Pernikahan Beda Usia

Pernikahan Beda Usia
#PERNIKAHANBEDAUSIA_48


__ADS_3

PERNIKAHAN BEDA USIA


Part 48


***


Mutiara saat ini tengah berada di rumah mertuanya. Awalnya Gilang berniat ingin membawa Mutiara ke kantor. Namun Mutiara menolak dengan alasan takut mengganggu pekerjaan Gilang ketika ia merasa bosan. Mutiara tidak mau jika moodnya yang suka berubah membuat suaminya mengalami kerepotan dan nantinya akan berujung seperti yang sudah-sudah. Gilang harus membatalkan semua meeting atau membawa pulang pekerjaan kantornya ke rumah, hingga membuat Gilang terpaksa lembur sampai larut malam lagi.


Gilang pun tidak punya pilihan lain. Mau tak mau ia harus menuruti keinginan dari istrinya. Mungkin dengan berada di rumah orang tuanya, Mutiara akan merasa lebih nyaman ketimbang dia harus ikut bersama dengan dirinya ke kantor. Lagi pula hari Gilang juga memiliki jadwal lebih padat dan mengharuskan ia sering pergi ke luar kantor.


"Sudahlah kak, Kakak Ipar pasti akan baik-baik saja! Lagi pula kan di rumah ada Elvina yang bisa menjaga sekaligus menemani kakak Ipar." Kelvin berusaha menenangkan hati kakaknya.


"Iya gue tahu itu," balas Gilang.


"Ya sudah kita langsung saja pergi ke restorant Okuzono, jangan sampai kita membuat tuan Ozimaki menunggu!" ajak Gilang kemudian.


Kelvin mengangguk. Kemudian melajukan mobilnya ke arah salah satu Restaurant Jepang yang ada di kota Jakarta. Klient yang ingin mereka temui berasal dari negara Jepang, itu sebabnya mereka memilih Restaurant Jepang sebagai tempat pertemuan.


Empat puluh lima menit kemudian mereka tiba di tempat tujuan. Kelvin langsung menghampiri seorang pelayan.


"Dimana manager restaurant ini? Aku ingin bertemu dengannya," ujar Kelvin.


"Maaf sebelumnya, apakah anda sudah membuat janji dengan beliau?" tanya pelayan tersebut.


"Sudah, katakan saja aku dari PT. Groub Agung Dirgantara!" balas Kelvin.


Pelayan itu tampak terkejut. Siapa sih yang tidak mengenal tentang PT. Groub Agung Dirgantara? Perusahaan ternama hingga mancanegara.


"Maaf tuan saya tidak tahu, silakan duduk terlebih dahulu! Saya akan memanggilkan pak manager," ucap pelayan tersebut sambil membungkukan badannya.


Kelvin mengangguk, ia pun duduk yang kemudian disusul oleh Gilang.


Pandangan semua orang yang ada di restaurant kini tertuju pada Gilang dan Kelvin. Mereka merasa senang karena bisa melihat secara langsung seperti apa ketampanan dari pewaris keluarga Dirgantara.


Tak lama kemudian Manager dari restaurant pun muncul. Ia berjalan dengan tergesa hanya untuk menghampiri Gilang dan Kelvin.


"Maaf karena sudah membuat Tuan Muda Dirgantara menunggu," ujar Manager Restaurant tersebut.


"Tidak apa-apa paman. Justru kami yang harusnya minta maaf karena datang lebih awal!" balas Kelvin.


"Oh ya paman, apakah tempat yang kami pesan sudah disediakan?" tanya Kelvin.


"Tentu sudah Tuan Muda, mari saya antar ke sana!" ajak Manager Restaurant.


Kelvin mengangguk. Ia dan Gilang melangkah mengikuti Manager Restaurant menuju sebuah ruangan VIP.


***


Mutiara dan Elvina, mereka berdua menghabiskan waktu di rumah hanya dengan menonton drama korea. Awalnya mereka happy-happy aja, namun lama kelamaan keduanya diterpa rasa bosan juga. Mutiara mulai merasa jengah, ia menginginkan adanya suasana yang baru.


Dan saat ini tentunya Elvina sedang memikirkan cara bagaimana menghilangkan rasa bosan Mutiara.

