
#PERNIKAHAN_BEDA_USIA
PART 76
💤💤💤
Saat ini Gilang dan Mutiara berada di sebuah restaurant yang tidak jauh dari resort dimana mereka menginap. Gilang sedikit menghela nafas ketika melihat sang istri hanya mengaduk-ngaduk makanan nya tanpa berniat untuk memasukan ke dalam mulut. Gilang tahu bahwa Mutiara sedang memikirkan sesuatu yang bisa ia tebak apa jawabannya. Mutiara pasti memikirkan kejadian senja kemaren. Gilang menggenggam jemari Mutiara kemudian tersenyum tipis saat mata keduanya saling bertemu. Gilang akan menceritakan semuanya pada Mutiara, mereka berdua sudah sama-sama berjanji untuk selalu terbuka dan tidak akan ada menutupi apapun meski nantinya dapat menyakiti salah satunya. Mereka akan tetap duduk bersama agar bisa menemukan solusi yang terbaik.
"Kamu pasti penasaran ya kenapa aku bisa trauma dengan laut ataupun pantai ya?" tanya Gilang penuh dengan kelembutan. Mutiara hanya bisa mengangguk, merasa tidak enak hati karena sudah membuat suaminya mengingat hal yang mungkin tidak ingin diingatnya lagi. "Maaf bukan maksud aku..." Gilang segera meletakan jari telunjuknya ke bibir istrinya. "Kamu berhak tahu sayang, kamu istriku dan aku tidak akan merahasiakan apapun darimu!" ujarnya kemudian.
Gilang mulai bercerita panjang lebar mengenai persahabatan yang pernah ia jalin bersama dengan Rio, Randy, Andre, Raisa dan Mitta. Seperti persahabatan para remaja umumnya, semuanya terasa menyenangkan dan penuh kesolidaritasan. Saling membantu serta memberikan dukungan antara satu dengan yang lainnya. Kemana pun mereka pergi pasti selalu bersama. Akan tetapi persahabatan itu mulai retak dikarenakan adanya perasaan cinta. Hingga membuat sosok Raisa nekat bunuh diri dengan cara menenggelamkan diri ke pantai lantaran Gilang yang tidak mau membalas perasaannya. Kemudian berlanjut lagi dengan kemarahan Rio yang terus menyalahkan Gilang.
Mutiara menggenggam jemari Gilang saat melihat tubuh pria yang telah menjadi suaminya itu mulai bergetar. Ia pun bisa merasakan bagaimana hancurnya hati Gilang saat itu. Pantas saja, suaminya tidak pernah percaya dengan yang namanya persahabatan.
"Tidak usah dilanjut yank, aku tahu kok kamu pasti tidak berniat melukai hati Raisa! Hanya saja terkadang kita tidak bisa mengendalikan sifat seseorang. Kamu sudah berusaha menjelaskan secara jujur bagaimana perasaanmu saat itu, kalau Raisa tidak bisa menerima dan memilih mengakhiri hidupnya...itu bukan lah kesalahanmu yank!" ucap Mutiara berusaha menyalurkan sebuah ketenangan pada hati suaminya.
"Terima kasih yank, kamu memang istri aku yang terbaik! Kamu selalu bisa memberikan aku kenyamanan dan ketenangan." Gilang mencium kedua punggung tangan Mutiara secara bergantian.
*DUOORRRR...
Mutiara sedikit terperanjat sedang Gilang menatap tajam pada sosok gadis yang mengagetkannya.
"Piss...kak...?" kata gadis itu yang hanya bisa mengacungkan dua jari, meringis ngeri melihat raut wajah Gilang.
"Yank udah, kasihan Elvina nya!" Mutiara menyenggol lengan suaminya. Gilang mendengus kesal. Kalau bukan adiknya, pasti Gilang sudah menyeret gadis itu ke jalanan.
"Hai Ra...apa kabar?" tanya seorang cowok yang berjalan dari arah belakang Elvina.
"Hai Rif, aku baik kok. Kamu sendiri bagaimana?" tanya Mutiara balik.
Arif menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Merutuki akan kebodohan yang baru saja diperbuatnya. Tak seharusnya Arif menyapa lembut Mutiara, jika singa jantan dari wanita itu sedang ada di sampingnya.
"Hallo bang, apa kabar?" kikuk Arif.
