
PERNIKAHAN BEDA USIA
PART 105
đź’•đź’•đź’•
“Butuh tumpangan? Kalau mau gue bisa antar elo?” tanya Kelvin lagi.
Intan menggeleng cepat. Ia tak mungkin menerima tawaran dari pria itu. Bisa-bisa tempat persembunyiannya selama ini bisa diketahui dengan mudah oleh Kelvin. Sedangkan selama ini ia dan ibunya sengaja menjauh dari mereka semua agar bisa memilki kehidupan yang tenang dan tentram.
“Nggak perlu, terima kasih banyak. Aku bisa naik angkot,” ujarnya kemudian.
“Yakin?”
Intan hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Jujur saja, sebenarnya ia pun merasa ragu. Di jam seperti masih ada angkot yang akan lewat atau tidak. Tapi saat mengingat ultimatum yang pernah Gilang berikan padanya, mau tak mau Intan harus menolak tumpangan dari Kelvin. Toh ia bisa pesan taxi online atau ojol. Meskipun nantinya harus membayar lebih mahal dari tarif angkot. Intan tidak mau kalau harus berurusan lagi dengan keluarga Dirgantara. Cukup sekali saja ia harus mendekam di balik jeruji besi dan tidak akan pernah mau lagi mengulanginya.
“Ckk...kenapa lama sekali berpikirnya?” Kelvin yang tak sabaran langsung mengangkat tubuh Intan yang mungil layaknya karung berisikan beras.
Intan memekik kaget, memberontak minta diturunkan. Sayangnya Kevin tak mau menggubris. Pria itu justru membawa Intan menuju mobilnya, membuka pintu kemudian mendudukannya di jok samping kemudi. Intan ingin keluar tapi ditahan oleh Kelvin.
“Sebaiknya kamu tetap duduk diam disini kalau tidak gue akan...”
“Akan apa?” Intan menyela.
Kelvin menyeringai kecil. Wajahnya dicondongkan ke depan hingga membuat Intan beringsut mundur.
“Gue akan cium bibir elo yang manis itu,” bisik Kelvin.
Bola mata Intan membulat sempurna dengan bibir sedikit menganga. Sejak kapan Kelvin bisa berkata mesum seperti itu. Intan memilih diam, mengikuti perintah dari pria tersebut.
“Good women,”
Kelvin merasa puas karena sudah membuat Clarissa tak bisa lagi berkutik. Ia tahu jika wanita itu berusaha menghindarinya dan Kelvin tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Salah sendiri berani menampakan diri dan membuat hatinya kembali gelisah karena memikirkannya.
Selama di dalam mobil tak ada satu pun dari mereka berdua yang membuka suara. Hanya ada sebuah rasa canggung dan keheningan.
Intan meremas kuat ujung tuniknya. Tak tahu harus bersikap bagaimana. Pria yang ada disampingnya saat ini, tak lain adalah ayah dari anak yang pernah ia lahirkan dan ia jual demi mendapatkan sejumlah uang untuk bertahan hidup. Harusnya Kelvin merasa marah dan membenci dirinya, bukan malah duduk bersama dalam satu mobil. Berniat mengantarkan Intan pulang sampai ke rumahnya.
Hati Intan mencelos, mengingat sikapnya yang buruk terhadap darah dagingnya sendiri. Karena merasa benci pada ibunya, ia melampiaskan semua nya pada anak yang tak berdosa.
Kelvin melirik sekilas. Intan ternyata sudah banyak berubah. Dulu saat masih tinggal bersamanya, dia selalu banyak bicara. Merengek meminta ini dan itu dengan alasan keinginan dari bayi dalam perutnya. Dan Kelvin sendiri tak pernah menanggapinya, jika apa yang diminta oleh Clarissa dianggapnya berlebihan.
Namun Clarissa yang duduk disampingnya kini berbeda. Dia menjadi lebih pendiam, tak banyak bicara. Perempuan yang tak pernah mengenal rasa takut pada apapun seolah tertelan entah kemana. Yang ada hanya lah wanita pendiam dengan seribu rasa takut. Dan Kelvin tak pernah tahu apa yang menjadi sebab musababnya. Apakah benar hukuman tahanan yang pernah diterima oleh Clarissa mampu mengubah wanita itu dalam sekejab saja.
Tanpa Kelvin sadari, ia mulai merindukan saat-saat dimana Clarissa masih ada disisinya. Kalau saja waktu boleh diputar ulang. Kelvin pasti akan selalu berusaha memenuhi keinginan dari wanita yang pernah melahirkan anaknya itu supaya dia tidak pernah pergi darinya dan menjual anak mereka demi sejumlah uang.
Dan mungkin saja sekarang hidup mereka sudah bahagia bersama Azka, anak mereka.
__ADS_1
“Kak, tolong belok ke kiri?” pinta Intan mulai membuka suara.