__ADS_1


"Vina, aku lagi pengen jalan-jalan di taman dekat kompleks" celetuk Mutiara.


"Tapi kak Gilang kan sudah berpesan..."


"Ya udah kalau begitu jangan sampai mas Gilang tahu!" Mutiara menyela ucapan Elvina.


Elvina tampak berpikir sejenak.


"Baiklah kalau itu mau-mu," akhirnya Elvina setuju juga.


Mutiara senang. Ia tahu betul bahwa tidak akan terlalu sulit jika hanya untuk membujuk sahabatnya.


Mutiara dan Elvina akhirnya memutuskan pergi ke taman yang berada di dekat kompleks.


***


Dua jam telah berlalu, Gilang dan Kelvin kini tengah berada dalam perjalanan kembali ke kantor. Mereka terlihat sangat puas dengan hasil meetingnya. Karena sudah berhasil menggaet kerja sama dengan Mr. Ozimaki untuk sebuah tender yang cukup besar.


"Kelvin, habis ini elo harus siapkan semuanya dengan baik! Tender ini sangat bagus untuk mengembangkan bakat bisnis dalam diri elo," ujar Gilang.


"Iya kak, gue pasti akan menyiapkan semuanya dengan semaksimal mungkin. Gue juga ingin membuat kedua orang-tua kita bangga terhadap gue seperti mereka bangga pada kak Gilang." Kelvin tampak antusius sekali.


Gilang tersenyum. Ia yakin jika adiknya bisa menjadi seorang pembisnis yang hebat pula nantinya.


Setibanya di kantor, Gilang langsung menuju ruangannya. Di sana ternyata sudah ada Clarissa yang telah menunggunya sejak tadi. Gilang mengeram kesal, namun sebisa mungkin ia tetap berusaha untuk menahan amarahnya.


"Mau apa lagi elo ke sini?" ketus Gilang.


"Aku tahu kalau kamu sebenarnya masih cinta kan sama aku. Itu sebabnya kamu menikahi gadis yang wajahnya mirip sama aku, iyakan sayang?" ujar Clarissa dengan penuh keyakinan.


Gilang terkejut. Apa yang ia takutkan selama ini, akhirnya kejadian juga. Namun ia tidak menyangka jika Clarissa akan mengetahui perihal Mutiara dalam waktu yang cepat.


"Apa maksud elo? Gue sama sekali tidak mengerti." Gilang berusaha menampilkan sikap yang tenang.


"Sudah-lah sayang, aku tahu kok kalau gadis yang kamu nikahi bernama Mutiara dan wajahnya sangat mirip denganku..."


"Lantas..??" Gilang menyela.


"Kamu menikahi dia pasti karena dia memiliki wajah yang mirip denganku bukan? Kamu masih cinta kan sama aku?" Clarissa bergelayut manja pada Gilang.


Ia sangat yakin kali ini Gilang akan mengakui perasaannya terhadap dirinya.


Gilang terkekeh kecil. Ia mendorong tubuh Clarissa dengan kasar hingga gadis itu hampir terjatuh ke lantai.


"Elo benar bahwa istri gue memiliki rupa yang mirip dengan elo. Kami menikah atas dasar perjodohan yang dirancang oleh kedua orang-tua gue. Dan karena dia memiliki wajah yang mirip sama elo...gue sempat membencinya lantaran menganggap dia itu adalah elo. Bahkan sampai membuat hidupnya berada dalam rasa ketakutan setiap waktu. Namun Mutiara tidak mundur, dia bertahan dengan kesabaran yang ia miliki. Hingga pada akhirnya gue tahu kebenaran tentang kalian yang bawasannya adalah saudara kembar. Semenjak itu gue mulai jatuh cinta pada Mutiara karena kelembutan hati yang dia miliki." Gilang menatap tajam pada Clarissa.


"Jadi kalau elo berpikiran bahwa gue masih mencintai elo itu salah besar!! Gue sudah tidak memiliki perasaan apapun terhadap elo. Karena cinta gue hanya milik Mutiara, istri sah gue!!" tegas Gilang.


Clarissa mematung. Apalagi melihat tatapan kebencian yang diberikan oleh Gilang. Sungguh ia tidak menyangka jika hati Gilang sudah terisikan oleh cinta dari gadis lain, yakni Mutiara saudara kembarnya sendiri.


