
#PERNIKAHAN_BEDA_USIA
PART 88
🎈🎈🎈
Gilang dan Shinta kini sudah berada di ruang kerja milik keluarga Dirgantara. Ruangan tersebut tampak luas dengan adanya perpustakaan pribadi. Banyak buku dan dokumen yang tertata rapi di dalamnya. Shinta yang baru pertama kali memasuki ruangan tersebut merasa takjub. Kamar pribadinyanya pun luasnya hanya seperempat bagian dari ruangan tersebut.
Gilang menyeringai sinis, merasa puas telah berhasil membuat wanita rendahan macam Shinta terkagum-kagum dengan bagian rumah keluarga besarnya. Gilang bukan pamer namun ingin menunjukan pada wanita itu bahwa dia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan keluarganya.
Gilang duduk di meja kebesaran milik ayahnya, kakinya bersila dengan sikap yang penuh dengan sifat arogant. Shinta yang melihatnya pun menjadi ciut seketika namun tetap saja ia berusaha untuk menutupinya.
Suasana menjadi hening dan mencekam. Apalagi Gilang sudah menunjukan wajah yang bringas dengan tatapan yang sudah siap untuk memangsa siapa pun yang berada di hadapannya. Nyali Shinta semakin ciut. Ia berdiri sambil meremas ujung dress yang ia kenakan. Berusaha sekuat tenaga mengumpulkan keberanian agar rencana yang sudah dibuat secara matang oleh kedua orang tuanya akan berjalan dengan lancar.
"Perihal apa yang ingin kau bicarakan dengan ku sampai-sampai kau punya nyali bicara secara privat denganku?" tanya Gilang dengan angkuh.
"Oh...itu...aku...aku..." Shinta semakin gugup
"Bicara langsung pada pokoknya, aku tidak suka dengan hal yang berbelit-belit!" sela Gilang dengan nada yang meninggi.
"Aku...aku...menyukai kak Gilang," tukas Shinta dengan cepat. Ia semakin menundukan kepala tak berani menatap lawan bicaranya. Sungguh ini terlihat mengerikan dari apa yang dibayangkan sebelumnya.
Gilang tersenyum sinis. Jari-jarinya bermain di atas meja. Matanya tak beralih dari wanita yang baru saja mengatakan perasaannya.
"Kau tidak salah bicara?" Gilang berdiri, berjalan menghampiri wanita itu. Semakin dekat ia bisa mencium aroma wangi yang khas. Gilang menyunggingkan bibirnya.
"Besok kau dan Kelvin akan menikah, bisa-bisanya kau mengungkapkan perasaanmu padaku hah?!" Gilang tertawa, menahan gejolak panas yang mulai melanda tubuhnya.
"I..i..tu..karena aku baru menyadari kalau aku sudah jatuh hati pada kak Gilang, dan mengenai kak Kelvin...aku...aku...sama sekali tidak mencintainya!" ujar Shinta yang mulai berani menatap Gilang. Tangannya terulur mengusap dada bidang Gilang yang masih terbungkus rapat oleh kemeja biru dongkernya. Shinta berusaha menggoda Gilang dengan sentuhan lembut tangannya.
"Oh...ya...?" Gilang membiarkan Shinta melakukan apa yang ia mau, meskipun sebenarnya ia merasakan jijik yang teramat besar.
"Aku akan melakukan apa pun yang kakak mau asalkan kita bisa bersama," Shinta mulai mendekatkan diri pada Gilang.
Tentu itu membuat Gilang semakin panas dibuatnya. Shinta menyeringai penuh kemenangan. Merasa yakin jika Gilang sudah mulai terangsang dengan parfum yang melekat pada tubuhnya saat ini. Dengan berani Shinta mulai membuka kancing kemeja yang Gilang kenakan satu persatu. Namun sebelum niatnya berlanjut, tiba-tiba saja Kelvin masuk ke dalam dengan amarah yang begitu besar. Dan dibelakang nya pun ada anggota keluarga Dirgantara yang lain, termasuk Mutiara. Mereka menatap Shinta dengan rasa kecewa dan jijik.