__ADS_1
"Elo bisa lihat kan kalau gue masih hidup dengan baik?!" Gilang menjawab dengan sinis.
Suasana berubah menjadi horor untuk beberapa saat. Sampai akhirnya Mutiara berhasil mencairkan kembali suasananya.
"Jadi kalian baru sampai?" tanya Mutiara pada Elvina dan Arif. Sedang Gilang sibuk memasukan makanan ke dalam mulut istrinya dengan tangannya sendiri tanpa sendok ataupun garpu.
"Iya, kami baru nyampe sekitar satu jam yang lalu kemudian langsung mencarimu dan kak Gilang ke sini." Elvina menjawab, menatap geli dengan kelakuan kakaknya yang belum berhenti menatap nyalang kepada Arif.
"Kak Gilang, jangan segitunya kali ngeliatin Arif nya! Arif kan bukan saingan kakak lagi, dia sudah menjadi tunangan aku!" Elvina menyindir Gilang. Mutiara hanya bisa terkikik geli dengan kelakuan suaminya yang masih beranggapan bahwa Arif ingin merebut dirinya.
"Baru tunangan kan? Belum juga jadi suami, masih bisa dibatalkan!" ujar Gilang seenaknya sampai membuat Arif tersedak. Elvina dan Mutiara melotot tak percaya.
"Jangan macam-macam kalau tidak ingin tidur di luar selama setahun!" ancam Mutiara.
Gilang menjadi gelagapan. Ia tidak mau jika harus tidur di luar. Jangankan satu tahun, sehari saja ia tidak akan tahan. Bisa dibilang Mutiara sudah menjadi guling favoritnya, dan pastinya ia tidak akan bisa tidur tanpa guling favoritnya itu.
"Yank, jangan donk! Aku janji nggak bakalan macam-macam! Suerr...!!" ujar Gilang berusaha menyakinkan Mutiara.
Gilang tersenyum kecut. Jiwa emak-emak hamil dari istrinya mulai keluar. Lebih baik Gilang cari jalan amannya agar tidak membuat istri kecilnya, eh ralat. Istri galaknya bertambah kesal.
🎈🎈🎈
Usai sarapan, Mutiara bersama Elvina dan Arif langsung menuju resort yang digunakan oleh para guru dan para alumni dari SMU Dirgantara menginap selama liburan di pulau bali. Mutiara ingin menyapa sekaligus melepas rasa rindunya kepada mereka semua. Meskipun ada sebagian tidak mau menerimanya, tetap saja Mutiara harus bersikap ramah bukan.
Sedangkan Gilang, ia masih disibukan dengan panggilan telephone dari Radit. Hatinya merasa begitu lega setelah mendapat kabar bahwa operasi Azka berjalan dengan lancar. Bahkan bocah itu sekarang sudah sadar dan terus menanyakan keberadaan mommy nya.
Gilang berusaha memberikan penjelasn pada Azka melalui telephone. Dia mengatakan pada bocah itu bahwa saat ini mommy nya sedang melakukan persiapan untuk menyambut kelahiran adik-adiknya yang sebentar lagi akan lahir ke dunia ini. Tentu saja Azka langsung mengerti dan maminta Daddy nya untuk tetap menjaga mommy nya beserta adiknya. Azka sudah tidak sabar ingin segera melihat dan memegang tangan calon adiknya itu.
Sekali lagi Gilang bisa bernafas dengan lega. Membujuk Azka ternyata tidak sulit. Bocah itu termasuk anak yang pintar dan pengertian. Untung saja dia mewarisi sifat dari ayah kandungnya dan bukan ibu kandungnya.
Selesai berbicara dengan Radit dan Azka, Gilang pun segera menyusul istrinya. Ia tidak mau sampai kecolongan sedikit pun. Meskipun sedang hamil besar, terkadang sifat remaja dari istrinya bisa keluar. Jika sedang bertemu dengan teman sebayanya, Mutiara sering lupa kalau dirinya sedang hamil. Ia bisa melakukan hal-hal yang dilakukan oleh anak-anak remaja pada umumnya.
