.
"Apakah sampai muntah-muntah?" tanya dokter Indra lagi.
"Yang namanya mual pasti muntah," Gilang semakin kesal. Ia melempar bantal ke arah muka dokter Indra.
__ADS_1
Dengan cekatan dokter Indra menangkap bantal tersebut.
"Aku hanya ingin tahu saja, aku sudah memeriksamu tapi tidak ada masalah dengan kondisimu. Semuanya baik-baik saja," jelas dokter Indra melempar bantal pada Gilang.
Mutiara hanya melongo melihat kelakuan dua orang tersebut. Sedangkan pak Radit hanya diam memperhatikan kelakuan tuannya dengan dokter Radit.
"Maksudmu apa? Kamu ingin menuduhku sedang berpura-pura sakit?" geram Gilang.
Dokter Indra mengedikan bahunya.
"Maybe..." ujar dokter Indra dengan santai.
Gilang menggeretakan giginya. Dokter Indra memang suka asal kalau bicara. Kalau tidak ada istrinya, bisa jadi Gilang sudah membuatnya babak belur.
"Atau kamu sudah membuat anak orang hamil karena lupa pakai pengaman saat bercinta," ujar dokter Indra seasalnya.
Gilang dan Mutiara tersentak karena kaget.
"Apa maksudmu?" Gilang bingung.
"Saat wanita hamil, biasanya dia akan mengalami yang namanya morning sickness. Tapi ada juga ayah dari bayi itu yang mengalaminya," terang dokter Indra.
Gilang diam, ia berusaha untuk mencerna setiap perkataan dari dokter Indra. Ia menatap wajah istrinya. Mutiara juga terlihat seperti memikirkan sesuatu.
"Kalau begitu sekarang tolong periksa gadis kecilku! Apakah dia hamil atau tidak?" seru Gilang.
"Gadis kecil?" dokter Indra mengernyitkan dahi, ia menatap tajam pada Gilang.
"Jangan bilang kamu sudah mengajak anak dibawah umur untuk bercinta!? Dasar pria tidak punya otak kamu!" geram dengan kelakuan Gilang yang seenaknya sendiri.
Wajah Mutiara memanas. Ia hanya bisa menundukan kepala. Malu... Itu yang tengah ia rasakan saat ini.
Gilang mengeram kesal. Ia melempar bantal lagi pada dokter Indra. Dan kali ini tidak meleset.
"Apa salahnya kalau aku menghamili istriku sendiri hah...??" suara Gilang sedikit meninggi.
Istri? Dokter Indra melongo. Ia sama sekali tidak tahu kalau Gilang sudah menikah. Dokter Indra menoleh pada gadis yang dari tadi diam di sampingnya. Kalau dilihat dari wajahnya, ia masih SMA.
"Jangan terlalu lama menatap istriku! Aku tidak ikhlas jika wajah cantiknya kamu nikmati," Gilang semakin kesal.
Dokter Indra mendengus. Ia tidak tahu jika gadis kecil yang ada disampingnya adalah istri Gilang. Ia mengira jika gadis itu hanyalah boneka mainan Gilang seperti wanita lainnya. Dan dokter Indra juga baru menyadari bahwa dia masih sangat remaja, karena tadi tidak begitu memperhatikannya.
"Maaf... Saya tidak tahu jika kamu adalah istrinya?" ujar dokter Indra pada Mutiara.
"Tidak apa-apa dok...saya bisa memakluminya," Mutiara tersenyum.
Manis juga... Pikir dokter Indra.
Pantas saja Gilang yang terkenal dingin bisa melunak pada gadis kecilnya.
"Apa kamu ingat kapan terakhir datang bulan?" tanya dokter Indra.
Mutiara menggelengkan kepala.
"Tapi bulan ini saya belum datang bulan," ujarnya kemudian.
"Baiklah kita akan melakukan pemeriksaan. Tapi sebelumnya tolong minta kepada salah satu ART mu untuk membeli test pack!" dokter Indra memberikan intruksi.
__ADS_1
Gilang menatap pak Radit seolah memberikan perintah. Pak Radit mengerti, ia segera keluar dari kamar dan meminta mbak Laras pergi membeli test pack untuk istri tuannya.