
PERNIKAHAN BEDA USIA
Part 112
Kelvin sudah mengantongi restu dari kedua orang tuanya. Kini ia bisa fokus dalam mencari cara bagaimana bisa meluluhkan hati dari seorang wanita yang telah mampu merebut hatinya.
Kelvin sadar betul bahwa sesungguhnya ini lah tantangan yang sebenarnya. Hati wanita itu telah menjadi beku setelah apa yang ia alami selama ini.
Clarissa berpandangan bahwa tidak ada lagi cinta yang tulus dalam kehidupannya. Hanya ada kepuasan nafsu yang dicari oleh pria manapun yang mau mendekatinya.
Berulang kali Kelvin sudah berusaha mengatakan pada Clarissa bahwa pemikirannya tidak lah benar. Tidak semua pria di dunia ini memiliki keinginan ataupun pemikiran yang picik seperti apa yang ada dalam benak Clarissa.
Masih ada pria yang tulus dan bersedia mencintai serta menerima dia apa adanya, tanpa menengok seperti apa masa lalunya.
Kelvin bahkan sempat ingin mengungkapkan isi hatinya. Namun terpaksa ia redam sesaat lantaran tidak ingin membuat Clarissa menjauh darinya. Kelvin sadar bahwa untuk mendapatkan hati Clarissa tidak lah mudah. Butuh waktu yang panjang agar bisa menyakinkan wanita itu kalau cinta sejati benar adanya. Hanya saja mungkin Clarissa memang belum waktunya untuk dipertemukan dengan sosok cinta sejatinya itu.
“Cie...cie... ceritanya ada yang lagi ngalamun nih. Ngalamunin siapa sih, ngalamunin ibu kandungnya Azka ya?” tiba-tiba Elvina muncul dan langsung menggoda kakaknya.
“Susah banget ya ketuk pintu dulu sebelum masuk kamar orang?” sindir Kelvin.
“Hihihi maaf sudah kebiasaan?” jawab Elvina asal. Ia sengaja ingin membuat kakaknya marah.
Huhhh...Kelvin hanya bisa mendengus kesal kemudian memutar bola matanya dengan malas. Elvina memang suka berbuat seenaknya tanpa berpikir apa yang bisa terjadi ke depannya.
Bagaimana jika saat ia masuk ke dalam kamar kakaknya, Kelvin tengah berganti pakaian. Meskipun kakak beradik tetap saja tidak dibenarkan memasuki kamar orang lain tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Ada batasan yang memang harus mereka jaga, termasuk privasi dalam kamar.
Pak Bayu dan ibu Meisya sudah sering mengingatkan Elvina supaya mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum memasuki kamar anggota keluarga lainnya. Namun tetap saja tidak pernah digubris oleh Elvina. Gadis itu masih saja suka keluar masuk kamar anggota keluarga lainnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Elvina memang terkenal suka melanggar peraturan di dalam keluarganya tapi satu hal yang patut dikagumi. Gadis itu mampu membawa diri dalam setiap pergaulannya. Membedakan mana yang lanyak dan mana yang tidak lanyak. Mana yang baik dan mana yang tidak baik untuknya.
“Kak Kelvin, bagaimana perkembangan usaha kakak dalam meluluhkan hati Clarissa? Apa sudah ada kemajuan?” Elvina penasaran. Gadis itu memang sudah tahu jika saat ini kakaknya tengah berjuang dalam merebut hati seorang wanita yang tak lain adalah saudari kembar Mutiara.
Kelvin tak menjawab. Matanya fokus menatap layar ponsel dan mengetikan sesuatu di dalamnya.
__ADS_1
“Kak, aku lagi serius bertanya!” Elvina mengguncang-guncangkan tubuh sang kakak yang saat ini sedang tengkurap.
Lagi-lagi Kelvin dibuat geleng kepala oleh adiknya itu. Elvina jika sudah bertanya harus dijawab dengan jelas, tepat dan gamblang. Andaikan saja masih menyisakan sedikit celah yang mampu membuat hatinya penasaran, maka tak heran jika akan bermunculan pertanyaan-pertanyaan lain yang harus dijawab sampai gadis itu merasa puas dan tentunya tidak penasaran lagi.
“Belum ada perkembangan sama sekali! Clarissa telah menutup rapat hatinya untuk persoalan hubungan asmara. Ia tidak mau menjalin hubungan khusus dengan pria manapun karena baginya cinta sejati itu tidak ada. Tapi kakak tidak akan menyerah. Kakak akan tetap berjuang sampai hati Clarissa terbuka lebar dan mau menerima cinta kakak dengan sepenuh hati.” Kelvin menerangkan.
Elvina nampak menganggukan kepala secara berulang tanda ia sudah mengerti. Dalam hati Elvina pun bisa memaklumi akan sikap Clarissa saat ini. Banyak kejadian yang tak terduga dalam kehidupan wanita itu. Mengalami tindakan asusila dari ayah tirinya sendiri saat usianya mulai menginjak masa remaja. Terpaksa putus sekolah lantaran tidak ada lagi orang yang mau membiayai pendidikan nya lagi. Termasuk ibunya sendiri. Clarissa juga harus mengalami yang namanya hamil serta melahirkan di usia yang masih sangat belia. Meskipun itu sebenarnya merupakan kesalahan Clarissa sendiri, namun tetap saja menimbulkan efek trauma yang begitu mendalam bagi seorang Clarissa. Dan tak cukup sampai disitu saja. Demi menyambung kelangsungan hidupnya setelah dicampakan oleh keluarganya sendiri, Clarissa harus rela hidup menyandang status sebagai simpanan dari om-om hidung belang. Sungguh tragis bukan.