Kelvin mengernyit. Merasa heran dengan permintaan dari Clarissa. Bukan kah arah rumahnya seharusnya masih lurus. Kenapa dia malah memintanya untuk berbelok ke kiri. Kelvin kemudian tersenyum sengit, tangannya sedikit meremas stir mobil. Ia mulai memahami tujuan kenapa Clarissa memintanya untuk berbelok kiri. Wanita itu sepertinya benar-benar tidak menginginkan jika dirinya mengetahui tempat tinggalnya. Kelvin akan mengikuti permintaan Clarissa. Sepertinya sedikit bermain-main dengannya akan terlihat menyenangkan.
“Kak tolong berhenti disini,” pinta Intan lagi.
Kelvin menghentikan mobilnya, melihat kesana kemari kemudian menoleh pada Clarissa.
“Disini?” ujarnya penuh tanda tanya.
“I-i-ya kak, rumahku tidak jauh dari sini! Cukup masuk kedalam gang sana!” Intan menunjukan sebuah gang sempit dimana mobil tidak akan masuk.
Kelvin manggut-manggut mengerti. Clarissa memang tidak berbohong. Gang kecil itu memang termasuk jalan pintas menuju rumahnya.
“Terima kasih karena kakak sudah mau memberikan tumpangan untukku?” ucap Intan dengan tulus.
“Hmm...” Kelvin hanya menjawabnya dengan deheman saja.
Intan segera turun dari mobil kemudian pergi berlalu meninggalkan Kelvin yang masih setia menunggunya hingga masuk ke dalam gang. Namun sebelum benar-benar berlalu, Intan membalikan tubuh menghadap Kelvin. Tersenyum kecil lalu melambaikan tangan.
“Kak Kelvin hati-hati di jalan, jangan ngebut!” cuit Intan setengah berteriak. Ia tidak tahu kenapa bisa seberani ini terhadap Kelvin.
Kelvin membalas senyuman Clarissa dengan tulus dan menganggukan kepala. Hatinya berbunga merasa senang dengan sikap Clarissa yang dianggapnya mulai menghangat. Meskipun hanya berupa sebuah senyuman kecil dan lambaian tangan, namun bagi Kelvin itu sudah lebih dari cukup.
Kelvin menjalankan mobilnya setelah punggung Clarissa menghilang dari pandangan matanya. Ia akan kembali esok hari dan seterusnya sampai hati Clarissa menjadi miliknya. Kelvin akan berjuang mendapatkan cinta yang pernah lepas dari tangannya dulu.
đź’•đź’•đź’•
Sebuah bantal sofa melayang mengenai wajah tampan Kelvin saat hendak memasuki rumahnya. Rasa bahagia yang tadi bergejolak di hatinya mendadak sirna digantikan oleh rasa kesal.
“Akh siapa sih malam-malam begini iseng banget!” gerutu Kelvin. Pandangannya mulai menyapu ruangan mencari sosok pelempar bantal sofa tersebut.
“Ma-ma-mi...” Kelvin tergagap, berjalan melangkah menghampiri maminya yang kini duduk di ruang tamu.
“Mami belum tidur?” tanyanya, ada rasa ngeri saat melihat bagaimana tatapan maminya. Kelvin kemudiam meraih tangan bu Meisya dan mencium punggung tangannya.
“Memangnya kenapa kalau mami belum tidur, hah?” bu Meisya menarik kasar telinga Kelvin, hingga membuat pria muda itu memekik kesakitan.
“Aww...sakit Mi, tolong lepasin? Memang salahnya Kelvin apa lagi, kok hobi banget narik telinga anak sendiri?” ucap Kelvin sedikit memelas.
“Kamu tanya salah kamu apa, hah? Darimana saja seharian ini? Kenapa handphone juga tidak bisa dihubungi? Mau bikin orang tua mati dadakan gara-gara mikirin anak yang nggak ada otaknya?” cerocos bu Meisya tanpa mau melepaskan jeweran telinga Kelvin.
Kelvin mendelik, merutuki kebodohannya.
“Maaf, Mi? Tadi Kelvin tanpa sengaja bertemu dengan teman lama saat perjalanan ke kantor, dan akhirnya kami mencari tempat mengobrol hingga lupa waktu!?” cicit Kelvin beralasan.
Sebenarnya Kelvin tidak sepenuhnya berbohong. Dia memang bertemu dengan kenalan lama. Yakni, Clarissa. Tapi bukan tidak sengaja, melainkan sebaliknya. Kelvin sengaja mencari keberadaan keberadaan Clarissa, kemudian mengikutinya kemana pun dia pergi hingga seharian penuh.
__ADS_1
“Lalu kenapa handphone kamu tidak bisa dihubungi?”
Kelvin meringis, menahan rasa perih yang mulai menjalar di telinganya. Kelvin yakin telinganya pasti sudah berubah warna menjadi merah seperti kepiting rebus.
“Maaf mi, handphone Kelvin lowbat dari semalam? Kelvin lupa menchargernya!”
Bu Meisya mendesah berat. Melepaskan tangannya dari telinga Kelvin.
“Gara-gara ulahmu itu, sekarang papi sama Gilang harus lembur mengatasi semua kekacauan yang sudah kamu buat hari ini!”