Mutiara, Elvina dan Arif sudah bergabung dengan teman-teman lainnya. Mereka banyak bercerita tentang keseharian mereka setelah tamat SMA. Ada yang melanjutkan kuliah dan ada pula yang bekerja. Bahkan ada yang kuliah sambil bekerja. Hal ini membuat Mutiara sedikit minder, apalagi banyak yang melihat dirinya sebelah mata. Mutiara berangsur-angsur mundur menjauhi mereka tanpa sepengetahuan Elvina dan Arif.
__ADS_1
Mutiara hanya ingin kembali pada suaminya. Ia merasa tidak cocok lagi bergaul dengan mereka. Meskipun sepantaran, akan tetapi tetap saja dunianya sudah berbeda. Mereka semua masih lajang sedangkan dirinya sudah menikah dan sebentar lagi akan menjadi seorang ibu.
Mutiara berjalan sedikit tergesa. Tiba-tiba ia dihadang oleh dua gadis yang tentunya sangat ia kenal.
"Haii..." sapa Mutiara sedikit gugup. Pasalnya ia tahu mereka pasti memiliki niat yang tidak baik terhadap dirinya.
"Oh...ini toh mantan siswa teladan di SMU Dirgantara dulu? Ngakunya mau jadi dokter tapi nggak tahu nya malah jadi mama muda!" sindir salah satu dari mereka. Namanya Gea, wanita cantik dan selalu berpenampilan modia layaknya artis kalangan papan atas.
"Nikahnya sama om-om lagi, kan usianya beda hampir sepuluh tahun kan?" tambah temannya yang tidak tahu latar belakang suami Mutiara. Saat perpisahan sekolah, gadis itu tidak datang karena ikut kedua orang tuanya liburan ke luar kota. Namanya adalah Indri.
Mutiara hanya diam saja, tidak ingin menanggapi ucapan mereka. Toh percuma saja dijawab, mereka pasti akan cari celah agar bisa menindasnya kembali seperti yang sudah-sudah.
"Maaf aku buru-buru, karena suamiku sudah menunggu?" ujar Mutiara.
"Oh...suaminya ikut juga toh, jadi penasaran seperti apa dia?" sinis Indri.
Mutiara acuh, ia melangkah melewati kedua wanita itu. Namun dengan sengaja Gea menjulurkan kakinya ke depan hingga membuat Mutiara tersandung dan terjatuh dengan posisi telungkup. Perut Mutiara terbentur cukup kuat hingga membuatnya merasakan kesakitan yang amat kuat.
"Aww...sakit..." jerit Mutiara seraya memegangi perutnya. Tak lama kemudian terlihat aliran darah mengalir dari pangkal pahanya.
"Tiara..." seorang pria datang menghampiri Mutiara dengan raut wajah yang terlihat begitu cemas dan sangat marah.
"Berani-beraninya kalian melakukan ini pada istriku! Kalau sampai terjadi sesuatu kepadanya dan calon anakku, maka tamat lah riwayat kalian!" ancam Gilang dengan raut yang tak bisa digambarkan lagi. Ia segera membopong Mutiara untuk dibawa ke rumah sakit.
Sedangkan Gea dan Indri...mereka hanya bisa berdiri mematung dengan wajah yang pias. Tubuh mereka bergetar hebat lantaran sebuah perasaan takut yang tak terkira. Siapa sih yang tidak kenal dengan pria yang mengaku sebagai suami Mutiara, wajah nya saja hampir setiap hari nampak lalu lalang di surat kabar, majalah bahkan televisi. Alvian Gilang Dirgantara, pengusaha muda yang terkenal sukses dan berhati keras. Siapun yang berani mengusik hidupnya, maka tamat lah riwayatnya.
"Kalian cari mati ya, membangunkan singa jantan di siang bolong!" kesal Elvina yang tiba-tiba saja muncul. Merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Mutiara.
"Sudahlah sayang, sebaiknya kita menyusul kak Gilang! Dia pasti sedang kacau saat ini," ajak Arif yang tak ingin memperkeruh suasana.
"Berdoa lah semoga Mutiara dan calon anaknya baik-baik saja, karena hanya dia yang bisa menolongmu dari kemarahan suaminya!" ucap Arif pada Gea dan Indri sebelum benar-benar meninggalkan kedua gadis itu.
Gea dan Indri semakin pias. Kakinya bergetar hebat, tak bisa digerakan sama sekali. Semua mata mulai memandang kesal ke arah mereka. Insiden ini pasti akan berdampak buruk pada liburan gratis mereka.
__ADS_1