Pernikahan Beda Usia

Pernikahan Beda Usia
#PERNIKAHANBEDAUSIA_37 (REVISI)


__ADS_3

#PERNIKAHANBEDAUSIA


Part 37


Gilang dan Mutiara sekarang berada di dalam taxi. Mereka sedang perjalanan menuju hotel. Entah kenapa tiba-tiba saja Gilang merasa pusing dan mual. Mau tak mau mereka harus membatalkan rencana mereka untuk pergi ke sungai Seina. Mutiara membiarkan Gilang untuk bersandar di bahunya. Ia terus mengelus rambut suaminya mencoba memberikan rasa nyaman. Meskipun ia tahu itu sebenarnya tidak memberikan efek sama sekali. Wajah Gilang tampak pucat sekali sehingga membuat Mutiara merasa cemas.


"Kamu kenapa sih yank? Kok tiba-tiba seperti ini? Padahal tadi kamu kan baik-baik saja," bathin Mutiara.


Selama hidup bersama dengan Gilang, Mutiara belum pernah melihat suaminya sakit seperti ini. Mutiara menjadi tidak tega dengan kondisi Gilang yang lemas seperti itu.


Setibanya di hotel, Gilang yang dibantu oleh Mutiara berjalan menuju kamar mereka dengan sedikit terseok-seok lantaran postur tubuhnya yang lebih besar dibandingkan dengan sang istri.


Begitu sampai di kamar, Mutiara membantu suaminya berbaring di ranjang. Kemudian menelpon bagian reseptionis untuk meminta bantuan agar dipanggilkan dokter.


"Yank...Aku baik-baik aja kok, cuma butuh istirahat saja!" cuit Gilang berusaha menghilangkan rasa kekhawatiran pada Mutiara.


"Baik-baik gimana? Wajahmu kelihatan pucat banget, yank." Mutiara memijat kening suaminya.


Gilang membekap mulutnya. Ia beranjak dari tempat tidur lalu menuju kamar mandi. Mutiara tersentak kaget, ia pun mengikuti suaminya.


*Huek...Huek...Huek....


Gilang berusaha memuntahkan seluruh isi perutnya. Tapi tidak ada yang keluar. Hanya cairan bening saja. Mutiara mengurut tengkuk Gilang, berharap bisa meredakan rasa mualnya.


"Gimana yank...masih mau muntah?" tanya Mutiara.


Gilang hanya menggeleng. Ia sendiri juga heran kenapa bisa merasa mual dan pusing seperti ini. Kalau salah makan, pastinya tidak mungkin. Dia selalu memastikan bahwa makanan yang masuk ke dalam tubuhnya selalu higenis dan bersih.


Gilang kembali ke tempat tidur. Ia merebahkan diri ke ranjang. Badannya terasa sangat lemas saat ini.


*Tok...Tok...Tok....


"Itu pasti dokter yang datang," cuit Mutiara. Ia segera membukakan pintu.


"Excuse me...I took the doctor to your husband," cuit seorang pelayan hotel.


"Hallo..." sapa seorang pria yang notabandnya adalah dokter.


"Hallo, please come in!" ucap Mutiara.


"Thank you..." Dokter tersebut masuk ke dalam kamar. Ia langsung memeriksa keadaan Gilang.


"He is fine. Maybe there is a wrong meal," terang dokter.


Ia menuliskan dan menyerahkan sebuah resep obat pada Mutiara.


"Thank you, doctor." Mutiara mengantarkan dokter hingga ke depan pintu.


Sepeninggal dokter, Mutiara sedikit bingung harus meminta tolong kepada siapa untuk menebus obat suaminya. Ia tidak tahu apa-apa mengenai kota Paris. Namun saat melihat wajah suaminya yang masih pucat, akhirnya Mutiara segera keluar dari kamar. Mungkin pihak reseptionis bisa membantunya lagi.


-----


Gilang terbangun dari tidurnya. Ia merasa perutnya kembali bergejolak. Mau tak mau Gilang segera lari ke dalam kamar mandi untuk memuntahkan semua isi perutnya. Lagi-lagi hanya cairan bening saja yang keluar.


Setelah merasa sedikit lega, Gilang hendak kembali berbaring di tempat tidur. Namun ia merasa ada yang aneh. Dimana istrinya? Gilang panik saat mendapati Mutiara tidak ada. Tanpa memikirkan bagaimana kondisinya, ia langsung meraih jacket dan ponselnya. Gilang ingin mencari keberadaan istrinya. Takut sesuatu yang buruk terjadi pada Mutiara.


*Ceklek....


Mutiara memasuki kamar.


"Astagfirllah yank, kamu mau kemana?" tanya Mutiara ketika melihat Gilang sudah rapi dengan jacketnya.


"Aku mau cari kamu yank, aku khawatir saat tidak melihatmu di kamar." Gilang bisa bernafas dengan lega melihat Mutiara baik-baik saja.


