Pernikahan Beda Usia

Pernikahan Beda Usia
#PERNIKAHANBEDAUSIA_59


__ADS_3

PERNIKAHAN BEDA USIA


PART 59


***


Usai acara sekolah, pak Bayu dan bu Meisya mengajak seluruh anggota keluarga makan di luar. Mereka ingin merayakan kelulusan Mutiara dan Elvina.


Amuz Gourmet Restaurant menjadi tempat tujuan, hingga membuat mereka sangat berantusias kecuali Gilang.


Selama di perjalanan, Gilang menunjukan wajah yang masam. Bukan tidak senang bisa makan bersama dengan keluarga, melainkan karena ada sosok Arif di tengah-tengah mereka.


"Yank..." panggil Mutiara.


"Hmmm"


Mutiara mencebikan bibirnya. Ia geram karena diacuhkan oleh suaminya.


"Sabar ya nak, Daddy kamu memang seperti itu orangnya. Nanti kamu jangan seperti Daddy ya, acuh dan arogant!" celoteh Mutiara sambil mengusap perutnya yang sedikit membuncit tapi tidak telihat kalau sedang hamil.


"Ck.. Terus kamu maunya anak kita seperti Arif?!" Gilang bertambah geram.


"Kenapa tidak? Arif orangnya baik dan penyanyang, dia juga lembut sama wanita." Mutiara asal bicara.


Hati Gilang mendadak panas. Ia tidak perduli jika wanita lain yang memuji. Tapi kalau istrinya yang memuji, Gilang tidak akan bisa menerimanya.


"Aww..." ringis Mutiara. Kepalanya terbentur bagian depan mobil karena Gilang mendadak mengerem mobilnya.


"Maaf yank, aku tidak sengaja?" ucap Gilang.


"Kamu kenapa sih yank, dari tadi nyuekin aku sekarang ngerem mobil mendadak?" Mutiara merasa kesal.


"Maaf yank, aku hanya tidak suka kamu memuji pria lain!" jelas Gilang merasa bersalah saat melihat mata istrinya sudah berkaca-kaca.


Mutiara membuang muka ketika Gilang menjulurkan tangan hendak mengusap air mata yang sudah mengalir deras di pipinya. Dada Mutiara terasa sesak, pikirannya kembali melayang pada masa lalu. Dimana Gilang masih suka berperilaku seenaknya.


"Aku mau pulang saja!" ucap Mutiara kemudian.


"Tapi yank..."


"Aku mau pulang!" Mutiara menyela dengan cepat sebelum Gilang menyelesaikan perkataannya.


Gilang menghela nafas panjang, merutuki kebodohan yang ia buat sendiri. Gara-gara rasa cemburu yang berlebih, sekarang Mutiara marah kepadanya.


Suasana di dalam mobil menjadi hening. Tak ada yang bicara. Gilang sesekali melirik Mutiara, ia semakin merasa bersalah saat melihat kesedihan di wajah istrinya.


Dert...dert...dert...


Ponsel Gilang berbunyi, tertera nama Kelvin yang memanggil. Gilang memasang earphone di telinganya, lalu mengangkat panggilan dari Kelvin.


*Hallo kak, Kakak sama kakak ipar dimana?kok belum sampai?* tanya Kelvin begitu Gilang menekan tombol hijau.


*Sorry Vin, sepertinya kita nggak bisa ikut. Mutiara lagi nggak enak badan* Gilang berbohong.


*Kakak ipar sakit? bukannya tadi dia baik-baik saja?" Kelvin heran.


*Iya tiba-tiba dia merasa tidak enak badan, mungkin karena kecapekan. Maklumlah namanya lagi hamil muda. Oh...ya nanti kamu tolong antar Azka sama mbak Laras pulang ke rumah ya* Gilang melirik Mutiara yang masih bergeming di tempatnya.

__ADS_1


*Dan tolong juga sampaikan permintaan maaf kami pada semua orang* tambah Gilang.


*Ok kak! Nanti aku sampaikan sama yang lain. Kalau masalah Azka sama mbak Laras, kakak enggak usah khawatir. Nanti aku akan antar mereka pulang* jawab Kelvin.