"Kak...kak...Kel...Kel...Vin..." Shinta merasa syok. Dadanya bergemuruh hebat. Rasa takut langsung menyerbu ke dalam dirinya.
__ADS_1
Kelvin masih menatap Shinta dengan kemarahan yang sangat besar. Ia berjalan ke arah Shinta.
PLAAKKKK...
Sebuah tamparan yang sangat keras dilayangkan oleh Kelvin ke wajah calon istrinya itu hingga meninggalkan darah pada sudut bibirnya. Hati Kelvin yang mulai mekar karena perasaan cinta yang tulus kini harus remuk kembali. Kelvin pergi meninggalkan tempat itu tanpa sepatah kata pun.
"Dasar wanita murahan, berani-beraninya kau menyakiti kakakku!!" Elvina datang menghampiri Shinta, menjambak kuat rambut wanita itu. Ia benar-benar menyesal karena sudah menjodohkan Kelvin dengannya.
Shinta berusaha melawan, ia mendorong kuat Elvina hingga terpental jatuh. Kali ini bu Meisya tidak tinggal diam. Ia menghampiri Shinta dan menampar wanita itu.
"Tadinya saya sudah mulai menyanyangimu seperti anak sendiri, tapi sekarang...ciihhh...bahkan saya sangat jijik melihat wajahmu!!" ucap bu Meisya.
Shinta terdiam. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Posisinya sedang terhimpit dan tidak mungkin baginya untuk melawan lagi.
PLAAKKK...PLAAKK....
Semua orang tercengang. Melihat Mutiara berani menampar Shinta hingga membuat wanita itu meringis kembali karena kesakitan.
"Berani-beraninya kau menggoda suamiku! Aku menyesal karena sudah menganggapmu sebagai adikku!" Mutiara menjambak kuat rambut Shinta hingga membuat wanita itu semakin kesakitan.
Shinta tak tinggal diam. Ia berusaha dengan kuat melepaskan tangan Mutiara dari rambutnya. Meskipun agak susah tapi akhirnya berhasil dan membuat Mutiara terjatuh juga.
Gilang mengeram kesal, tidak terima melihat istrinya disakiti. Ia langsung mencekik leher Shinta.
"Berani sekali kau menyakiti istriku!!"
Shinta meronta meminta dilepaskan tapi Gilang tak perduli. Kalau saja pak Bayu tidak datang menolongnya, mungkin Shinta sudah lewat karena kehabisan nafas.
"Jangan gila kamu, Gilang! Dia bisa mati karena ulahmu!" ucap pak Bayu.
"Biarkan saja dia mati! Dia sudah berani menyakiti istriku baik secara fisik maupun mental!" Gilang kembali ingin mencekik Shinta, tapi wanita itu dengan lihai berlari keluar ruangan.
"Jangan lari kau wanita ular! Radit suruh mereka menangkapnya ! Seret dia dan keluarganya kehadapanku, aku ingin memberikannya pelajaran dengan tanganku sendiri!" teriak Gilang dengan lantang.
Radit yang berdiri di ambang pintu mengangguk dan tanggap dengan keadaan. Sedangkan pak Bayu masih berusaha menahan Gilang agar menjadi tenang.
PLAAKK
__ADS_1
Pak Bayu terpaksa melayangkan tamparan. Hanya dengan itu Gilang akan berhenti meronta seperti orang kerasukan.
"Jika kau membunuhnya apa yang akan terjadi? Kau akan masuk penjara, dan bagaimana nasib Mutiara serta anak-anaknya?" ucap pak Bayu dengan kesal.
Gilang berhenti. Menatap manik mata istrinya yang sudah berair.
"Maaf...?" lirihnya kemudian.