"Maaf yank, tadi aku turun pergi ke bagian receptionis sebentar. Aku hanya ingin meminta tolong pada seseorang agar bisa menebuskan resep obat dari dokter sekalian memesan bubur untukmu," terang Mutiara.


Ia menaruh obat dan bubur tersebut di atas nakas meja.

__ADS_1


Gilang melepas kembali jacketnya. Ia merasa bersalah karena sudah mengacaukan honeymoon mereka.


"Maaf ya, yank? Gara-gara aku sakit, honeymoon kita jadi kacau balau begini" Gilang duduk di tepi ranjang.


"Kenapa harus minta maaf, yank? Aku yakin kamu pasti juga nggak mau sakitkan? Tapi harus bagaimana lagi? yang terpenting sekarang kamu harus makan terus minum obatnya agar bisa cepat sembuh," tukas Mutiara.


Gilang mengacak rambut istrinya. Meskipun masih kecil, tapi dia selalu saja memliki pemikiran yang bijak.


Mutiara mulai menyupai suaminya.


"Kamu udah makan?" tanya Gilang.


Mutiara menggeleng, "Aku akan makan setelah kamu selesai makan dan minum obat," tuturnya kemudian.


Gilang mengambil sendok dari tangan Mutiara.


"Kita makan sama-sama," cuit Gilang.


"Tapi yank..."


"Tidak ada tapi-tapian!" tukas Gilang.


Gilang menyuapi Mutiara. Keduanya akhirnya makan bersama dan saling menyuapi satu sama lainnya.


Setelah menghabiskan makanannya, Gilang langsung meminum obatnya. Ia ingin cepat sembuh agar bisa melanjutkan honeymoon mereka yang sempat tertunda karenanya.


"Sekarang lebih baik kita tidur! Semoga besok keadaanku sudah membaik," ajak Gilang.


Mutiara menurut, ia segera mengganti pakaiannya dengan piyama tidur lalu menyusul suaminya untuk berbaring di tempat tidur. Tak butuh waktu yang lama bagi keduanya bisa terlelap. Mereka tertidur sambil memeluk satu sama lainnya.


----


Keesokannya Mutiara terbangun. Ia merasakan adanya hembusan angin menerpa wajahnya. Ternyata itu adalah nafas Gilang yang masih terlelap dalam tidurnya. Mutiara tersenyum. Ia mengusap rahang Gilang dengan lembut.


"Semoga hari ini keadaanmu sudah membaik yank, aku sedih kalau lihat kamu sakit kanyak kemaren." Mutiara mengecup kilas bibir Gilang.


"Biarkan seperti ini dulu!" ucap Gilang dengan suara khas orang baru bangun.


"Gimana kedaanmu yank? Apa sudah lebih enakan?" tanya Mutiara.


"Hmmmm" balas Gilang. Ia semakin mempererat pelukannya.


Mutiara menghela nafas panjang. Ia membiarkan suaminya tetap memeluknya seperti itu.


"Yank"


"Hmmm"


"Semalam aku bermimpi indah sekali. Sampai rasa-rasanya aku enggan untuk bangun," cerita Gilang.


"Kamu pasti mimpi jorok ya?" Mutiara asal tebak.


"Yank, kenapa kamu selalu berpikir seperti itu? Apa aku semesum itu?" protes Gilang.


"Hmmm...Bisa dibilang iya sih. Kamu itu suami yang paling mesum," ledek Mutiara.


Gilang merenggangkan pelukannya. Ia menatap instens pada istrinya.


*Cup...Cup....Cup....


Gilang mulai melayangkan banyak kecukap di area wajah istrinya.


"Yank..." protes Mutiara.


"Salah sendiri ngatain suami mesum!" ucap Gilang menoel hidung Mutiara.


"Kamu mau tahu aku mimpi apa?" Gilang menatap istrinya.

__ADS_1


"Aku bermimpi kalau kita memiliki bayi kembar yang lucu-lucu dan hidup kita menjadi lebih berwarna. Aku, kamu dan kedua putri kembar kita...kita tertawa bersama di halaman rumah, bercanda serta bermain bersama." Gilang menceritakan mimpinya.


Mutiara tersenyum kecut. Ingatannya kembali pada masa kecilnya, dimana keluarganya belum tercerai berai seperti sekarang. Ia dan saudara kembarnya, bermain bersama dengan sang ayah disetiap weekend-nya. Sangat bahagia rasanya. Andaikan waktu bisa di putar ulang, Mutiara tidak akan pernah membiarkan ibunya membawa saudara kembarnya.


"Kamu kenapa yank? Apa aku salah bicara? Apa kamu tidak ingin kita memiliki anak kembar?" cemas Gilang saat istrinya berbalik diam tanpa memberikan sedikit tanggapan apapun mengenai perihal mimpinya.


"Tidak yank, aku juga ingin mimpimu itu jadi nyata. Aku hanya teringat kembali dengan saudara kembarku saja, entah dimana dia sekarang? Apakah dia baik-baik saja atau tidak?" cicit Mutiara.


