
#PERNIKAHANBEDAUSIA
Part 39
***
Hati Clarissa resah. Ia masih saja terngiang-ngiang dengan perkataan wanita yang ada di kafe tadi. Apakah benar wajah istri Gilang sangat mirip dengannya? Dan namanya Mutiara Mikayla Putri? Tapi mana mungkin orang yang sudah tiada bisa hidup kembali? Apakah ibunya sudah berbohong kepadanya? Clarissa benar-benar bingung. Ia tidak tahu harus percaya kepada siapa? Ibunya atau wanita itu? Dan seandainya benar, bahwa istri dari Gilang tak lain adalah Mutiara...akankah ia sanggup melukai saudara kembarnya sendiri?? Sekaranh ini Clarissa berada dalam sebuah dilema yang cukup rumit.
Clarissa termenung. Ia mengingat kembali dimana saat ia masih hidup bersama keluarga kecilnya. Ada ayah, ibu dan saudara kembarnya. Mereka cukup bahagia meski hidup serba kekurangan, apalagi sang ayah begitu menyanyangi anak-anaknya. Clarissa sangat merindukan hari-hari itu, ingin sekali rasanya ia memutar waktu dan kembali menjadi anak kecil. Pasti hidupnya tidak akan serumit ini. Ia tidak akan berpikir bagaimana caranya untuk bertahan hidup untuk ke depannya.
EHEEMMM...
Clarissa menoleh. Ia melihat Mr. Steve sudah selesai mandi. Pria itu hanya mengenakan handuk, melingkar dari pinggang hingga ke lutut. Badannya yang sixpack dibiarkan dalam keadaan ***** dengan rambut yang masih sangat basah. Clarissa tersenyum. Ia menghampiri Mr. Steve.
"Sayang...kamu terlihat sangat seksi," bisik Clarissa.
Mr. Steve terkekeh. Ia segera merangkul dengan erat pinggang kekasihnya.
"Apa kamu sangat menyukainya?" Mr. Steve mengangkat dagu Clarissa.
Clarissa hanya menganggukan kepala. Ia harus bisa membuat pria itu merasa senang. Gara-gara ulah dari wanita tadi, Mr. Steve hampir saja membunuhnya lantaran merasa dibohongi olehnya. Untung saja Clarissa memiliki seribu cara untuk menyakinkan bahwa wanita itu telah berbohong.
"Aku menginginkanmu sekarang," cuit Mr. Steve.
Clarissa mengangguk. Ia tidak punya pilihan lain selain mengiyakan keinginan dari Mr. Steve. Meskipun sebenarnya ia sedang tidak ingin bercinta.
Mr. Steve dengan cekatan sudah membopong Clarissa dan melemparkan wanita itu di atas ranjang. Mereka memulai percintaan yang sangat panjang dan melelahkan. Tanpa dirasa, Clarissa meneteskan air mata. Ia kembali mengingat wajah ayahnya.
"Maafkan Intan Ayah...Intan tahu ayah pasti merasa kecewa tapi Intan benar-benar tidak memiliki pilihan lain," ucap Clarissa dalam hati. Ia melirik Mr. Steve yang sudah tertidur pulas akibat kelelahan.
Clarissa beranjak dari tempat tidur. Ia memunguti pakaiannya yang sudah berserakan di lantai kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Clarissa mulai menangis sesunggukan, menumpahkan seluruh kesedihannya. Clarissa merindukan sosok ayahnya. Andai saja ibunya tidak serakah dengan harta? Mungkin saja Clarissa tidak akan pernah menjual tubuhnya dan mungkin juga Gilang masih berada disampingnya hingga saat ini. Clarissa sangat membenci ibunya. Karena ulah dari wanita itu, hidup Clarissa menjadi berantakan.
Clarissa harus merasakan yang namanya pelecehan seksual oleh ayah tirinya saat ia baru duduk dibangku kelas 3 SMP. Semenjak itulah kehancuran hidupnya baru dimulai. Ia tidak tahu harus berbuat apa? Sedangkan ibunya sendiri malah menyalahkan dirinya. Wanita itu membela keberadaan sang suami.
Clarissa tidak tahu harus membagi kesedihannya dengan siapa? Ia terlalu takut untuk berkata jujur, terutama pada Gilang kekasihnya. Clarissa takut jika Gilang akan merasa jijik dengan dirinya. Apalagi setelah kejadian itu, ayah tirinya tidak pernah berhenti menjadikan ia sebagai alat pe**** n*f** b*j*tnya. Clarissa hampir tiap hari harus melayani ayah tirinya. Dan tentunya sang ibu tetap diam karena takut diceraikan oleh suaminya. Ibu Clarissa lebih memilih untuk mengorbankan anaknya dari pada ia harus menanggung kehidupan yang miskin lagi.
Hati Clarissa sangat hancur. Ia menjadi frustasi hingga berada di jalan yang salah. Ia menjadikan tubuhnya sebagai alat penghasil uang. Dan masalah yang pernah terjadi diantara Gilang dan Kelvin? Itu hanyalah sebuah alasan bagi Clarissa agar bisa melepaskan diri dari kekasihnya.
__ADS_1
Clarissa ingin mencari pria yang lebih kaya dari Gilang. Untuk itu ia memanfaatkan Kelvin untuk bisa lepas dari Gilang. Dan semua usahanya berhasil. Clarissa putus dari Gilang, setelah Gilang memergoki Clarissa sedang bercinta dengan Kelvin. Padahal Kelvin sendiri saat itu sedang dalam keadaan tidak sadarkan diri karena berada dalam pengaruh obat perangsang.
