Pernikahan Beda Usia

Pernikahan Beda Usia
#PERNIKAHANBEDAUSIA_98


__ADS_3

#PERNIKAHAN_BEDA_USIA


PART 98


🎈🎈🎈


Gilang dan Kelvin berhasil menyusup ke dalam rumah dimana Mutiara dan Elvina disekap. Mata keduanya berjaga melihat sekitar takut apabila ada anak buah Rehan yang melihat. Baik Gilang maupun Kelvin tidak ingin memancing keributan sebelum menemukan di ruangan mana Mutiara dan Elvina disembunyikan.


"Rumah ini ternyata banyak ruangan, kira-kira dimana mereka menyekap Mutiara dan Elvina?" bathin Gilang menelusuri setiap pintu yang ada dalam rumah itu.


Walaupun wanita itu sudah mengatakan padanya bahwa mungkin saat ini Rehan tengah tertidur akibat obat yang telah ia campurkan ke dalam minuman nya, tetap saja hati Gilang merasa tidak tenang. Gilang sangat yakin bahwa sekarang baik istri maupun adiknya sedang ketakutan karena melihat wajah orang yang hampir melecehkan mereka di waktu kecil.


Mutiara dan Elvina pasti sedang menangis saat ini. Membayangkan itu saja, dada Gilang sudah merasakan nyeri lanyaknya ditusuk oleh sembilu. Gilang tak sanggup jika harus membayangkan wajah Mutiara dan Elvina yang berlinang air mata dengan tubuh gemetaran lantaran rasa takut yang melanda pada diri mereka.


"Shitt...kita harus segera menemukan mereka!" umpatnya.


"Aku tahu kak, tapi bagaimana caranya kita bisa mengetahui keberadaan mereka? Tidak mungkin kan kita membuka pintu ruangan satu persatu?" tanya Kelvin yang takut memancing kegaduhan jika mereka harus memeriksa satu per satu ruangan dalam rumah tersebut.


Mata Gilang terpejam sebentar kemudian menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nya lagi. Berharap insting tentang keberadaan Mutiara dan Elvina hadir menyelinap di lubuk hatinya. Gilang sangat yakin bahwa rasa cinta nya yang kuat kepada Mutiara akan mampu menunjukan dimana keberadaan istrinya saat ini.


Dan benar saja, ketika ia membuka mata kembali. Pandangan nya langsung menjurus pada pintu yang terletak di lorong paling ujung. Hati Gilang berkata saat ini istri dan adiknya berada di sana.


Gilang melangkahkan kaki dengan penuh kenyakinan, begitu pula dengan Kelvin. Mengekor tanpa bertanya apa pun. Kelvin juga menyakini bahwa insting kakaknya yang kuat bisa dipegang akan kebenarannya. Karena selama ini memang sudah terbukti selalu benar adanya.


Gilang meraih gagang pintu lalu memutar dan mendorongnya, namun naas pintunya terkunci. Gilang menatap adiknya seolah memberi aba-aba untuk mendobrak pintu bersama.


*BRAK...dobrakan pertama belum berhasil


*BRAK...dobrakan kedua pun belum juga berhasil, hingga dobrakan ketiga baru lah pintu terbuka dengan sempurna.


Hal pertama yang dilihat oleh Gilang dan Kelvin adalah tiga sosok manusia yang terbaring di atas ranjang dengan satu pria paruh baya yang berada ditengah-tengah, diapit oleh dua perempuan muda yang tak lain Mutiara dan Elvina.


Rahang Gilang mengeras kuat, amarahnya hampir meledak ketika melihat tangan pria itu menelungsup masuk di bawah kepala istri dan adiknya sebagai bantalan kepala. Sedang Mutiara dan Elvina...


Hanya diam dengan mata yang masih tertutup. Mungkin keduanya pun berada dalam pengaruh obat pula.


Gilang dan Kelvin melangkah menuju tempat tidur. Hati keduanya langsung mencelos ketika mendapati wajah Mutiara dan Elvina tampak sembab, bahkan bekas linangan air mata mereka masih terlihat dengan sangat jelas.


Tanpa berpikir lagi Gilang dan Kelvin langsung menyingkir kan tangan pria tua itu dari kepala Mutiara dan Elvina.

__ADS_1


"Maaf karena sudah gagal menjagamu?" ucap Gilang memghapus jejak air mata dari wajah istrinya.