"Saudara kembar?" Gilang menautkan alis matanya.


"Hmm...Aku memiliki saudara kembar, namanya Intan Mikayla Putri. Dia ikut ibuku sekarang," balas Mutiara.


Gilang terdiam. Ternyata Mutiara tahu bahwa ia memiliki saudara kembar. Dan ini pula yang sebenarnya ia takutkan. Gilang takut jika istrinya sampai bertemu dengan Clarissa, semua akan berbalik ruyam. Mutiara terlalu polos, Gilang tidak mau kalau sampai Clarissa akan memanfaatkan kepolosan dari istrinya untuk memenuhi semua ambisius gilanya.


"Maaf yank, aku tidak bisa mempertemukan kalian!" guman Gilang dalam hati.


-----


Kondisi Gilang sudah membaik. Meskipun terkadang rasa mualnya tiba-tiba kambuh, apalagi saat mencium aroma yang sedikit menyengat. Tapi setidaknya, ia sudah tidak merasakan pusing dan lemas seperti kemaren malam. Mungkin ini efek dari obat yang diresepkan oleh dokter padanya.


"Yank, kamu yakin sudah kuat untuk jalan-jalan lagi?" selidik Mutiara.


"Yakin yank, lagi pula hari ini adalah hari terakhir kita di kota Paris. Jadi kita harus bisa manfaatin sebaik-baiknya bukan? Belum tentu kita bisa lagi pergi berdua seperti ini, apalagi kalau putri kembar kita nanti sudah lahir ke dunia ini?" balas Gilang penuh keyakinan jika ia akan segera mendapatkan putri kembar.


Mutiara menggelengkan kepala. Sejak suaminya bercerita tentang mimpinya, ia terus saja mengatakan jika akan segera mendapatkan anak kembar.


"Ayo kita jalan sekarang!" ajak Gilang penuh semangat.


Gilang dan Mutiara berjalan beriringan sambil bergandengan tangan, menikmati keindahan kota Paris.


Mereka menuju Tuileries Garden yang letaknya tidak jauh dari museum Louvre dan Place De La Concorde. Taman ini cukup luas, teduh dan dipenuhi oleh pohon yang rindang serta unik. Selain itu dilengkapi pula oleh adanya bangku taman dan air macur serta patung-patung khas perancis.


"Kita duduk disini aja, yank!" ajak Gilang pada Mutiara.


Mereka duduk, menikmati kemanisan dari eskrim sembari bercanda dan tertawa bersama. Dan tak lupa sesekali mereka mengabadikan moment yang indah itu. Agar suatu saat nanti mereka memiliki cerita yang bisa dibagikan kepada anak dan cucu mereka.


Gilang tersenyum melihat bibir istrinya yang blepotan karena eskrim.


"Kok kamu ngeliatin aku sampai segitunya, ada yang salah sama muka aku ya?" celetuk Mutiara.


Gilang membersihkan eskrim dari bibir istrinya menggunakan jari. Jarak keduanya kini menjadi sangat dekat. Mereka bisa merasakan terpaan dari hembusan nafas masing-masing.


"Jangan natap aku seperti itu lho, bisa bahaya nantinya!" cuit Gilang mulai menggoda istrinya.


"Bahaya kenapa? Emang nggak boleh ya nantap suami sendiri?" tukas Mutiara.


Gilang dibuat gemas dengan kelakuan istrinya. Ia langsung saja menyambar bibir Mutiara. Manis rasanya, apalagi masih ada sisa-sisa rasa eskrim vanilanya.


Mutiara melotot, ia tidak percaya jika suaminya akan menciumnya di tempat umum seperti ini. Ia memukuli dada bidang suaminya, berharap Gilang menghentikan aksinya. Tapi nyatanya tidak, Gilang semakin meraup bibirnya dan memperdalam ciuman mereka.


Gilang menghentikan ciuman mereka. Ia mengusap lembut bibir istrinya yang terlihat bengkak karena ulahnya.


Sedangkan Mutiara menunduk, ia sedikit merasa malu karena dicium oleh suaminya di tempat umum.


"Yank... Aku malu," cuit Mutiara.


"Malu kenapa yank? Ini Paris, ciuman di tempat umum bukan hal tabu lagi bagi semua orang." Gilang merangkul istrinya.


Mutiara terdiam. Ia tahu akan hal itu. Apalagi sejak memasuki taman, ia sudah mendapat suguhan dari pemandangan pasangan kekasih yang saling bermesraan.


"Maaf...tadi aku tidak bisa mengontrol diri?" cuit Gilang.


Ia merasa tidak nyaman melihat istrinya hanya diam seperti itu.


"Tidak yank...Bukan begitu...aku hanya tidak terbiasa aja," ucap Mutiara.


Ia menggenggam erat jemari suaminya.

__ADS_1


Keduanya tersenyum kemudian bercanda lagi hingga tawa lepas pun mengiringi kebersamaan mereka.


__ADS_2