
#PERNIKAHAN_BEDA_USIA
PART 91
🎈🎈🎈
Seperti janjinya, hari ini Mutiara akan membawa Azka untuk pergi jalan-jalan ke taman Safari. Awalnya Gilang melarang dengan alasan bahwa situasi belum aman. Namun Mutiara terus saja membujuk dan merengek lanyaknya anak kecil. Mau tak mau Gilang akhirnya mengizinkannya.
Mutiara dan Azka begitu bahagia, mereka sangat bersemangat karena bisa menghabiskan waktu bersama setelah terpisah selama berminggu-minggu. Segala persiapan mereka lakukan dengan bibir yang melengkung mengukir senyum bahagia. Gilang semakin tak berdaya. Hatinya cemas karena musuh belum ditemukan, tapi ia pun tidak ingin melunturkan senyuman manis dari bibir istri serta anak-anaknya.
Gilang akhirnya meminta Heru dan Laras untuk tetap siaga dan selalu pasang mata. Gilang merasa musuh masih mengintai keselamatan keluarganya. Mereka pasti akan menyerang pada yang lemah. Dan itu adalah kaum wanita di keluarganya.
Pak Bayu mengerti akan kecemasan yang melanda putra sulungnya. Ia ingin membantu namun pak Bayu sendiri paham bagaimana sifat Gilang yang sangat keras. Gilang pasti akan menolak bantuan dari siapun termasuk dari orang tuanya.
Secara diam-diam akhirnya pak Bayu menerjunkan orang-orang dari jaringan gelapnya, meminta mereka mencari keberadaan Shinta dan keluarganya. Pak Bayu merasa hilangnya mereka bukan lah karena tanpa alasan. Pasti ini semua ada campur tangan dari jaringan gelap yang pernah melibatkan masa lalu yang sudah ia tinggalkan dulu.
Pak Bayu tidak ingin sekedar curiga atau menerka-nerka saja, tapi ia terus berusaha untuk tetap waspada. Apalagi jika ditelisik kembali, pastinya saat ini musuh dari masa lalunya sudah bebas dari balik jeruji. Pak Bayu tidak mau kalau sampai masa lalunya yang kelam itu akan mendatangkan bencana bagi keluarganya.
Dert...dert...dert...
"Iya katakan saja!" ucap pak Bayu kepada si penelpon
âž–âž–âž–âž–
"Jadi benar dia sudah bebas?" tanya pak Bayu
âž–âž–âž–âž–
"Baik lah, tetap waspada dan selalu awasi pergerakan mereka!" perintah pak Bayu.
Pak Bayu mendesah berat, pikirannya mulai bercabang antara membangkitkan "DARKNESS" atau tidak. Jika ia kembali membangkitkan nya itu berarti pak Bayu akan melanggar janjinya pada sang istri. Namun jika tidak, keluarganya pun pasti dalam masalah. Terutama bagi Mutiara dan Elvina.
"Apakah papi kembali melibatkan mereka?"
__ADS_1
DEG
Pak Bayu hanya bisa terdiam. Merutuki tindakan bodoh yang baru saja dilakukannya. Tak semestinya ia mengangkat panggilan tersebut. Karena bisa memancing kecurigaan istrinya.
"Jawab Pi...!" desak bu Meisya.
"Maaf Mi...Papi hanya ingin mencari informasi tentang dia? Papi hanya ingin tahu apakah dia sudah bebas atau belum?" jawab pak Bayu.
Bu Meisya terduduk lemas. Mendengar kata dia, bu Meisya mengerti siapa yang dimaksud. Bayang-bayangan masa lalu kembali terngiang. Rasa trauma yang mendalam akibat rangkaian kejadian di masa lalu belum sepenuhnya hilang. Tapi kenapa sekarang harus muncul lagi setelah sepuluh tahun berlalu.
"Terus bagaimana? Apa dia sudah bebas?" tanya bu Meisya kemudian.
"Ya dia bebas tapi bukan karena masa tahanannya yang habis, tapi dengan caranya yang licik!" jelas pak Bayu.
"Maksudnya...?" bu Meisya tak mengerti.
"Dia sengaja membakar sel tahanan kemudian menjadikan seseorang sebagai mayatnya dan dia sendiri akhirnya berhasil melarikan diri dengan mudah." Pak Bayu duduk di samping bu Meisya. Ingin bicara dari hati ke hati. Mungkin ini saat nya Darkness bangkit untuk menyelesaikan masalah lama yang belum usai.
"Aku takut Pi...aku takut jika dia kembali mengincar Mutiara atau Elvina," lirih bu Meisya.
Di sisi lain tengah berdiri seorang pemuda dengan tampilan yang acak-acakan. Pemuda itu tak lain adalah Kelvin. Ia tidak paham dengan arah pembicaraan kedua orang tuanya. Tetapi Kelvin bisa melihat adanya kecemasan yang besar dari raut wajah kedua orang tua tersebut.
"Sebenarnya apa yang sedang terjadi, kenapa mereka tampak begitu cemas?" lirih Kelvin. Sedikit menyesal dengan tindakan bodoh yang sudah diperbuatnya. Berlarut-larut dalam kesedihan karena pengkhianatan Shinta.