Rahangnya kembali mengeras, amarah nya muncul saat melihat Rehan yang masih belum sadarkan diri.


Gilang menarik kaki Rehan dan menjatuhkan nya ke lantai. Kemudian menarik tubuhnya dan menghempaskan nya ke sembarang tempat.


*Aww...


Terdengar ringisan keluar dari mulut pria paruh baya tersebut. Perlahan dia membuka mata, merasakan sakit di bagian kepala. Mungkin terbentur oleh lantai.


"Sudah bangun rupanya kau tua bangka?" cuit Gilang menahan emosinya.


"Ka...ka...lian...? Bagaimana bisa kalian masuk ke rumah ini?" Rehan tampak kaget.


Gilang dan Kelvin hanya menyeringai kecil, merasa puas melihat wajah panik dari seorang psikopat macam Rehan. Ternyata pria itu tidak memiliki nyali apabila tidak ada anak buahnya. Semua itu bisa terlihat dari raut wajah Rehan yang sedang ketakutan dan terus berteriak memanggil anak buahnya.


"Percuma berteriak, mereka pasti sudah berhasil dilumpuhkan oleh anak buah kami!" ujar Kelvin yang ternyata sudah memberikan perintah penyerangan terlebih dahulu sebelum Gilang memberikan aba-abanya.


Rehan hanya bisa diam membeku, ia sama sekali tidak memiliki persiapan. Apalagi senjata andalan nya pun masih berada di dalam ruang kerjanya.


"Terus kalian mau apa hah...? Apa kalian ingin membunuhku? Hahaha...aku rasa kalian tak cukup nyali untuk melakukannya? Keluarga Dirgantara memang memiliki kekuatan tapi sangat payah dalam hal membunuh! Aku rasa kalian tidak akan pernah bisa menghabisi manusia hahaha..." ucap Rehan berusaha menekan rasa takut nya.


Kelvin yang melihat itu langsung berusaha menghentikan kakak nya. Tapi ia mengalami kesulitan. Tenaga Gilang bertambah berkali-kali lipat jika sedang marah. Untung saja Radit segera datang dan membatu nya.


"Cukup kak, aku bilang cukup!" bentak Kelvin seraya menarik tubuh Gilang untuk menjauh dari tubuh Rehan yang sudah tak berbentuk.


"Lepaskan aku! Biarkan aku membunuh pria tua yang tak tahu diri itu!" Gilang terus saja berontak ingin lepas dari cengkeraman Kelvin dan Radit.


"Kakak jangan bodoh! Jika kakak membunuhnya, kakak pasti akan masuk ke dalam besi jeruji! Lalu bagaimana dengan Mutiara dan anak-anak kalian hah...?" ucap Kelvin merasa geram dengan kakaknya yang tidak bisa mengendalikan emosinya.


Gilang berangsur tenang, apa yang dikatakan oleh Kelvin memang benar. Tidak seharusnya ia mengotori tangan nya dengan darah pria itu. Mutiara pasti akan sangat bersedih jika mengetahui nya. Dan tujuan Rehan pun untuk memisahkan diri nya dengan Mutiara akan berhasil tanpa rintangan.


"Radit bagaimana dengan anak buahnya, apa kalian sudah berhasil meringkus mereka semua?" tanya Gilang.


"Sudah Tuan, bahkan Shinta dan kedua orang tua nya pun sudah berhasil kita ringkus. Mereka semua saat ini berada di ruang tengah."


"Bagus lah kalau begitu! Segera hubungi pihak kepolisian dan jangan lupa pastikan bahwa mereka semua harus mendapatkan hukuman yang berat, bila perlu hukuman mati!! Terutama untuk pria tua yang tidak tahu diri itu!!" tegas Gilang seraya menapat tajam pada Rehan yang sudah tak berdaya, ia nampak puas dengan hasil kinerja Radit. Gilang melangkah kan kaki menuju ranjang, mengangkat tubuh mungil istrinya. Begitu pula Kelvin yang langsung menggendong Elvina ala bridal style.


Mereka meninggalkan Radit dan anak buahnya untuk mengurusi permasalahan tentang Rehan. Namun sebelum itu, Gilang mengucapkan terima kasih pada wanita yang sudah membantunya.

__ADS_1


"Terima kasih karena anda sudah menolong istri dan adik saya? Saya tidak tahu apa yang akan terjadi kepada mereka bila anda tidak segera mencampurkan obat tidur pada Rehan?" ucap Gilang.