"Sebaiknya elo jangan pernah coba-coba berusaha menemui Mutiara!! Karena gue tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi!! Dan kalau elo nekad, jangan salahkan gue jika gue berbuat sesuatu yang sama sekali tidak akan bisa elo lupakan sampai kapan pun juga!!!" ancam Gilang.

__ADS_1


Clarissa bergedik ngeri. Namun ia tidak ingin menunjukannya pada Gilang.


"Sebaiknya elo pergi sekarang, sebelum gue panggilkan security!!" usir Gilang.


Clarissa pergi dengan hati yang terluka. Ia marah kepada Gilang. Dalam hati Clarissa mengumpat, ia bersumpah akan membuat pria itu bertekuk lutut lagi kepada dirinya hanya untuk mengemis sebuah cinta darinya.


***


Mutiara duduk di sebuah kursi panjang. Ia sedang menunggu Elvina yang tengah pergi ke Mini Market untuk membeli air mineral dan es krim. Tadinya Mutiara ingin ikut, namun dilarang oleh Elvina. Lagi pula lokasi Mini Marketnya pun tidak jauh dari taman. Jadi Elvina bisa pergi sendiri.


Saat asyik menikmati keindahan taman, tiba-tiba muncul seorang laki-laki dewasa. Ia memeluk erat Mutiara dari belakang.


"Sayang, kamu lagi ngapain di sini sendirian? Ayo kita pulang dan bersenang-senang!" ajak pria itu.


Mutiara yang merasa syok membalikan tubuhnya kemudian mendorong kuat pria itu hingga menjauh darinya.


"Siapa kamu? Berani-beraninya bersikap kurang ajar kepadaku!!" bentak Mutiara.


"Sayang, kamu kenapa? Ini aku kekasihmu, Steve." Pria itu berusaha mendekati Mutiara.


Mutiara berjalan mundur. Ia merasa takut, berharap Elvina segera datang. Kondisi taman saat ini sedang sepi. Meskipun Mutiara berteriak meminta tolong pasti akan percuma saja.


"Aku tidak mengenalmu, menjauh lah dariku!!" pinta Mutiara dengan suara meninggi.


"Clarissa, apa yang terjadi padamu? Apa kamu sedang belajar acting?" Steve masih berusaha untuk mendekati Mutiara.


Dengan cekatan pula Steve bisa merengkuh tubuh mungil Mutiara.


"Ayolah sayang, tidak usah bercanda lagi!" Steve mengusap puncak rambut Mutiara.


Mutiara berontak. Ia terus meronta ingin melepaskan diri dari pria tersebut. Hanya saja tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan.


*BUGGHHH...


Seseorang pemuda datang menghantam Steve hingga jatuh tersungkur ke rerumputan. Dan segera menarik Mutiara agar menjauh dari pria itu.


"Vina, elo jaga Mutiara! Gue mau kasih pelajaran pada pria tak tahu malu itu dulu!" ujar pemuda tersebut.


"Hmmm..." Elvina mengangguk. Ia memeluk Mutiara yang masih ketakutan.


"Elo tenang ya Mutiara, semuanya baik-baik saja sekarang! Maaf karena sudah terlalu lama gue ninggalin elo?" cicit Elvina.


Mutiara tidak menjawab. Ia masih terlalu syok dengan apa yang barusana terjadi.


Pemuda itu dan Steve...


Mereka masih bergelut saling menghajar satu sama lainnya. Badan Steve yang tinggi dan kekar ternyata tidak membuat pemuda itu merasa ciut. Malahan dia begitu semangat ingin membuat wajah tampan dari Steve babak belur.


"Ternyata cuma badan elo yang gede, tapi tenaga sama sekali nggak ada! Pantas saja beraninya hanya sama cewek doank!!" ledek pemuda itu.


Steve mengepalkan kedua tangannya. Ingin rasanya ia bangkit dan menghajar pemuda itu. Sayang tubuhnya lemah, bergerak sedikit saja sudah terasa sakit. Steve mengakui kalau pemuda itu memang jago bela diri, ia bisa melihat dari setiap gerakannya tadi.

__ADS_1


__ADS_2