Gilang mematikan ponselnya. Melirik lagi ke arah istrinya, tapi Mutiara memejamkam matanya.


"Maaf yank, tak seharusnya aku egois. Hari ini hari bahagiamu tapi aku merusaknya dengan kecemburuan yang tak beralasan" guman Gilang dalam hati. Ia terus melajukan mobilnya ke arah rumah.


Sesampainya di rumah, Mutiara langsung menaiki tangga menuju kamar. Ia sama sekali tidak menggubris sapaan dari para pelayan.


BLAAMMM


Mutiara menutup pintu dengan kasar. Ia menjatuhkan diri di atas tempat tidur, tanpa memperdulikan tentang kehamilannya. Sikap Gilang hari ini sudah membuat suasana hatinya menjadi buruk.


Gilang yang baru memasuki rumah, dengan gontai menaiki satu persatu anak tangga menyusul Mutiara. Sepertinya kali ini ia harus berusaha lebih keras dalam membujuk istrinya. Mutiara tidak pernah marah seperti ini sebelumnya.


"Maaf Tuan, apa kami perlu menyiapkan makan malam?" tanya seorang pelayan.


"Tidak perlu," jawab Gilang dengan singkat.


Para pelayan menunduk. Mereka tahu kalau suasana sedang tidak baik. Pertama majikan perempuan yang pergi ke kamar tanpa mengindahkan salam dari pelayan. Dan sekarang wajah wajah Tuan-nya yang terlihat begitu lesu.


Gilang membuka pintu kamar, menghela nafas ketika melihat Mutiara sudah bergelung dengan selimut tebalnya. Gilang melangkahkan kaki menuju tempat tidur dan ikut berbaring di samping istrinya. Gilang tahu Mutiara hanya pura-pura tidur, ia memeluk Mutiara dari belakang.


"Maaf...?" lirih Gilang.


"Aku tahu aku salah, aku mohon maafkan aku?" ujar Gilang lagi.


Mutiara bergeming. Dia tidak tidur tapi enggan menanggapi suaminya.


***


Mutiara menggeser tubuhnya pelan-pelan agar Gilang tidak bangun lalu beranjak dari tempat tidur.


"Ck...dasar manusia jorok, naruh jas aja suka sembarangan!" Mutiara menggerutu kesal karena Gilang masih belum berubah. Ia akan menaruh pakaian kotornya di sembarang tempat.


Mutiara mengambil jas Gilang, memeriksa setiap sisi saku. Apakah masih ada barang di dalamnya.


"Apa ini?" Mutiara mengernyitkan kening. Ada sebuah kotak perhiasan dan dua lembar tiket pesawat dengan tujuan ke Lombok. Mutiara tersenyum senang. Ia menghampiri Gilang yang masih asyik dengan alam mimpinya.


"Yank bangun! Ayo bangun, yank!" Mutiara menggoncang-goncangkan badan suaminya.


Gilang menggeliat lalu mengerjab-ngerjabkan matanya.


"Yank, Bangun! Kita kan harus bersiap untuk liburan ke Lombok!" cuit Mutiara.


Gilang terduduk lemas. Darimana istrinya bisa tahu kalau ia berniat mengajaknya liburan ke Lombok. Gilang melirik jasnya yang sudah berpindah tempat.


"Yank, ini masih pagi dan kita berangkat ke Lomboknya masih entar sore" ujar Gilang sambil menguap.


"Aku tahu berangkatnya entar sore, tapi kita harus mulai bersiap-siap dari sekarang! Kita harus packing kemudian antar Azka ke rumah mami!" jelas Mutiara.


Gilang membulatkan kedua mata. Ia teringat tentang Azka dan Laras yang masih tertinggal bersama keluarga besarnya. Gilang segera berlonjak dan hendak keluar dari kamarnya.


"Yank..." panggil Mutiara pada Gilang.


"Bentar yank, aku mau mengecek apakah Kelvin sudah mengantar Azka dan Laras pulang atau belum." Gilang berlalu meninggalkan istrinya dengan wajah yang sudah menjadi masam.

__ADS_1


"Dasar suami nggak pengertian!!" sungut Mutiara. Ia mulai merapikan tempat tidur.


"Yank..."