"Tidak perlu berterimakasih karena ini sudah menjadi kewajiban saya untuk melindunginya!" balas wanita itu, matanya menatap lekat wajah Mutiara yang masih berada dalam gendongan Gilang.


"Maksud anda?" Gilang penasaran.


"Tidak apa-apa, sebaiknya segera bawa mereka ke rumah sakit! Rehan telah memberikan suntikan obat yang mematikan saraf sehingga mereka tidak bisa bergerak sama sekali!" jawab wanita itu.


Gilang dan Kelvin tercengang, tak bisa percaya dengan apa yang sudah dilakukan oleh Rehan demi mendapatkan keinginan nya.


"Baik lah kalau begitu, sekali lagi saya mengucapkan terima kasih? Apabila suatu hari nanti anda sedang membutuhkan bantuan, datang lah pada kami! Kami dengan senang hati pasti akan membantu anda!" ucap Gilang sekali lagi. Ia pun melangkah pergi meninggalkan wanita itu.


"Sudah pasti aku akan melindungi mereka karena mereka adalah putriku dan sahabatnya!" lirih wanita itu setelah Gilang dan Kelvin menghilang dari pandangan mata nya.


🍁🍁🍁


Seperti yang dipinta oleh wanita tadi, Gilang dan Kelvin segera membawa Mutiara dan Elvina ke rumah sakit. Mereka sangat mencemaskan kondisi Mutiara dan Elvina yang tak kunjung sadarkan diri. Mereka pun bertanya-tanya apakah Mutiara dan Elvina sempat membuka mata sebelum nya lalu melihat keberadaan Rehan...


Gilang tak bisa membayangkan bagaimana ketakutan nya Mutiara dan Elvina saat melihat wajah Rehan ada di dekat mereka. Mungkin saja mereka sangat syok hingga kembali pingsan hingga saat ini.


"Kelvin tolong lebih cepat!" Gilang memberikan instruksi pada adiknya. Rasa cemas dan raut penyesalan tampak di wajahnya. Andai dia tidak berangkat ke kantor...


Kelvin hanya bisa menuruti kemauan kakaknya. Ia paham betul bagaimana perasaan Gilang saat ini. Kelvin melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, menyalip mobil-mobil yang ada di depan mobil mereka. Untung saja jalanan tidak begitu padat sehingga dengan mudahnya Kelvin pun mampu mendahului mobil-mobil yang ada di depan nya.


Satu setengah jam mereka tiba di rumah sakit. Di sana sudah ada beberapa dokter dan perawat yang menyambut kedatangan mereka karena sebelum nya Kelvin memang sudah menghubungi salah satu rumah sakit milik keluarga Dirgantara.


Gilang dan Kelvin segera membaringkan Mutiara dan Elvina di atas brankar yang sudah disiapkan. Mereka yang dibantu oleh beberapa perawat dan dokter langsung mendorong brankar menuju ruang IGD.


"Maaf Tuan, sebenarnya apa yang terjadi dengan nona Mutiara dan nona Elvina?" tanya dokter saat berada di ruang IGD.


"Mereka baru saja diculik oleh orang jahat dan sepertinya telah diberikan suntikan yang bisa mematikan saraf," jawab Gilang dengan raut kecemasan yang luar biasa.


Dokter meminta Gilang dan Kelvin untuk menunggu di luar saja. Ia beserta tim nya harus segera melakukan serangkaian tes agar pasien bisa mendapatkan penanganan yang tepat dan cepat.


"Kakak harus percaya bahwa mereka akan baik-baik saja! Aku sangat yakin jika mereka adalah perempuan yang kuat dan pantang menyerah!" Kelvin berusaha memberikan dukungan pada kakak nya. Ia sadar bahwa Gilang sedang berada dalam titik terlemah. Mutiara bisa menjadi sumber kekuatan baginya, namun bisa pula menjadi kelemahannya. Seperti hal nya saat ini, Gilang terlihat tak berdaya dengan kondisi Mutiara yang memprihatinkan.


"Mereka memang harus baik-baik saja! Kalau tidak aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri! Aku sudah lalai dalam menjaganya!" cicit Gilang. Tangan nya mengepal kemudian ditinjukannya pada dinding secara berulang kali.


"Kak, aku mohon tolong hentikan! Ini bukan salahmu, ini adalah musibah!" Kelvin berusaha menghentikan kegilaan yang dilakukan oleh kakak nya yang terus melukai dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2