“Aku merasa sangat bangga dengan kakakku yang satu ini. Tak pernah menyerah dalam memperjuangkan sesuatu yang baik. Percayalah cepat atau lambat hati Clarissa akan terbuka lebar dalam menerima cinta yang tulus dari kakak. So...tetap semangat ya, aku dan anggota keluarga dirgantara lainnya akan tetap mendukung kakak sepenuhnya.” Elvina menyemangati Kelvin.
“Terima kasih banyak adikku sayang,” Kelvin mengusap kepala Elvina membuat sebagian rambut gadis itu agak berantakan.
“Tapi ingat, jangan sampai keceplosan di depan kakak ipar perihal ini! Kamu tahu kan psikis nya masih naik turun lantaran sindrom baby blouse yang dialaminya sekarang.” Kelvin mengingatkan supaya Elvina tidak ember di depan istri kakaknya.
⚜⚜⚜
Pagi ini Intan atau Clarissa seperti biasanya sibuk membantu ibunya membersihkan rumah sebelum ia berangkat bekerja. Hari-harinya ia lalui dengan rasa syukur yang teramat besar. Banyak perubahan positif yang ia alami semenjak pertemuannya dengan sang ibu Kandung.
Clarissa sendiri sebenarnya masih tak percaya jika dirinya mampu melangkah ke depan hingga sejauh ini. Meskipun bayangan dari masa lalu yang begitu kelam sering hadir menghantuinya. Namun semua itu tak lagi berpengaruh.
Ini semua tak luput dari campur tangan ibunya yang selalu ada untuknya dan terus memberikan dukungan agar dirinya bisa kuat melalui segala kesulitan tentang hidup yang bermakna.
Clarissa benar-benar beruntung. Disaat ia sedang terjatuh, Allah masih berbaik hati kepada dirinya dengan cara mengirim sosok penyelamat yang sebenarnya. Tanpa ada lagi kata yang berembelkan balas budi ataupun balas jasa seperti sebelumnya.
“Intan, kamu nggak kerja hari ini?” tanya bu Aisyah.
__ADS_1
Clarissa tersenyum kecil lalu menyambangi ibunya.
“Intan hari ini masuk siang, bu. Jadi bisa bantu-bantu ibu dulu buat membersihkan rumah.”
Bu Aisyah mengangguk pelan. Tempat kerja Clarissa memang menerapkan dua sift untuk jam kerja. Ada sift pagi dan siang.
“Ya sudah kalau begitu ibu mau ke belakang dulu. Cucian baju sudah menumpuk. Takutnya nanti pas pemiliknya ngambil, bajunya belum siap!” ucap bu Aisyah.
Clarissa mengangguk pelan. Sebenarnya ia merasa sedih melihat ibunya harus bekerja sebagai pencuci pakaian milik orang. Tapi mau bagaimana lagi.
Clarissa pernah meminta ibunya untuk berhenti bekerja. Namun ibunya menolak karena sudah merasa nyaman dengan pekerjaannya itu. Ibu Aisyah tidak mau hanya berdiam diri sementara tenaganya masih kuat untuk suatu pekerjaan. Setidaknya ia akan merasa berguna disaat usianya yang mulai menua.
Clarissa tak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan ibunya melakukan sesuatu sesuai keinginannya sendiri. Mungkin dengan cara begitu pula ibunya bisa sedikit melupakan tentang putrinya yang lain.
Andaikan saja ibunya tidak meminta Clarissa agar berjanji untuk tidak menemui Mutiara. Mungkin Clarissa sudah bertemu dengan saudari kembarnya sejak dulu dan mengatakan segala sesuatu yang terjadi pada ibu kandungnya yang sebenarnya
Clarissa yakin Mutiara pasti bisa menerima semua itu dengan hati yang begitu lapang. Karena sesungguhnya Mutiara pun juga merindukan sosok ibu kandungnya.
Clarissa bisa tahu hal ini saat ia menyamar sebagai Mutiara. Tanpa sengaja Clarissa menemukan sebuah buku diary yang telah usang yang ternyata tak lain adalah milik Mutiara.
Clarissa membacanya dan dari situ ia tahu bagaimana perasaan saudarinya. Menahan rasa rindu yang tiada ujung.
Ingin mencari tapi tak kuasa namun jika tidak mencari hatinya semakin tersiksa.
“Semoga saja akan ada jalan bagi kita untuk bersatu dalam keluarga yang indah serta bahagia. Aku pun sebenarnya juga sangat merindukanmu, adikku.” Clarissa mengusap lelehan air bening yang membasahi pipinya. Mengingat sosok Mutiara membuat hatinya kembali melemah.
__ADS_1