Kelvin mulai menyadarai bahwa tak sepatutnya ia terus saja terpuruk seperti ini. Wanita seperti Shinta memang tak layak untuk dicintai. Kelvin mulai memantabkan hatinya agar bisa bangkit dalam menyongsong masa depan. Ia ingin seperti Gilang dan Papinya. Menjadi seorang penguasaha sukses di usia yang muda. Dengan begitu tidak akan ada orang lagi yang berani merendahkan dirinya, seperti Shinta dan keluarganya.
###
Tanpa terasa sudah hampir dua jam Mutiara berserta rombongan mengitari taman safari. Dengan telaten dan penuh kesabaran, Mutiara terus saja memberikan penjelasan kepada Azka mengenai nama-nama setiap binatang yang mereka jumpai. Hingga membuat bocah itu semakin bersemangat meskipun sudah merasa lelah.
Azka sendiri pun tak pernah bosan melontarkan berbagai pertanyaan sampai mendapat jawaban yang memuaskan. Rasa keingin-tahuan nya memang baru memasuki tahap tinggi, jadi mau tak mau Mutiara harus menyiapkan jawaban-jawaban yang bijak dan tentunya mudah dipahami oleh Azka.
Mutiara akhirnya meminta rombongan untuk berhenti di sebuah pohon yang cukup rindang. Mereka akan beristirahat sejenak sambil mengisi perut yang sudah mulai kelaparan.
__ADS_1
Laras dan Heru segera menggelar dua tikar yang cukup besar agar muat diisi oleh rombongannya. Sedang kan pelayan lainnya turut membantu mengeluarkan bekal yang sudah disiapkan sejak dari rumah.
Mutiara tersenyum gemas ketika melihat Azka berlari kemudian duduk di tengah salah satu tikar, meminta pelayan agar segera menyiapkan makanan untuknya.
"Ayo epat ikit, Azca udah apar nih!" ucapnya.
Para pelayan tersenyum, mereka juga ikut gemas melihat tingkah Azka yang seolah suka memerintah seperti yang biasa Daddy nya lakukan. Bocah itu seakan ingin mengikuti jejak sang Daddy yang terkesan berkuasa dalam hal apa pun.
"Wah...sepertinya akan ada calon penerus Tuan Gilang nih," bathin Heru sambil menggelengkan kepalanya. Merasa lucu ketika membayangkan Azka yang nantinya akan mengikuti jejak Daddy nya ketimbang sang ayah kandung.
"Ommy, Azca mau diuapin ama Ommy aja!" celoteh Azka lagi.
Lagi-lagi Mutiara tersenyum kecil, meraih piring yang sudah diisi makanan oleh pelayan. Setelah itu tak lupa ia meminta para pelayan untuk segera makan secara bergantian dengan baby sister yang menjaga keempat bayi kembarnya.
"Sebaiknya kami makan setelah nona Mutiara dan tuan muda kecil selesai makan," ucap Heru dengan penuh rasa hormat.
Mutiara mendelik tajam, merasa kesal dengan sikap para pelayan di rumahnya.
"Kalian makan terlebih dahulu atau aku tidak akan makan sama sekali?!" ancam Mutiara kemudian.
Pak Heru menunduk, kalau begini tidak ada pilihan lain. Istri tuannya memang berhati lembut, akan tetapi kalau sudah marah akan bisa berakibat fatal. Apalagi semenjak menyandang status sebagai ibu. Sifat galaknya pun suka keluar tanpa bisa ditebak. Gilang saja kualahan, apalagi dengan mereka...
Pak Heru dan para pelayan segera mengambil piring masing-masing kemudian memasukan makanan ke dalamnya. Namun sebelum itu mereka sudah menyisihkan makanan khusus untuk nona mereka.
Mutiara terkikik geli, merasa lucu dengan wajah mereka yang menunduk takut. Hampir saja tawanya meledak kalau dia tidak bisa menahannya.
"Ck...lihat lah, dia seolah senang melihat wajah ketakutan dari para pelayannya!" guman Heru yang menyadari sikap dari istri Tuannya itu.
Setelah selesai menyuapi Azka makan, Mutiara pun mengisi perutnya yang sudah mulai kelaparan. Begitu pula dengan para pelayan yang bergantian menjaga si kembar dan membiarkan para baby sister untuk makan. Sangat menyenangkan bukan.
Tapi tidak bagi Mutiara. Bukan tak senang bisa makan bersama dengan para pelayan atau baby sister anak-anaknya. Justru Mutiara merindukan kebersamaan yang telah lama menghilang sejak ia menikah dengan Gilang. Hanya saja entah kenapa perasaan Mutiara tidak enak. Ia merasa seakan ada mata yang terus mengawasi keberadaan nya.
Mutiara sempat melirik ke segala arah. Namun tidak ada orang yang tampak mencurigakan atau terkesan mengawasi keberadaannya.
__ADS_1
"Akh...mungkin ini hanya perasaanku saja!" bathin Mutiara. Berusaha berpikir positif dan melanjutkan kegiatan makan nya yang sempat tertunda akibat perasaan was-was nya.
Heru dan Laras menyadari jika ada raut cemas dari wajah Mutiara. Mereka saling melirik seolah memberikan sebuah kode tertentu yang sama sekali tidak dimengerti oleh siapa pun, dan pastinya hanya lah mereka sendiri yang mengetahui apa maksudnya.