Kelvin menepuk dahi. Mengerti maksud ucapan dari maminya. Hari ini Kelvin memang ada beberapa pertemuan dengan client penting.
“Maaf, mi?” cicit Kelvin menangkupkan kedua tangannya.
“Sudahlah, lebih baik kamu sekarang masuk ke kamar dan istirahat saja!”
“Lalu mami?”
“Mami masih ingin tinggal disini sambil menunggu papi kamu pulang!
Terbesit rasa bersalah di hati Kelvin. Tak seharusnya ia bersikap kekanakan seperti ini. Menelantarkan pekerjaan demi mengejar wanita yang pernah menorehkan luka yang begitu mendalam di hatinya.
“Sekali lagi maafin Kelvin, Mi?”
Bu Meisya tersenyum tipis dan menganggukan kepala. Ia bisa mengerti kenapa putranya sampai berlaku seperti ini. Kelvin pasti juga butuh sosok teman yang bisa memahami hatinya. Andai saja Shinta gadis yang baik, mungkin Kelvin sudah bahagia bersama gadis itu.
đź’•đź’•đź’•
Gilang baru saja tiba di kediamannya saat larut malam. Suasana hening dan gelap gulita yang menyambut. Hanya lampu temaram yang menyinari di beberapa titik. Mungkin semua penghuni rumah telah terlelap. Gilang memang sudah meminta Mutiara dan yang lainnya agar tidak menunggunya. Awalnya Gilang berniat tidur di kantor mengingat banyaknya pekerjaan yang menggunung. Ini semua tak luput dari ulah adiknya yang tiba-tiba berlaku seperti bocah yang tidak memiliki rasa tanggung jawab. Entah apa yang dilakukan Kelvin hingga membuat semua pekerjaannya terbengkelai begitu saja. Membuat Gilang dan papinya harus bekerja ekstra membagi tugas dalam menuntaskan pekerjaan Kelvin.
Gilang meletakan jas serta tas kantornya di atas meja, kemudian menjatuhkan diri di sofa ruang tamu. Berbaring sambil memijat kepalanya yang mulai pening. Gilang memejamkan kedua matanya, bukan untuk tidur. Tetapi sekedar ingin melepaskan rasa penat sejenak sebelum ia kembali ke dalam kamarnya.
Baru saja Gilang ingin menikmati hasil pijatan tangannya sendiri, tiba-tiba ada tangan lain bergelayar dengan lincah memijat kepalanya. Gilang tahu itu bukan istrinya. Ia bisa membedakan mana pijatan tangan istrinya dan mana yang bukan.
Gilang mencengkeram pergelangan tangan tersebut. Menarik kuat hingga membuat sosok wanita terjungkal kencang ke depan. Menubruk meja kaca hingga pecah. Gilang membalikan badan tak sudi melihat wajah siapa yang sudah lancang memegang anggota badannya.
“Dasar ******, berani-beraninya kau menyentuhku!!” suara tegas Gilang menggelegar kencang memenuhi seisi rumah. Membangunkan seluruh mata yang sudah terpejam. Bahkan tak lama suara tangis bayi saling menjerit dan bersahutan. Tampak para pengasuh kalang kabut segera bangun menghampiri keempat bayi kembar yang masih setia menangis di dalam box. Azka mengucek kedua matanya, rasa katuk yang berat membuat dia enggan untuk bangun. Sedangkan Mutiara segera berlari menuju arah sumber suara yang ia yakini sebagai milik suaminya. Begitu pula para pelayan dan penjaga rumah, berbondong-bondong menuju ruang tamu.
Tampak seorang wanita sedang tersungkur diantara pecahan kaca. Banyak luka di sekujur tubuhnya akibat terkena serpihan kaca. Darah segar mengalir dari sudut bibir dan kening. Siapapun yang melihat pasti akan merasa ngeri dan iba.
“Ampun tuan, saya sama sekali tidak bermaksud untuk lancang! Saya hanya ingin membantu tuan untuk mengusir rasa lelah tuan, itu sebabnya saya memberanikan diri memijat kepala tuan?!” wanita itu bersujud meminta ampun. Tubuhnya bergetar hebat menahan rasa sakit dan takut secara bersamaan.
Semua orang membelalakan mata. Tidak menyangka jika pelayan baru itu sampai berani berbuat seperti itu. Apalagi dengan penampilannya yang seperti wanita penggoda saja.
Mutiara melangkah mendekati suaminya. Ia pun sama terkejutnya dengan kenekatan yang dilakukan oleh wanita tersebut. Sebelumnya Mutiara sudah pernah memperingatinya supaya mengubah penampilannya yang dianggapnya tidak pantas, jika dia memang masih ingin tetap bekerja.
Namun apa, wanita itu justru berani memegang suaminya.
__ADS_1
“Ini menjadi tugasmu sebagai nyonya di rumah ini, Mutiara! Yang jelas aku tidak mau lagi melihat wajah pelayan itu masih berkeliaran di rumah ini saat aku terbangun di pagi hari!” tegas Gilang lagi. Ia melangkah meninggalkan semua orang dalam keterkejutan.