"Aku hanya tidak bisa mengendalikan diri saat ingat apa yang sudah dilakukan wanita itu! Aku marah karena melihat istriku menangis secara diam-diam karena menerima pesan beruntun yang menyakitkan!" ujar lagi.
Kini giliran Mutiara yang menatap suaminya. Merasa bodoh karena telah meragukan suaminya dan menganggap suaminya tidak tahu tentang hal tersebut.
"Tidak hanya itu saja, wanita itu bahkan telah membayar salah satu pelayan di rumah agar mencampurkan obat yang bisa membuat kerusakan pada saraf otak istriku. Sedikit saja aku terlambat mengetahuinya, mungkin saat ini Mutiara sudah menjadi hilang akalnya." Gilang mulai membeberkan kejahatan yang telah dilakukan oleh Shinta.
Semua yang mendengar semakin syok karena tak percaya jika Shinta akan nekad melakukan hal yang sangat jahat seperti itu pada Mutiara.
Elvina luruh ke lantai, merasa bersalah karena dia lah yang membawa Shinta ke dalam kehidupan keluarganya yang sudah tenang.
"Maaf...ini salahku?" cuitnya.
"Ini bukan salahmu Elvina, wanita itu saja yang tidak tahu diri!" bu Meisya memeluk putrinya dengan erat.
Baik Elvina maupun Mutiara hanyalah wanita polos yang memiliki hati bersih. Selalu membuka hati bagi yang ingin berteman dengannya, tanpa menaruh rasa curiga sedikitpun. Dan itu lah yang terkadang membuat bu Meisya dan yang lainnya merasa cemas. Takut jika kebaikan hati mereka dimanfaatkan oleh orang seperti saat ini.
###
Rasa kesedihan serta kekecewaan yang melanda keluarga Dirgantara membuat suasana menjadi hening seketika. Mereka asyik dalam pemikiran masing-masing namun tetap pada satu titik masalah, yakni Shinta yang berhasil kabur bersama keluarganya.
Mereka takut jika wanita itu akan membuat rencana yang baru dan bertambah nekad lagi karena rencana yang disusun sebelumnya sudah gagal.
Radit beserta anak buahnya sudah mencari keberadaan mereka ke berbagai tempat yang dianggap sebagai tujuan mereka untuk bersembunyi, bahkan Radit pun sudah memblokir semua aset serta jalan bagi keluarga Shinta untuk dapat melarikan diri ke luar kota ataupun luar negeri. Hanya saja mereka masih dapat meloloskan diri tanpa ada jejak yang tertinggal.
Gilang dan Radit merasa curiga jika ada seseorang yang sudah membantu Shinta dan keluarganya dalam merencanakan niat buruknya itu. Tapi siapa itu masih menjadi teka-teki bagi keduanya.
Gilang dan Radit sudah mengerahkan beberapa orang kepercayaannya untuk menyelidiki semua ini. Mereka tidak ingin sampai kecolongan lagi.
Sedangkan Kelvin, dia malah asyik menyendiri meratapi nasib percintaannya yang buruk dengan ditemani beberapa botol minuman. Heru yang mendapat tugas untuk mengawasi Kelvin merasa iba. Kasihan melihat nasib dari putra kedua dari keluarga Dirgantara.
__ADS_1
Kelvin adalah sosok pria yang tampan dan cerdas, ia tak jauh berbeda dengan kakaknya. Hanya saja saat ini jam terbangnya masih di bawah Gilang karena pendidikannya pun baru usai. Heru sangat yakin jika suatu saat nanti Kelvin bisa sukses seperti ayah dan kakaknya. Namun untuk mencapai semua itu, ia membutuhkan sebuah proses yang terjal. Dan saat ini Kelvin tengah mendapat ujian yang pertama yakni kegagalan dalam hubungan asmara. Yang mungkin nanti mampu membuat Kelvin menjadi bangkit seperti Gilang waktu itu.