Clarissa menyesal tapi semuanya sudah terlambat. Ia tidak mungkin bisa keluar dari jalan lembah hitam yang sudah ia ambil. Hanya Gilang saja yang mampu menolongnya saat ini. Clarissa sangat yakin jika Gilang akan membebaskan dirinya dari seorang Mr. Steve. Apalagi mengingat bagaimana dulu pria itu sangat mencintainya. Mungkin bisa dikatakan bahwa Clarissa begitu egois, tapi ia hanya menginginkan sebuah kehidupan yang tenang dan bahagia. Dan menurut Clarissa hanya Gilang saja yang mampu memberikan semua itu.
"Aku harus bisa kembali pada Gilang, hanya dengan dia aku akan hidup bahagia tanpa harus takut sengsara karena serba kekurangan" guman Clarissa.
Clarissa melupakan sejenak siapa yang telah menjadi istri Gilang saat ini. Ia hanya ingin lepas dari kehidupan yang suram. Mr. Steve tidak akan pernah bisa memberikan jaminan hidup baginya, apalagi pria bengis itu sudah beristri dan memiliki dua orang anak.
****
Setelah melakukan perjalanan selama kurang lebih 18 jam, akhirnya pesawat yang ditumpangi oleh Gilang dan Mutiara landing juga. Keduanya bergegas turun, tidak sabar untuk segera kembali ke rumah mereka.
"Welcome my home," cuit Mutiara tampak girang
Mutiara tersenyum. Ia merangkul lengan suaminya melangkah meninggalkan bandara menuju mobil mereka. Sementara barang-barang bawaan mereka sudah diurus oleh Heru dan asisten pribadi Gilang.
Keduanya sudah tampak letih, itu sebabnya mereka sepakat untuk lansung menuju rumah saja. Mutiara sedikit heran, ia memperhatikan jalanan sekeliling. Ini bukan arah rumah mereka ataupun rumah keluarga besar Dirgantara. Mau kemanakah suaminya akan membawanya pergi? Mutiara menoleh menatap tajam pada suaminya.
"Yank...Bukankah kita sepakat untuk pulang?" protes Mutiara.
"Iya yank, ini kita mau pulang ke rumah" jawab Gilang dengan santai.
"Pak Heru...ini bukan jalanan menuju ke rumah! Apakah pak Heru sudah lupa dengan arah pulang?" cuit Mutiara.
Pak Heru tidak menjawab. Ia hanya tersenyum kecil sambil melihat istri tuannya dari spion kaca. Begitu pula dengan asisten pribadi Gilang.
"Siapa yang mengizinkan kalian melihat wajah istriku terlalu lama?" Gilang mengeram kesal, sepertinya ia harus membuat peraturan baru untuk para pelayan dan bodyguartnya.
Gilang merasa tidak rela jika ada orang lain yang ikut menikmati kecantikan dari istrinya terlalu lama. Hanya dirinya saja yang boleh menatap dan memandang wajah cantik dari Mutiara.
Heru dan asisten Gilang kembali menatap ke depan. Sedangkan Mutiara hanya menggelengkan kepalanya saja. Ia tidak heran dengan tingkah suaminya yang mudah cemburu.
Mutiara membeku ketika mobil mereka memasuki gerbang yang menjulang tinggi memasuki sebuah rumah yang sangat besar. Lagi-lagi ia hanya menoleh ke arah suaminya.
Gilang tersenyum. Ia segera turun setelah Heru membukakan pintu untuknya. Mutiara menghela nafas dengan berat. Sungguh ia tidak mengerti dengan sikap suaminya.
"Yank...Ayo turun! Kita sudah sampai," cuit Gilang membukakan pintu untuk istrinya.
__ADS_1
Mutiara menurut. Ia segera turun dari mobil.
"Yank...kamu belum jawab, ini rumah siapa??" tanya Mutiara lagi.
"Ini rumah baru kita yank," balas Gilang.
"A...a...a...pa...?" Mutiara kaget.
"Ka..ka..mu...serius?"Mutiara tak percaya.
"Iya yank...ini memang rumah kita yang baru," jawab Gilang lagi.
Sekali lagi Mutiara mengamati rumah yang berdiri kokoh di hadapannya. Rumah itu terlalu besar jika hanya ditinggali oleh mereka berdua.
"Ayo masuk! Bukankah tadi kamu bilang sudah merasa letih" ajak Gilang.
Mutiara mengangguk. Ia terlalu syok sehingga tidak tahu harus berbicara apa.
****
"Selamat datang tuan....selamat datang nona..."
Mutiara kembali tercengang. Ia tidak percaya jika Gilang juga sudah menyiapkan begitu banyak asisten rumah tangga.
"Yank, mereka semua adalah asisten rumah tangga kita. Jadi kamu tidak perlu capek untuk mengurusi rumah lagi," ujar Gilang kemudian.
Mutiara menatap suaminya.
"Lalu tugas aku apa yank? Kamu kan tahu aku paling nggak bisa kalau hanya disuruh diam aja," protes Mutiara.
"Ya...tugasmu cukup melayani suami saja. Terutama di dalam kamar," bisik Gilang.
Mutiara melotot. Dasar suami mesum, pikirnya.
"Terus dimana mba Laras?" tanya Mutiara.
"Tuh... " tunjuk Gilang.
__ADS_1
"Dia sekarang jadi asisten pribadimu yank. Aku tahu kalian sudah cocok " terang Gilang.
Mutiara tersenyum ketika mendapati mbak Laras berpakaian berbeda dengan para pelayan lainnya. Ia berterima kasih pada suaminya karena mau mengerti apa yang menjadi keinginannya.