Mutiara menoleh, merasa kaget karena Gilang sudah berdiri di belakangnya sambil menggaruk tengkuknya.


Gilang mengecup kilas bibir Mutiara. "Maaf morning kiss hampir kelupaan" cicitnya kemudian. Gilang berlalu meninggalkan Mutiara yang masih mematung.


Gilang tersenyum geli mengingat kejadian pagi ini. Ia bahagia karena kemarahan Mutiara sudah mereda dengan sendirinya. Hadiah kejutan yang sengaja dia persiapkan jauh-jauh hari ternyata mampu mengubah suasana hati sang istri.


Gilang berjalan sambil bersiul penuh suka cita, melangkahkan kaki menuju kamar putra angkatnya.


Gilang membuka pintu perlahan. Ia tersenyum tipis saat mendapati Azka masih tertidur bersama Kelvin. Rupanya semalam Kelvin menginap di rumahnya. Gilang menutup pintunya lagi.


"Astafirllah Yank..." kaget Gilang ketika membalikan badannya.


"Kenapa?" Mutiara memicingkan sebelah alisnya.


"Azka masih tidur?" tanya Mutiara lagi.


"Iya, Azka masih tidur. Kelvin juga ada di dalam bersamanya" jelas Gilang merangkul bahu Mutiara.


"Sekarang kita bisa kembali ke kamar lagi dan tidur sebentar. Untuk masalah packing, kamu tidak perlu khawatir! Semuanya sudah siap sejak kemaren," celoteh Gilang.


"Sudah siap?" Mutiara mengernyitkan kening.


"Iya, semuanya sudah disiapkan oleh para pelayan saat kita berada diacara wisuda sekolah kamu" jelas Gilang.


Mutiara tersenyum tipis. Gilang tahu bagaimana membuat suasana hatinya tetap bahagia. Ia menyesal karena sudah mengacuhkan suaminya semalaman.


"Makasih ya yank, maaf karena sudah mengacuhkan kamu semalam?" ucap Mutiara.


"Kamu tidak salah yank, aku yang salah karena sudah cemburu buta tanpa alasan" Gilang mengecup kening Mutiara.


Keduanya beriringan kembali ke kamar, ingin menikmati kesejukan udara pagi bersama di balcon kamar mereka.


***


Arif dan Elvina, mereka bersama-sama menuju kampus Dirgantara untuk mendaftarkan diri sebagai calon mahasiswa baru di kampus tersebut


Arif memilih jurusan bisnis, sedang Elvina memilih jurusan desain. Elvina tidak tertarik soal bisnis karena otaknya tidak akan sanggup mengikuti setiap pelajarannya. Elvina ingin seperti maminya yang notaben-nya merupakan seorang perancang busana yang sudah dikenal namanya saat beliau belum menikah.


Motor Arif memasuki pelataran kampus mencari tempat parkiran. Setelah ketemu, ia segera memarkirkan motornya.


"Ayo sekarang kita cari ruangan pendaftarannya, pasti di sana sudah ramai antriannya! Secara ini kan kampus idaman setiap orang" ajak Arif pada Elvina.


Elvina tersenyum. Sepertinya sang kekasih lupa siapa dirinya.


"Kita nggak perlu mengantri di ruang pendaftaran sayangku! Kamu lupa siapa aku?" Elvina mengedip-ngedipkan kedua matanya hingga membuat Arif gemas dengan tingkah Elvina.


"Iya...iya...aku tahu" Arif menoel hidung Elvina. "Sekarang kita harus bagaimana?" tanya Arif kemudian.


"Kita langsung ke ruangan Rektor, tadi mami sudah membuatkan janji untuk kita" jawab Elvina.


Elvina dan Arif berjalan beriringan sambil bergandengan tangan. Mereka tersenyum bahagia pada akhirnya jalinan kasih yang baru saja mereka rajut telah mendapat restu dari kedua orang tua masing-masing.


Tanpa mereka sadari ternyata Bertha sudah mengamati mereka dari jauh. Sorot matanya menunjukan adanya genderang perang yang siap dinyalakan.

__ADS_1


"Gue masih nggak rela kalau Arif lebih memilih Elvina sebagai pacarnya! Karena sampai kapan pun Arif itu milik gue!" geram Bertha.


__ADS_2